AHMAD MAHFUDDIN AL-BANTANI

•Maret 27, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Di akhir tahun 1940-an, bentuk awal rock and roll bahkan memakai piano sebagai instrumen melodi. Salah satu cikal bakal rock and roll adalah musik boogie woogie dengan piano sebagai melodi, seperti permainan musik berbagai kelompok big band yang mendominasi dunia musik Amerika dekade 1940-an. Kepopuleran rock and roll secara massal dan mendunia ternyata menimbulkan dampak sosial yang tidak terduga. Rock and roll bukan saja mempengaruhi gaya bermusik, tapi sekaligus gaya hidup, gaya berpakaian, dan bahasa. Selain sukses di dunia musik, bintang-bintang di periode awal rock and roll juga sukses di dunia film dan televisi. Elvis Presley, misalnya merupakan bintang rock and roll yang sukses sebagai bintang film dan televisi.

Istilah slangrock and roll” sering dipakai orang berkulit hitam untuk menyebut “hubungan seks“. Penyanyi wanita Trixie Smith pertama kali menggunakan istilah “rock and roll” dalam lagu “My Baby Rocks Me With One Steady Roll” yang diedarkan tahun 1922

AHMAD MAHFUDDIN

•Februari 18, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
AHMAD MAHFUDDIN I’M IS VERY LIKE HEAVY METAL ROCK N’ ROLL

Sejarah

Steppenwolf

Heavy metal ditemukan oleh Band veteran Tahun 60’an Steppenwolf, dalam lagu klasiknya yang berjudul ‘Born To Be Wild‘ (ada di baris kedua bait kedua, “dasar maniak barang remeh-remeh!”).

“I like smoke and lightning Heavy metal thunder Racin’ with the wind And the feelin’ that I’m under”.

Tapi istilah itu belum dipakai secara tepat sampai pada tahun 1970, ketika Black Sabbath merilis album perdana klasik mereka yang berjudul ‘ Paranoid‘. Cukup banyak band Heavy metal.

Dari tahun 1960-an atau bisa disebut Blues Rock seperti Led Zeppelin, AC/DC Classic metal dan disekitar 60an sampai 70’an atau disebut Classic Rock seperti Black Sabbath, Blue Oyster Cult, Deep Purple, Alice Cooper. Permainan Classic metal dimainkan kadang dengan Organ. Musiknya dikendalikan olehriff yang lebih sering dimainkan dalam tangga nada minor. Vokalisnya juga terpengaruh oleh Led Zeppelin kecuali Bapak metal Ozzy Osbourne yang dipengaruhi oleh Sirene udara.

[sunting] Jenis-jenis metal

Berikut beberapa jenis metal lagi:

[sunting] 70’an

Ditahun 1968, sound yang akan menjadi terkenal dengan sebutan heavy metal telah bersatu. Di Januari, band dari Francisco Blue Cheer mengeluarkan cover song dari lagunya Eddie Cochran’s “Summertime Blues”, di album debut mereka Vincebus Eruptum dan banyak yang beranggapan bahwa rekaman pertama orisinil heavy metal adalah dari album tersebut.

[sunting] Progressive rock

Genre ini memang cenderung ke Rock tapi tetap aja ada unsur metalnya, yaitu, lagu panjang, lirik berkata ke roh dan setan-setan dan melodi gitar yang panjang. beberapa band Progressive rock ini seperti Genesis, Marillion, Rush, Queen, Jethro Tull. Belakangan sekitar Akhir 80’an barulah muncul genre yang lebih tepat disebut Progressive metal seperti Dream Theater, Queensrÿche, Fates Warning, yang lebih cenderung ke visualisasi.

[sunting] Punk

Punk juga merupakan genre yang tidak terlalu Metal awalnya. hingga pada akhir 60’an muncul Bapak punk Iggy Pop & The Stooges, New York Dolls dan memasuki pertengahan dan akhir 70’an baru munculah Sex Pistols, The Clash, The Damned, The Ramones yang sangat kental logat Ingris-nya. Tapi punk nyaris runtuh ketika bertabrakan dengan Pop ditahun 80’an dan berubah menjadi New Wave.

[sunting] Awal 80’an

Genre ini muncul di 70’an dan masih berupa musik Punk rock tapi lebih dikenal di awal 80’an. Di gawangi oleh band-band seperti Motörhead, Iron Maiden, Venom dan Diamond Head, .

[sunting] NWOBHM muncul di Britania raya

Awal 80’an ketika Heavy Metal bertabrakan dengan Blues di Britania Raya. Muncul Genre yang disebut New Wave of British Heavy Metal (NWOBHM) dengan riff nge blues dan vokal yang melengking. Muncullah band-band seperti Iron Maiden, Motörhead, Saxon, Judas Priest, Def Leppard dan Samson.

[sunting] Big Girls’ Blouse Metal atau Soft Rock, ‘AOR‘, Pop-rock

Pertengahan 80’an giliran NWOBHM dan American Metal yang bertabrakan dengan Pop hingga menjadi Big Girls’ Blouse Metal dengan kibasan rambut sang penyanyi cenderung slow dan lirik asmara. Band dari genre ini juga adalah “bekas” dari band yang bertabrakan itu seperti Reo Speedwagon, Foreigner.

[sunting] Extreme Metal (Underground)

Metallica band Thrash metal

[sunting] Thrash metal, Power metal, Speed metal, Black metal, Death metal, Grindcore

Tempo lagu sangat cepat yang diusung oleh gitaris yang memainkan gitar rhytm Downstroke pada Thrash metal oleh band-band seperti Metallica, Megadeth, Slayer dan Anthrax yang dijuluki Big Four Of Thrash. Di San Francisco ada Testament dan Exodus di New Jersey ada Overkill dan Sepultura dari Brazil, lalu pada tahun 1990’an, underground ini lebih memasuki ke Extreme metal seperti Grindcore dipelopori oleh Napalm Death dan Carcass, Black metal yang diprakarsai oleh band-band cadas seperti Venom, Mayhem, Bathory, Mercyull Fate, berkembang pada 1991 menjadi Scandinavian Death metal oleh Entombed, Dismember, Unleashed, dan At The Gates Melodic Death metal yang berasal dari Gothenburg Swedia lalu berkembang di Finlandia dan Norwegia oleh band-band seperti Arch Enemy, Dark Tranquillity, Disessction. Florida Death metal adalah Turunan jenis musik Thrash metal yang berasal dari band Kreator dan Destruction melahirkan band band asal Florida yang terkesan lebih brutal yang menjadi Techical metal di pioniri oleh Cynic (kemudian menjadi berevolusi menjadi Aghora ), Atheist, Immolation, Death. Progressive Death metal yang mungkin lebih cenderung ke visualisasi dan banyak mengunakan Tradisional pun dimaklumi, Pionirnya adalah Opeth, Pestilence, Death, Novembre dan mungkin Progressive metal oleh Dream Theater.

Perbedaannya dengan Power metal adalah genre ini lebih bersemangat dan vokalis genre ini kebanyakan di pengaruhi oleh Rob Halford dan Bruce Dickison band-band genre ini kebanyakan dari Eropa. Misalnya, Europe (Swedia), Iron Maiden (U.K), Helloween (Jerman). Dan Speed metal dimainkan lebih cepat sangat-sangat cepat dan bertenaga seperti Motörhead (akhir-akhir), Iron Angel, Anthrax.

[sunting] 90’an

Ketika para orang sudah kehabisan nama untuk mencari genre dan ketika punk yg jarang di era 80’an. tahun 90’an menjadi solusi ketika muncul genre yang disebut Grunge dan Alternative metal.

[sunting] Alternative metal

Primus, band pengungsung Alternative metal

Alternative metal adalah salah satu jenis metal yang paling populer di awal 90’an. Tapi ketika awal 80an orang sudah mengenal bagianya, Funk metal yang dipelopori oleh Faith No More, Red Hot Chilli Papers, Extreme, Primus, lalu hingga pada tahun 90’an munculah Rage Against The Machine.

Selain itu ada Industrial metal band seperti Fear Factory lalu Ministry lah pentolanya. Industrial metal juga banyak di pelopori oleh band dari Jerman seperti Rammstein ,Oomph!, Megaherz.

Lalu ada Punk Metal atau Crossover Thrash punk dengan lebih banyak gitar. Band-band genre ini seperti Suicidal Tendecies, Stromtroopers of Death. Dan lama-lama genre ini bermatamorfosis menjadi Hardcore Punk.

Nu Metal, Genre alternative metal yang terakhir adalah metal modern yang bermain dengan nada Industrial. Banyak band-band dari Korn, Slipknot, Limp Bizkit, Linkin Park hingga Disturbed. lalu banyak bagian genre ini dari Rap core, Rap metal, Hip metal.

[sunting] Grunge (90’an)

Kurt Cobain

Tahun 1990-an ketika wabah musik Grunge yang awalnya adalah Punk dan bermunculan di Seattle dan dikembangkan oleh Kurt Cobain walaupun sedikit cenderung ke Alternative rock. Band Grunge dari Seattle, seperti Nirvana, Soundgarden, Pearl Jam, dan Alice in Chains sebelum band itu ada sebenarnya grunge sudah ada oleh band-band seperti Malfunkshun dan Green River setelah itu ada Temple of the Dog Mad Season, Mudhoney sampai Melvins. Setelah kematian Kurt Cobain musik Grunge jarang datang lalu kembali di-ilhami dengan band-band seperti Skin Yard dan PJ Harvey. Jika suatu band memainkan musik Grunge tapi band itu bukan berasa dari Seattle. Nama yang dipakai bukanlah Grunge, tetapi Post-Grunge seperti L7, Stone Temple Pilots, Paw, Hole (Yang sang vokalis Courtney Love adalah istri dari Kurt Cobain hingga menjadi Grunge).

Heavy metal adalah sebuah aliran musik rock yang berkembang pada 1970-an. Aliran musik ini mengutamakan gitar yang cukup banyak.

Heavy metal ditemukan oleh Band veteran Tahun 60’an Steppenwolf, dalam lagu klasiknya yang berjudul ‘Born To Be Wild’ (ada di baris kedua bait kedua, “dasar maniak barang remeh-remeh!”).

“I like smoke and lightning Heavy metal thunder Racin’ with the wind And the feelin’ that I’m under”.

Tapi istilah itu belum dipakai secara tepat sampai pada tahun 1970, ketika Black Sabbath merilis album perdana klasik mereka yang berjudul ‘ Paranoid’. Cukup banyak band Heavy metal.

Dari tahun 1960-an atau bisa disebut Blues Rock seperti Led Zeppelin, AC/DC Classic metal dan disekitar 60an sampai 70’an atau disebut Classic Rock seperti Black Sabbath, Blue Oyster Cult, Deep Purple, Alice Cooper. Permainan Classic metal dimainkan kadang dengan Organ. Musiknya dikendalikan olehriff yang lebih sering dimainkan dalam tangga nada minor. Vokalisnya juga terpengaruh oleh Led Zeppelin kecuali Bapak metal Ozzy Osbourne yang dipengaruhi oleh Sirene udara.


Jenis-jenis metal
Berikut beberapa jenis metal lagi:
70’an
Era 70’an semua jenis metal masih berada dalam Classic metal.

Progressive rock
Genre ini memang cenderung ke Rock tapi tetap aja ada unsur metalnya, yaitu, lagu panjang, lirik berkata ke roh dan setan-setan dan melodi gitar yang panjang. beberapa band Progressive rock ini seperti Genesis, Marillion, Rush, Queen, Jethro Tull. Belakangan sekitar Akhir 80’an barulah muncul genre yang lebih tepat disebut Progressive metal seperti Dream Theater, Coheed & Cambria yang lebih cenderung ke visualisasi.

Punk
Punk juga merupakan genre yang tidak terlalu Metal awalnya dimotori oleh The Who tapi tidak terlalu nyata. hingga pada akhir 60’an muncul Bapak punk Iggy Pop & The Stooges, New York Dolls dan memasuki pertengahan dan akhir 70’an baru munculah Sex Pistols, The Clash, The Damned, The Ramones yang sangat kental logat Ingris-nya. Tapi punk nyaris runtuh ketika bertabrakan dengan Pop ditahun 80’an dan berubah menjadi New Wave.

NOTHING THE DAY WITHOUT ROCK N' ROLL MUSIC

NOTHING THE DAY WITHOUT ROCK N' ROLL MUSIC

Sejarah musik rock
Jimi Hendrix
Jimi Hendrix merupakan salah satu pelopor rock

BBC TV sejak akhir Mei lalu menayangkan acara khusus tentang sejarah musik rock dunia dalam 7 seri, yang akan digelar hingga akhir Juni.

Program yang diberi judul 7 Ages of Rock itu menampilkan perkembangan musik rock sejak masa 1960-an hingga abad ke 21.

Ringkasan program itu disiarkan dalam Info Musika BBC Siaran Indonesia, yang memaparkan masa-masa awal musik Rock, dengan pengantar acara Liston P. Siregar.

Musik Rock dikembangkan dari musik Blues asal Mississipi di Amerika, dan salah satu gitaris yang menonjol di masa awal kelahirannya adalah adalah gitaris Jimi Hendrix.

Setelah masa awal dengan irama blues yang kental –seperti Satisfaction karya Stones yang pada prinsipnya adalah blues, kata Keith Richard– berkembanglah musik rock yang memadukan musik dan seni pertunjukan.

Aliran diawali dengan seniman pop dunia, Andy Warhol, yang berkolaborasi dengan The Velvet Underground.

Dan yang sering disebut puncak dalam masa ini –yang juga dikenal sebagai art rock– adalah The Wall karya Pink Floyd, berupa pertunjukan teater rock.

Sex Pistols
God Save The Queen dari Sex Pistols menegaskan kehadiran punk

Sementara itu sekelompok pemusik lain di awal 1970-an mengembangkan punk, dengan pelopor The Sex Pistols dan The Clash.

Salah satu aliran lain yang juga berkembang dari rock adalah heavy metal dengan prinsip ‘secepat mungkin dan sekuat mungkin.’

Dengan pionir Black Sabbath, aliran ini kemudian diramaikan oleh Deep Purple, Judas Priest, Iron Maiden dan Metallica.

Tentu saja peran musisi-musisi besar dunia lain tidak bisa dilupakan begitu saja, walaupun mungkin mereka tidak bisa disebut menawarkan sebuah pendekatan yang sama sekali baru.

Sejumlah rockers raksasa hingga saat ini masih tetap bergema, antara lain Led Zeppelin, Nirvana, The Queen, The Police, maupun Bruce Springsteen.

Memasuki Abad 21, rock mungkin bisa disebut memasuki masa indie dengan awal The Smiths asal Inggris.

Beberapa kelompok yang masih mengibarkan bendera rock di Abad 21 antara lain Franz Ferdinand, The Libertines, dan The

Arctic Monkeys.

* Musik Heavy Metal I *
237 magnify
Heavy Metal adalah sebuah aliran musik rock yang berkembang pada 1970-an. Aliran musik ini mengutamakan gitar yang cukup banyak.

Heavy metal ditemukan oleh Band veteran Tahun 60’an Steppenwolf, dalam lagu klasiknya yang berjudul ‘Born To Be Wild‘ (ada di baris kedua bait kedua, “dasar maniak barang remeh-remeh!”).

“I like smoke and lightning Heavy metal thunder Racin’ with the wind And the feelin’ that I’m under”.

Tapi istilah itu belum dipakai secara tepat sampai pada tahun 1970, ketika Black Sabbath merilis album perdana klasik mereka yang berjudul ‘ Paranoid‘. Cukup banyak band Heavy metal.

Dari tahun 1960-an atau bisa disebut Blues Rock seperti Led Zeppelin, AC/DC Classic metal dan disekitar 60an sampai 70’an atau disebut Classic Rock seperti Black Sabbath, Blue Oyster Cult, Deep Purple, Alice Cooper. Permainan Classic metal dimainkan kadang dengan Organ. Musiknya dikendalikan olehriff yang lebih sering dimainkan dalam tangga nada minor. Vokalisnya juga terpengaruh oleh Led Zeppelin kecuali Bapak metal Ozzy Osbourne yang dipengaruhi oleh Sirene udara.

Progressive rock

Genre ini memang cenderung ke Rock tapi tetap aja ada unsur metalnya, yaitu, lagu panjang, lirik berkata ke roh dan setan-setan dan melodi gitar yang panjang. beberapa band Progressive rock ini seperti Genesis, Marillion, Rush, Queen, Jethro Tull. Belakangan sekitar Akhir 80’an barulah muncul genre yang lebih tepat disebut Progressive metal seperti Dream Theater, Coheed & Cambria yang lebih cenderung ke visualisasi.

Punk

Punk juga merupakan genre yang tidak terlalu Metal awalnya dimotori oleh The Who tapi tidak terlalu nyata. hingga pada akhir 60’an muncul Bapak punk Iggy Pop & The Stooges, New York Dolls dan memasuki pertengahan dan akhir 70’an baru munculah Sex Pistols, The Clash, The Damned, The Ramones yang sangat kental logat Ingris-nya. Tapi punk nyaris runtuh ketika bertabrakan dengan Pop ditahun 80’an dan berubah menjadi New Wave.

American-Metal

Genre ini memang muncul di 70’an tapi lebih dikenal di awal 80’an. dengan lirik asmara dan teknik Palm-mute. Vokal melengking band seperti Van Halen, Aerosmith, Bon Jovi, Motley Crue.

NWOBHM muncul di Britania raya

Awal 80’an ketika Heavy Metal bertabrakan dengan Blues di Britania Raya. Muncul Genre yang disebut New Wave of British Heavy Metal (NWOBHM) dengan riff nge blues dan vokal yang melengking. Munculah band-band seperti Iron Maiden, Saxon, Judas Priest, Def Leppard dan Samson.

Big Girls’ Blouse Metal atau Soft Rock, ‘AOR‘, Pop-rock

Pertengahan 80’an giliran NWOBHM dan American Metal yang bertabrakan dengan Pop hingga menjadi Big Girls’ Blouse Metal dengan kibasan rambut sang penyanyi cenderung slow dan lirik asmara. Band dari genre ini juga adalah “bekas” dari band yang bertabrakan itu seperti Def Leppard, Bon Jovi, Reo Speedwagon, Foreigner.

Underground Metal

Metallica band Thrash Metal

Metallica band Thrash Metal

[sunting] Thrash metal, Power metal, Speed metal

Tempo lagu sangat cepat yang diusung oleh gitaris yang memainkan gitar rhytm Downstroke pada Thrash metal oleh band-band seperti Metallica, Megadeth, Slayer dan Anthrax yang dijuluki Big Four Of Thrash. Di San Fransisco ada Testament dan Exodus di New Jersey ada Overkill dan Sepultura dari Brazil, lalu pada tahun 1990’an, underground ini lebih memasuki ke Extreme metal seperti Black metal yang diprakarsai oleh band-band cadas seperti Venom, Mayhem, Bathory, Mercyull Fate dan Death Metal yang cenderung menggunakan vokal dengan growl rendah dan banyak screamnya berkembang pada 1991 menjadi Scandinavian Death metal oleh Entombed, Dismember, Unleashed, dan At The Gates Melodic Death metal yang berasal dari Gothenburg Swedia lalu berkembang di Finlandia dan Norwegia oleh band-band seperti Arch Enemy, Dark Tranquillity, Disessction. Florida Death metal adalah Turunan jenis musik Thrash metal yang berasal dari band Kreator dan Destruction melahirkan band band asal Florida yang terkesan lebih brutal yang menjadi Techical metal di pioniri oleh Cynic (kemudian menjadi berevolusi menjadi Aghora ), Atheist, Immolation, Death. Progressive Death metal yang mungkin lebih cenderung ke visualisasi dan banyak mengunakan Tradisional pun dimaklumi, Pionirnya adalah Opeth, Pestilence, Death, Novembre dan mungkin Progressive metal oleh Dream Theater.

Perbedaannya dengan Power metal adalah genre ini lebih bersemangat dan vokalis genre ini kebanyakan di pengaruhi oleh Rob Halford dan Bruce Dickison band-band genre ini kebanyakan dari Eropa. Misalnya, Europe (Swedia), Iron Maiden (U.K), Helloween (Jerman). Dan Speed metal dimainkan lebih cepat sangat-sangat cepat dan bertenaga seperti Motorhead (akhir-akhir), Iron Angel, Anthrax.

Berawal dari ke-tulalit-an saya waktu di ajak ngobrol adek-adek SMA di sebuah kelas English Course.
Jadi, waktu itu sedang ada sesi diskusi alias belajar speaking.
Kita disodori banyak topik, dan salah satunya:
“Does it annoy you when your neighbour listen to a Heavy Metal Music?”
Akhirnya, anak-anak SMA itu pada nge-bahas musik metal.
Jelas itu bukan bidang ku dan aku gak tau blas. Untung waktu itu gak kena hukum karena aku cuma manggut2 doank. Kebiasaan orang Informatika, kalo ngomong kan mesti pake data-data. Hehehe…

Ternyata, di situs swaramuslim pernah dibahas satu topik yang berkaitan masalah ini. Bahkan salah seorang dosen ilmu sejarah dari Universitas California-Irvine udah mengangkat fenomena Heavy Metal Islam jadi judul sebuah buku. Ternyata, ke-gandrungan anak2 muda akan genre musik yg satu ini gak cuma melanda Indonesia, tapi juga melanda anak2 muda di negara-negara di Timur Tengah sana. Kira-kira apa penyebanya? Lihatlah dari galeri foto yang disajikan. Fenomena yang sangat “menarik” bukan?

Dalam petikan wawancara yang di muat swaramuslim itu gak disebutin apakah si penulis buku ini non muslim atau bukan. Tapi dari kalimat yang saya cetak tebal di bagian akhir wawancara itu, saya mengambil kesimpulan kalau penulisnya ini kemungkinan besar non muslim.

Terlepas dari itu semua, apa yg ia paparkan sangat mungkin memang merupakan fakta. Bahwa dari waktu kewaktu dekadensi religi di kalangan kaum muda semakin nyata. Tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

“Heavy Metal Islam”. Pasti banyak orang tertarik dengan judul buku yang unik ini. Tapi judul itu belum selesai. Karena masih berlanjut pada judul kecil di bawahnya yang bertuliskan, “Rock, Resistance, and the Struggle for the Soul of Islam.” Buku itu karya Profesor Mark Levin, salah seorang dosen ilmu sejarah di Universitas California-Irvine.

Menurutnya, tidak sedikit para pemuda Islam di Timur Tengah saat ini yang mulai gandrung pada aliran musik Heavy Metal. Dan itu menurut Levin merupakan sebuah ungkapan revolusi atas perasaan tertekan dan kondisi otoriter yang mereka alami. Untuk mengungkap bagaimana aliran Heavy Metal mulai merasuki pemuda Timur Tengah, situs Islamonline melakukan wawancara dengan Levin, si penulis buku. Berikut petikannya:

Ada sejumlah tokoh aliran Heavy Metal dari kalangan Islam. Apakah anda merasakan bahwa aliran musik itu tidak menghalangi mereka dari sosok muslim yang baik? Bagaimana mereka bisa memadukan antara musik beraliran keras dengan Islam?

Saya sudah berbicara dengan sejumlah pemuda seperti itu, dan mereka menyampaikan bahwa mereka tetap melakukan shalat Jum’at di masjid misalnya, selanjutnya mereka meneruskan panggung musik Black Metalnya selama empat jam berturut-turut. Di sini, di negara Barat, kita lihat Black Metal adalah salah satu aliran musik Metal yang mempunyai style musik yang unik karena memiliki kecepatan musik dan lengkingan suara dalam nyanyiannya. Di samping iringan drum dan ragam jenis gitar. Aliran musik ini dikenal juga dengan Satanic Metal. Di AS dan Skandinavia, aliran musik seperti ini sudah ada dan disebut sebagai aliran setan yang anti-agama dan anti-Kristen.

Tapi di Timur Tengah ada kelompok pemuda yang menyanyikan Satanic Lyric, meski tidak banyak. Kebanyakan mereka mengatakan, alasannya menyanyikan Black Metal cuma gaya saja. Mereka tidak menyanyikan Satanic Lyric nya, melainkan aliran musiknya saja.

Di sejumlah negara Arab, apakah ada penentangan terhadap musik Heavy Metal?
Ya, sejumlah orang yang mengaku komitmen dan kelompok Salafi selalu menolaknya. Bahkan, mereka bukan hanya menolak Heavy Metal tetapi menolak musik itu secara umum. Meskipun musik itu digunakan untuk kepentingan agama. Ada yang mengatakan itu adalah haram. Tapi perlu ditegaskan, kondisinya sudah berubah dalam sepuluh tahun terakhir. Pada tahun 1997, pemerintah Mesir pernah melarang pertunjukan musik Metal untuk meredakan revolusi agama yang memang menentangnya. Presiden Mubarak merasa pada waktu itu, dia harus meredakan kaum agamis yang menentangnya.

Tapi setelah itu, sejumlah pemuda mulai cenderung pada aliran ini, meskipun mereka tetap berhati-hati dengan berbagai hal yang tidak sesuai dengan kondisi Mesir, terkait dengan masalah Zionisme atau tudingan menyerupai Barat. Sekarang, Heavy Metal bukan masalah di Timur Tengah. Pemerintah tidak terlalu memantau prilaku penduduknya karena orang-orang Mesir sekarang juga sudah berubah. Al-Ikhwan Al-Muslimun saat ini tengah sibuk dengan tekanan dari pemerintah, sehingga perhatian mereka terhadap masalah aliran musik dan group band Heavy Metal tidak terlalu tajam lagi.

Di Maroko, Partai Keadilan dan Pembangunan yang dikenal memiliki orientasi keIslaman masih menentang Heavy Metal. Tapi sejumlah partai agama lainnya tidak terlalu menentangnya karena pada umumnya, mereka sedang sibuk mengkaji dan mempermasalahkan soal demokratisasi di tempatnya.

Bisa Dikatakan bahwa Heavy Metal mulai tersebar di Timur Tengah?
Memang sudah menyebar. Tapi Heavy Metal di sana sudah kehilangan substansinya. Aliran itu muncul pertama di Inggris pada tahun ’60 atau ’70-an sebagai bentuk penolakan terhadap kaum muda yang kehilangan pekerjaan dan karena rekonstruksi perekonomian yang meninggalkan bisnis konvensional sehinga banyak tempat yang dilanda kemiskinan. Semua kondisi itu memunculkan kemarahan, dan itulah yang melatarbelakangi Heavy Metal.

Dalam cover buku Anda terpampang gambar perempuan yang berjilbab tapi memakai kaos bertuliskan Heavy Metal. Apa pesan yang ingin Anda sampaikan lewat gambar itu?
Sebagian orang menganggap jilbab itu sebagai ancaman. Saya ingin mengangkat pesan bahwa ketika Anda melihat perempuan berjilbab dengan kaos seperti ini, apa pendapat Anda? Anda pasti akan melihatnya berbeda. Ternyata dia menyukai Heavy Metal seperti Anda. Titik inilah yang ingin saya angkat dalam uraian buku saya pada bab “Mengapa mereka membenci kami?” Kaum Muslimin itu masing-masing berbeda. Kita di AS juga berbeda-beda ada yang beraliran partai Demokrat, ada yang Republik, yang satu sama lain saling berkompetisi. Kita tidak mungkin menyamaratakan pandangan terhadap Islam dan dunia Islam, karena ada ragam bentuk di sana.

ROCK N' ROLL OF HEAVY METAL MAKE ME GROW MY MIND AND MY INSPIRATION

ROCK N' ROLL OF HEAVY METAL MAKE ME GROW MY MIND AND MY INSPIRATION

Galery:

Egypt Heavy Metal

Targeted Iraqi heavy metal band Acrassicauda

Bagdhad

Heavy Metal Madness in Tehran

Mohammed Saad, right, and Mohammed Azzam, second left, two pioneers of Egypt’s heavy metal scene, pose with unidentified band members and fans in this undated recent concert that was held in the outskirt of Cairo, Egypt

Dari petikan wawancara di atas setidaknya ada 4 penyebab suburnya perkembangan musik rock di negara-negara yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, yaitu:
1. Music Metal menurut sebagian kawula muda adalah merupakan ungkapan revolusi atas perasaan tertekan dan kondisi otoriter yang mereka alami.

2. Music Metal mempunyai style musik yang unik karena memiliki kecepatan musik dan lengkingan suara dalam nyanyiannya. Di samping iringan drum dan ragam jenis gitar. Jelas gampang banget menarik minat kawula muda yang jiwanya lagi penuh semangat.

3. Mereka beralasan menyanyikan Black Metal cuma gaya saja. Mereka tidak menyanyikan Satanic Lyric nya, melainkan aliran musiknya saja.

4. Di negara-negara yang penduduknya mayoritas mengaku beragama Islam, pemerintahan yang berkuasa sekarang banyak yang tidak terlalu memantau prilaku penduduknya sehingga perhatian mereka terhadap masalah aliran musik dan group band Heavy Metal tidak terlalu tajam lagi. Pada umumnya mereka sedang sibuk mengkaji dan mempermasalahkan soal demokratisasi di tempatnya sehingga kurang memperhatikan permasalahan yang dihadapi generasi muda.

al-ulama

•Februari 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

function setAttributeOnload(object, attribute, val) {
if(window.addEventListener) {
window.addEventListener(“load”,
function(){ object[attribute] = val; }, false);
} else {
window.attachEvent(‘onload’, function(){ object[attribute] = val; });
}
}

CERMIN * RAHSA * * ELING LAN WASPADA *

Tan Samar Pamoring Sukma Sinukmaya Winayah Ingasepi Sinimpen Ing Telenging Kalbu Pambukaning Warana Jiwangga Sumanten Haqq Haqq Tan Ajrih lan Kuwatos Suraos Jenjem Ayem Tentrem Sumurup Dening Allah SWT * Ila Hadroh N.Muhammad SAW,Ahli Bait, Shohabat2,Ambiya, Mursalin, Syuhada, Sholihin, Malaikat2,Sulthon Auliya,Murobbi,Rijalulloh,Abdal,Aqthab,Authad,Nujba,Ahli Haqq,Wali2, Guru2, Yogi2,Abi Ummi ,Leluhur2,Mas MbakYu ,Garwo ,Wayah2, Dulur2,Muslimin Muslimat Ahya Wa Mamat AlFatihah *

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak” (Ar-Rahman: 37)

Tawassul

Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam.Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:

(1) Nabi
(2) Shiddiq
(3) Salmaan
(4) Qaasim
(5) Ja’far
(6) Thayfuur
(7) Abul Hasan
(8) Abuu ‘Ali
(9) Yuusuf
(10) Abul ‘Abbaas
(11) ‘Abdul Khaaliq
(12) ‘Aarif
(13) Mahmuud
(14) ‘Alii
(15) Muhammad Baabaa as-Samaasii
(16) Sayyid Amiir Kulaali
(17) Khwaaja Bahaa’uddin Naqsyband
(18) ‘Alaa’uddiin
(19) Ya’quub
(20) Ubayd Allaah
(21) Muhammad az-Zaahid
(22) Darwiisy Muhammad
(23) Khwajaa al-Amkanaki
(24) Muhammad al-Baaqi
(25) Ahmad al-Faruuqi
(26) Muhammad Ma’sumM
(27) Sayfuddiin
(28) Nuur Muhammad
(29) Habib Allaah
(30) ‘Abd Allaah
(31) Syekh Khaalid
(32) Syekh Ismaa’il
(33) Khaas Muhammad
(34) Syekh Muhammad Effendi al-Yaraaghi
(35) Sayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-Husayni
(36) Abuu Ahmad as-Sughuuri
(37) Abuu Muhammad al-Madanii
(38) Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestani
(39) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestani
(40) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani

Syahaamatu Fardaani
Yuusuf ash-Shiddiiq
‘Abdur Ra’uuf al-Yamaani
Imaamul ‘Arifin Amaanul Haqq
Lisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-Sakhaawii
Aarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-Mulhaan
Burhaanul Kuramaa’ Ghawtsul Anaam
Yaa Shaahibaz Zaman
wa yaa Shahibal `Unshur

Yaa Budalla
Yaa Nujaba
Yaa Nuqaba
Yaa Awtad
Yaa Akhyar
Yaa A’Immatal Arba’a
Yaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardh
Yaa Awliya Allaah
Yaa Saadaat an-Naqsybandi

Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, a’sa nahdha bi-fadhlillah,
Al-Faatihah

Image of Heart with Dhikr, for Members Only Email staff@sufimeditationcenter.com

Rabu, 2008 Januari 30

HUWA (DIA)

Bismillah

Alhamdulillah … Astaghfirullah … Shollallah Ala Muhammad
Huwa : Dia adalah merupaka Salah satu nama Allah yang merupakan nama yang disenangi para ahli mistikus. Bahkan penerapannya dapet kita jumpai dalam ritus – ritus tarekat di jawa dan olah kebatinan islam kejawen yang menggunakan Huu (Dari Huwa, yang dalam membacany wawunya di waqofkan) sebagai meditasi tarik keluar nafas yang biasa disebut pengamalan sholat daim. (Tarik nafas Huu , Buang Nafas Allah; ada juga Tarik Nafas Yaa, Simpan Nafas Allah , Buang Nafas Huu; dan berbagai kombinasi ayang menyertakan Huu ). Huwa adalah Dia. Nama yang bisa dikatakan universal. Sedangkan Allah adalah nama yang dikenalkan Allah SWT di Alqur’an. Nama yang mencakup nama pengesaan/peneguhan. Dimana 99 asma Allah yang lain terangkum dalam nama Allah. Huwa adalah nama Allah dalam entitas Dia dalam Alam Ahadiyat. Yaitu Alam yang piningit. Alam Suwung . Alam dimana Hanya Allah yang ada. Sehingga dikatakan ‘Dia’. Yaitu dia yang belom bernama apapun. Masih belum tersentuh keberadaan-nya/ Dzatnya. Dia adalah nama dimana Nama itu merupakan realitas yang dituju oleh para pecinta sejati. Nama itu adalah nama yang berada di alam sangkan paraning dumadi. alam dimana yang tiada meminta kepada Dia untuk diadakan. Yang pada akhirnya segala sesuatu yang dikatakan ada akan meminta untuk ditiadakan kembali. Kembali dalam realitas yang hampa dan sunyi dimana Hanya Dia yang ada. Dikisahkan dari kitab asmaul husna karya alqusyairi bahwa ada seorang sufi menjumpai seorang sufi yang lain yang nampaknya sedang majdzub (mengalami kegilaaan ilahiah/ ekstase spiritual sehingga ‘lupa ingatan’ karena mabuk cinta pada Allah). Dari bibir sang sufi yang sedang majdzub hanya terkatakan Huwa … Huwa… Huwa.. Maka sang sufi yang sedang lewat itu menjumpai sang sufi yang sedang majdzub tadi. Namamu siapa? Di jawab Huwa.
Siapa Nama Ayahmu. Punya keluarga ? Di jawab Huwa. Tempat tinggalmu? di jawab Huwa. Apa maksudmu Huwa? Di jawab Huwa.Pokoknya setiap pertanyaan selalu di jawab Huwa.
Akhirnya ditanyakan apa yang kamu maksud Huwa tadi itu Allah? Mendengar ini sang sufi yang selalu menjawab Huwa tadi menjerit dalam kerinduan yang dalam dan makin keras Huwa nya lalu rubuh tak bernyawa. Ternyata mendengar nama Allah kerinduannya makin memuncak. Sehingga di dorong kerinduan yang dalam ruhnya bersuka ria menuju Alam Huwa.
Tujuan para pencari sejati
Alhamdulillah … Astaghfirullah … Shollallah Ala Muhammad
More … Alfatiha

‘Islamnya ‘ Orang Jawa

Bismillah…
Alhamdulillah … Astaghfirullah …. Shollallah ala Muhammad
Secara pakem dalam tasawuf sunni (tasawuf yang merujuk pada AlGhozali dan Imam Junayd)
tangga dalam islam dikenal ada 4 : yaitu syari’at , tarekat, hakikat dan makrifat.
Dilakukan secara berurut dan merupakan satu kesatuan yang utuh.
atu bundle tak terpisah. batal satu batal semuanya.
Dalam tasawuf islami/ tasawuf falsafi (merujuk pada Ibnu Arobi dan AlHallaj )sebenarnya juga 4 itu menjadi hal yang satu. urutannya juga sama. hanya saja di tasawuf falsafi
penekanan terhadap pemahaman nur muhammad menjadi sentral. Sebenarnya tarekat – tarekat
yang ada bisa disebut kombinasi dari kedua tasawuf ini. Disebutkan bahwasnya tarekat
menurunkan ilmu tarekatnya berupa dzikir/dzikir atau latihan- latihan yang harus di jalani murid dan menurunkan kunci tarekatnya berupa pengertian hakekat yang dalam dan
pengetahuan makrifat yang lebih spesifik yang biasanya terkait dengan pengamalan nur muhammad. Biasanya secara awal latihan/latihan meditasi yang di pusatkan di lathifah-lathifah. (titik – titik tubuh gerbang ke rasa/dalaman/ batin diri, beda dengan cakra yang merupakan gerbang ke energi alam semesta; kalo cakra semakin jauh posisi di atas cakra mahkota semakin ilahi) . Yang merupakan cloning murni dari tasawuf sunni adalah tarekat alawiyah yang merupakan tarekatnya para sadah alawiyyin (keturunan dari keturunan nabi saw dari jalur sayyid alwi bin ubaidillah bin ahmad almuhajir bin isa hadromi , yaman).
Yang merupakan paduan tarekat alghozali dan tarekat syadzili. Di indonesia tarekat ini menyebar melalui wali songo. Sedangkan konon secara jelas tasawuf falsafi di bawa
syekh siti jenar ke jawa menjadi ajaran islam kejawen yaitu manunggaling kawulo gusti. Sedangkan dilihat dari tata cara meditasi di islam kejawen mirip sekali dengan
tarekat naqsbandi dan tarekat syatariah. Besar kemungkinan juga ajaran islam kejawen
di pengaruhi dua tarekat ini. Penyebarannya bisa melalui syeh siti jenar. Atau barang kali ada beberapa dari ‘kelompok’ wali songo yang mengajarkan. Tapi yang jelas di jawa wali songo mengajarkan tarekat alawiyah yang di padu dengan ‘kebudayaan manusia jawa’ setempat. Besar kemungkinan dua hal itu malah salaing lengkap melengkapi.
Jika kita lihat lebih ke dalam pada islam kejawen , sebenarnya mengakui 4 tangga secara jelas yaitu syariat , tarekat , hakekat dan makrifat. Ini terungkap dari suluk sukma lelana dari pujangga besar Ronggo Warsito. Tapi ternyata ada hal yang membedakan dari pakem yang sebenarnya. Yaitu urutannya terbalik. Bukan dari syariat dulu kemudian menaik. Tapi bisa dari makrifat (sebagian) – hakekat – syariat – makrifat (full). Karena banyak dikisahkan banyak orang jawa yang rajin solat justru dari urutan yang terbalik tadi. Setelah tau makrifat yang sebagian Dikatakan sebagian karena orang jawa dengan kebudayaan batin yang tinggi malah mengalami mukasyafah sebagian yaitu bisa melihat alam bawah sadar , melihat aura, membaca hati dan pikiran orang dengan laku ‘mulia’ yang di lakoninya berdasar falsafah / kebudayaan batin asli jawa yang adi luhung. Ini terwujud ketika orang jawa tulen solat betul – betul tumbuh dari makrifat apa yang ia syahadatkan, ia weruh / makrifat terhadap sholat syariat yaitu peningkatan dari eling (sholat daim). Tau urgensitasnya/hakekatnya kenapa harus solat dan memahami betul cara untuk sholat yang baik kemudian ketika menjalani sholat secara syariat betul – betul tumbuh dati kebeningan rasa dan pikir. Lahir batin. Ketika itulah ia bermakrifat terhadap Allah dengan sebenar-benarnya. Tau yang dilakukan lahirnya karena kehendak batinnya. Dalam suluk2 terlihat syekh siti jenar, ki ageng pengging dan sunan panggung dan murid2nya yang kemudian di pengaruhi juga menjadi murid sunan kalijaga pad akhirnya , mengkritik ahli syareat yang hanya tau kulit tanpa tau isinya. Karena konon pewaris2 dari murid2 mereka juga menjalani disiplin syariat yang ketat. Hanya saja urutannya terbalik. Mereka benar- benar baru bisa menjalankan syariat jika lahir dari kehendak yang palin dalam. Sehingga banyak cerita , banyak orang jawa tulen jika sudah menjalani syariat malah betul – betul bisa total. Dan banyak juga murid tarekat yang berasal dari jawa tulen setelah masuk ke tarekat malah lebih cepat ‘lulus’. karena sudah terbantu dengan latihan jiwa menurut falsafah jawa. Malah banyak juga bahkan banyak sekali yang sedari kecil sudah kenyang melihat tulisan-tulisan arab tidak paham-paham juga, Sehingga sulit melewati kelulusan tarekat. Mereka tidak paham tarekat adalah sekolah untuk mencuci jiwa. banyak malah dari mereka yang belajar untuk agar sakti untuk mendapat karomah atau untuk menjadi wali, Padahal bukan itu tujuannya. Bahkan Habib Luthfi ketua JATMAN (organisasi tarekat nu’tabarah di bawah nu) berulang kali menjelaskan bahwa tarekat adalah sekolahan untuk membersihkan jiwa. Sehingga disiplin2 dzikir bertujuan mencuci jiwa dan menggantikannya dengan kalimat tauhid dan ismu dzat. Penisbatan dan Penafi’an yaitu pengukuhan dan peniadaan. Bukan untuk tujuan yang lain sebagai tangga untuk menapak tahap selanjutnya. MSH, Khalifah haqqani, juga menjelaskan bahwa tarekat merupakan disiplin jiwa untuk tahap ihsan. Jadi jawa yang tulen dalam kepemahaman islam kejawen adalah mengerti terhadap apa yang diperbuatnya. Tau lahir batin terhadap apa yang telah di syahadatkan. Ada kisah pada waktu dulu seorang kejawen datang ke seorang mursyid kamil mukammil tarekat naqsbandi kholidiyah di suatu daerah kajen, pati untuk menguji kedalaman ilmu sang mursyid. Maka sang mursyid berkata pada tamunya kalo sampeyan memang benar makrifat coba ceritakan pada saya proses biji tumbuhan sampai berbuah secara komplit meliputi apa kebutuhan bagaimana proses tumbuhnya. Dijawab sang penguji lah saya kan gak belajar ilmu tumbuh2an. kalo anak saya yang di sd yah belajar. namanya ipa atau apa saya juga gak dong. saya kan orang kuno. gak tau gituan. wong gak sekolah kok. Sang mursyid menjawab yah sama, saya juga gak sekolah. dari kecil mesantren. belajar kitab kuning dan menghafal qur’an. gak belajar ilmu gituan. lah sampeyan kan ngaku makrifat tentunya tau dong. makrifat kan tau tanpa belajar. tau tanpa ada yang memberitahu. taunya tanpa sarana atau ilmu. Balik sang penguji tanya. kalo menurut sampeyan gmn jawaban yang sampeyan tanyakan. Akhirnya sang mursyid menjawab ..bla..bla…bla..jawabannya komplit banget. hehehe…samapi kholofil dan khloroplas tau..melebihi taunya ahli botani. Akhirnya sang penguji mengakui kedalaman sang mursyid ini malah minta dibai’at. Hebatnya sang penguji yang kemudian menjadi murid ini datangnya cuman sekali dua kali tapi oleh sang mursyid dinyatakan lulus. Artinya apa? jika orang sudah bagus lakunya dan sempurna tekadnya untuk mencari kebenaran maka mudah untuk dibentuk dan belajarnya juga cepat. Alhasil maksud uraian ini adalah marilah beragama lebih baik lagi, berspiritual lebih baik lagi. Lahir batin sama. Lahir tumsusing batin. Mari…
Alhamdulillah … Astaghfirullah …. Shollallah ala Muhammad
More … Alfatiha

SEMAR DALAM KALIGRAFI

Bismillah
Alhamdulillah… Astaghfirullah … Shollallah ala muhammad
Kaligrafi itu tergantung di rumah kost teman .
Kaligrafi ayat kursi berbentuk semar yang di lukiskan di atas media kulit dengan lingkaran hitam yang melingkupi ayat kursi berbentuk semar dengan posisi jari telunjuk bersyahadah ‘mengganggu’ sekali di pikirku maka tergerak untuk memberi nadzornya.
* Pertama mengenai lingkaran berwarna hitam yang akan di nadzor.
Warna hitam disini simbol dari akhfa / the most hidden . Sesuai dengan arti lakon
wayangnya : semar : Semar diambil dari kata samar (tidak terang / gelap). Dalam
terminologi sufistik akhfa ini adalah realitas yang paling hakiki dimana sudah
tidak dikenal lagi ruang dan waktu. Disinilah segala rahasia berada. Disinilah hal
– hal yang ‘ginaib’ berada. Empat pepesten (takdir) yaitu mati hidup jodoh dan
rezeki berada disini . Sehingga disebut juga baitul muharrom (‘rumah larangan’).
Dalam bahasa jawa disebut ‘rasa sejati’. Sehingga ditempat inilah rahasia diri kita
yang sejati.Dikatakan segala bentuk niat kita hanya kita dan Allah yang tau maka
maknanya merujuk pada tempat ini. Juga di katakan bahwa ‘Berdo’alah kepadaku ,
Niscaya Aku kabulkan’ juga merujuk pada baitul Muharrom ini. Di rumah ini terjaga
panah – panah api yang akan menghanguskan segala lelembut/jin yang berusaha
mengintip. Jadi tempat2 ini betul2 ‘privat’. Tempat ini / rasa sejati ini memiliki
sifat ‘kayu’/ hidup dan qodim /kekal. Hidup karena ketitipan Hidupnya Gusti Allah
SWT dan qodim karena di qodimkan oleh Allah. Sifat hidup mutlak dan qodim mutlak
hanya milik Gusti Allah SWT.
* Kedua mengenai lukisan ayat kursi yang membentuk lukisan semar. Semar di lukiskan
berperawakan tambun dengan jari telunjuk bersyahadah. Ayat kursi sendiri bermakna
‘kekuasaan’ atau ‘tempat kedudukan’. Ayat kursi dalam dunia hikmah dapat digunakan
untuk membakar ‘syetan’. Jadi semar / samar dan ayat kursi menguatkan sifat
lingkaran hitam yang ‘ginaib’ dan ‘kekuasaan Allah ‘ yang abadi. Dalam dunia wayang
dikenal kredo ‘Semar ngejo wantah’ artinya semar mengeja wantah atau menjelma.
Senada dengan kredo ini adalah tik kullah (titik/titis Allah), Kun kunung – kunung
kumasalah (pancaran cahaya yang amat terang di alam ketuhanan), nur sari marang
(inti cahaya yang menjelma ke bumi).
Bukan berarti ada wujud dalam bentuk semar dari langit lalu turun ke bumi . bukan
itu maksudnya. Maksudnya bahwa manusia ketitipan
rasa sejati yang senantiasa berada dalam ‘Kekuasaan Allah’ secara mutlak. Dengan
hal ini pulalah manusia di jadikan khalifah di muka bumi. Dan jika mulut manusia
menjadi ‘mulut Allah’ , mendengar dengan ‘pendengaran Allah’ , melihat dengan
‘penglihatan Allah’ , kedua tangannya ‘Tangan Allah’ maka di rasa sejati yang
samar inilah tajalli-Nya/manifestasi-Nya. Semar dilukiskan tambun. Ini melambang
kan bahwa rasa sejati bersifat ‘sentosa’, ‘kenyang’ tak butuh makan. terjaga tidak
tidur. Telunjuk bermusyahadah adalah bahwa rasa sejati ini hendaknya dilahirkan/
dimusyahadahkan. Sehingga dikatakan yang batin telah disyahadahkan/di tampakkan.
Lahir batin hendaknya sama. Manusia harus jujur lahir batin untuk meraih keutamaan.
Apa yang tersirat sama dengan apa yang tersurat.
* ketiga. lukisan itu dilukis di media kulit bulu. Tidak di media yang lain
seperti kain atau yang lain. Ini mengandung maksud pada kulit dan bulu manusia.
Maksudnya pada jasad manusia inilah ketitipan oleh Allah rahasia yang agung /
rasa sejati ini. Dengan jasad berwujud manusia inilah manusia menjadi khalifah
di muka bumi. Jadi lahir batin manusia adalah sempurna. Inilah yang disebut
manusia diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna. Dikatakan manusia
yang melalaikan titipan Allah nanti tidak akan disiksa dalam wujud ‘manusia’.
Manusia yang lebih rendah dari binatang akan disiksa dalam wujud ‘kebinatangannya’.
Yang rakus seperi babi akan disiksa seperti babi. uang seperti anjing suka
menggonggong dan menggigit akan disiksa dalam wujud anjing. yang hidupnya hanya
menuruti syahwat seperti binatang ternak juga akan disiksa dalam wujud binatang
ternak. sebabnya karena manusia melalaikan titipan yang agung berupa rasa sejati
dan jasad yang begitu dimuliakan oleh Allah. Untuk mengoperasikan secara benar
titipan jasad ini manusia dikaruniai akal. Sedangkan diberi nafsu sebagai cobaan
‘hidup’ untuk dikendalikan kea arah jalan utama agar manusia tampak elok dan
sempurna. selesai nadzornya.
Alhamdulillah… Astaghfirullah … Shollallah ala muhammad
More … Alfatiha

Kamis, 2008 Januari 24

Mas Parman Mencari Tuhan

Mas Parman Mencari Tuhan
* M Dawam Rahardjo *

“Ada yang aku lupa laporkan padamu, Yon,” kata Mas Ihsan padaku, “ketika aku bertemu dengan Mas Parman.”

“Wah, apa yang lupa, Mas?” tukasku menanyakan soal yang kelihatannya sangat penting. “Aku sempat bertanya begini,” jelas Mas Ihsan padaku. “Apakah Mas sekarang sudah percaya dengan adanya Tuhan?”

Lalu, Mas Parman menjawab, “Loh, aku selama ini, sejak tidak percaya kepada Tuhan, tidak mencari-cari lagi. Sebab, apa saja yang telah aku temukan sebelumnya, pasti bukan Tuhan. Kalaupun ada, itu pun Tuhan ciptaan manusia. Tapi, mengapa tiba-tiba saja, kau menanyakan hal itu, San?” Mas Parman balik bertanya kepadaku.

“Kita kan sama-sama tahu, jika seseorang ingin bertemu dengan Tuhan, lakukanlah dengan amal saleh. Menurut hematku, sekalipun orang itu sudah atheis sejak awalnya, jika perbuatannya itu baik, ia akan menemukan Tuhan melalui pintu hidayah.”

“Oh, begitu.”

“Saya punya permintaan kepada Mas Parman, sebagai saudara tua yang paling kami cintai dan sayangi.”

“Apa permintaanmu itu?”

“Begini Mas, tetapi jangan tersinggung kalau memang selama ini Mas Parman tidak lagi bermaksud mencari Tuhan, bagaimana jika waktu masuk masa pensiun, Sampeyan sekarang ini terus mempertahankan budi pekerti luhur sebagai jembatan untuk memperoleh penjelasan mengenai Tuhan. Jadi, Mas Parman mencari Tuhan atas permintaan saya dan demi seluruh saudara-saudara kita.”

“Lalu, bagaimana hasilnya?” tanyaku tak sabar ingin mengetahui reaksi yang ditunjukkan Mas Parman.

“Alhamdulillah, Yon, Mas Parman mau. Tetapi, dia memerlukan bantuanku. Dia ingin mencari dan menemukan Tuhan melalui proses dialog denganku.”

“Memang Sampeyan berdua itu paling akur, akrab, dan cocok pula. Kalau aku tidak sanggup, sebagaimana Sampeyan juga tahu, aku orangnya tidak sabar. Sebaliknya, Sampeyan, Mas Ihsan, memang telaten. Kemudian, apa saja yang sudah Sampeyan berdua lakukan dan bisa diceritakan padaku, Mas?” aku terus mengejar lantaran makin penasaran.

“Ya, pertama-tama aku mengajaknya sowan ke Gus Dur. Sebelum sowan, aku pertemukan Mas Parman dengan KH Agus Miftah, seorang kiai pengembara yang belajar di pelbagai pesantren, persis seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim.”

“Apa yang Sampeyan dan Mas Parman dapatkan dari kiai itu?”

Ia bilang seperti ini:

“Wah, kalau sampeyan-sampeyan tanya tentang eksistensi Tuhan padaku, aku belum tahu jawabannya. Mari kita sowan ke Gus Dur dulu dan menanyakan pertanyaan ini kepadanya.”

Ketika kami bertemu dengan Gus Dur, Kiai Agus bertanya kepada sang kiai yang sering dijuluki sebagai wali itu, “Kami ingin tanya, Gus…”

“Apa pertanyaanmu itu? Pasti aku kesulitan menjawabnya, sebab kamu ini kiai NU yang mbeling.”

“Gus, sebetulnya Tuhan itu ada atau tidak ada, sih?”

“Oh, kalau pertanyaan itu, gampang saja menjawabnya.”

“Apa jawabannya, Gus?”

“Ya, kalau orang percaya pada Tuhan, Tuhan ada. Tetapi kalau orang itu tidak percaya Tuhan, ya Tuhan tidak ada,” jawab Gus Dur tidak mau repot.

Namun, seusai sowan dengan Gus Dur dan berpisah dengan Kiai Agus, Mas Parman berujar, “Saya kira, saya setuju dengan pendapat Gus Dur, kendati pendapat saya tetap berbeda dengan pandangan Gus Dur itu. Menurut saya, Tuhan itu tidak ada, karena itu tidak usah dicari-cari.”

Setelah itulah aku menegaskan kembali maksud utamaku kepada Mas Parman sambil mengungkapkan pikiranku, “Kalau aku sendiri,” demikian aku berkata pada Mas Parman, “sejalan dengan kedua pandangan Kiai Agus Miftah dan Gus Dur, karena itulah, lagi-lagi, kami saudara-saudara Sampeyan, memohon agar Mas Parman memenuhi permintaan kami.”

Selang beberapa hari kemudian, kami menerima undangan untuk menghadiri Majelis Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah. Pengajian itu dilaksanakan di Simprug, rumah Kiai Agus Miftah. Di rumah itu, pengajian dilaksanakan di tepi kolam renang dengan udara terbuka. Kebetulan, waktu itu muncul bulan sabit di sela-sela pohon kelapa. Suasananya memang indah, hanya saja dingin. Yang cukup menarik lagi, ternyata pengajian tersebut dihadiri orang-orang dan tokoh-tokoh lintas agama. Tentu saja, pembicaranya tidak hanya ulama-ulama, tetapi juga pendeta dan romo-romo. Pesertanya bisa beragam dan hampir dari semua kalangan. Karena itu, pengajiannya lebih berbentuk diskusi yang bersifat dialog kritis. Acara presentasi yang biasanya dilakukan paling sedikit oleh dua orang dan didahului dengan uraian dari Kiai Agus Miftah. Tak dapat disangkal, kiai itu luas sekali pengetahuannya, tidak saja mengenai Islam tetapi agama-agama lain juga. Dalam ceramah yang kami hadiri itu, Kiai Agus mencoba menjawab pertanyaan kami, yaitu apakah Tuhan itu ada? Sesuai dengan jawaban Gus Dur, Kiai Agus Miftah juga berpendapat bahwa hal itu sesuai dengan orang yang bertanya. Apabila orang itu percaya, ya Tuhan ada, jika tidak, ya Tuhan tidak ada. Kemudian Kiai Agus menguraikan selintas sejarah Tuhan, seperti halnya dilakukan oleh Karen Amstrong.

Ia mengawali keterangannya seperti ini: “Sebagian manusia memang percaya dengan adanya Tuhan. Masalahnya, mereka tidak mampu memberikan argumen yang memadai tentang adanya Tuhan. Ilmu pengetahuan yang ilmiah telah gagal. Dengan kata lain, Tuhan memang tidak dapat dicari dengan ilmu pengetahuan, tetapi dengan pengalaman kebatinan. Menyelami pengalaman mencari Tuhan merupakan laku seorang sufi. Sebagian dari mereka merasa telah menemukan Tuhan. Misalnya, Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn ‘Arabi, dan sebagainya. Namun, permasalahan asal dari semua itu akan selalu berbenturan dengan adagium dasar. Yakni, Tuhan yang ditemukan oleh siapa pun adalah bukan Tuhan. Tuhan hanya bisa ditemukan di akhirat kelak. Itu pun kita tidak bisa tahu dan memastikannya. Dari pengalaman mencari Tuhan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan yang kita percaya selama ini adalah Tuhan buatan manusia.”

Di tengah-tengah paparan Kiai Agus, Mas Parman berbisik kepadaku, “Makanya aku tidak memercayai Tuhan yang digambarkan oleh manusia, kalaupun harus percaya, aku hanya percaya kepada Tuhan yang diinformasikan oleh Tuhan sendiri. Tetapi, kalau boleh tanya, dari mana informasi ihwal Tuhan dapat diperoleh, apakah dari Alquran?”

“Ya memang tidak,” jawabku. Aku pun lantas menambahkan, “Kita bisa mendapatkan informasi tentang Tuhan dari semua Kitab Suci, bahkan juga penjelasan dari para filsuf dan sufi. Akan tetapi, informasi yang tetap autentik pasti dari Kitab Suci, bukan filsafat. Karena, lagi-lagi semua yang dideskripsikan oleh filsuf atau seorang sufi sekalipun, itu adalah Tuhan ciptaan manusia atau yang dipersepsikan oleh manusia. Akibatnya, deskripsi tentang Tuhan berbeda-beda. Antara lain, Tuhan menurut orang Islam: Allah, orang Kristen: Tri-Tunggal, Sang Bapak, Sang Anak, dan Roh Kudus, yang merupakan three in one. Di sisi lain, Tuhan menurut orang Yahudi sering disebut Yahweh. Jadi, Mas Parman, masalahnya tetap soal kepercayaan.”

“Demikianlah diskusi antara aku dan Mas Parman di sela-sela pengajian Kiai Agus Miftah. Kemudian kami terus mendengarkan dengan khidmat ceramahnya,” ungkap Mas Ihsan.

“Yon,” Mas Ihsan mencoba memberikan pengertian padaku, “Itulah sebabnya kita mesti dapat memahami sikap Mas Parman yang selama ini menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada, namun akhir-akhir ini dia mulai berusaha mencari-Nya. Tak pelak, yang dilakukan Mas Parman itu tidak berbeda sama sekali dengan laku para sufi, yaitu mencari Tuhan dengan pengalaman batin. Pada prinsipnya, Tuhan memang bisa dicari dengan pelbagai cara. Kita sendiri meyakini seseorang yang mampu menemukan Tuhan, semata-mata berkat hidayah-Nya. Untuk bisa memperoleh hidayah, kita harus beribadah. Menurut Kiai Agus konsep ketuhanan Islam itu berasal dari konsep Yahweh. Keduanya, Islam dan Yahudi, menyebut Tuhan itu sebagai Baal. Sedangkan simbol ketuhanan dalam Islam sendiri adalah Kakbah, yang di dalamnya terdapat Hajar Aswad. Konsep itu sejatinya mengikuti simbol ketuhanan Yahudi, yang disebut rock of the doom. Bagi kami, orang Islam, Tuhan Yahudi, dan Tuhan orang Islam pada hakikatnya sama. Tetapi, sebagian ulama memberikan tafsiran bahwa Tuhan Yahudi itu merupakan Tuhan yang keras, sedangkan Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang Pengasih, dan Islam sendiri menyebut Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena itu, Tuhan dalam Islam menyempurnakan konsep-konsep Tuhan sebelumnya, terutama Tuhan orang Kristen dan Yahudi.”

Kemudian, aku mengajukan pertanyaan lebih lanjut pada Mas Ihsan, yang setelah lulus dari Pabelan memang berhasil menjadi seorang teolog Muslim. Aku sendiri malah menjadi seorang petani-pengusaha, karena aku memasuki Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, setelah lulus dari Pesantren Al-Islam, “Bagaimana hasil yang dicapai para sufi itu?” Mas Ihsan menjawab, “Beberapa orang sufi merasa telah menemukan Tuhan. Al-Hallaj merasa menemukan Tuhan setelah mengalami hulul, atau persatuan dengan Tuhan, sehingga dia mengeluarkan pernyataan ana al-haq (aku adalah Tuhan). Banyak kesalahpahaman terhadap perkataan Al-Hallaj itu, yang menyebabkan Al-Hallaj akhirnya dihukum mati. Padahal, yang dimaksud oleh Al-Hallaj sebenarnya menurut pendapatku, ia telah menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri, yang selama ini memang sangat dekat, karena teramat rajin dan khusyuknya Al-Hallaj dalam beribadah. Tuhan sedekat urat lehernya. Hemat saya, pada waktu itu Al-Hallaj memperoleh hidayah dan diberikan pengertian yang terang tentang Tuhan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jalaluddin Rumi. Ia akhirnya mampu bercerita bahwa selama ini ia merasa berada di kamar gelap. Lalu ia dengan sekuat tenaga mencari tahu. Namun, ternyata hampa dan tidak menemukan apa-apa dalam kamar gelap itu. Artinya, usaha mencari Tuhan itu tidak perlu. Karena Ia sudah ada dalam diri seseorang yang dapat dirasakan lewat pengalaman batin, melalui kesadaran rohani.”(…pengalaman sufistik Ibn Arabi mencari Tuhan…)

“Oh, begitu,” gumamku.

“Pengalaman rohani yang dilalui Mas Parman,” begitulah Mas Ihsan mencoba mengaitkan pencarian Tuhan Mas Parman dengan laku para sufi, mulai tumbuh persis seusai mengikuti ceramah dan diskusi bersama majelis pengajian Kiai Agus Miftah. Mas Parman langsung berkomentar di dalam mobil:

“Wah, ini memang pengajian yang hebat. Selama ini saya tidak pernah mengalami pengajian yang menarik seperti ini. Saya kagum dengan Kiai Agus Miftah yang menyampaikan pandangannya melalui proses diskusi dengan pendengar yang kritis dan beranekaragam pendapatnya. Dengan begitu, respons dari para peserta pengajian sangat penting artinya. Maka itu, kalau saya, lain kali diundang lagi, saya mau menghadirinya.”

Alhamdulillah dengan respons Mas Parman itu, aku pun jadi turut belajar banyak.

“Dik,” sahut Mas Parman lagi, “terus terang saya bangga karena memiliki adik seperti kamu. Tanpa kamu saya tidak akan pernah bisa belajar seperti ini.”

“Kalau begitu, berilah aku kesempatan untuk terus mendampingi Sampeyan, Mas. Aku juga masih perlu banyak belajar dari Mas Parman yang bijaksana ini.”

sumber : http://jhonskb.multiply.com/reviews
More … Alfatiha

Kepala Ikan untuk Sang Nelayan

Seorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.

Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya.

Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.

Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka.

Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana.

Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.

Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.

Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.

Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, “Katakanlah pada gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia.”

Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu,” tanya nelayan itu, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”

Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri.

Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah kehairanan, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.

“Dia benar,” jawab sang nelayan, “ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh.

sumber : http://syafii.wordpress.com/2007/04/02/kepala-ikan-untuk-sang-nelayan/
More … Alfatiha

TELAGA HIKMAH (1)

Bismillah
Alhamdulillah Astaghfirullah Shollallah Ala Muhammad
* Kisah di nkil dari sebuah buku *** dengan redaksi secukupnya :D :D :D
Pernah terjadi dialog seorang bijaksana dengan salah seorang cantriknya
di pelataran padepokan :
Murid :
Wahai yang tercerahkan, kenapa do’a ulun gak pernah kabul?
Kalo malam menggelayut, ketika orang sudah terpulas tidurnya
Hamba bersimpuh di hadapan-Nya
Minta dengan sangat kabulnya do’a ulun
Kalo siang kuayunkan kaki
Menggapai harapan
Sampai keringat ini mengkristal
Menunggu datangnya kabulnya do’a
Tapi tak pernah datang
Dimana keadilan itu Guru?

Guru :
Wahai Muridku
Jika kujawab mengapa do’amu gak terkabul
Engkau akan menganggap menipumu
Jangan menuntut padaku
Aku adalah Guru
Tak berharap imbalan apapun
Dari yang kuajarkan
Imbalan darimu bagiku
Kau Pahami dan kau amalkan yang kuajarkan padamu
Aku hanya akan berkisah
Dengarkanlah dan resapi
Begini Kisahnya :

************
Ada kisah tentang Nabi Isa Alaihis Salam dengan seorang muridnya
Telah diketahui bahwa N. Isa AS ini berjuluk ‘Ruhullah’
Penguasa Maqom ‘Ruh’
Penguasa Warna Merah (Dalam terminologi tarekat)
Mempunyai Mu’jizat dapat menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati
Beliau mempunyai ‘kalimat yang agung’
Ismu Al A’dhom
yang jika di panjatkan pada Tuhan pemguasa Alam Semesta
Maka akan hiduplah yang mati
Maka ada murid yang penasaran dengan kalimat ini
Meminta untuk diajarkan kalimat ini
Tiada hari tanpa dia minta dijarkan kalimat itu
Mengiba
Bersimpuh
Tiada ingin makan dan minum
Yang dia tau dia harus dapat pengajaran kalimat itu
Maka Nabi Isa AS mengajarkan dengan syarat pergunakanlah secara bijaksana
Jika tidak kau akan menyesal selamanya
ibarat gelas retak kau isi air panas
Maka mendapat pengajaran murid itu
tentang ‘kalimat yang agung’
yang mampu menghidupkan yang mati
dengan bersuka ria sang murid menerima pengajaran itu
Bagai tumbuh sayap di kedua bahunya
Tak lama setelah itu dia ada keperluan
Maka pergilah sang murid itu
Kebetulan ia lewat sebuah ‘gurun’
Maka mendapatilah ia seonggok tulang belulang
Ingatlah ia akan pengajaran kalimat yang baru saja ia terima
Inginlah dia mencobanya
Maka ‘bersabdalah’ ia dengan kalimat itu
Sekejab dari tulang belulang itu
bentuk membentuk
menjadi seekor singa
Singa yang ‘tidur’ itu serasa bangun dari mimpinya
Dalam keadaan lapar yang sangat karena mungkin tidur panjangnya
Maka membau dia akan ‘darah segar’
sekejab diliatnya sang murid itu di depannya
yang masih bengong akan ketakjuban yang baru dilihatnya
Secepat berganti kengerian secepat itu pula singa melompat
menerkam
habislah sang murid itu
menjadi makanan singa yang baru bangun itu

**********

Guru :
Resapilah kisah ini
Jangan terburu – buru berprasangka yang tidak – tidak
Pada Tuhan Yang Maha Adil
Hakmu untuk berdoa
Lebih dahulu dari pada Hakmu untuk mendapatkan
Bahkan sebelum berdoa
Dia sudah tahu kebutuhanmu
Karena Dia Maha Tahu
Maha Mencukupi
Doamu yang panjang
Rintihanmu setiap malam
adalah kebanggaan-Nya
yang di tunjukan pada para Malaikatnya
Ini Hambaku
Hambaku ini bertamu kepadaKu
Maka Aku akan melayani hambaku sebaik-baiknya
Maka kesabaranmu dalam rintihan panjangmu
Yang diirikan para Malaikat
Membakar syetan – syetan di dirimu
Membuat Azazil lari terbirit – birit
Wahai Muridku, Camkanlah ini

Murid :
Wahai Guru , Terimakasih
Atas pengajaran ini
Akan kujadikan jimat
yang kukalungkan didada
Biarlah aku merintih
Sepanjang yang Dia Mau
Bahkan baru kuketahui sekarang
Rintihanku adalah Anugerah-Nya
Aku berasyik masyuk dengan Rajaku
Maka Wahai Guru
Tak ingin yang lain lagi
Maka do’aku sekarang
Ya Allah Penguasa Alam Semesta
Yang Tunggal
Biarkanlah hambamu ini merintih sepanjang malam
Dan jadikanlah aku Tamu-Mu

Guru :
Kau telah tercerahkan Muridku
Bersyukurlah engkau pada Anugerah yang agung ini
Anakku Perjalananmu masih panjang
Tugasku mengantarkanmu pada Guru Sejatimu sendiri
Guru Sejatimulah yang akan mengantarmu ke tujuan
Tujuan yang di damba setiap pencari

Maka berurai air mata sang murid. Begitu juga Gurunya sangat haru biru terhadap kemajuan spiritual yang diraih muridnya

Alhamdulillah Astaghfirullah Shollallah Ala Muhammad

Wassalam
More … Alfatiha

Senin, 2008 Januari 21

Do’a Agar Cepat Mendapatkan Jodoh

Yaa Allah, semoga Engkau cepat mengirimkan jodoh yang sholihah ( jodoh yang sholih) pada kami. Dan semoga Engkau jadikan jodoh yang hatinya penuh kasih sayang kepada kami. Dengan haq sabda-Mu “ Yaa Tuhan kami, berikanlah pada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan kami, dan jadikanlah pada kami sebagai pemimpin pada orang-orang yang bertaqwa” Dan dengan haq Utusan-Mu. Dan dengan haq beribu-ribu kalimat “Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” Dan semoga sholawat salam senantiasa tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, dan sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

sumber : http://almihrab.com/berita.php?
opo=detail&kd_berita=115&head=Doa-doa&menux=20

“Ya Allah, sungguh aku ingin menikah, maka tentukanlah bagiku dari kalangan perempuan yang paling menjaga kesuciannya, yang paling menjaga dirinya bagiku dan harta bendaku, yang paling luas rezekinya, yang paling besar berkahnya, takdirkan anak yang baik darinya bagiku dan jadikan dia keturunan yang saleh pada masa hidupku dan setelah matiku”

sumber : http://parsimurgh.wordpress.com/

:D :D :D

Ya Tuhan, kalau dia memang
jodohku,
dekatkanlah…
Tapi kalau bukan jodohku, Jodohkanlah….

Jika dia tidak berjodoh denganku, maka
jadikanlah kami jodoh…

Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia
dapet jodoh yang lain, selain aku…

” Ya Tuhan, kalau dia tidak bisa di jodohkan
denganku, jangan sampai
dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak
berjodoh sama seperti diriku…
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh,
jodohkanlah kami kembali…

” Ya Tuhan, kalau dia jodoh orang lain,
putuskanlah! Jodohkanlah denganku….

Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar
orang lain itu ketemu jodoh dengan yang lain
dan
kemudian Jodohkan kembali dia dengan ku …

Aamin….

sumber : http://tausyiah275.blogsome.com/2006/08/10/
doa-minta-jodoh-tapi-ngawur/

Seandainya telah engkau catatkan
Dia milikku tercipta buatku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagian antara kami
Agar kemesraan itu abadi

Dan Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ketepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi Ya Allah
Seandainya telah engkau takdirkan
Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan

Serta Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengerti
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa bahagia
Walaupun tanpa bersama dengannya

Dan Ya Allah Yang Tercinta
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya

Ya Allah Ya Tuhanku
Pasrahkanlah aku dengan takdirmu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Kerana Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini mahupun di akhirat
Menjuruskan aku kearah kemaksiatan dan kemungkaran

Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yg beriman
Supaya aku dan dia sama-sama dapat membina
kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau redhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amien

Sumber : http://www.duniasastra.com
http://dhyadiana.wordpress.com/2007/02/28/doa-jodoh/
More … Alfatiha

BEDA TASAWUF DAN ILMU HIKMAH

1 PENGERTIAN ILMU HIKMAH

Ilmu hikmah adalah sebuah ilmu kebatinan dengan metode zikir dan doa, adakalanya juga dengan mantra berbahasa Arab atau campuran tetapi tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam, ditujukan untuk urusan duniawi seperti kekebalan, pangkat, karir, perjodohan, pengasihan dan lain-lain
2 PENGERTIAN TASAWUF

Yaitu bersungguh-sungguh (dalam berbuat baik) dan meninggalkan sifat-sifat tercela (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 7).

Aslinya Tasawuf (yiatu jalan tasawuf) adalah tekun beribadah, berhubungan langsung kepada ALLAH, menjauhi diri dari kemewahan dan hiasan duniawi, Zuhud (tidak suka) pada kelezatan, harta dan pangkat yang diburu banyak orang, dan menyendiri dari makhluk di dalam kholwat untuk beribadah (Lihat kitab Zhuhrul Islam IV-Halaman 151)

Adapun batasan tasawuf adalah : Maka berkata Junaed : yaitu bahwa kebenaran mematikanu dari dirimu dan kebenaran tersebut menghidupkanmu dengan kebenaran tersebut. Dan ia berkata juga : Adalah kamu bersama ALLAH tanpa ketergantungan. Dan dikatakan : Masuk pada segala ciptaan yang mulya dan keluar dari segala ciptaan yang hina. Dan dikatakan : Yaitu akhlak mulia yang tampak pada zaman yang mulia beserta kaum yang mulia. Dan dikatakan : Bahwa kamu tidak memiliki sesuatu dan sesuatu itu tidak memiliki kamu. Dan dikatakan : Tasawuf itu dibangun atas 3 macam : (1) Berpegang dengan kefakiran dan menjadi fakir (2) kenyataan berkorban dan mementingkan orang lain (3) Meninggalkan mengatur dan memilih (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 4).
3 TATA CARA MENGUASAI ILMU HIKMAH
Dengan puasa, zikir/wirid, amalan, doa, membaca ayat-ayat Qur’an, dengan mantra, sya’ir-syair yang dibuat para Ulama Hikmah atau yang didapat dari ilham para Ulama Hikmah atau dari ilham Ahli Tasawuf dan lain-lain
4 TATA CARA MENGUASAI TASAWUF

Maka wajiblah beramal dengan Islam, Maka tidak ada tasawuf kecuali dengan fiqih, karena kau tidak mengetahui hukum-hukum ALLAH Ta’ala yang lahir kecuali dengan fiqih. Dan tidak ada fiqih kecuali dengan tasawuf, karena tidak ada amal dengan kebenaran pengarahan (kecuali dengan tasawuf). Dan juga tidak ada tasawuf dan fiqih kecuali dengan Iman, karena tidaklah sah salah satu dari keduanya (fiqih dan tasawuf) tanpa iman. Maka wajiblah mengumpulkan ketiganya (iman, fiqih, tasawuf) . (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 5).

Imam Malik berkata : Barangsiapa bertasawwuf tapi tidak berfiqih maka dia telah kafir zindiq (pura-pura beriman), dan barangsiapa yang berfiqih tapi tidak bertasawuf maka dia telah fasik (berdosa) dan barangsiapa yang mengumpulkan keduanya (fiqh dan tasawwuf) maka dia telah benar. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 6).

Jadi Tasawwuf itu harus melalui Iman (akidah), Islam (syari’ah) dan Ihsan (Hakikat). Atau amal Syari’ah, Thoriqoh dan Hakikah. Maka Syari’ah adalah menyembah ALLAH, Thoriqoh adalah menuju ALLAH, dan Hakikah adalah menyaksikan ALLAH. Atau Syari’ah itu untuk memperbaiki lahiriah, Thoriqoh untuk memperbaiki bathiniah (hati), dan Hakikah untuk memperbaiki Sir (Rahasia diri). Memperbaki anggota tubuh dengan 3 perkata : Taubat, Taqwa dan Istiqomah. Dan memperbaiki hati dengan 3 perkara : Ikhlas, jujur dan tenang. Dan memperbaiki Sir (Rahasia Diri) dengan 3 perkara : Muroqobah (saling mengawasi antara diri dan ALLAH), Musyahadah (saling menyaksikan antara diri dan ALLAH), dan Ma’rifah (Mengenal ALLAH secara mutlak dan jelas).(Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 11).

Harus melalui Ikhlas tingkat tertinggi (Khowwasul Khowwash). Dan ikhlas itu ada 3 derajat : (1) Derajat Awam (umumnya manusia) (2) Khowwash (3) Khowwasul Khowwash. Maka (1) ikhlasnya orang awam yaitu mengeluarkan makhluk dari beribadah kepada ALLAH beserta mencari bagian-bagian dunia dan akhirat. seperti menjaga badan, harta, keluasan rizki, perdagangan dan yang indah dipandang (2) Ikhlasnya Khowwash adalah mencari bagian akhirat tanpa mencari bagian dunia. (3) Dan ikhlasnya Khowwashul Khowwash adalah mengeluarkan bagian-bagian semuanya (dunia dan akhirat). Maka ibadah mereka adalah sebenar-benar penyembahan, dan melaksanakan tugas-tugas dari ALLAH, atau cinta dan rindu melihat-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Faridh: “Bukanlah permintaanku berupa surga jannatun na’im, hanya saja aku mencintai surga untuk melihat-Mu” (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 31-32).
5 TUJUAN HIKMAH
Tujuannya masalah duniawi seperti kekebalan, kesaktian, pengasihan, jodoh, ramalan, pengobatan, kerejekian dan lain-lain
6 TUJUAN TASAWWUF
Tujuannya adalah Ma’rifatullah (mengenal ALLAH secara mutlak dan lebih jelas)
7 KEKUATAN LUAR BIASA

Kekuatan luar biasa ilmu hikmah termasuk kekuatan luar biasa Hissiah (panca idnera/lahiriah) seperti berjalan di atas air, terbang di udara, melipat bumi, menimbulkan air, menarik makanan, tampaknya kegaiban dan lain-lain. Dan kekuatan luar biasa ahli tasawwuf adalah Hakikah / Ma’nawiyyah (sebenar-benarnya karomah) yaitu istiqomahnya (kontinyu) seorang hamba kepada Tuhannya dalam lahir dan bathin. Terbukanya hijab dari hatinya sehingga mengenal jelas Tuhannya. menguasai dirinya dan berbeda dengan hawa nafsunya, kuat yakinnya dan diamnya, tenang dengan ALLAH. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 317).

Imam Ibnu ‘A-tho-illah berkata : Seringkali ALLAH memberi rizki karomah (kekeramatan) pada orang yang tidak sempurna isqomahnya. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 317).

Yang diambil pelajaran oleh Ahli Tahqiq (Ahli Tasawwuf sejati) adalah jangan mencari karomah Hissiah ini dan jangan berpaling kepadanya. Karena kadang tampak karomah Hissiah ini pada tangan orang yang tidak sempurna istiqomahnya. Bahkan kadang tampak pada tangan orang yang tidak ada istiqomah sama sekali, seperti para tukang sihir dan dukun. Dan kadang tampak pada tangan-tangan Rahib (pendeta).Dan ini bukanlah karomah tapi Istidroj. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 317).

Imam Abu Yazid Al Bustomi berkata : “Jika kamu melihat seseorang yang diberikan karomah (kekeramatan) sehingga dia dapat terbang di udara maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu melihat bagaimana kamu mendapatkan dia melaksanakan perintah dan menjuahi larangan, menjaga batasan-batasan, dan melaksanakan syari’at” (Lihat kitab Risalah Qusyayriyyah halaman 14 atau buku 40 Masalah Agama III halaman 38)

Sumber :

Kitab Iyqo-zhul Himam fii Syarhil Hikam cetakan dan terbitan Al Haromain, Jeddah karangan Al ‘Arif Billah Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah Al Husni.

http://sholih.multiply.com/journal/item/2/beda_ilmu_hikmah_dengan_tasawwuf
More … Alfatiha

KEPANTASAN YANG HAKIKI ADALAH ENGKAU LIPATKAN JARAK DUNIA DARI KAMU SEHINGGA ENGKAU MELIHAT AKHIRAT LEBIH DEKAT KEPADA KAMU DARI DIRI KAMU SENDIRI.

Kepantasan perjalanan yang dimaksudkan oleh Hikmat 97 ini bukanlah kepantasan perjalanan tubuh badan. Memang ada orang yang boleh bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain di atas muka bumi ini dalam sekelip mata sahaja. Perjalanan yang demikian dipanggil ‘terlipatnya bumi.’ Kebanyakan orang cenderung untuk memiliki ilmu melipat bumi ini kerana menyangka kebolehan yang demikian menjadi tanda kewalian seseorang. Perlu diingatkan bahawa kebolehan yang demikian dimiliki juga oleh iblis sedangkan iblis adalah musuh Tuhan, bukan wali-Nya. Jika berpegang kepada Sunah Rasulullah s.a.w keramat zahir tidak dipentingkan. Rasulullah s.a.w sendiri sewaktu berhijrah dari Makkah ke Madinah menggunakan kelajuan manusia biasa, tidak kepantasan lipat bumi, padahal Rasulullah s.a.w adalah manusia yang paling keramat, ketua sekalian wali. Rasulullah s.a.w menggunakan jalan cermat, perlahan dan sukar, sesuai dengan sifat semula jadi manusia. Perbuatan Rasulullah s.a.w menunjukkan bahawa kesabaran menghadapi perjalanan yang sukar itulah yang sebenarnya kekeramatan, bukan perjalanan sepantas kilat.

Kepantasan hakiki yang mampu melipat jarak dunia bukanlah kepantasan tubuh badan bergerak dalam dunia. Ia adalah perjalanan kerohanian ketika bertemu sesuatu dan menghadapi sebarang kejadian. Ke manakah kerohaniannya pergi ketika itu? Orang yang memperturutkan pandangan nafsunya, tempat jatuhnya adalah zahirnya alam dan sebab musabab. Tetapi, orang yang melihat dengan pandangan hatinya akan melihat kepada batinnya alam. Dia melihat ketuhanan dalam segala sesuatu. Sebaik sahaja dia berhadapan dengan sesuatu perkara serta-merta pandangan hatinya tertuju kepada Allah s.w.t yang menerbitkan segala perkara, hinggakan tidak sempat memerhatikan benda-benda alam dan hukum sebab musabab.

Pandangan hati yang segera memerhatikan Allah s.w.t dalam segala perkara itu dinamakan kepantasan hakiki. Tipu daya dunia tidak sempat menyambar perhatian hatinya. Ego dirinya juga tidak sempat bertunas. Perhatiannya tertuju kepada keabadian, tidak kepada dunia dan dirinya yang bersifat sementara. Kurniaan Allah s.w.t yang menyelamatkan hamba-Nya dari tarikan dunia dan ego dirinya adalah kekeramatan yang sebenar. Rohaninya mempunyai kepantasan hakiki untuk melepasi ruang dunia dalam sekelip mata lalu menyaksikan keabadian, hingga terasalah olehnya akhirat yang kekal abadi itu lebih hampir dengan dirinya sendiri. Beginilah keadaan orang arifbillah.

sumber : http://alhikam0.tripod.com/hikam097.html
More … Alfatiha

Ngelmu Hakekatul Makripat (NgHM)

ada dongeng
lisan tentang SSJ ini dan murid-muridnya tentang
Ngelmu Hakekatul Makripat (NgHM), sebagai berikut:

Murid-murid (MM): “Kanjeng Syech, apa bisa kami-kami
yang murid Kanjeng Syech ini
menyamai Panjenengan?”
SJ: “Jangankan menyamai, para Sedulur, bahkan
bisa melebihi….”
MM: “Lho, apa iya, masak murid bisa melebihi
gurunya?”
SJ: “Iya, apa yag tidak mungkin di dunia ini?
Tetapi kan ada syaratnya. Dan syarat itu
belum juga berhasil saya peroleh sendiri,
saya masih juga mengupayakannya”
MM: “Apa itu Kanjeng Syech?”
SJ: “Itu adalah yang disebut Ngelmu Hakekatul
Makripat”
MM: “Lha artinya dalam bahasa kami apa, Kanjeng
Syech?”
SJ: “Artinya yang sama persis dengan maksud aslinya
memang tidak ada. Tetapi dapat diterangkan.
NgHM itu artinya bila seseorang mampu
mencapainya maka akan mampu melihat segala
sesuatu apa adanya. Tidak ada yang mampu
menutup-nutupi” (betapa repotnya Kanjeng
Syech menerangkan istilah itu kepada murid-
muridnya yang tidak faham bahasa Arab)
MM: “Contohnya?”
SJ: “Contohnya, kan sudah didhawuhkan oleh Gusti
Allah, kalau manusia itu sebenernya sama,
tetapi akibat perbuatannya bisa buruk lebih
buruk dari hewan. Jadi bagi seseorang yang
telah mencapai NgHM, dapat melihat, seandainya
manusia itu hakekatnya berwatak Wedhus, maka
akan terlihat berwajah wedhus…”

Murid-murid saling pandang dan mlengos sendiri-
sendiri sambil tersenyum… malu.
SJ bertanya: “Kenapa saling pandang? Apa sedulur
semua sudah mampu melihat wajah asli
masing-2?
MM: “Beluum Kanjeng… masih berwujud manusia
semuaaa!”
SJ: “Nah, berarti masih seperti saya, kita belum
mencapai ngelmu itu. Maka mari belajar bareng-
bareng lagi…..”

=====
mBah SoeL

sumber : http://forums.apakabar.ws/viewtopic.php?p=34705&sid=6a276b7cceb1850c37f7b4c05acfbd50
More … Alfatiha

serat centini dan ajaran islam!!

Dikisahkan negeri Blambangan (sejaman dengan Majapahit) ketika itu diserang wabah besar. Banyak orang yang sakit, pagi sakit sore meninggal, dan sore sakit pagi meninggal. Wabah penyakit tersebut juga menyerbu masuk kedalam istana. Putri raja Blambangan (Dewi Kayiyan) juga terserang wabah dan sakitnya sangat parah. Sang Raja telah mendatangkan sejumlah dukun dan tabib, serta berbagai obat dan jamu telah diberikan, namun sang putrid bemu juga sembuh.

Sang Raja kemudian memerintahkan patih Bajulsengara untuk mencari obat kemanapun, keseluruh negeri bahkan ke luar negeri. Setelah sang patih mencari obat dari desa kedesa, naik turun gunung, keluar masuk hutan, akhirnya sampai di sebuah pertapaan yang dihuni oleh seprang petapa yang bernama Kyai Kandabaya.

Sang Patih lalu menghadap sang Petapa dan menyampaikan maksudnya mencari obat bagi kesembuhan putrid Raja Blambangan yang sampai saat ini belum ada yang mampu untuk menyembuhkannya. Rupanya sang Petapa sudah mengerti maksud kedatangan patih Bajulsengara tersebut, dan mengatakan sebaiknya sang patih segera pulang saja, karena sesungguhnya yang dapat menyembuhkan ada dilingkungan keraton Belambangan, yaitu Seh Maulana Iskak (Seh Wali Lanang) yang sedang bertapa didalam gua dibawah gapura keraton.

Setelah mendengar laporan sang Patih, maka Raja langsung memerintahkan membongkar dan menggali gapura keraton, dan ternyata di dalamnya ada seorang petapa Arab yang masih muda.

Patih lalu menceritakan kepada petapa muda tersebut mengenai sakitnya putri Blambangan dan permintaan raja agar dapat menyembuhkannya. Ternyata Seh Maulana Iskak dapat menyembuhkan sang putrid, dan kemudian ia dikawinkan dengan sang putrid oleh raja Blambangan. Setelah mendapat anak Seh Maulana Iskak minta ijin isterinya untuk menggenbara menuntut ilmu. Tidak lama kemudian isterinya meninggal, namun anaknya tidak dirawat oleh kakeknya, raja Blambangan, bahkan dibuangnya kelaut karena dipandang “berhawa panas”. Anak yang malang itu ditemukan oleh seorang saudagar yang sedang berlayar ke Gresik.
Di Gresik anak tersebut dirawat oleh Nyai Tandes dan kemudian di sekolahkan ke pesantren Ampel. Setelah besar anak tersebut bernama Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan Giri yang terkenal itu. Sunan Giri ini membangun padepokan atau kerajaan Sunan Giri yang meliputi hampir seluruh wilayah Kabupaten Gresik.
Majapahit yang mendengar adanya padepokan Sunan Giri di wilayah kekuasaannya merasa terancam, dan kemudian mempersiapkan penumpasan. Untuk itu Majapahit mengirim penyelidik (“telik sandi”) Ki Lembusura dan Ke Keboarya, namun usahanya gagal karena kedua “telik sandi” tersebut tertangkap, dan oleh Sunan Giri di kirim kembali ke Majapahit. Kejadian ini menyebabkan penumpasan terhadap padepokan Sunan Giri tertunda. Pada waktu Sunan Giri (yang juga disebut Sunan Giri Sepuh) wafat, beliau digantikan oleh Sunan Giri Dalem, setelah memerintah beberapa lama Sunan Giri Dalem meninggal karena sakit, dan digantikan oleh Sunan Giri Perapen.
Setelah tertunda puluhan tahun, pada masa Sunan Giri Perapen yang lemah itulah Majapahit kembali meneyerang. Sunan Giri Perapen kalah, dan dengan segenap pengikutnya mundur bergabung dengan Kerajaan Demak (R.Patah).

Pasukan Majapahit yang merajalela di Giri telah memerintahkan membongkar makam Sunan Girigajah, Pada waktu makam dibongkar dan peti jenasah dibuka, maka keluarlah ribuan lebah menyerang pasukan Majapahit sehingga terpaksa mengundurkan diri. Setelah daerah Giri aman kembali, maka Sunan Giri Perapen kembali ke padepokannya.
Menurut serat Centini, serbuan lebah yang memporak porandakan pasukan Majapahit tersebut adalah karena kutukan dari dua orang lumpuh yang menjaga makam Sunan Girisepuh.

Dalam serat Centini dijelaskan pula bahwa sebagai reaksi atas serangan Majapahit tersebut, maka para Wali (9 wali) berkumpul di Demak dan memutuskan untuk menyerang Majapahit yang memeluk agama Hindu-Jawa. Setelah Majapahit runtuh Sunan Prapen menobatkan Raden Patah sebagai raja di Demak
Setelah beberapa waktu kerajaan Demak surut dan pengaruhnya digantikan oleh kerajaan Pajang, dan kemudian oleh kerajaan Mataram. Dalam suatu peperangan pasukan Mataram telah mengalahkan pasukan Sunan Giri Perapen.

Dalam peperangan tersebut tiga anak Sunan Giri hilang yaitu: Jayengresmi, Jayengrasa dan Rancangkapti. Larinya tiga anak Sunan Giri inilah yang menjadi pokok cerita Serat Centini. Dari sinilah timbul ajaran-ajaran Kebatinan Jawa yang bernafaskan Islam.
Jayengresmi lari ke barat, sedangkan Jayengrasa dan Rangcangkapti ke timur. Pada cerita itu Jayengresmi berguru pada Kiyai Ageng Karang dan berganti nama menjadi Seh Amongraga i tokoh utama dalam Serat Centini. Seh Amongraga ini mengembara mencari adik-adiknya. Dalam perjalanan mengembara dia berguru pada pada Kyai Bayi Panurta di Wanamarta dekat Majaagung yang kemudian menjadi mertuanya.
Ilmu kebatinan yang terkandung dalam serat Centini terpusat pada pembicaraan antara seh Amongraga dengan mentuanya, isterinya, dan para iparnya di Wanamarta. Inti dari ajaran kebatinan dalam serat Centini adalah:

Ajaran eksoteris (ajaran untuk orang diluar dirinya), dan
Ajaran esoteris (ajaran untuk orang dalam dirinya). Jika diperhatikan tertlihat bahwa ajaran tersebut bernafaskan Kebatinan Islam atau bernafaskan Islam Sufi.

Ajaran Seh Amongraga dalam serat Centini tersebut pada garis besarnya dapat diutarakan sbb:
1. Tentang awal terjadinya dunia, menurut ajarannya adalah Datulah, berada dikepala Adam, dan disebut Baitulmukadah, ditelinga kanan disebut hayat, ditelinga kiri disebut wilayat nur sejati, Dimata kanan disebut rasa sejati, ditelinga kiri disebut sari rasa, dileher bagian kiri disebut wahid, dan dihati disebut sirullah, dipusat disebut jamilah, dilautan disebut abah, ditengah kalam disebut nukhat dan diujung kalam disebut naptu ghoib, lalu jatuh kedalam wadah. Ketika ditanya dimana kedudukan Allah , dimasa sepi awing uwung (suwung), yang ada bumi dan langit, jawabannya hanya KUN yang ada. Kedudukannya disebut “nukat” wilayah ghoib, tiga Ghoibul Ghuyub, yaitu ghoib ULUWIYAH, BUDI dan AKAL manusia ada pada ALLAH ada namun tak terlihat (“Tan Kena Kinaya Ngapa”).
2. Manunggaling kawulo lan gusti, dikatakan seperti “Kodok kinemulan ing leng?” (Katak terkurung dalam liangnya). Allah sebagai pencipta lam semesta dan segala isinya, zat rohnya memasuki manusia, dimana manusia diciptakan Allah melalui perhubungan antara Adam dan Hawa beserta keturunannya, merupakan perpaduan iradatnya antara umat dan Khaliknya. Manusia menjadi telinga, mata, rasa, cipta dan kalbunya zat Illahi. Dalam bahasa Centini disebut “Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga” yaitu sukma masuk kedalam jasad, jasad masuk kedalam sukma, serta cahaya Nabi, malaikat dan semua Wali. Menurut Seh Amongraga banyak sekali penghalangnya untuk menyatukan diri dengan Allah. Itulah sebabnya kita ini bertekat sepenuh hati untuk tidak melihat ujud Allah, tauhid saja, dan percaya adanya Allah karena melihat ciptaannya – Jagad Raya dengan segala isinya – . Lambang sukma masuk jasad, jasad masuk sukma sebagai pintu gerbang hati-sanubari, dan dibuka melalui IRHAM. Sedangkan tumpang tindih antara ilmu dan roh Illahi dibuka dengan jalan sholat terus-menerus sehingga terwujud JASAD SUKMA. Seh Amongraga sholat kemudian tafakur mengheningkan cipta. Mata hati tertuju kepada ghoibnya Allah, meningkat ketingkat tarekat dengan pandangan lepas ketingkat Mikrat , seketika terasa hampa, menarik tujuh jaman atau alam, yakni ALAM KAMIL, ALAM MISAL, ALAM AJSAM, ALAM ARWAH, dan ke ketiga alam ghoib, yaitu; WAKIDIYAT, WAHDAT, DAN AKADIYAT.

3. Manusia yang hidup di dunia selalu dimasuki nafsu-nafsu, yaitu nafsu jahat (negatip) dan nafsu baik atau luhur (positip). Nafsu positip yaitu nafsu ” mutmainah “, dan nafsu negatip yaitu; nafsu “aluamah”, “hamarah” dan “sufiah” Seh Amongraga mengajarkan agar kita selalu mempergunakan nafsu positip dengan selalu menuntut ilmu, rajin bekerja, sholat, puasa dan lain-lain seperti apa yang diperintahkan Allah dalam Al’Quran. Buanglah jauh-jauh nafsu negatip dengan menghindari larangan Allah. Menurut Seh Amongraga kesabaran adalah senjata yang paling ampuh untuk menghalau nafsu-nafsu jahat tersebut. Dengan menjalankan syariat Islam yang benar kita dapat menjadi manusia yang sempurna, yaitu secara bertahap mulai dari taraf tarekat, terus meningkat ke taraf hakikat dan makripat. Tingkat makripat adalah yang tertinggi untuk bersatu dengan kehendak Allah.

Inilah secara singkat ajaran Seh Amongraga dalam serat Centini. Disitu terlihat dengan jelas bahwa ajaran dalam serat Centini adalah kebatinan Jawa yang bernafaskan Islam.

sumber : http://www.ajangkita.com/forum/viewtopic.php?printertopic=1&t=848&start=0&postdays=0&postorder=asc&vote=viewresult
More … Alfatiha

Sabtu, 2008 Januari 19

Suluk Suksma Lelana

Suluk Suksma Lelana oleh R. Ng. Ranggawarsita

Punapa yen wus kakekat
estu lajeng sarengatnya kawuri
yen saking pamanggih ulun
tan wonten kang tinilar
jer muktamat ing hadis ugi kasebut
kak tanpa sarengat batal
sarak tanpa kak tan dadi

Paran Gusti yen kapisah
temah mangke kakalihira sisip
kang lempeng taksih ing kawruh
sakawanira tunggal
ngelmuning Hyang sarengat myang tarekatu
kakekat miwah makripat
punika kamil apdoli (Simuh, 1985:22).

Terjemahan: Suluk Suksma Lelana
Apakah jika seseorang sudah sampai ke tingkatan hakikat, dia boleh meninggalkan syariat? Menurut pendapatku dan pendapat Hadis tak boleh ada ajaran syariat yang diabaikan, karena kebenaran atau haq tanpa syariat tak jadi dan syariat tanpa haq batal juga.
Perjalalanan menuju Tuhan tak boleh hanya dengan pendekatan secara partial, mereka harus melakukan empat hal itu sebagai satu kesatuan, yaitu : syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat, inilah suatu hal yang sempurna.

Serat Wulang Reh oleh Sri Paku Buana IV
Ginulang sadina-dina,
wiwekane mindeng basa basuki,
ujubriya, kibiripun, sumungah tan kanggonan,
mung sumendhe ing karsanira Hyang Agung,
ujar sirik kang rineksa,
kautaman ulah wadi (Darusuprapta,,1982 : 70).

Terjemahan: Serat Wulang Reh
Dididik berhari-hari, dengan harapan agar mereka menjadi sejahtera, mereka harus berupaya menghidarkan diri dari ujub (kagum pada diri sendiri), riya dan sumungah (pamer kebaikan), ujar sirik (menjaga ucapan dan menjaga keyakinan agar tidak syirik), pandai menjaga rahasia, dan berserah diri kepada Allah.

Wedhatama oleh Mangkunegara IV
Samengko ingsun tutur,
gantiya sembah ingkang kaping catur,
sembah rasa karasa rosing dumadi,
dadine wus tanpa tuduh,
mung kalawan khasing batos.

Kalamun durung lugu,
aja pisan wani ngaku-aku,
antuk siku kang mangkono iku kaki,
kena uga wenang muluk,
kalamun wus padha melok. (R. Tanojo : 10).

Terjemahan: Wedhatama
Aku nanti akan memberi nasihat, tentang jenis pengabdian yang nomor 4, yaitu menyembah Tuhan dari sisi perasaan yang paling dalam, ketika itu dia bisa mengetahui sesuatu ilmu tanpa belajar, karena telah memiliki pengetahuan khusus di dalam batinnya.
Jika belum waktunya seseorang berhak memperoleh ilmu batin, janganlah kamu sekali-kali mengaku telah tahu, wahai cucuku engkau akan kena marah dari Tuhan, ibaratnya kamu boleh menyuap makanan jika telah jelas makanan itu tampak di depan matamu.

Istilah yang terdapat dalam Suluk Suksma Lelana menunjukkan adanya beberapa istilah tasawuf, yaitu kakekat (hakikat), kak (kebenaran), tarekatu (tarekat), dan makripat (makrifat). Dalam Serat Wulang Reh pada tembang Pangkur terdapat kata ujubriya, kibiripun, dan sumungah yang kesemuanya bera­sal dari kata-kata Arab. Ujubriya berasal dari kata ‘ujub dan riya’, ‘ujub’ berarti ‘mengagumi diri sendiri’ dan riya’ berarti ‘memamer­kan kebaikan’; kibir berarti ‘sombong’; dan sumungah (sum’ah) berarti ‘mem­ceritakan kebaikan diri kepada orang lain’. Pada kitab Wedhatama terdapat tembang Gambuh yang memuat kata sembah rasa yang sama artinya dengan makrifat (dibahas pada halaman sebelumnya).

“Antara Mata dan Alis” oleh Sumnun

Telah kuenyahkan hatiku dari dunia ini
Namun dengan-Mu hatiku tak pernah tercerai
Hingga bila untuk sejenak mengatup mataku
Kusua Kau antara alis dan kelopak mata
(Abdul Hadi, 1985 : 74).

“Mencari” oleh Sanusi Pane dalam Madah Kelana

Aku mencari
Di kebun India,
Aku pesiar
Di kebun Yunani,
Aku berjalan
di tanah Roma,
Aku mengembara
Di benua Barat

Segala buku
Perpustakaan dunia
sudah kubaca,
segala filsafat
sudah kuperiksa,

Akhirnya ‘ku sampai
ke dalam taman
Hati sendiri.

Di sana bahagia
sudah lama menanti daku (Hooykaas, 1951:228).

Serat Wulang Reh oleh Sri Paku Buwana IV

“Megatruh”
Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh, nora kena miug­grang-minggring, kudu mantep sartanipun, setya tuhu marang gusti, dipun miturut sapakon.

Ing wurine yen ati durung tuwajuh, angur ta aja angab­di,
becik ngindhunga karuhun, aja age-age ngabdi, yen durung eklas ing batos.

Ingkang lumrah yen kerep seba wong iku, nuli ganjaran denincih,
yen tan oleh nuli mutung, iku sewu-sewu si­sip, yen wus mangarti ingkang wong.

Tan mangkono etunge kang sampun weruh, mapan ta dha­tan denpikir,
ganjaran pan wis karuhun, amung naur ­sihing gusti, winales ing lair batos. (Darusuprapta, 1982 : 74 – 75).

Terjemahan: Megatruh
Orang mengabdi kepada raja harus waspada, tak boleh ragu-ragu, harus memiliki kesetiaan yang total kepada raja (gusti), harus mematuhi semua perintahnya.Pada akhirnya jika hati belum tuwajuh (mantap untuk mengabdi), maka janganlah buru-buru mengabdi, lebih baik sekedar membantu-bantu saja dahulu jika kamu belum ikhlas menjadi hamba di kerajaan.
Pada umumnya, orang menjadi abdi kerajaan itu dengan tujuan mencari upah atau pahala, maka jika dia bekerja tanpa diberi upah maka mereka akan berputus asa. Jika kamu mau memahaminya maka prinsipmu ini tak benar.
Orang yang memahami persoalan itu, akan sadar bahwa upah atau pahala itu pasti diberikan, namun yang lebih penting adalah membalas kebaikan raja (gusti) secara lahir dan batin.

Pada bait pertama kata ratu yang berarti ‘raja’ belum jelas menunjukkan makna ganda antara raja dengan Tuhan, demiki­an pula kata gusti, kata ini masih menunjukkan padan­an arti kata ‘raja’, meskipun dalam hal-hal tertentu kata Gusti biasa dipakai untuk sebutan Tuhan seperti Gusti Allah. Tetapi jika diperhatikan. bait selanjutnya, di situ terdapat kata tuwajuh (Arab) yang berarti ‘menghadap Allah’, kata ini dapat dihubungkan dengan kata aslinya yaitu tawajjuh yang di dalam perguruan tarekat aliran ter­tentu diartikan sebagai ‘menghadap Kepada Allah dengan melakukan zikir’. Dengan demikian dapat diketahui bahwa penulis tembang ini memasukkan makna ganda pada ratu dan gusti se­hingga berarti ‘raja’ dan Tuhan.
Tembang yang tertulis pada halaman 13 nomor 5.3.1 tersebut berasal dari ba­it ke-1, 4, 12, dan 13. Berikut ini ditambahkan contoh da­ri bait ke-10 yang menunjukkan bahwa kata ratu dan gusti dikembalikan kepada makna denotatif dengan me­nyebutkan jabatan-jabatan orang yang mengabdi raja itu terdiri dari bupati, mantri, prajurit, dan sebagainya.

Kang nyantana bupati mantri panewu, kaliwon paneket miji,
panalawe lan panajung, tanapip ara prajurit,
lan kang nambut karyeng katong. (id. 74).

Yang mengabdi di kerajaan itu di anrtaranya terdiri dari bupati, mantri, panewu, paneket miji, panalawe, panajung, tanapi, para prajurit, dan semua pegawai kerajaan.
sumber :www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/72/SASTRA_SUFI_JAWA_DALAM_BINGKAI_SASTRA_SUFI_NUSANTARA.doc
More … Alfatiha

NAWALA KENCANA GURU DIPO

Rikalane lagi buneg dina iki, aku bukak-bukak skrip tinggalan jaman semana dhek aku isih padha ngudi ngelmu marang Guru Dipo. Aku nemu seratane Guru Dipokanggo para muride. Isine isih katon ngemu nas lan rasa tumanja kanggo wektu iki. Dak waca wola-wali.Kepenak dilebokaki ati. Eman yen ta ora cinaritakna.
“Tulisan apa Kakang?” pitakone bojoku.
“Iki lho, seratane Guru Dipo biyen. Coba rungokna
dakwacane ya.” Kandha mangkono aku banjur miwiti maca
nawala kencana kang sinerat dening Guru Dipo mangkene:

Kanggo para muridku kang kinasih,
Wus sawetara aku nandhang lara lan wus nyedhaki
purnaning darma. Kaya kang wus tau dak udharake kanggo
kowe kabeh, darmaning wong urip bebrayan kuwi maneka
warna. Piliha siji kang rinasa manteb ing ati. Ya jer
dumelinge cahya gung kang ngebeki darmanira iku mung
tinemu ing senthonging atimu. Rasa manteb ora nganggo
mangu-mangu iku dadi tandhaning sih kang ngampingi
lakumu.

Pra muridku kinasih, ana sa prakara kang bakal dak
warisake ana ing layangku iki. Biyen antaraning pra
murid tau kawetu pitakonan bab nas-nasing jiwa bekti
dadi pemimpin. Pitakonmu yen ora kleru mangkene:
?Guru, punapa ta jatosipun darmaning pemimpin punika??

Kuwi pitakon kang ora gampang diudhari. Akeh wingiting
jiwa kang perlu dijereng kanggo ngrogoh jatining
darmaning pemimpin. Ana laku papat kang baku kanggo
nggladhi lan nggulang dhiri ing darmaning pemimpin.

Laku kang kapisan iku laku sadhar dhiri.
Ing kene, sapa wae kang bakal ngugemi darmaning dadi
pemimpin iku kudu nduweni kesadharan dhiri kang amba.
Ora cukup mung ngerti kabisane apa. Nanging, sadhar
dhiri iku perlu diasah kanthi mawas dhiri, ngiloni
kasekengan kang isih digendhong ndhamplong ana ing
jagading sarira. Iki lakuning wong kang wani ngrucat
dhiri. Ya pancen angel lan lara wong kang ndeleng
kasekengane dhewe. Kala-kala malah wong wegah merga
kuwi ateges ndeleng eleke rupane. Kang umum, wong
luwih seneng ndeleng apike wae, nglumpukake aleme
kang metu saka lambening kanca-kanca. Nanging, ngenani
kasekenganing dhiri, aja meneh wani ngilo,
ngeling-eling wae ora sudi. Banjur wong mulung
ngendhani lan nglali-nglali marang kasunyatane.

Lah yen wis bisa ngilo githoke dhewe, wong luwih
lembah manah nampa aleme, ndeleng kekuwatane. Wong
kang wani ngilo lan mawas dhiri sacara diwasa iku wong
kang bisa nenimbang kasekengane lan kaluwihane kanthi
ati amba. Banjur ati amba kuwi nuntun wong marang
wahyuning drajating manungsa. Wong banjur bisa
mangerteni ajining sabarang para. Mangerteni ajining
barang lan manungsa, wong uga banjur bisa nemu
wahyuning donya, yaiku nasing jagat gumelar iki.

Dadi laku kang kapisan iki, sajatine iya laku ngrogoh
jatining titah. Kang winahyakake iku sapa ta jatining
manungsa, kasekengan lan kaluhurane, ajining urip,
lan wawasaning jagat. Laku kang kaya mangkene iki
dadi dhasaring darma dadi pemimpin. Ya pemimpin sing
ngerti awake dhewe lan jagade pantes ngugemi darmaning
pemimpin.

Laku kang kapindho iku laku ngambah bawana obah.
Ana ing laku iki kowe kabeh wis tau padha dak latih,
kepiye anggonku ngadhepi ombyaking donya kang tansah
gumanti lan ora tetep. Ana sawatara wong kang padha
wedi ngadhepi ombyaking donya kang tansah gumanti.
Banjur padha milih dalan cepak cepet aman, mlebu ana
ing guwan kang peteng, ngedohi soroting surya. Wedi
olah pikir lan budi, merga rumangsa aman ana ing
tradisi kang tuwa. Ndhelik aling-aling buku-buku
wejangane para nabi. Tundhone, ati ora dadi amba,
nanging malah cupet. Pikir ora seger nglilir nanging
malah mung mandheg kaya banyun ing jembangan buthek.

Laku ngambah bawana iku lakuning ngaurip kang tansah
tinarbuka marang ombyaking donya. Ora mlayu ngadhepi
diala-ala, nanging malah wani nggolek teranging tamba.
Wong kang ora wani tinarbuka gampang keseret ana ing
laku candhik ala yaiku lakuning kekerasan marang
sapadha-padha. Lah, cetha wae, iki dudu darmaning dadi
pemimpin. Darmaning pemimpin iku wani tinarbuka lan
ngasah rasa marang sapadha-padha. Lah, yen wis wani
nggecak laku candhala, senajan ta nganggo antek-anteke
kang ora kasat mata, mesthi wae kuwi ora cocok karo
darmaning pemimpin.

Laku kang kaping telune iku laku urmat tresna ngadhepi
sapadha-padha.
Laku iki ora perlu banget kanggo jaman saiki. Mergane
akeh wong kang ngaku-aku duwe tresna marang
sapadha-padha nanging mung mligi marang kang nunggal
suku, partai lan agama. Iki adoh sungsate karo laku
urmat tresna. Laku urmat tresna kuwi lelandhesan
keyakinan yen ta kabeh manungsa iku sumbere padha,
yaiku Gusti Allah Siji, sumbering katresnan. Yen Sing
Gawe Urip wae nresnani wong-wong kang tumindak ala
marang awake dhewe, ya gene kowe wani mbales mungsuhi?

Laku kang pungkasan yaiku laku ngoyak galihing kuwasa.
Laku iki dilandhesi kanthi ati adreng ngorong marang
gegayuhan luhur, yen ta ing madyaning urip bebrayan
iku pangurbanan diajeni luhur yen ta suwung ing melik.
Laku ngoyak galihing kuwasa kuwi dudu ambisi golek
kuwasa kanggo nglumpukake bandha donya. Dudu babar
blas. Galihing kuwasa ing kene ora liya ya kuwasaning
katresnan ngugemi darmaning pemimpin. Kautaman kang
paling gedhe dhewe ing kene ora liya ya wani ngrucat
melik pribadi, lan mung nggayuh kamulyaning urip
bebrayan agung.

Pra muridku kinasih, semono kang bisa dak udharake,
nanggapi pitakonmu biyen kang durung bisa winedhar.
Muga-muga, apa kang wus tinulis ing kene bisa mbuka
korining budimu, nyumet greged ing atimu, lan asung
terang ing dalanmu.

Wis cukup semen nawala iki. Dipadha rukun lan
ngati-ati. Ombyaking nagara saya mbilaeni, mung
jiwane wong-wong mursid utama bisa ngadhepi sakabehing
bebaya.

Saka Gurumu ing Kelanggengan,
Gurumu Dipo

Aku meneng. Bojoku uga meneng. Kaya-kaya unjal ambegan
sing jero kanggo ngresepake maneh sakabeh pangandikane
Guru Dipo.

Layang dak lempit maneh. Banjur dak selipake ing skrip
biru kang wus kluwuk. Kothak saisine kalebu skrip biru
mau dak lebokake lemari.

“Semono ya Kang pangadikane Guru biyen. Lah kok lagi
saiki aku mudheng.”

“Pancen, ora saben wejangan Guru iku bisa winedhar
sawanci-wanci. Mung yen senthonging atine awake dhewe
wis siap nampa sakabeh tembunge winasis kuwi banjur
ngemu rasa.” Kandhaku marang bojoku. Aku banjur njawil
dheweke, saperlu gage mangkat turu.

sumber : http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/
More … Alfatiha

AJA DUMEH

Aja dumeh mujudake pitutur luhur warisane para leluhur lan pinisepuh kang ngemu teges supaya jalma manungsa utawa titah sewantah anggone nglakoni penguripane ana ing alam donya ora ngendelake aji mumpung. Dumeh, mujudake kahanan kajiwan kang njalari sawijining pawongan nggunakake kesempatan(aji mumpung) kanggo kepentingane dhewe tanpa ngelingi sak padhane urip. Kesempatan kasebut ing ndhuwur bisa maujud drajat, pangkat, bandha donya, panguwasa, ilmu linuwih, kebagusane rupa lan liyane.

Ing donya Eropa utawa dunia barat uga nduweni sanepa “power tends to corrupt” kang nduweni teges yen kuwasa bisa njalari wong kang nyekel kuwasa kuwi nylewengake kekuwasaane kanggo kepentingane pribadhi lan ngianati marang wong kang ngamanati .

Wong urip mono kudu tansah eling marang kang nitahake urip ing alam donya, kudu tansah mawas marang sangkan paraning dumadi. Seko ngendi bibit kawite urip, ana ngendi saiki dumunung lan papan ngendi kang tembene bakal dituju. Kahanan kang bisa direngkuh ora kena njalari lali marang kodrate minangka kawulane Gusti. Kanthi mengkono sifat aja dumeh bisa njalari wong tansah eling marang asal-usule, sahengga ora nglali yen apa kang diduweni mung minangka titipan utawa amanate kang gawe urip. Sikep ini bisa nyurung supaya manungsa tansah nyukuri peparingane Gusti, kanthi nggunakake peparingane mau kanggo nyengkuyung kewajibane minangka khalifahe Gusti ing alam donya, kang nduweni kewajiban memayu hayuning bawana.

Kahanan urip kang dilakoni manungsa kena digambarake kaya dene cakramanggilingan utawa rodha kreta, kang ana sakperangane rodha sakwijining wektu mapan ing dhuwur nanging ing kala wektu liyane ganti mapan ing ngisor. Urip mujudake ganti gumiliring nasib. Mula saka kuwi nalikane wong lagi nduweni nasib kang apik ora kena gumedhe lan umuk marang sak padha-padha lan nalikane ngalami nasib kang ala uga aja nglokro utawa mutung.

Kadangkala wong urip diparingi kanikmatan kang tanpa kinira. Ana ing kahanan iki pitutur aja dumeh trep banget kanggo diamalake. Wong kudu tansah syukur lan uga kudu loma marang sak padhaning urip, ora kena umuk lan gumedhe nanging kudu tansah bisa sakmadya lan andhap asor.

Ana uga kahanane urip kang lagi diparingi pacoban nganti kadangkala wong sing rumangsa ora kuwat nglakoni kahanan mau nduweni panganggep yen donyane wis kiamat. Ngadepi kahanan mengkene, manungsa kudu tansah pasrah sumarah marang kang gawe urip lan sabar anarima ing pandum. Manungsa kudu nduweni keyakinan yen pacoban mau uga mujudake wujud katresnane Gusti kanggo nggembleng manungsa supaya tatag lan tanggon anggone nglakoni uripe.

Aja dumeh ngajarake manungsa tansah mawas diri lan nduweni keyakinan kang kuat menawa urip ing alam donya iki mung sakwetara mampir ngombe. Kabeh lelakone urip mujudake proses kang ora langgeng lan kabeh bakale dijaluk pertanggungjawabane mbesuk ing alam akherat.

Sifat utawa watak aja dumeh bisa diwedhar kanthi pitutur kayadene:

1.Aja dumeh kuwasa, tumindake daksura lan daksiya marang sakpadha-padha.

2. Aja dumeh pinter, banjur tumindak keblinger.

3. Aja dumeh sugih, banjur tumindak lali marang wong ringkih.

4. Aja dumeh menang, tumindake sak wenang-wenang.

5. Aja dumeh bagus, banjur gumagus.

6. Aja dumeh ayu, banjur kemayu, lan sakpiturute.

“Nyawa mung gaduhan, bandha donya mung sampiran”, mengkono pituture para winasis. Kanthi mengkono sejatine manungsa urip ing alam donya ora duwe apa-apa. Kayadene nalika dilahirake manungsa ora nggawa apa-apa, smono uga mengko yen wis tumeka titi wancine sowan ing ngarsa Gustine uga ora sangu apa-apa. Dadi apa kang bisa diumukake manungsa?

sumber : http://annasagung.blog.com/828105/
More … Alfatiha

MENUNGGANG HARIMAU LAPAR SEMBARI MENYILANGKAN DUA BILAH PEDANG TERHUNUS DI DADA

Bismillah ….
Alhamdulillah …. Astaghfirullah …. Shollallah ‘Ala Muhammad
Harimau melambangkan unsur nafsu. Sifat lapar melambangkan sifat nafsu yang selalu ‘rakus’ dan ‘tak puas’. Selalu ingin di penuhi. Jika kita tidak bisa mengendalikan nafsu serta tunduk pada keinginan nafsu yang selalu ingin di penuhi maka siaplah di cabik – cabik oleh harimau itu. Maka selama hidup kita di perintahkan untuk berusaha ‘menunggang harimau lapar’ dalam arti semaksimal mungkin mengendalikan nafsu. Jadi nafsu harus di kendalikan. Tidak di bunuh. Karena jika kita membunuhnya maka ibarat manusia yang kehilangan ‘natural powernya’. Ibarat hutan yang kosong dari harimau. Maka jadilah hutan itu tempat yang tidak siningit. Di acak – acak serta diperlakukan semena – mena. Lalu dengan capa apa mengendalaikan atau menunggang harimau lapar itu? Yaitu dengan menyilangkan dua bilah pedang terhunus di depan dada . Simbol dua pedang terhunus adalah ‘pikian’ dan ‘rasa’ yang harus selalu dihunus atau di asah untuk mengendalikan harimau lapar. Dan janagn pernah lalai. Ingat, Harimau di tubuhmu akan selalu lapar dan tak akan pernah terpuaskan walau kau beri seluruh ‘daging’ yang kau miliki.
Pikiaran dan rasa inilah pengendalinya. Sehingga engkau akan menjadi pengendali harimau dan harimau itu akan tunduk serta menjadi ‘kendaraan’ selama engkau ‘berjalan’.
Alhamdulillah …. Astaghfirullah …. Shollallah ‘Ala Muhammad

wassalam
More … Alfatiha

PUJIAN

ALLAHUMMA SHALLI’ALA
MUHAMMAD SAFI’IL ANAM
WA’ALIHI WASAHBIHI
WASALLIM ’ALADDAWAM

Eling-eling sira manungsa
Temenana lehmu ngaji
Mumpung durung katekanan
Malaikat juru pati

Luwih susah luwih lara
Rasane wong nang naraka
Klabang kures kalajengking
Klabang geni ula geni

Rante geni gada geni
Cawisane wong kang dosa
Angas mring kang Maha Kwasa
Goroh nyolong main zina

Luwih beja luwih mulya
Rasane manggon suwarga
Mangan turu diladeni
Kasur babut edi peni

Cawisane wong kang bekti
Mring Allah kang Maha Suci
Sadat salat pasa ngaji
Kumpul-kumpul ra ngrasani

Omong jujur blaka suta
Niliki tangga kang lara
Nulungi kanca sangsara
Pada-pada tepa slira

Yen janji mesthi netepi
Yen utang kudu nyahuri
Layat mring kang kasripahan
Nglipur mring kang kasisahan

Awak-awak wangsulana
Pitakonku marang sira
Saka ngendi sira iku
Menyang endi tujuanmu

Mula coba wangsulana
Jawaben kalawan cetha
Aneng endi urip ira
Saiki sadina-dina
Kula gesang tanpa nyana
Kula mboten gadhah seja
Mung karsane kang Kuwasa
Gesang kula mung sa’derma

Gesang kula sapunika
Inggih wonten ngalam donya
Donya ngalam karameyan
Isine apus-apusan

Yen sampun dumugi mangsa
Nuli sowan kang Kuwasa
Siyang dalu sinten nyana
Jer manungsa mung sa’derma

Sowanmu mring Pangeranmu
Sapa kang dadi kancamu
Sarta apa gegawanmu
Kang nylametke mring awakmu

Kula sowan mring Pangeran
Kula ijen tanpa rewang
Tanpa sanak tanpa kadang
Banda kula katilaran

Yen manungsa sampun pejah
Uwal saking griya sawah
Najan nangis anak semah
Nanging kempal mboten wetah

Sanajan babanda-banda
Morine mung telung amba
Anak bojo mara tuwa
Yen wis ngurug banjur lunga

Yen urip tan kabeneran
Banda kang sapirang-pirang
Ditinggal dinggo rebutan
Anake padha kleleran

Yen sowan kang Maha Agung
Aja susah aja bingung
Janjine ridhone Allah
Udinen nganggo amalan

Ngamal soleh ra mung siji
Dasare waton ngabekti
Ndherek marang kanjeng nabi
Muhammad Rasul Illahi
Mbangun turut mring wong tuwa
Sarta becik karo tangga
Welasa sapadha-padha
Nulunga marang sing papa

Yen ngandika ngati-ati
Aja waton angger muni
Rakib ngatit sing nulisi
Gusti Allah sing ngadili

Karo putra sing permati
Kuwi gadhuhan sing edi
Aja wegah nggula wentah
Suk dadi ngamal jariyah

Banda donya golekana
Metu dalan sing prayoga
Yen antuk enggal tanjakna
Mring kang bener aja lena

Aja medhit aja blaba
Tengah-tengah kang mejana
Kanggo urip cukupana
Sing akherat ya perlokna

Aja dumeh sugih banda
Yen Pangeran paring lara
Banda akeh tanpa guna
Doktere mung ngreka daya

Mula mumpung sira sugih
Tanjakna ja wigah wigih
Darma ja ndadak ditagih
Tetulung ja pilah-pilih

Mumpung sira isih waras
Ngibadaha kanthi ikhlas
Yen lerara lagi teka
Sanakmu mung bisa ndonga

Mumpung sira isih gagah
Mempeng sengkut aja wegah
Muga sira yen wus pikun
Ora nlangsa ora getun

Mula kanca da elinga
Mung sapisan aneng donya
Uripmu sing ngati-ati
Yen wis mati ora bali
Gusti Allah wus nyawisi
Islam agama sejati
Tatanen kang anyukupi
Lahir batin amumpuni

Kitab Qur’an kang sampurna
Tindak nabi kang pratela
Sinaunen kang permana
Sing sregep lan aja ndleya

Dhuh Allah kang Maha Agung
Mugi paduka maringi
Pitedah lawan pitulung
Margi leres kang mungkasi

Nggih punika marginipun
Tetiyang jaman rumuhun
Ingkang sampun pinaringan
Pinten-pinten kanikmatan

Sanes marginipun tiyang
Ingkang sami dinukanan
Lan sanes margining tiyang
Kang kasasar kabingungan

Gesang kita datan lama
Amung sakedheping netra
Maena sami andika
Rukun Islam kang lelima

AMIN AMIN AMIN AMIN
YA ALLAH ROBBAL ‘ALAMIN
MUGI PADUKA NGABULNA
SADAYA PANYUWUN KULA

TOMBO ATI
Tombo ati iku lima ing wernane
Ingkang dhihin maca Qur’an sak maknane
Ping pindhone sholat wengi lakonana
Ping telune dzikir wengi ingkang suwe
Kaping pate wetengira ingkang luwe
Ping limane wong kang sholeh kumpulana
Sapa wonge padha bisa anglakoni
Insya Allah Gusti Allah nyembadani

SUMBER : http://gantharwa.wordpress.com/qa/#comment-2105
More … Alfatiha

Ngelmu Kanthong Bolong Kanggo Nggayuh Mardikeng Budi

NGANCIK jaman posmodern panguripan kang sarwa maju wus kita rasakake. Kabeh kebutuhan padinan bisa dicukupi lewat teknologi. Wong-wong padha ngendelake akal lan nalar. Kabeh pambudidaya katindakake kanggo nata perekonomian lan panguripane bebrayan.

Faham kapitalisme global nguwasani tatatan urip. Egosentrisme dadi pola pikir pribadi. Wong-wong padha gelem ngorbanake hak pribadi kanggo nggayuh keuntungan sing luwih dhuwur. Ing kahanan kaya iki alam dieksploitasi saentek-enteke nganti sumber alam padha asat.

Nalika kabeh wong padha ngutamakake kepentingan pribadi, apa wae kang katindakake iku muhung mburu kamulyane dhiri. Dhiri pribadi dadi pusat mula sinebut ego sentrisme utawa individualisme. Wong liya dianggep dadi objek utawa pelengkap. Wong liya dianggep ora penting. Umpama mbutuhake wong liya iku amarga dheweke lagi manfangatake liyan. Pribadi sing kaya ngene iki sanyatane lagi nandhang lelara. Wong-wong kaya kuwi ing atine tansah ana pamrih mula bisa diarani durung mardika.

Ngelmu Kanthong Bolong

Sewu siji penyakit sosial lan individual satemene mula bukane saka individualisme utawa egosentrisme iki. Nalika akeh wong sing tansah nduwe pamrih, tumindake ora tulus ikhlas, apa kang katindakake iku duwe kepentingan pragmatis. Yen kepentingan iku ora keturutan ora wuning njalari daredah, lan masalah. Wong-wong sing mung mentingake dhiri pribadi mung nggugu kersane priyangga nora nganggo tepa selira. Laku kriminal agal alus, pakarti busuk lan jahat ngebaki warta saben dina. Bebendu lan bncana teka tanpa kendhat nanging ora bisa methik hikmahe. Tan bisa diselaki yen kabeh iku asal saka pakartine manungsa dhewe.

Bab iki wis nate dipenggalih dening Raden Mas Panji Sosrokartono. Panjenengane banget prihatin nguningani pakartine manungsa sing egoistis iki. Sabanjure ana tetamba lamun padha gelem nindakake ing laku urip bebrayan padinan. Tetamba iku dirumusake kanthi istilah Ngelmu Kanthong Bolong (uga sinebut Ngelmu Kanthong Kosong utawa Ngelmu Sunyi). Manut dhasar pemikirane, Ngelmu Kanthong Bolong iku mujudake anti thesis faham kapitalisme global lan individualisme.

Sajrone selawe taun (1927-1952) RMP Sosrokartono wus ngabdi kanggo bebrayan ngusadani sewu siji penyakit jasmaniah-badaniah, penyakit rokhaniah-bathiniah, lan uga kabeh rasa gela kang ana sesambungane karo sapadha-padhane titah (marang Gusti Allah Swt Ian uga alam). Mung nggunakake medhia banyu putih, panjenengane bisa menehi usada kabeh panandhang iku. Yen ana wong coba-coba, panjenengane mesthi priksa mula bakal diwenehi pangandikan tegas, lan singkat. Asring dumadi gelas utawa botol sing isi banyu putihe wong sing coba-coba iku mbledhos, pecah, lan isine wutah.

RMP Sosrokartono iki sinebut guru spirituale tokoh-tokoh nasional. Sebut wae Presiden Soekarno lan Soeharto uga nyecep ngelmune. Lepas saka kekurangan lan keluwihane tokoh loro iku, apa kang katindakake iku sebageyan pancen ngamalake piwulange RMP Sosrokartono. Ing buku Soekarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams (1965), Presidhen kapisan RI iku nyebut asmane RMP Sosrokartono minangka guru kebatinan sing kondhang ing Bandung. Mantan Presidhen Soeharto uga nyebut-nyebut piwulange RMP Sosrokartono sing kondhang yaiku sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.

Ngelmu Kanthong Bolong iku dilandhesi pemikiran sing prasaja. RMP Sosrokartono ngendika, “Nulung pepadhane, ora nganggo mikir wayah, wadhuk, kanthong. Yen ana isi lumuntur marang sesami.” Digambarake kayadene kanthong, ing sanubari kita kudu ngilangake dhasare kanthong kuwi (nirpamrih). Wong-wong kudu wani ngilangake pamrih ing sajrone urip. Kang iku urip kudu tarimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah Ian bungah, anteng mantheng sugeng jeneng. Kang dikembangake dudu tekad pamrih nanging tekad asih.

Sing angel anggoni nglakoni yaiku ngowahi pola pikir. Secara umum wongwong padha duwe faham individualisme. Ing kamangka saiki kudu diwalik. Dhiri pribadi ora dadi pusat panguripan ing donya. Suwalike, wong kudu mikirake keslametane wong liya Lan uga bebrayan kabeh. Laku iku sinebut ngabdi kanggo abdine Gusti Allah Swt. Yen kita tresna Lan nyembah Gusti Allah mula tresna iku kudu diwujudake kanthi nresnani abdine Gusti Allah (kabeh titah klebu manungsa). Carane? Kanthi ngorbanake kepentingan-kepentingan individual sing disebut pamrih.

Nalika kita wus bisa bebas saka pamrih tegese kita wus tumeka ing alam kamardikan. Mardika iku tegese uwal saka was Lan sumelang. Bisane uwal saka rasa was sumelang iku lamun ing dhiri sanubari kita iku ora duwe pamrih apa-apa. Payung kula Gusti kula dne tameng kula inggih Gusti kula. Saya gedhe pamrihe saya kurang mardika. Wong-wong kang tansah mentingake dhiri pribadi ing sajrone uripe tansah nandhang kacingkrangan Lan kekurangan nadyan bandha donyane wus turah-turah. Ya kahanan kaya ngene iki sing diarani jiwa kang nandhang lelara.

Saka Ngendi RMP Sosrokartono nemokake piwulang Kanthong Bolong iki? Akeh sing ngira yen panjenengane njupuk referensi manca embuh saka kitab Wedha,

Upanisad, Bagavatgita, Kitab Suci agama Buddha, Lao Tze kanthi Tao Teh Tjing, utawa piwulang Tasawuf Lran Lan Arab. Apamaneh panjenengane entuk dhidhikan ilmiah ing Nederland 27 taun lawase (1898-1925). Nanging panduga iku keliru. RMP Sosrokartono bisa ngrumusake Ngelmu Kanthong Bolong iku nyinau saka kasunyatan kang ana ing bebrayan. Panjenengane ngendika, “Murid, gurune pribadi. Guru, muride pribadi. Pamulange, sangsarane sesami. Ganjarane, ayu Lan arume sesami.” Cetha lamun piwulang iki asli, ora asal saka referensi manca negara.

Sing pungkasan, perlu kawuningan yen Ngelmu Kanthong Bolong iki ngutamakake laku. Kanggone RMP Sosrokartono, ngelmu Lan laku iku nyawiji. Laku iku ya dadi manifestasi ngelmu. Ora ana ngelmu tanpa laku. Nuntut ngelmu beda karo ngudi ngelmu. RMP Sosrokartono ora tau kagungan murid. Piwulange ora diparingake nganggo ceramah kaya ing sekolah nanging kanthi conto Lan patuladhan. Panjenengane tau ngedegake kulawarga Manasuka (ejaane ana sing nulis Monosuko) ing tlatah Sumatera utara Lan Sumatera Timur. Kulawarga iki diwenehi kalodhangan nyonto laku-laku kang katindakake dening panjenengane.
(Sudadi/35)

sumber : http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=227
More … Alfatiha

NGELMU PRING

PRING PODHO PRING
ELING PODHO ELING
ELING DHIRINE
ELING PEPADHANE
ELING PATINE
ELING GUSTINE
PRING IKU MUNG SUKET
NING GUNANE AKEH BANGET
YAIKU JENENGE NGELMU PRING
DADIA KAYA PRING
PRASAJA ORA DUWE APA2
NING MARGA ORA DUWE OPO2
BAKAL BISA DADI OPO2
KAYA PRING

Sumber : http://gunemanku.blogspot.com/2007/06/ngelmu-pring_29.html
More … Alfatiha

Jumat, 2008 Januari 18

KUNTUL NYONGGO MBULAN

Alhamdulillah. Astaghfirullah. Shollallah ‘ala Muhammad. Terinspirasi dengan lukisan di mihrab kuno di sebuah masjid kajen pati, yamg merupakan peninggalan Syeh Ahmad Mutamakkin (Mbah Mad, Ki Cebolek) , maka kami mencoba untuk memberi nadzor (dzikir analisa). Dengan memohon pertolongan Allah SWT maka kami akan menguraikannya sejauh yang dapat kami pahami. Semoga para leluhur berkenan ‘njangkungi’ dalam nadzor ini. Adapun lukisan yang di maksud adalah lukisan burung kuntul (blekok putih / mliwis putih) yang sedang menyangga bulan. Pertama kami ingin menguraikan dulu makna burungnya. Burung mliwis putih berbulu putih halus. Biasa kita temui di areal pertambakan/danau. Dengan tenang ia berdiri lama di tepian / bibir tambak. Dengan gerakan mematung seperti itu dan pembawaan kalem bisa membuat ikan – ikan terpedaya dan tak merasa bahaya. Dengan mata yang tajam ia mengawasi kedalaman air.Burung ini juga pandai berenang dan mempunyai pembawaan bersahabat bagi penghuni air di danau / tambak. Jika mereka lengah maka secepat kilat di sambarnya ikan – ikan itu dan menjadi makanan yang empuk buat sang burung. Kita juga bisa melihatnya pada suatu senjata ketika ia melintas jauh ke angkasa kembali ke sarangnya. Mari kita melihat ke sisi methaphornya. Burung juga di lambangkan ‘seorang pejalan ruhani’. Berbulu putih halus bisa diartikan dari luar ia nampak orang yang ‘suci’ dan ‘alim’. Mata yang tajam diartikan memiliki wawasan yang luas. Pembawaan yang kalem dan betah ‘mematung’ dapat diartikan gemar prihatin / gentur bertapa untuk meraih cita2. Jika burung itu masih suka mencari ikan – ikan di danau diartikan sang pejalan masih terikat dengan duniawi. Dengan penampilan yang ‘alim’ dan ‘suci’ maka ia bisa memperdaya jiwa – jiwa yang lemah untuk kesenangan duniawai. Penghuni – penghuni ikan mengagungkan dan mengkultuskan ‘sang pejalan’. Dan sang pejalan tentu saja dengan keterikatannya terhadap duniawi bersuka ria dengan pengagungan ikan – ikan itu dan menganggap lumrah terhadap dirinya yang dianggap suci dan alim dan menganggap perjalanannya sudah sampai. Jika itu yang terjadi tentu maka kasihan ‘sang pejalan’ itu. Perjalanannya masih jauh. Dan ikan – ikan penghuni air tentunya dia hanya akan tau hanya seputar air di areal danau / tambak , tidak tau hakiki dunia luar dan mempercayakan sepenuhnya pada ‘kicauan’ sang ‘burung’ atau ‘pejalan’. Disini bisa dikatakan ‘sang pejalan’ dan ‘ pengikutnya’ terhijab dari hakekat/kebenaran sejati. Jika di mihrab itu sang burung kuntul dilukiskan menyangga bulan. Subhanallah. Bulan bisa diartikan derajat yang luhur / cita-cita yang adi luhung /kesempurnaan perjalanan. Maka burung yang menyanga bulan itu bisa di ibaratkan ‘sang pejalan ruhani’ yang sudah tidak terikat duniawi lagi. Dia memiliki cita – cita luhur untuk menerangi sekitarnya tanpa mengharap imbalan / pujian. Mengajarkan sekitarnya tentang kesejatian walaupun seringkala harus berhadapan hegemoni-hegemoni politik yang tidak suka kebenaran itu menghambat kekuasan ‘keangkara murkaan’ mereka. Tidak terikat bukan berarti menutup diri / tidak berkecimpung dalam dunia. Justru malah harus beramar ma’ruf nahi mungkar untuk menerangi sekitarnya. Selaras dengan cerita Ki Cebolek yang mengajarkan kebenaran walupun harus menghadapi anacaman pidana ‘bakar’ dari pengadil – pengadil kekuasaan yang mengatasnamakan hegemoni agama. Memilki wawasan yang luas dan ‘ilmu yang luhur’ dan disebut ‘ulama’/ ‘pembimbing ruhani’ maka yang selayaknya harus dilakukan adalah tetap konsisten menyangga bulan, menerangi sekitarnya tanpa pamrih untuk dikultuskan atau memanfaatkan ‘muridnya’. Maka disini sangat penting mencari ‘guru pembimbing’ yang putih di luar dan putih di dalam. Walaupun sulit. Sekurang-kurangnya putih di dalam. (Hehehe..mana kita tau kalo didalamnya putih?). Seorang murid juga harus mempunyai tsiqoh/ pemahaman/ ilham yang kuat dan juga tekad yang kuat untuk menangkap maksud sang guru. Supaya terlepas dari kungkungan sekitar danau. Dan juga supaya bisa melihat gunung di luar danau dengan penyaksian sejati, melihat dengan ‘mata kepala’ sendiri. Tidak hanya mengetahu gunung ini dan itu menurut kata ‘ sang guru’. Murid juga paham bahwa yang dicari adalah emas. Bukan kertas berlapis emas. Guru yang sejati akan mampu memperlihatkan ‘emas’. Bukan ‘menipu’ muridnya sehingga kertas emas dikira ‘emas’ sungguhan. Ehm.. Selesai juga nadzornya. Jika ada hikmahnya, bolehlah diambil. Jika tidak, maka abaikan saja.
Alhamdulillah. Astaghfirullah. Shollallah ‘ala Muhammad.
Wassalam
More … Alfatiha

Kamis, 2008 Januari 17

Syekh Siti Jenar Dan Wali Songo (Konflik?)

SANTRI BUNTET

Wishing to be santri anywhere…
Antara Syariat Syekh Siti Jenar & Wali Lainnya

15 Nopember, 2007 in Kajian Kitab, Pengalaman Rohani, Supranatural, Tokoh

Terinspirasi oleh Tulisan Danalingga yang menarik tentang masalah Syahadat Siti Jenar yang dikaitkan dengan merebaknya aliran sesat. Tulisan ini sequel dari tulisan sebelumnya.

MENUJU Tuhan rupanya menjadi hal yang terus menerus diupayakan para hamba pencinta. Dalam ajaran agama, banyak cara dan jalan yang ditempuh oleh para ulama (rohaniwan) mengajarkan pada kita. Salah satu contoh di dalam ajaran Islam mengenal istilah adalah gerakan batin (hake­kat).

Semisal yang dica­nangkan oleh Al Hallaj dan diterus­kan oleh Syekh Siti Jenar di Indonesia. Wali ini tidak dimasukan dalam ling­kungan atau anggota Wali Sanga. Mungkin kare­na sistem dan metodanya tidak sama. Tetapi gene­rasinya terus berkem­bang hingga kini. Tidak mengetahui di mana shalatnya.

Di samping itu ada banyak jenis gerakan selain Syekh Siti Jenar yang dica­nang­kan oleh para Wali (songo). Dianta­ranya adalah thareqat. Pertanyaanya, apa­kah gerakan tarekat yang dicanang­kan para wali itu masuk dalam kategori syareat atau gerakan hakekat?

Islam lahir didahului oleh hakekat baru kemudian syareat. Buktinya Nabi saw lama bertahannuts (bermalam) di gua Hira. Beliau menghabiskan malam-malam­nya di sana untuk beribadah dengan mengabdikan diri kepada Allah swt. Beberapa malam kemu­dian, turun­lah wahyu pertama. Di sinilah syareat mulai dibentuk untuk umatnya.

Namun pada giliran periode berikutnya, muncul gerakan yang mirip hakekat yang diajarkan oleh Al Hallaj yang cukup bertentangan dengan syareat pada umum­nya. Beratus tahun kemu­dian hadir pula di Indonesia. Pelopor­nya adalah Syekh Siti Jenar.

Gerakan ini cukup berhasil membawa para pengi­kutnya untuk terus mengupayakan gerak­an ini berkembang. Entah bagai­ma­na, akhirnya syareat yang biasanya dianut oleh masyarakat umum tiba-tiba tidak lagi menjadi fokus utama dalam beri­badah kepada Allah. Yang hadir dan ramai di anut oleh masyarakat adalah sejenis hakekat. Di antara yang kerap dibicarakan orang adalah ung­kapan “eling”. Atau “manungaling kaula Gusti”. Semacam penyadaran akan penya­tuan antara hamba dengan Tuhannya.

Konon ajaran itu masuk dalam kategori hakekat. Adapun syareat­nya tidak seperti para penganut Islam biasanya. Atau barang­kali tidak ada syareat sama sekali. Sean­dainya pun ada syareat, maka dipastikan sangat berbeda dengan para pemegang rukun Islam pada umumnya.

Ajaran Syekh Siti Jenar, salah satunya, menurut salah satu pembimbing tarekat, adalah gera­kan shalat di atas daun. Generasinya hingga kinipun ma­sih mem­praktek­kannya. Selembar daun di­po­tong dan digelar sebagai sajadahnya lalu melak­sanakan shalat di atas daun itu di per­muka­an air.

Atau suatu ketika selembar daun pisang menempel di dahannya, maka di situlah mengerjakan shalatnya. Jadi begi­tulah seseorang yang (khusus) mendalami ilmu syareat Syeh Siti Jenar.

Karenanya, tidak musta­hil seseorang itu mempelajari bagai­mana bisa terbang dan meng­hilang. Itulah yang diajar­kannya. Itulah karomahnya. Itulah yang saya dengar dari guru. Masalah benar tidaknya saya belum tahu.

Bagaimana dengan Gerakan para Wali Lainya?

Menurut Abdullah As Sya’roni bukan itu yang istimewa. Karomah dipandang oleh As Sya’roni adalah al Istiqomah, meski­pun kecil kelihatannya. Sehingga timbul ungkapan “khoirun min alfi karomah” istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah. Karenanya, tidak perlu terta­rik dan tidak perlu mempelajari hal-hal seperti itu.

Inilah yang disebut gerakan tarekat yang dipelo­pori oleh para aulia. Karenanya pernah ada seorang ulama besar mem­buat geger orang-orang, di mana shalat­nya tidak pernah diketahui. Namun tiba-tiba saja ulama itu ada di sana. Wallahu a’lam kita tidak tahu, na­mun itulah gerakan mereka. Jadi sangat antik mereka punya gerakan.

Karena itu wali Songo tidak mau keting­galan punya gerakan juga. Thareqah namanya. Jadi tarekat yang diajarkan para wali itu sangat jelas dan terlihat apa adanya. Para pengikut tarekat saat berkumpul ramai-ramai kemudian me­la­kukan dzikir tarekat bersama-sama. Ramai-ramai di talqin atau di baiat oleh musyidnya, oleh muqoddam atau khali­fah, terserah istilahnya apa, itu sema­ta-mata untuk melestarikan gerak­an wali songo.

Itulah alasannya mengapa para pengikut tarekat berkumpul. Sementara para peng­ikut syekh Siti Jenar pun gigih membikin generasi penerusnya dengan gerakan-gerak­an yang dianggap kontro­ver­­sial. Sementera grupnya Wali Songo ternyata kelihatannya lebih berhasil dalam gerakannya. Sehingga berkem­banglah tarekat di seluruh dunia de­ngan berbagai versi dan silsilahnya hingga kini.

Salah satu inti gerakan tarekat yang dikedepankan oleh para Wali Songo adalah hal yang jelas bentuk sya­reat­­nya. Buktinya adalah orang-orang tarekat dzikir­knya jelas, bagai­mana uca­pan­nya, dimana tempat berdzikir­nya, apa yang diucapkan, siapa gurunya dan ke­pada siapa silsilahnya begitu jelas hing­ga wusul kepada Rasulullah saw. Tanpa ada yang disem­bunyikan sama se­­­ka­­li.

Tentang ajaran hakikat pada tarekat yang diajarkan para wali hanya mengajar­kan khofi selebihnya dzikir, sholawat dan membaca Al qur’an kepa­da para pengamal tarekat. Khofi sendiri merupakan hal rahasia yang tidak bisa diajarkan melainkan dengan talqin kepada mursyidnya, muqoddam atau khalifahnya.

Namun ajaran “hakekat” yang dikedepankan oleh tarekat tidak untuk menciptakan sebuah kelebhan (karomah). Semata-mata hanya untuk bagaimana mampu ber­komunikasi kepada Allah dalam segala tingkat kea­da­an dan situasi. Jika pun ada kelebihan yang ditimbulkan, hal itu semata-mata karena maziah saja dan tidak ditam­pakkan.

Bahkan jika seorang pengikut tarekat memiliki karomah, ia sendiri menganggapnya sebagai beban yang berat sekali dipikul­nya. Pendek­nya, menjadi pengamal ta­re­­kat adalah individu yang siap menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Tak Perlu Diadu

Bukan berarti gerakan Wali Songo lebih baik dari gerakan Syekh Siti Jenar atau seba­liknya. Hal itu tidak perlu diadu dan dibuat komparasi (perban­dingan). Kare­na hal ini tidak perlu diadu antara kelebihan dan kekurangannya. Sebab dalam salah satu ajaran tarekat menye­but­kan bahwa tidak perlu mengo­reksi ilmu orang lain. Nafsi-nafsi saja. Memperbaiki dan menambah kekurangan diri.

Akhirnya, seringkali para guru meng­ajar­kan kepada para pengikutnya: marilah bersama-sama untuk saling tertarik guna mendalami ilmu bersama Allah SWT. Ilmu ini berada dalam hati, bukan di dalam pikiran. Sebab ilmu tarekat tidak­lah mengajarkan sese­orang ahli suatu bidang, melainkan bagai­mana memanaj hati. Jika hati tenang maka akan meno­long segala urusan keduniaan dan kea­khiratan. Bukankah Allah men­jan­jikan: “Ingatlah, hanya dengan meng­ingati Allah-lah hati menjadi tenteram.. (Ar Ra’ad: 28)

Kesimpulan:

· Tarekat merupakan sebuah bentuk gerakan keimanan yang bertujuan untuk memperbiki akhlak melalui upaya pembersihan diri (batin) de­ngan terus menerus mengingat Alalh.

· Ada yang berorientasi hanya pada inti hakekat saja (batin) tanpa dengan sya­reat pada umumnya. Diwakilii oleh gerakan Al Hallaj dan generasi beri­kut­nya adalah Syekh Siti Jenar.

· Ada pula yang mementingkan syareat dan hakekat sekaligus. Namun lebih condong ke pelaksanaan syareat se­perti biasanya. Sementara hakekat hanya dalam bentuk dzikir khofi saja. Ini yang kebanyakan diwakili oleh gerakan tarekat Wali Songo dengan berbagai jenisnya yang mu’tabarah.

· Pada akhirnya, gerakan Wali Sanga ini lebih banyak diterima oleh masya­rakat.

· Tidak perlu membandingkan dua jenis gerakan ini, mana yang lebih unggul. Masing-masing menjalankan keya­kinan­nya. Wallhu a’lam.

Pemicu Tulisan:

http://danalingga.wordpress.com/2007/11/09/syahadat-jenar/

http://id.wikipedia.org/wiki/Syekh_Siti_Jenar

Antara Syekh Siti Jenar dengan Wali Songo ada konflikkah? :

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/04/teropong/resensi_buku.htm

Wawancara Penulis Buku Best Seller Syekh Siti Jenar

sumber : http://santribuntet.wordpress.com/2007/11/15/banyak-jalan-menuju-tuhan/
More … Alfatiha

Cara Menjumpai Nabi SAW di Kala Sadar

Di nukil dari Kitab Kaifiyyat Wushul Ru’yat Rasul SAW Oleh Hasan Muhammad Syaddad
Umar Ba Umar yang sudah ditejemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Al Mighwar MA dan di terbitkan Pustaka Hidayah Bandung. Berikut Salah satu Kaifiyyat / Cara untuk menjumpai Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Penyusunnya mendapat ijazah ini dari Habib Zain bin Smith. Habib Zain mendapatkan ijazah sholawat ini dari Sheikh Tijani Abdul Hamid At Tijani dari Mesir. Berikut Bacaan Sholawatnya yang di baca 1000x di Malam Jumat :

– Allahummaj’al Jamii’a Adzkaari Al Dzaakiriina wa Jamii’a Sholawaati Al
Musholliina
Waj’al lii Jami’al Adzkaari li Dzikrii wa Jamii’as Sholawaati li Sholaati ‘ala
Sayyidinaa Muhammadin Syafii’il Mudznibiin wa ‘ala Aalihi AlMuthohhiriina
AlKaamiliin.

– Ya Allah Himpunkanlah Seluruh Dzikir Orang yang berdzikir dan Seluruh Sholawat
Orang yang bersholawat dan Jadikanlah untukku Seluruh Dzikir itu Sebagai
Dzikirku dan Seluruh Sholawat itu sebagai Sholawatku Pada Junjungan Kita
Muhammad SAW Pemberi Syafaat bagi orang2 yang berdosa dan Sholawatku Juga Kepada
Keluarganya yang Suci dan Sempurna.
More … Alfatiha

Selasa, 2008 Januari 15

Mimpi melihat Nabi Muhammad s.a.w

Mimpi melihat Nabi Muhammad s.a.w

Riwayat Ahmad dari Anas Bin Malik r.a., Rasulullah s.a.w bersabda:

Siapa melihat aku dalam mimpi, maka akulah itu kerana sesungguhnya Syaitan tidak boleh menyerupai aku.

Syaitan dijadikan dari api dan boleh berupa menjadi manusia, lelaki atau perempuan. Setengah ulama kata syaitan tidak boleh menyerupai Nabi Muhammad s.a.w. Setengah ulama kata syaitan tidak boleh menyerupai mana-mana Nabi. Bila syaitan berupa menjadi manusia, ia tiada lurah hidung. Kerana itu orang yang menyimpan misai hendaklah menampakkan lurah hidungnya.

Dalam hadith yang lain, berkata Abu Salamah, “Telah berkata Abu Qatadah, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud,

Sesiapa yang telah melihat daku dalam mimpinya, maka sesungguhnya dia telah melihat yang benar (al-Haqq). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Mimpi melihat Rasulullah itu betul, tetapi percakapan Nabi dalam mimpi tiada jaminan. Ia bergantung kepada percakapan itu selagi tidak bertentangan dengan syarak.

Kelebihan orang yang mimpi Nabi
Besar kelebihan orang yang mimpi Nabi. Ulama kata akan mati dalam iman dan dimasukkan ke dalam syurga.

Amalan untuk dapat ziarah Nabi dalam mimpi
Setengah ulama menyuruh baca Al-Kautsar 1,000 kali satu malam, bacalah hingga 2-3 malam. Setengah ulama suruh banyakkan selawat ke atas Nabi. Surah Al-Kautsar menceritakan hubungan khusus Nabi s.a.w dengan Allah, orang yang benci Nabi akan terputus rahmatnya dari Allah:

Al-Kauthar [3] Sesungguhnya orang yang bencikan engkau, Dialah yang terputus (dari mendapat sebarang perkara yang diingininya).

SUMBER : http://nasbunnuraini.wordpress.com/2007/12/10/mimpi-melihat-nabi-muhammad-saw/
More … Alfatiha

MIMPI BERTEMU NABI SAW

Dengan wajah muram seorang murid bersimpuh di hadapan gurunya. lantas beliau dengan wajah dan suara berwibawa bertanya kepadanya,”Apakah gerangan yang merisaukanmu?”
“Wahai guru, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginanku belum juga terkabul,” jelas si murid.

“Oo… rupanya itu yang kau inginkan. Tunggu sebentar…”
Sang guru mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya.
“Iniii…, bacalah setiap hari seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan Nabimu.”

Dengan wajah berseri pulanglah si murid membawa catatan itu. Namun, setelah beberapa minggu, kembalilah si murid ke rumah gurunya memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak menghasilkan apa-apa. Sang guru segera memberikan bacaan lain. Namun, beberapa minggu kemudian muridnya kembali dengan lesu memberitahukan bahwa bacaan itu pun masih belum menghasilkan apa-apa.

Setelah diam beberapa saat, berkatalah sang guru, “Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam.” Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah ia ke rumah sang guru untuk memenuhi undangannya. Ia merasa heran melihat gurunya hanya menghidangkan ikan asin saja.

“Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!” kata sang guru kepada muridnya.

Karena tergolong murid taat, maka ia habiskan seluruh ikan asin yang ada. Selesai makan ia merasa kehausan karena memang ikan asin membuat orang mudah kehausan. Ia segera meraih segelas air dingin yang ada di hadapannya.

“Letakkan kembali gelas itu!” perintah sang guru. “Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!”

Dengan penuh rasa heran diturutinya perintah gurunya. Malam itu ia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga
akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi? Malam itu ia mimpi, gurunya menyodorkan segelas air dingin. Setelah minum, ia terjaga dari tidurnya. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya.

“Apa yang kau impikan?” tanya sang guru yang berdiri tak jauh darinya.
“Guru aku tidak memimpikan Nabiku SAW, aku mimpi minum air.”

Tersenyumlah sang guru mendengar jawaban muridnya. Kemudian dengan bijaksana ia berkata:,
“Jika cintamu pada Baginda Nabi SAW seperti cintamu pada air sejuk itu niscaya kau akan memimpikannya.”

Menangislah si murid. Ia baru sadar bahwa ternyata dalam hatinya belum cukup ada rasa cinta kepada Nabi. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi. Ia masih banyak meninggalkan sunahnya. Ia masih belum meneladani akhlaknya. Ia masih lebih mencintai air…

SUMBER : http://faqirullah.multiply.com/journal/item/15
More … Alfatiha

RASA

Rasa iku anane neng ati (qolb )
Sak njerone rasa ono rasa sejati (ruuhi)
Sak njero rasa sejati ono sejatining roso (sirri)
Sak njero sejatining roso ono roso sejatining roso (khafa)
Sak njerone roso sejatining roso ono azimat (akhfa/azimat)

Ajaran ini adalah ajaran tasawuf yang di-Jawakan….

Juga sering pula dikatakan golekana sejatining jowo, jowo sejati…..

Jowo sejati dan sejatining jowo tidak lain adalah sejatinya manusia atau jati diri orang Jawa…..

Kalao dalam ajaran spiritual Jawa ada pula :

Sugih tanpo bondho
Nglurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake
Dhigdhoyo tanpo ajimat (azimat)

Azimat inilah adalah Cahaya di atas Cahaya yang berada dalam qolbu manusia, dan Cahaya di atas Cahaya (Nuur di atas Nuur) adalah Nuur Muhammad (dalam islam). Barangsiapa telah mendapatkan ajimat sejati ini, dia tidak membutuhkan kesaktian apa-apa, karena Nuur ini telah ada sejak sebelum Adam diciptakan…..

“Wahai Rasulullah, sejak kapa Engkau menjadi Rasul ?”…..”Sejak Adam berada diantara ruuh dan jasadnya aku telah menjadi Rasul (Nuur).” Karena kalau kita memahami Esensi Muhammad (Haqeqatul Muhammadiyyah), maka sebenarnya kita tidak usah membabi buta membabat agama lain dan kebatinan Jawa, karena sebenarnya Kebatinan Jawa juga mencapai Nuur di atas Nuur tersebut melalui sufi-sufi yang kemudian dikenal sebagai ahli gnostik, ma’rifat dsb.

SUMBER : http://agungks.multiply.com/journal/item/6/Sabda_Serat_jati_Ranggawarsita_cuplikan
More … Alfatiha

Jumat, 2008 Januari 11

SHALAWAT

Segala puji bagi Allah
Yang mengaruniai kepada kami Nabi Muhammad saww
yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya
dengan kuasa-Nya yang melampaui segala hal
meskipun itu termasuk berat
yang tak luput dari-Nya
meskipun itu halus

Yang menjadikan kami
sebagai umat penghabisan atas umat yang lalu
Yang mengangkat kami
sebagai saksi atas yang membangkang
dan memperbanyak jumlah kami
atas umat lainnya yang lebih sedikit
dengan karunia-Nya

Ya Allah,
Limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad
kepercayaan-Mu yang menyampaikan wahyu-Mu
yang paling unggul dari ciptaan-Mu
yang jadi pilihan-Mu
di antara hamba-hamba-Mu
Imam kasih sayang, pemimpin kebaikan,
kunci keberkahan

Sebagaimana ia telah bersusah-payah
memperjuangkan perintah-Mu
mempertaruhkan raganya demi Engkau
dalam menempuh segala bahaya
menyeru kerabat dan kaumnya ke jalan-Mu
menerangi sanak keluarganya demi ridho-Mu
memutuskan tali kekeluargaannya
demi menghidupkan agama-Mu

Ia menjauhkan orang-orang yang dekat kepadanya
karena bantahannya
dan mendekatkan orang-orang yang jauh
karena penerimaannya kepada-Mu
mengikat tali persaudaraan
dengan orang-orang jauh demi Engkau
dan memusuhi orang-orang yang dekat demi Engkau
menyibukkan dirinya
dalam menyampaikan risalah agama-Mu
membebaninya dalam menyeru mereka ke agama-Mu
dan giat memberi nasihat
kepada mereka yang menerima seruan-Mu

Dia hijrah ke negeri yang asing
ke tempat nan jauh dari kampung halaman
demi menegakkan dan mengagungkan agama-Mu
dan menundukkan orang-orang kafir
sehingga lebih mudah baginya dalam melakukan
apa yang akan ia lakukan terhadap musuh-musuh-Mu
dan kian sempurna pula dalam mengemban tugas
melindungi wali-wali-Mu

Ia bangkit menantang mereka
berbekal pertolongan-Mu
dan menyerang mereka
di tengah-tengah kampung mereka
hingga menaglah agama-Mu
dan kalimat-Mu tetap tinggi nan agung
meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya

Ya Allah,
Angkatlah derajat hamba-Mu Nabi Muhammad
sebagai balasan atas pengorbanannya demi Engkau
ke tempat yang tertinggi di dalam surga-Mu
yang tak ada satupun tempat dan derajat yang menyamainya
bahkan para malaikat-Mu pun tidak mampu menandinginya
demikian pula para nabi dan utusan-Mu yang lain

Perkenankanlah ia memberi syafaat
kepada keluarganya yang suci
dan para umatnya yang beriman
sebaik-baik apa yang telah Engkau janjikan

Engkaulah Ya Allah,
Yang menepati janji dan menyempurnakan ucapan
Yang mengubah kesalahan-kesalahan
menjadi kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda
Sesungguhnya Engkau Maha Pemurah dan Agung
Maha Penyantun dan Maha Mulia

SUMBER : http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/shalawat-atas-rasulullah-saww-dan-keluarganya/
More … Alfatiha

SHOLAWAT BANI HASYIM

Allahumma Sholli ‘ala Nabiyyil Hasyimi Muhammadin Wa ‘ala aalihi wa shohbihi
wa sallim Tasliima …

Menurut Mas Idris , Salah seorang santri suryalaya
(Maaf, Mas Idris nama sampeyan ikut ngeblog..Kalo Komplain Ntar di hapus hehehe..)
bertutur pada blogger pada suatu kesempatan chat bahwa sholawat ini biasa di ijazahkan
Abah Anom pada santri-santrinya. Jelas sholawat ini amat populer dan termasuk sholawat yang utama di praktekkan di suryalaya. Abah Anom mendapatkan ijazah sholawat ini dari
ayahandanya Abah Sepuh. Abah Sepuh mendapatkan ijazah dari Syaikhona Kholil Bangkalan,
yang bisa dikatakan guru para ulama besar di tanah jawa. So, bagi yang tertarik untuk mengamalkan Sholawat ini biar lebih afdhol dan berkah bisa minta ijazahnya di suryalaya pada Abah Anom. Sholawat ini dibaca Nabi Muhammad SAW pada waktu hijrah. Konon dengan berbekal sholawat ini Abah Sepuh menyebrang selat madura dengan berbekal jukong (perahu kecil). Jadi sholawat ini nampaknya bisa digunakan untuk ‘sapu jagad’ atau thayyul ardhi (ilmu hikmah melipat bumi) dalam
khasanah dunia santri. Terlepas dari sisi ilmu hikmahnya, pembacaan sholawat ini jelas memberikan manfaat yang luar biasa karena setiap pembacaan sholawat apapun pada nabi ditanggung nyampai ke Nabi Muhammad SAW terlepas dari niat/maksud , latar belakang ato kondisi si pembaca sholawat. Dan hadiah terbesar dari pembacaan sholawat yaitu manakala kita bertemu Nabi SAW baik dalam mimpi atau terjaga. Sebab dari Nurnya kita di ciptakan (beberapa pendapat mengatakan ‘diemanasikan’). Dan itu adalah kebahagiaan terbesar. Sebab dari Nabi Muhammad SAW (Nur Muhammad dari sisi bahasan tasawuf islami) pintu Liqo (Menjumpai) Allah. Bahwa N. Muhammad SAW sebagai Pintu Allah untuk liqo’ (Menjumpai) Allah juga disepakati oleh tasawuf sunni. Hal ini bisa dilihat dari karya2 Imam Al Ghozali (pelopor tasawuf sunni) yang selalu mengedapankan sholawat dan bisa dilihat dari uraian Sayyid Abdullah Alwi Alhaddad (Penyusun Ratib Alhaddad) mengenai Nur Muhammad. Juga di singgung di Maulid diba’i dan Simthud durornya Alhabsi mngenai Nur Muhammad ini. Akhirnya marilah kita semua membumikan sholawat. Amin
More … Alfatiha

SHALAWAT PADA RASULULLAH

SHALAWAT PADA RASULULLAH
Imam al-Ghazali

Dikisahkan, ada seseorang melihat satu makhluk yang sangat jelek di padang sahara. Lalu dia bertanya, “Siapakah kamu?’ “Aku amalan jelekmu,” jawab makhluk itu. “Apa yang dapat menyelamatkanku darimu?” “Shalawat kepada Nabi Saw., sebagaimana sabda beliau,

“Shalawat itu berada di atas cahaya, di atas ash-shirath. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku pada hari Jum’at sebanyak delapan puluh kali, Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama delapan puluh tahun.”

Kisah lain, ada seseorang yang tidak pernah bershalawat pada junjungan kita, Muhammad Saw. Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Saw. Beliau tidak menoleh kepadanya. Oleh karena itu dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Anda marah kepada saya?” “Tidak,” jawab Nabi Saw. “Lalu mengapa Anda tidak memandang saya?” “Karena aku tidak mengenalmu. Bagaimana Anda tidak mengenal saya, padahal saya termasuk umat Anda? Para ulama mengatakan bahwa Anda lebih mengenal umat Anda daripada seorang ibu mengenal anaknya.”

“Mereka benar, tetapi engkau tidak mengingatku dengan shalawat. Sebab aku mengenal umatku menurut kadar shalawat mereka kepadaku.” Setelah terbangun, orang itu mewajibkan dirinya selalu bershalawat kepada Nabi Saw seratus kali sehari. Selang beberapa waktu ia bermimpi lagi bertemu Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Kini aku mengenalmu dan aku memberikan syafaat kepadamu, karena engkau telah menjadi pecinta rasul.”

(Dikutip dari: Menyingkap Hati, Menghampiri Ilahi bersama Imam al-Ghazali)

SUMBER : http://mevlanasufi.blogspot.com/2005/04/shalawat-pada-rasulullah.html
More … Alfatiha

UNTUK BERTEMU NABI DI KALA MIMPI

ALLAAHUMMA SHALLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN, FII KULLI LAM-HATIN WA HAFASIN BI’ADADI KULLI MA’LUUMIN LAKA.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan para keluarganya, di dalam setiap kehidupan mata dan nafas dengan bimbingan semua yang diketahui oleh-Mu.

SUMBER : http://salam-online.web.id/2007/03/31/untuk-bertemu-nabi-dikala-mimpi.html
More … Alfatiha

NABI KHIDIR AS

Salah satu kisah Al-Qur’an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan misteri adalah, kisah seseorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Kisah tersebut terdapat dalam surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi: 60)
Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau mampu mencapai majma’ al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Di sana terdapat suatu perjanjian penting yang dinanti-nanti oleh Musa ketika beliau sampai di majma‘ al-Bahrain. Anda dapat merenungkan betapa tempat itu sangat misterius dan samar. Para musafir telah merasakan keletihan dalam waktu yang lama untuk mengetahui hakikat tempat ini. Ada yang mengatakan bahwa tempat itu adalah laut Persia dan Romawi. Ada yang mengatakan lagi bahwa itu adalah laut Jordania atau Kulzum. Ada yang mengatakan juga bahwa itu berada di Thanjah. Ada yang berpendapat, itu terletak di Afrika. Ada lagi yang mengatakan bahwa itu adalah laut Andalus. Tetapi mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang kuat dari tempat-tempat itu.
Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan rnenyebutkannya. Namun Al-Qur’an al-Karim sengaja menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Qur’an tidak menyebutkan kapan itu terjadi. Begitu juga, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak mengetahuinya. Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal.
Di samping itu, tempat pertemuan dan waktunya antara hamba yang mulia ini dan Musa juga tidak kita ketahui. Demikianlah kisah itu terjadi tanpa memberitahumu kapan terjadi dan di tempat mana. Al-Qur’an sengaja menyembunyikan hal itu, bahkan Al-Qur’an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini. Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:
“Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al-Kahfi: 65)
Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa adalah seseorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu. Lalu, siapakah gurunya atau pengajarnya? Pengajarnya adalah seorang hamba yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur’an meskipun dalam hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as.
Musa berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir menolak ditemani oleh Musa. Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir sehingga Khidir menceritakan kepadanya. Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa; sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa bingung dan membuatnya menentang. Meskipun Musa memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.
Ilmu Musa yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Awan tebal yang menyelimuti kisah ini dalam Al-Qur’an telah menurunkan hujan lebat yang darinya mazhab-mazhab sufi di dalam Islam menjadi segar dan tumbuh. Bahkan terdapat keyakinan yang menyatakan adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada “cemburu” dengan ilmu mereka. Keyakinan demikian ini timbul karena pengaruh kisah ini.
Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan Khidir. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia seorang wali dari wali-wali Allah SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia seorang nabi. Terdapat banyak cerita bohong tentang kehidupan Khidir dan bagaimana keadaannya. Ada yang mengatakan bahwa ia akan hidup sampai hari kiamat. Yang jelas, kisah Khidir tidak dapat dijabarkan melalui nas-nas atau hadis-hadis yang dapat dipegang (otentik). Tetapi kami sendiri berpendapat bahwa beliau meninggal sebagaimana meninggalnya hamba-hamba Allah SWT yang lain. Sekarang, kita tinggal membahas kewaliannya dan kenabiannya. Tentu termasuk problem yang sangat rumit atau membingungkan. Kami akan menyampaikan kisahnya dari awal sebagaimana yang dikemukakan dalam Al-Qur’an.
Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Pembicaraan Nabi Musa sangat komprehensif dan tepat. Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya: “Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?” Dengan nada emosi, Musa menjawab: “Tidak ada.”
Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: “Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?” Musa mengetahui bahwa ia terburu-buru mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma’ al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu.” Jiwa Nabi Musa yang mulia rindu untuk menambah ilmu, lalu timbullah keinginan dalam dirinya untuk pergi dan menemui hamba yang alim ini. Musa bertanya bagaimana ia dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim.
Akhirnya, Musa pergi guna mencari ilmu dan beliau ditemani oleh seorang pembantunya yang masih muda. Pemuda itu membawa ikan di keranjang. Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari hamba yang alim dan saleh. Tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat samar dan masalah ini berkaitan dengan hidupnya ikan di keranjang dan kemudian ikan itu akan melompat ke laut. Namun Musa berkeinginan kuat untuk menemukan hamba yang alim ini walaupun beliau harus berjalan sangat jauh dan menempuh waktu yang lama.
Musa berkata kepada pembantunya: “Aku tidak memberimu tugas apa pun kecuali engkau memberitahuku di mana ikan itu akan berpisah denganmu.” Pemuda atau pembantunya berkata: “Sungguh engkau hanya memberi aku tugas yang tidak terlalu berat.” Kedua orang itu sampai di suatu batu di sisi laut. Musa tidak kuat lagi menahan rasa kantuk sedangkan pembantunya masih bergadang. Angin bergerak ke tepi lautan sehingga ikan itu bergerak dan hidup lalu melompat ke laut. Melompatnya ikan itu ke laut sebagai tanda yang diberitahukan Allah SWT kepada Musa tentang tempat pertamuannya dengan seseorang yang bijaksana yang mana Musa datang untuk belajar kepadanya. Musa bangkit dari tidurnya dan tidak mengetahui bahwa ikan yang dibawanya telah melompat ke laut sedangkan pembantunya lupa untuk menceritakan peristiwa yang terjadi. Lalu Musa bersama pemuda itu melanjutkan perjalanan dan mereka lupa terhadap ikan yang dibawanya. Kemudian Musa ingat pada makanannya dan ia telah merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: “Coba bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan akibat dari perjalanan ini.”
Pembantunya mulai ingat tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat bagaimana ikan itu melompat ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu kepada Nabi Musa. Ia meminta maaf kepada Nabi Musa karena lupa menceritakan hal itu. Setan telah melupakannya. Keanehan apa pun yang menyertai peristiwa itu, yang jelas ikan itu memang benar-benar berjalan dan bergerak di lautan dengan suatu cara yang mengagumkan. Nabi Musa merasa gembira melihat ikan itu hidup kembali di lautan dan ia berkata: “Demikianlah yang kita inginkan.” Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke tempat yang di situ ikan yang dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.
Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan suatu kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu tabir di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda harus berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju laut. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak mengetahui namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami pun tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam yang dijelaskan oleh Al-Qur’an: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahrnat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. “
Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah. Allah SWT berfirman:
“Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. ” (QS. al-Kahfi: 61-65)
Bukhari mengatakan bahwa Musa dan pembantunya menemukan Khidir di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika Musa melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya. Khidir berkata: “Apakah di bumimu ada salam? Siapa kamu?” Musa menjawab: “Aku adalah Musa.” Khidir berkata: “Bukankah engkau Musa dari Bani Israil. Bagimu salam wahai Nabi dari Bani Israil.” Musa berkata: “Dari mana kamu mengenal saya?” Khidir menjawab: “Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa?” Musa berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan: “Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya.” Khidir berkata: “Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”
Kita ingin memperhatikan sejenak perbedaan antara pertanyaan Musa yang penuh dengan kesopanan dan kelembutan dan jawaban Khidir yang tegas di mana ia memberitahu Musa bahwa ilmunya tidak harus diketahui oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa tidak diketahui oleh Khidir. Para ahli tafsir mengemukakan bahwa Khidir berkata kepada Musa: “Ilmuku tidak akan engkau ketahui dan engkau tidak akan mampu sabar untuk menanggung derita dalam memperoleh ilmu itu. Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai tidak dapat menjadi landasan dan ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali engkau akan melihat dalam tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami sebab-sebabnya. Oleh karena itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar ketika ingin mendapatkan ilmuku.” Musa mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari Khidir namun beliau kembali mengharapnya untuk mengizinkannya menyertainya untuk belajar darinya. Musa berkata kepadanya bahwa insya Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang sedikit pun.
Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi yang berdialog dengan Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia menegaskan bahwa ia tidak akan menentang perintahnya. Hamba Allah SWT yang namanya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an menyatakan bahwa di sana terdapat syarat yang harus dipenuhi Musa jika ia bersikeras ingin menyertainya dan belajar darinya. Musa bertanya tentang syarat ini, lalu hamba yang saleh ini menentukan agar Musa tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh itu akan memberitahunya. Musa sepakat atas syarat tersebut dan kemudian mereka pun pergi. Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:
“Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. al-Kahfi: 66-70)
Musa pergi bersama Khidir. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa, tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir. Namun Musa dibuat terkejut ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir melobangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.
Musa menyertai Khidir dan melihat tindakannya dan kemudian ia berpikir. Musa berkata kepada dirinya sendiri: “Apa yang aku lakukan di sini, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh Para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah. Mereka pun memuliakan kami tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melobanginya.” Tindakan Khidir di mata Musa adalah tindakan yang tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa sebagai bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya kepada gurunya dan ia lupa tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia tidak bertanya apa pun yang terjadi. Musa berkata: “Apakah engkau melobanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang tercela.” Mendengar pertanyaan lugas Musa, hamba Allah SWT itu menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa tidak mampu lagi bersabar. Musa meminta maaf kepada Khidir karena ia lupa dan mengharap kepadanya agar tidak menghukumnya.
Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa dibuat terkejut ketika melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa dengan lantang bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan. Mereka memasuki suatu desa yang sangat bakhil. Musa tidak mengetahui mengapa mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana. Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak mau menjamu mereka.
Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu ingin beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa dibuat terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa sangat heran melihat tindakan gurunya. Bagi Musa, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan yang gratis ini. Musa berkata: “Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu.” Mendengar perkataan Musa itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: “Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku.” Hamba Allah SWT itu mengingatkan Musa tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan.
Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa. Setiap tindakan hamba yang saleh itu—yang membuat Musa bingung—bukanlah hasil dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar menjadi jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tingi di mana kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang tidak diketahui oleh Musa. Meskipun Musa memiliki ilmu yang sangat luas tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa laksana setetes air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah SWT itu hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang terdapat pada paruh burung yang mengambil dari lautan. Allah SWT berfirman:
“Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’ Dia (Khidir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidir berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’” (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar. Pemilik perahu itu akan menganggap bahwa usaha melobangi perahu mereka merupakan suatu bencana bagi mereka tetapi sebenarnya di balik itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan yang tidak dapat diketahui kecuali setelah terjadinya peperangan di mana raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu raja itu akan membiarkan perahu-perahu yang rusak. Dengan demikian, sumber rezeki keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka tidak akan mati kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah, namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka karena Allah SWT akan memberi mereka—sebagai ganti darinya—anak yang baik yang dapat menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka menginjak masa tua dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan kekufuran seperti anak yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu terdapat keburukan.
Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Selanjutnya, Musa kembali menemui pembatunya dan menemaninya untuk kembali ke Bani Israil. Sekarang, Musa mendapatkan keyakinan yang luar biasa. Musa telah belajar dari mereka dua hal: yaitu ia tidak merasa bangga dengan ilmunya dalam syariat karena di sana terdapat ilmu hakikat, dan ia tidak mempersoalkan musibah-musibah yang dialami oleh manusia karena di balik itu terdapat rahmat Allah SWT yang tersembunyi yang berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Itulah pelajaran yang diperoleh Nabi Musa as dari hamba ini. Nabi Musa mengetahui bahwa ia berhadapan dengan lautan ilmu yang baru di mana ia bukanlah lautan syariat yang diminum oleh para nabi. Kita berhadapan dengan lautan hakikat, di hadapan ilmu takdir yang tertinggi; ilmu yang tidak dapat kita jangkau dengan akal kita sebagai manusia biasa atau dapat kita cerna dengan logika biasa. Ini bukanlah ilmu eksperimental yang kita ketahui atau yang biasa terjadi di atas bumi, dan ia pun bukan ilmu para nabi yang Allah SWT wahyukan kepada mereka.
Kita sekarang sedang membahas ilmu yang baru. Lalu siapakah pemilik ilmu ini? Apakah ia seorang wali atau seorang nabi? Mayoritas kaum sufi berpendapat bahwa hamba Allah SWT ini dari wali-wali Allah SWT. Allah SWT telah memberinya sebagian ilmu laduni kepadanya tanpa sebab-sebab tertentu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hamba saleh ini adalah seorang nabi. Untuk mendukung pernyataannya ulama-ulama tersebut menyampaikan beberapa argumentasi melalui ayat Al-Qur’an yang menunjukkan kenabiannya.
Pertama, firman-Nya:
“Lalu mereka bertemu dengan searang hamba di antara hamba-ham-ba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Kedua, perkataan Musa kepadanya:
“Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?’ Musa berkata: ‘lnsya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orangyang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu rmnanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu,’” (QS. al-Kahfi: 66-70)
Seandainya ia seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa tidak akan berdiaog atau berbicara dengannya dengan cara yang demikian dan ia tidak akan menjawab kepada Musa dengan jawaban yang demikian. Bila ia bukan seorang nabi maka berarti ia tidak maksum sehingga Musa tidak harus memperoleh ilmu dari seseorang wali yang tidak maksum.
Ketiga, Khidir menunjukkan keberaniannya untuk membunuh anak kecil itu melalui wahyu dari Allah SWT dan perintah dari-Nya. Ini adalah dalil tersendiri yang menunjukkan kenabiannya dan bukti kuat yang menunjukkan kemaksumannya. Sebab, seorang wali tidak boleh membunuh jiwa yang tidak berdosa dengan hanya berdasarkan kepada keyakinannya dan hatinya. Boleh jadi apa yang terlintas dalam hatinya tidak selalu maksum karena terkadang ia membuat kesalahan. Jadi, keberanian Khidir untuk membunuh anak kacil itu sebagai bukti kenabiannya.
Keempat, perkataan Khidir kepada Musa:
“Sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. ” (QS. al-Kahfi: 82)
Yakni, apa yang aku lakukan bukan dari doronganku sendiri namun ia merupakan perintah dari Allah SWT dan wahyu dari-Nya. Demikianlah pendapat para ulama dan para ahli zuhud. Para ulama berpendapat bahwa Khidir adalah seorang Nabi sedangkan para ahli zuhud dan para tokoh sufi berpendapat bahwa Khidir adalah seorang wali dari wali-wali Allah SWT.
Salah satu pernyataan Kliidir yang sering dikemukakan oleh tokoh sufi adalah perkataan Wahab bin Munabeh, Khidir berkata: “Wahai Musa, manusia akan disiksa di dunia sesuai dengan kadar kecintaan mereka atau kecenderungan mereka terhadapnya (dunia).” Sedangkan Bisyir bin Harits al-Hafi berkata: “Musa berkata kepada Khidir: “Berilah aku nasihat.” Khidir menjawab: “Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kamu untuk taat kepada-Nya.” Para ulama dan para ahli zuhud berselisih pendapat tentang Khidir dan setiap mereka mengklaim kebenaran pendapatnya. Perbedaan pendapat ini berujung pangkal kepada anggapan para ulama bahwa mereka adalah sebagai pewaris para nabi, sedangkan kaum sufi menganggap diri mereka sebagai ahli hakikat yang mana salah satu tokoh terkemuka dari ahli hakikat itu adalah Khidir. Kami sendiri cenderung untuk menganggap Khidir sebagai seorang nabi karena beliau menerima ilmu laduni. Yang jelas, kita tidak mendapati nas yang jelas dalam konteks Al-Qur’an yang menunjukkan kenabiannya dan kita juga tidak menemukan nas yang gamblang yang dapat kita jadikan sandaran untuk menganggapnya sebagai seorang wali yang diberi oleh Allah SWT sebagian ilmu laduni.
Barangkali kesamaran seputar pribadi yang mulia ini memang disengaja agar orang yang mengikuti kisah tersebut mendapatkan tujuan utama dari inti cerita. Hendaklah kita berada di batas yang benar dan tidak terlalu jauh mempersoalkan kenabiannya atau kewaliannya. Yang jelas, ketika kami memasukkannya dalam jajaran para nabi karena ia adalah seorang guru dari Musa dan seorang ustadz baginya untuk beberapa waktu.♦

sumber : http://jalantrabas.blogspot.com/2007/11/nabi-khidir-as.html
More … Alfatiha

RAHASIA SHOLAT

dapun kemudian daripada itu, yakni daripada memuji Allah dan mengucapkan shalawat kepada Rasulullah SAW, maka inilah suatu kitab yang sudah dipindahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, supaya mudah bagi orang yang baru belajar menginginkan Allah. Bahwasanya diceritakan dari Abdullah Bin Umar r.a, katanya adalah kamu berduduk pada suatu orang kelak ke hadapan Rasulullah SAW, minta belajar ilmu Jibril a.s, daripada ilmu yang sempurna dunia dan akhirat, yaitu membiasakan dari hakikat didalam shalat lima waktu yaitu wajib bagi kita untuk mengetahuinya. Yang harus mereka ketahui pertama kali hakikat shalat ini supaya sempurna kamu menyembah Allah, bermula hakikatnya didalam shalat itu atas 4 (empat) perkara :
1. BERDIRI (IHRAM).
2. RUKU’ (MUNAJAH).
3. SUJUD (MI’RAJ).
4. DUDUK (TABDIL).

Adapun hakikatnya :
1. BERDIRI ( IHRAM) itu karena huruf ALIF asalnya dari API, bukan api pelita dan bukan pula api bara. Adapun artinya API itu bersifat JALALULLAH, yang artinya sifat KEBESARAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• KUAT.
• LEMAH.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga, karena hamba itu tidak mempunyai KUAT dan LEMAH karena hamba itu di-KUAT-kan dan di-LEMAH-kan oleh ALLAH, bukannya kudrat dan iradat Allah itu lemah. Adapun kepada hakikatnya yang sifat lemah itu shalat pada sifat kita yang baharu ini. Adapun yang dihilangkan tatkala BERDIRI itu adalah pada segala AP’AL (perbuatan) hamba yang baharu.

2. RUKU’ (MUNAJAH) itu karena huruf LAM Awal, asalnya dari ANGIN, bukannya angin barat dan bukan pula angin timur. Adapun artinya ANGIN itu bersifat JAMALULLAH yang artinya sifat KEELOKAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• TUA.
• MUDA.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak mempunyai TUA dan MUDA. Adapun yang dihilangkan tatkala RUKU’ itu adalah pada segala ASMA (nama) hamba yang baharu.

3. SUJUD (MI’RAJ) itu karena huruf LAM Akhir, asalnya dari AIR, bukannya air laut dan bukan pula air sungai. Adapun artinya AIR itu bersifat QAHAR ALLAH yang artinya sifat KEKERASAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• HIDUP.
• MATI.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak pun mempunyai HIDUP dan MATI. Adapun yang dihilangkan tatkala SUJUD itu adalah pada segala NYAWA (sifat) hamba yang baharu.

4. DUDUK (TABDIL) itu karena huruf HA, asalnya dari TANAH, bukannya pasir dan bukan pula tanah lumpur. Adapun artinya TANAH itu bersifat KAMALULLAH yang artinya sifat KESEMPURNAAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• ADA.
• TIADA.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak ADA dan TIADA. Adapun yang dihilangkan tatkala DUDUK itu adalah pada segala WUJUD/ZAT hamba yang baharu, karena hamba itu wujudnya ADAM yang artinya hamba tiada mempunyai wujud apapun karena hamba itu diadakan/maujud, hidupnya hamba itu di-hidupkan, matinya hamba itu di-matikan dan kuatnya hamba itu di-kuatkan.

Itulah hakikatnya shalat. Barangsiapa shalat tidak tahu akan hakikat yang empat tersebut diatas, shalatnya hukumnya KAFIR JIN dan NASRANI, artinya KAFIR KEPADA ALLAH, ISLAM KEPADA MANUSIA, yang berarti KAFIR BATHIN, ISLAM ZHAHIR, hidup separuh HEWAN, bukannya hewan kerbau atau sapi. Tuntutan mereka berbicara ini wajib atas kamu. Jangan shalat itu menyembah berhala !!!.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan sempurnanya orang TAKBIRATUL IHRAM, yaitu hendaklah tahu akan MAQARINAHNYA.
Bermula MAQARINAH shalat itu terdiri atas 4 (empat) perkara :
1. BERDIRI (IHRAM).
2. RUKU’ (MUNAJAH).
3. SUJUD (MI’RAJ).
4. DUDUK (TABDIL).

Adapun hakikatnya :
 Adapun hakikatnya BERDIRI (IHRAM) itu adalah TERCENGANG, artinya : tiada akan tahu dirinya lagi, lupa jika sedang menghadap Allah Ta’ala, siapa yang menyembah?, dan siapa yang disembah?.

 Adapun hakikatnya RUKU’ (MUNAJAH) itu adalah BERKATA-KATA, artinya : karena didalam TAKBIRATUL IHRAM itu tiada akan menyebut dirinya (asma/namanya), yaitu berkata hamba itu dengan Allah. Separuh bacaan yang dibaca didalam shalat itu adalah KALAMULLAH.

 Adapun hakikatnya SUJUD (MI’RAJ) itu adalah TIADA INGAT YANG LAIN TATKALA SHALAT MELAINKAN ALLAH SEMATA.

 Adapun hakikatnya DUDUK (TABDIL) itu adalah SUDAH BERGANTI WUJUD HAMBA DENGAN TUHANNYA.

Sah dan maqarinahnya shalat itu terdiri atas 3 (tiga) perkara :
1. QASHAD.
2. TA’ARADH.
3. TA’IN.

Adapun QASHAD itu adalah menyegerakan akan berbuat shalat, barang yang dishalatkan itu fardhu itu sunnah.
Adapun artinya TA’ARRADH itu adalah menentukan pada fardhunya empat, tiga atau dua.
Adapun TA’IN itu adalah menyatakan pada waktunya, zhuhur, ashar, maghrib, isya atau subuh.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan sempurnanya didalam shalat :
 Adapun sempurnanya BERDIRI (IHRAM) itu hakikatnya :
Nyata kepada AP’AL Allah.
Hurufnya ALIF.
Alamnya NASUWAT.
Tempatnya TUBUH, karena tubuh itu kenyataan SYARIAT.

 Adapun sempurnanya RUKU’ (MUNAJAH) itu hakikatnya :
Nyata kepada ASMA Allah.
Hurufnya LAM Awal.
Alamnya MALAKUT.
Tempatnya HATI, karena hati itu kenyataan THARIQAT.

 Adapun sempurnanya SUJUD (MI’RAJ) itu hakikatnya :
Nyata kepada SIFAT Allah.
Hurufnya LAM Akhir.
Alamnya JABARUT.
Tempatnya NYAWA, karena Nyawa itu kenyataan HAKIKAT.

 Adapun sempurnanya DUDUK (TABDIL) itu hakikatnya :
Nyata kepada ZAT Allah.
Hurufnya HA.
Alamnya LAHUT.
Tempatnya ROHANI, karena ROHANI itu kenyataan MA’RIFAT.

 Adapun BERDIRI (IHRAM) itu kepada SYARIAT Allah.
Hurufnya DAL.
Nyatanya kepada KAKI kita.

 Adapun RUKU’ (MUNAJAH) itu kepada THARIQAT Allah.
Hurufnya MIM.
Nyatanya kepada PUSAT (PUSER) kita.

 Adapun SUJUD (MI’RAJ) itu kepada HAKIKAT Allah.
Hurufnya HA.
Nyatanya kepada DADA kita.

 Adapun DUDUK (TABDIL) itu kepada MA’RIFAT Allah.
Hurufnya MIM Awal.
Nyata kepada KEPALA (ARASY) kita.

Jadi Orang Shalat membentuk huruf AHMAD / MUHAMMAD.

INILAH PASAL

Asal TUBUH kita (jasmaniah) kita dijadikan oleh Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. API.
2. ANGIN.
3. AIR.
4. TANAH.

Adapun NYAWA kita dijadikan Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. WUJUD.
2. NUR ILMU.
3. NUR.
4. SUHUD.

Adapun MARTABAT Tuhan itu ada 3 (tiga) perkara :
1. AHADIYYAH.
2. WAHDAH.
3. WAHIDIYYAH.

Adapun TUBUH kita dijadikan Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. WADIY.
2. MADIY.
3. MANIY.
4. MANIKEM.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan jalan kepada Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. SYARIAT. = AP’AL. = BATANG TUBUH.
2. THARIQAT. = ASMA. = HATI. DIRI
3. HAKIKAT. = SIFAT. = NYAWA. KITA
4. MA’RIFAT. = RAHASIA. = SIR.

Adapun hakikatnya :
 SYARIAT itu adalah KELAKUAN TUBUH.
 THARIQAT itu adalah KELAKUAN HATI.
 HAKIKAT itu adalah KELAKUAN NYAWA.
 MA’RIFAT itu adalah KELAKUAN ROHANI.

Adapun yang tersebut diatas itu nyata atas penghulu kita Nabi MUHAMMAD. Karena lafadz MUHAMMAD itu 4 (empat) hurufnya yaitu :
1. MIM Awal.
2. HA.
3. MIM Akhir.
4. DAL.

Adapun huruf MIM Awal itu ibarat KEPALA.
Adapun huruf HA itu ibarat DADA.
Adapun huruf MIM Akhir itu ibarat PUSAT (PUSER).
Adapun huruf DAL itu ibarat KAKI.

Adapun huruf MIM Awal itu MAQAM-nya kepada alam LAHUT.
Adapun huruf HA itu MAQAM-nya kepada alam JABARUT.
Adapun huruf MIM Akhir itu MAQAM-nya kepada alam MALAKUT.
Adapun huruf DAL itu MAQAM-nya kepada alam NASUWAT.

Sah dan lagi lafadz ALLAH terdiri dari 4 (empat) huruf :
1. ALIF.
2. LAM Awal.
3. LAM Akhir.
4. HA.

Adapun huruf ALIF itu nyatanya kepada AP’AL Allah.
Adapun huruf LAM Awal itu nyatanya kepada ASMA Allah.
Adapun huruf LAM Akhir itu nyatanya kepada SIFAT Allah.
Adapun huruf HA itu nyatanya kepada ZAT Allah.

Adapun AP’AL itu nyata kepada TUBUH kita.
Adapun ASMA itu nyata kepada HATI kita.
Adapun SIFAT itu nyata kepada NYAWA kita.
Adapun ZAT itu nyata kepada ROHANI kita.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan ALAM. Adapun ALAM itu atas 2 (dua) perkara :
1. ALAM KABIR (ALAM BESAR/ALAM NYATA).
2. ALAM SYAQIR (ALAM KECIL/ALAM DIRI KITA).

Adapun ALAM KABIR itu adalah alam yang NYATA INI.
Adapun ALAM SYAQIR itu adalah alam DIRI KITA INI.

ALAM KABIR (ALAM BESAR) itu sudah terkandung didalam ALAM SYAQIR karena ALAM SYAQIR itu bersamaan tiada kurang dan tiada lebih, lengkap dengan segala isinya bumi dan langit, arasy dan kursy, syurga, neraka, lauhun (tinta) dan qolam (pena), matahari, bulan dan bintang.

Adapun BUMI / JASMANI didalam tubuh kita itu terdiri atas 7 (tujuh) lapis yaitu :
1. BULU.
2. KULIT.
3. DAGING.
4. URAT.
5. DARAH.
6. TULANG.
7. LEMAK (SUM-SUM).

Adapun LANGIT / ROHANI (OTAK/ARASY) didalam tubuh kita itu terdiri atas 7 (tujuh) lapis pula :
1. DIMAK (LAPISAN BERPIKIR/RUH NABATI).
2. MANIK (LAPISAN PANDANGAN/RUH HEWANI).
3. NAFSU (RUH JASMANI).
4. BUDI (RUH NAFASANI).
5. SUKMA (RUH ROHANI).
6. RASA (RUH NURANI).
7. RAHASIA (RUH IDHAFI).

Adapun MATAHARI didalam tubuh kita yaitu NYAWA kita.
Adapun BULAN didalam tubuh kita yaitu AKAL kita.
Adapun BINTANG didalam tubuh kita yaitu ILMU kita (ada yang banyak dan ada pula yang sedikit).
Adapun SYURGA didalam tubuh kita yaitu AMAL SHALEH kita.
Adapun NERAKA didalam tubuh kita yaitu DOSA-DOSA kita.

Adapun LAUT didalam tubuh kita ada 2 (dua) yaitu :
1. LAUT ASIN.
2. LAUT TAWAR.

Adapun LAUT ASIN didalam tubuh kita yaitu AIR MATA kita.
Adapun LAUT TAWAR didalam tubuh kita yaitu AIR LUDAH kita.

Adapun MAHLIGAI didalam tubuh kita ada 7 (tujuh) pula yaitu :
1. DADA.
2. QALBUN.
3. BUDI.
4. JINEM.
5. NYAWA.
6. RASA.
7. RAHASIA.

Didalam DADA itu QALBUN dan didalam QALBUN itu BUDI dan didalam BUDI itu JINEM dan didalam JINEM itu NYAWA dan didalam NYAWA itu RASA dan didalam RASA itu RAHASIA (SIR).

SUMBER : http://jalantrabas.blogspot.com/2007/11/hakekat-rahasia-sholat.html
More … Alfatiha

Abah Anom

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.

Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.
Abah Anom & Istri (Hj. Yoyoh / Ummy)
Abah Anom
Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.

sumber : http://jalantrabas.blogspot.com/2007/11/kh.html
More … Alfatiha

UWAIS AL QARNI

Nama Uwais al-Qarani memainkan peranan penting dalam biografi mistikal nabi. “Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman!” Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup. Para sufi yang mengaku dirinya telah menempuh jalan tanpa pemba’iatan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi. Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali nabi yang misterius, Khidhir. Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran, sebuah desa terpencil di dekat Nejed. Tidak diketahui kapan beliau dilahirkan. Ia kilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orang tuanya yang sangat ditaatinya. Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, ia bekerja sebagai penggembala dan pemelihara ternak upahan. Dalam kehidupan kesehariannya ia lebih banyak menyendiri dan bergaul hanya dengan sesama penggembala di sekitarnya. Oleh karenanya, ia tidak dikenal oleh kebanyakan orang disekitarnya, kecuali para tuan pemilik ternak dan sesamanya, para penggembala. Hidupnya amat sangat sederhana. Pakaian yang dimiliki hanya yang melekat di tubuhnya. Setiap harinya ia lalui dengan berlapar-lapar ria. Ia hanya makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah memakan makan yang dimasak atau diolah. Oleh karenanya, ia merasakan betul derita orang-orang kecil disekitarnya. Tidak cukup dengan empatinya yang sedemikian, rasa takutnya kepada Allah mendorongnya untuk selalu berdoa kedapa Allah : “Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku, karena ada yang mati karena kelaparan, dan jangan Engaku menyiksaku karena ada yang kedinginan.” Ketaatan dan kecintaannya kepada Allah, juga termanifestasi dalam kecintaannya dan ketaatannya kepada Rasulullah dan kepada kedua orang tuanya, sangat luar biasa. Di siang hari, ia bekerja keras, dan dimalam hari, ia asik bermunajat kepada Allah swt. Hati dan lisannya tidak pernah lengah dari berdzikir dan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, meskipun ia sedang bekerja. Ala kulli hal, ia selalu berada bersama Tuhan, dalam pengabdian kepada-Nya. Rasulullah saw menuturkan keistimewaan Uwais di hadapan Allah kepada Umar dan Ali bahwa dihari kiamat nanti, disaat semua orang dibangkitkan kembali, Uwais akan memberikan syafaat kepada sejumlah besar umatnya, sebanyak jumlah domba yang dimiliki Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak). Karena itu, Rasulullah menyarankan kepada mereka berdua agar menemuinya, menyampaikan salam dari Rasulullah, dan meminta keduanya untuk mendoakan keduanya, yang digambarkan bahhwa Uwais memiliki tinggi badan yang sedang dan berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak tangannya. Sejak Rasulullah menyarankan keduanya untuk menemuinya, sejak itu pula keduanya selalu penasaran ingin segera bertemu dengan Uwais. Setiap kali Umar maupun Ali bertemu dengan rombongan orang-orng Yaman, ia selalu berusaha mencaru tahu dimana keberadaan Uwais dari rombongan yang ditemuinya. Namun, keduanya selalu gagal mendapatkan informasi tentang Uwais. Barulah setalah Umar diangkat menjadi khalifah, informasi tentang Uwais keduanya perolih dari serombongan orang Yaman, “Ia tampak gila, tinggal sendiri dan tidak brgaul dengan masyarakat. Ia tidak makan apa yang dimakan oleh kebanyakan orang, dan tidak tampak susan atau senang. Ketika orang-orang tersenyum ia menangis, dan ketika orang-orang menangis ia tersenyum”. Demikian kata rombongan orang-orang Yaman tersebut. Mendengar cerita orang-orang Yaman tersebut, Umar dan Ali segera berangkat menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang-orang Yaman tadi. Akhirnya, keduanya bertemu dengan Uwais di suatu tempat terpencul. Abi Naim al-Afshani menuturkan dialog yang kemudian terjadi antara Umar dan Ali dengan Uwai al-Qarani sebagai berikut: Umar : Apa yang anda kerjakan disini ? Uwais : Saya bekerja sebagai penggembala Umar : Siapa nama Anda? Uwais : Aku adalah hamba Allah Umar : Kita semua adalah hamba Allah, akan tetapi izinkan kami untuk mengetahui anda lebih dekat lagi Uwais : Silahkan saja. Umar dan Ali : Setelah kami perhatikan, andalah orang yang pernah diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada kami. Doakan kami dan berilah kami nasehat agar kami beroleh kebahagiaan dunia dan di akherat kelak. Uwais : Saya tidak pernah mendoakan seseorang secara khusus. Setiap hari saya selalu berdoa untuk seluruh umat Islam. Lantas siapa sebenarnya anda berdua. Ali : Beliau adalah Umar bin Khattab, Amirul Mu’minin, dan saya adalah Ali bin Abi Thalib. Kami berdua disuruh oleh Rasulullah SAW untuk menemui anda dan menyampaikan salam beliau untuk anda. Umar : Berilah kami nasehat wahai hamba Allah Uwais : Carilah rahmat Allah dengan jalan ta’at dan penuh harap dan bertawaqal kepada Allah. Umar :Terimakasih atas nasehat anda yang sangat berharga ini. Sebagai tanda terima kasih kami, kami berharap anda mau menerima seperangkat pakaian dan uang untuk anda pakai. Uwais : Terimakasih wahai Amirul mu’minin. Saya sama sekali tidak bermaksud menolak pemberian tuan, tetapi saya tidak membutuhkan apa yang anda berikan itu. Upah yang saya terima adalah 4 dirham itu sudah lebih dari cukup. Lebihnya saya berikan kepada ibuku. Setiap hari saya cukup makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah makan makan yang di masak. Kurasa hidupku tidak akan sampai petang hari dan kalau petang, kurasa tidak akan sampai pada pagi hari. Hatiku selalu mengingat Allah dan sangat kecewa bila sampai tidak mengingat-Nya. Ketika orang-orang Qaran mulai mengetahui keduduka spiritualnya yang demikian tinggi di mata Rasulullah saw, mereka kemudian berusaha untuk menemui dan memuliakannya. Akan tetapi, Uwais yang sehari-harinya hidup penuh dengan kesunyian ini, diam-diam meninggalkan mereka dan pergi menuju Kufah, melanjutkan hidupnya yang sendiri. Ia memilih untuk hidup dalam kesunyian, hati terbatas untuk yang selain Dia. Tentu saja, “kesunyian” disini tidak identik dengan kesendirian (pengasingan diri). Hakekat kesendirian ini terletak pada kecintaanya kepada Tuhan. Siapa yang mencintai Tuhan, tidak akan terganggu oleh apapun, meskipun ia hidup ditengah-tengah keramaian. Alaisa Allah-u bi Kafin abdahu? Setelah seorang sufi bernama Harim bin Hayyam berusaha untuk mencari Uwais setelah tadak menemukannya di Qaran. Kemudian ia menuju Basrah. Di tengah perjalanan menuju Basrah, inilah, ia menemukan Uwais yang mengenakan jubah berbulu domba sedang berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu Uwais beranjak naik menuju tepian sungai sambil merapikan jenggotnya. Harim mendekat dan memberi salam kepadanya. Uwais : menjawab: “ Wa alaikum salam”, wahai Harim bin Hayyan. Harim terkejut ketika Uwais menyebut namanya. “Bagaimana engakau mengetahui nama saya Harim bin Hayyan?’ tanya Harim. “Roku telah mengenal rohmmu”, demikian jawan Uwais. Uwais : kemudian menasehati Harim untuk selalu menjaga hatinya. Dalam arti mengarahkannya untuk selalu dalam ketaatan kepada-Nya melalui mujahadah, atau mengarahkan diri “dirinya “ untuk mendengar dan mentaati kata hatinya. Meski Uwais menjalani hidupnya dalam kesendirian dan kesunyian, tetapi pada saat-saat tertentu ia ikut berpartisipasi dalam kegiatan jihad untuk membela dan mempertahankan agama Allah. Ketika terjadi perang Shiffin antara golongan Ali melawan Muawiyah, Uwais berdiri di golongan Ali. Saat orang islam membebaskan Romawi, Uwais ikut dalam barisan tentara Islam. Saat kembali dari pembebasan tersebut, Uwais terserang penyakit dan meninggal saat itu juga. (t.39 H). Demikianlah sekelumit tentang Uais al-Qarani, kemudian hri namanya banyak di puji oleh masyarakat. Yunus Emre misalnya memujinya dalam satu sajak syairnya : Kawan tercinta kekasih Allah; Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani. Dia tidak berbohong ; dan tidak makan makan haram Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani Di pagi hari ia bangun dan mulai bekerja, Dia membaca dalam dzikir seribu satu malam Allah; Dengan kata Allahu Akbar dia menghela unta-unta Di tanah Yaman, Uwais alQarani Negeri Yaman “negeri di sebelah kanan “, negeri asal angin sepoi-sepoi selatan yang dinamakan nafas ar-rahman, Nafas dari Yang Maha Pengasih, yang mencapai Nabi dengan membawa bau harum dari ketaatan Uwais al-Qarani, sebagaimana angin sepoi-sepoi sebelumnya yang mendatangkan keharuman yang menyembuhkan dari kemeja Yusuf kepada ayahnya yang buta. Ya’kub (QS, 12: 95), telah menjadi simbul dari Timur yang penuh dengan cahaya, tempat dimana cahaya muncul, yang dalam karya Suhrawadi menggambarkan rumah keruhanian yang sejati. “Negeri di sebelah kanan “ itu adalah tanah air Uwais al-Qarani yanag memeluk Islam tanpa pernah betemu dengan nabi. Hikmah Yamaniyyah, “Kebijaksanaan Yaman,” dan Hikmah Yamaniyyah,”filosofi Yanani”, bertentangan, sebagaimana makrifat intuitif dan pendekatan intelektual, sebagaimana Timur dan Barat. Doa dan Dzikir Satu hal yang perlu digarisbawahi dari diri Uwais al-Qarani, kemudian menjadi landasan dalam tareqat-tareqat sufi, selain baktinya yang luar biasa terhadap kedua orang tuanya dan sikap zuhudnya, adalah doa dan dzikirnya. Uwais tidak pernah berdoa khusus untuk seseorang, tetapi selalu berdoa untuk seluruh umat kaum muslim. Uwais juga tidak pernah lengah dalam berdzikir meskipun sedang sibuk bekerja, mengawasi dan menggiring ternak-ternaknya. Doa dan dzikir bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Hakekatnya adalah satu. Sebab, jelas doa adalah salah satu bentuk dari dzikir, dan dzikir kepada–Ku hingga ia tidak sempat bermohon (sesuatu) kepada-Ku, maka Aku akan mengaruniakan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang diminta orang yang berdoa kepada-Ku”. Uwais selalu bedoa untuk seluruh muslimin. Doa untuk kaum muslim adalah salah satu bentuk perwujudan dari kepedulian terhadap “urusan kaum muslim”. Rasulullah saw. Pernah memperingatkan dengan keras: Siapa yang tidap peduli dengan urusan kaum muslim, maka ia tidak termasuk umatku.” Dalam hal ini, Rasulullah saw menyatakan bahwa permohonan yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan dan mendahulukan doa untuk selain dirinya. Dan Uwais lebih memilih untuk medoakan seluruh saudaranya seiman. Suatu ketika Hasan bin Ali terbangun tengah malam dan melihat ibunya, Fatimah az-Zahra, sedang khusu’ berdoa. Hasan yang pensasaran ingin tahu apa yang diminta ibunya dalam doanya berusaha untuk menguping. Namun Hasan agak sedikit kecewa, karena dari awal hingga akhir doanya, ibunya, hanya meminta pengampunan dan kebahagian hidup untuk seluruh kaum muslimin di dunia dan di akhirat kelak. Selesai berdoa, segera Hasan bertanya kepada ibunya perihal doanya yang sama sekali tidak menyisakan doanya untuk dirinya sendiri. Ibunya tersenyum, lalu menjawab bahwa apapun yang kita panjatkan untuk kebahagiaan hidup kaum muslim, hakekatnya, permohonan itu akan kembali kepada kita. Sebab para malaikat yang menyaksikan doa tersebut akan berkata “Semoga Allah mengabulkanmu dua kali lipat.” Dari prinsip tersebut, para sufi kemudian menarik suatu prinsip yang lebih umum yang padanya bertumpu seluruh rahasia kebahagiaan. Apa yang kita cari dalam kehidupan ini, harus kita berikan kepad orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah; jika kebaikan, berikanlah; jika pelayanan, berikanlah. Bagi para sufi, dunia adalah kubah, dan perilaku seseorang adalah gema dari pelaku yang lain. Secuil apapun kebaikan yang kita lakukan, ia akan kembali. Jika bukan dari seseorang, ia akan datang dari orang lain. Itulah gemanya. Kita tidak mengetahui dari mana sisi kebaikan itu akan datang, tetapi ia akan datang beratus kali lipat dibanding yang kita berikan. Demikianlah, berdoa untuk kaum mulim akan bergema di dalam diri yang tentu saja akan berdampak besar dan positif dalam membangun dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual seseorang. Paling tidak, doa ini akan memupus ego di dalam diri yang merupakan musuh terbesar, juga sekalihgus akan melahirkan dan menanamkan komitmen dalam diri “rasa Cinta”dan “prasangka baik”terhadap mereka, yang merupakan pilar lain dari ajaran sufi, sebagai manifestasi cinta dan pengabdian kepada Allah swt. Uwais tidak pernah lengah untuk berdzikir, mengingat dan mnyebut-nyebut nama Allah meskipun ia sedang sibuk mengurus binatang ternaknya. Dzikir dalam pengertiannya, yang umum mencakup ucapan segala macam ketaatan kepada Allah swt. Namun yang dilakukan Uwais disini adlah berdzikir dengan menyebut nama-nama Allah dan meningat Allah, juga termasuk sifat-sifat Allah. Ibn Qayyim al-Jauziyyah ketika memaparkan berbagai macam faedah dzikir dalm kitabnya “al-wabil ash-shayyab min al-kalim at-thayyib” menyebutkan bahwa yang paling utama pada setiap orang yang bramal adalah yang paling banyak berdzikir kepad Allah swt. Ahli shaum yang paling utama adalah yang paling banyak dzikirnya; pemberi sedekah yang paling baik adalah yang paling banyak dzikirnya; ahli haji yang paling utama adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah swt; dan seterusnya, yang mencakup segala aktifitas dan keadaan. Syaikh Alawi dalam “al-Qawl al-Mu’tamad,” menyebutkan bahwa mulianya suatu nama adalah kerena kemuliaan pemilik nama itu, sebeb nama itu mengandung kesan sipemiliknya dalam lipat tersembunyi esensi rahasianya dan maknanya. Berdzikir dan mengulang-ulang Asma Allah, Sang Pemilik kemuliaan, dengan demikian, tak diragukan lagi akan memberikan sugesti, efek, dan pengaruh yang sangat besar. Al-Ghazali menyatakan bahwa yang diperoleh seorang hamba dari nama Allah adalah ta’alluh (penuhanan), yang berarti bahwa hati dan niatnya tenggelan dalam Tuhan, sehingga yang dilihat-Nya hanyalah Dia. Dan hal ini, dalam pandangan Ibn Arabi, berarti sang hamba tersebut menyerap nama Allah, yang kemudian merubahnya dengan ontologis. Demikianlah, setiap kali kita menyerap asma Allah lewat dzikir kepada-Nya, esensi kemanusiaan kita berubah. Kita mengalami tranformasi. Yanag apada akhirnya akan membuahkan akhlak al-karimah yang merupakan tujuan pengutusan rasulullah Muhammad saw. Dilihat dari sudut panang psikologis sufistik, pertama-tama dzikir akan memberi kesan pada ruh seseorang, membentuknya membangun berbagai kualitas kebaikan, dan kekuatan inspirasi yang disugestikan oleh nama-nama itu. Dan mekanisme batiniah seseorang menjadi semakin hidup dari pengulangan dzikir itu, yang kemudian mekanisme ini berkembang pada pengulangan nama-nama secara otomatis. Jadi jika seseorang telah mengilang dzikirnya selama satu jam, misalnya, maka sepanjang siang dan malam dzikir tersebut akan terus berlanjut terulang, karena jiwanya mengulangi terus menerus. Pengulangan dzikir ini, juga akan terefleksi pada ruh semesta, dan mekanisme universal kemudian mengulanginya secara otomatis. Dengan kata lain, apa yang didzikirkan manusia dengan menyebutnya berulang-ulang. Tuhan kemudian mulai mengulanginya, hingga termaterialisasi dan menjadi suatu realita di semua tingkat eksistensi. Wallahu a’lam bis-shawab.

sumber : http://jalantrabas.blogspot.com/2007/12/uwais-al-qarni.html
More … Alfatiha

SYEKH NAZIM AL HAQQANI

Banyak murid yang mendatangi Mawlana Syaikh Nazim dan menerima Thariqat Naqsybandi Haqqani. Selain itu beliau adalah pemegang otoritas Mursyid tujuh Tariqah Sufi besar lainnya, termasuk Mevlevi Haqqani atau Mawlawiyah, Qodiriah, Syadziliyah, Chisty. Namun sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.

Langkah Syaikh Nazim yang pertama ketika itu adalah menuju masjid di tempat kelahirannya dan mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syaikh Nazim ? pergi menuju masjid besar di Nikosia dan melakukan azan di menaranya. Hal itu membuat para pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran
hukum.

Sambil menunggu sidang, Syaikh Nazim ? terus mengumandangkan azan di menara-menara masjid di seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terus bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau. Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan azan, namun Syaikh Nazim ? mengatakan, “ Tidak, aku tidak bisa mengehntikannya. Orang-orang harus mendengar panggilan azan untuk shalat.”

Ketika hari persidangan tiba, Mawlana Syaikh Nazim didakwa atas 114 kasus mengumandangkan azan diseluruh Cyprus. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, maka beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Tetapi pada hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki. Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab. Inilah keajaiban yang diberikan Allah swt kepada Mawlana Syaikh Nazim.

Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan wisatawan. Melalui sebuah kesepakatan pemerintah Turki, pada tahun 1953 akhirnya menyetujui tarian “Sama” Tariqah Mawlawi dipeertontonkan lagi di Konya dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat cultural untuk para wisatawan.

Rombongan Darwis juga diijinkan untuk berkelana secara Internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang illegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak Ataturk melarang agama mereka.

sumber : http://jalantrabas.blogspot.com/2007/12/syekh-nazim-al-haqqani.html
More … Alfatiha

Syekh Ahmad Mutamakin (Ki Cebolek)

Wali Khariqul Adah Yang Disegani
SETIAP – 10 Muharam ,(Selasa, 2 Maret 2004), di desa kecil di pantai utara Jawa Desa Kajen, Pati, lautan manusia berdatangan memperingati haul KH Ahmad Mutamakkin (AM). Sosok kiai yang lahir di Tuban ini lebih memilih Kajen, sebuah desa kecil di pantai utara Jawa, untuk menyebarkan gagasan Islamnya.

AM adalah seorang neosufis yang hidup pada tahun 1645 – 1740. Satu garis dengan cerita Jawa pada awal perkembangan Islam, Ki Ageng Pengging, Sunan Panggung, dan Among Raja. Mereka dikenal sebagai penganut tasawuf yang kemudian dieksekusi yang berkuasa. Bahkan, ada yang dikisahkan dibakar hidup-hidup.

Barangkali gema dari cerita yang lebih masyhur dan memikat dalam sejarah Islam di Timur Tengah adalah cerita tentang Husain ibn al-Hallaj yang wafat pada tahun 922. AM adalah murid dari Syaikh Zain, seorang Syaikh al-Yamami, seorang pemimpin tarekat yang besar di Timur Tengah terutama Naqsyabandi.

Dia ini sebenarnya adalah penerus dari tradisi Naqsyabandi yang dibawakan oleh Syaikh Khaliq dari Naksyabandi India ke tanah Kurdi, yaitu di Arbarter dan dari sana ke Aleppo di pantai barat Suriah dan kemudian melalui Madinah di bawah ke Makkah.

Karena orang-orang Kurdi itu bermazab Syafiíi, tidak usah heran ulama-ulama kita yang ikut tarekat kemudian membawa pulang mazab Syafiíi. Padahal ia sebelumnya bermazab Hanafi.

Di sini arti pentingnya seorang Kurdi, Syekh Zein. Dia mendidik Kiai Mutamakkin. Pada saat yang sama AM juga belajar pada Imam al-Kurrani, seorang sarjana besar, seorang ulama tradisional yang bisa mengedepankan baik tradisi keilmuan yang tinggi maupun kedalaman ilmu pengetahuan (Abdurrahman Wahid, 2002).

Kebesaran AM ditunjang oleh beberapa data sejarah yang menunjukkan dia sebagai seorang wali khariqul adah (tidak seperti kebiasaan manusia pada umumnya) yang disegani. Salah satu contohnya, AM melakukan riyadah (tirakat) selama 40 hari puasa, siang malam, tidak makan dan minum. Pada hari terakhir puasanya, AM menyuruh istrinya membelikan makanan yang paling disukainya di pasar. Setelah makanan itu matang, bahkan baru hangat-hangatnya dan menjelang magrib, AM justru berkelakuan aneh. Dia menyuruh istrinya mengikatnya di sebuah tiang.

Pada saat magrib tiba, nafsu makannya menggelora dengan dahsyat. Di depannya tersedia makanan yang paling disukainya. Pertarungan nafsu dan qalbun salim (hati yang bersih/selamat) akhirya dimenangkan oleh qalbun salim. Ajaib, dari dalam perutnya keluar dua anjing. Kedua binatang yang melambangkan bentuk nafsu makan itu langsung memakan habis makanan yang tersedia di depannya. Namun, kemudian ingin masuk ke dalam perutnya lagi.

AM menolak dan akhirnya kedua anjing tersebut menjadi khadim (pembantu) setia AM dalam perjuangannya. Kedua anjing itu kemudian diberinama Qomaruddin dan Abdul Qohhar (konon katanya kedua nama itu diambil dari nama penguasa zalim dari Tuban).

Mitos sejarah ini begitu melekat dalam jiwa masyarakat sekitar dan para santri yang mondok di Kajen. Setiap hari, dari pagi hingga malam, nonstop selama 24 jam makam AM tidak pernah sepi dari pengunjung. Alunan bacaan Alquran, tahlil, tahmid, takbir, dan salawat bergema sepanjang hari, menyemarakkan suasana desa tersebut yang dihuni ribuan santri.

Pertanyaannya kemudian, apakah hanya sebatas itu ibrah yang dapat kita ambil pada saat Islam terkena musibah besar sebagai agama yang identik dengan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme?
Banyak yang bisa kita ambil sebenarnya. Namun, yang paling penting adalah belajar dari kecerdasan dan kepiwaian AM dalam menerapkan strategi perjuangan di tengah-tengah umat yang terkenal dengan pendekatan kultural-kontekstual.

Pendekatan yang digunakan bukan institusi versus institusi. Dia lebih memilih membangun institusi sendiri yang berada di luar pemerintahan, yaitu tasawuf. AM tidak melawan pemerintah. Di sini kita dapat melihat, bagaimana AM sangat matang dalam mengatur strategi perjuangannya. Dia tidak anti dan pro terhadap pemerintah, tetapi berada di tengah kedua arus tersebut.

Melalui strategi kultural ini AM menanamkan kesadaran dan pencerahan kepada umat lewat forum pengajian, majelis taklim yang sesuai dengan urat nadi persoalan rakyat. Dia berbicara sesuai dengan napas umat, sehingga mampu memberikan solusi sederhana yang aplikatif terhadap persoalan yang terjadi. (Jamal Maímur Asmani,Alumnus PP Mathaliíul Falah dan Raudlatul Ulum Kajen, Margoyoso, Pati. Sekarang aktif di CePDeS (Central for Pesantren and Democracy Studies).

Strategi inilah yang dipakai oleh para Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga. Ada integrasi dan akulturasi Islam dengan budaya dan tradisi masyarakat setempat secara simbiosis-mutualisme. Saling memengaruhi satu sama lain, menjadi satu kekuatan perubahan besar melawan kultur feodalisme-patriarki yang dilakukan oleh para raja secara gradual, step by step.

Artinya, asimilasi kedua unsur tersebut dijadikan jembatan untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan. Dalam pandangan Ketua LIPI Dr Taufiq Abdullah, model strategi semacam ini sama dengan model relasi agama dengan kekuasaan, yang antara Islam dan negara dapat berhubungan sebuah tradisi NGO (non governance organization) atau sebuah LSM (lemaga swadaya masyarakat).

Ada kemandirian, solidaritas dan kohesivitas serta mobilitas sosial kolektif dalam memperjuangkan hak-haknya.
Untuk saat ini, pendekatan perjuangan model AM sangat efektif dan sudah teruji roda sejarah. Terbukti, apabila yang dipilih adalah pendekatan politis, legal formal, struktural dengan target dan ambisi, bukan hasil memuaskan yang dicapai, justru kehancuran, resistensi dan tidak mempunyai kontinuitas. Mudah hanyut ditelan waktu, cepat lapuk oleh putaran masa.

AM mempunyai perhatian dan kepedulian yang total dalam melakukan pemberdayaan dan pencerahan kalangan grassroot, akar rumput. Agama dalam genggaman AM tidak sekadar slogan utopis, sekadar khotbah di podium, tapi betul-betul merupakan sebuah gerak aktif-dinamis, bersenyawa dengan problem kemanusiaan, mampu menjadi lokomotif transformasi dan evolusi bagi persoalan masyarakat secara luas, baik sosial, budaya, ekonomi, maupun politik.

Agama bukan berada di menara gading, asyik dengan dunianya, tidak mampu menginjakkan kakinya di bumi, realitas yang sebenarnya. Hal yang menjadi kecenderungan kaum agamawan dan akademisi saat ini. Mereka enjoy dengan dunianya, sedangkan persoalan rakyat secara empiris tidak pernah tersentuh.

AM ini kalau dalam pandangan Ali Syariíati, intelektual terkemuka Iran, termasuk salah satu tokoh intelektual yang tercerahkan, seorang intelektual yang betul-betul mengabdikan ilmu dan jiwanya demi penyadaran, kemajuan dan pengembangan masyarakat.

Atas jerih payah dan prestasinya inilah, sangat pantas kalau Syeikh Ahmad Mutamakkin saat ini menjadi legenda masyarakat Kajen dan seluruh penjuru negeri ini. Sudah sepantasnyalah kita sebagai kader penerus perjuangan beliau tidak hanya menjadikannya mitos sejarah yang menyebabkan muncul romantisme historis-pasif. Namun, seharusnya kita benar-benar menjadikannya sebagai kekuatan perubahan dalam kehidupan masyarakat. (85k)

* a/n Jamal Maímur Asmani.
sumber : http://jalantrabas.blogspot.com/2008/01/syekh-ahmad-mutamakin.html
More … Alfatiha

Kamis, 2008 Januari 10

SHOLAWAT

Dear teman-teman, ini adalah salah satu shalawat yang diajarkan oleh guru kami (alm.) KH. Ahyad Noer. Shalawat ini didapatkan dari guru beliau yaitu Al Ustadz Al Imam Al Hafidz Al Musnid Doktor Al Qutub Al Habib Abdullah bin Al Ustadz Al Imam Al Habr Al Qutub Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bil Faqih Al Alawi

Semoga kita dapat mengamalkannya…

SUMBER : http://qomarfauzie.wordpress.com/2007/08/24/shalawat-dari-guru-mulia/#comment-457
More … Alfatiha

SHOLAWAT

DARI K H. M. Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, MA

بسم الله الر حمن الر حيم

إنالله وملا ئكته يصلون على النبي ياأيها الذ ين أمنوا

صلوا عليه وسلموا تسليما

1. صلوة امى :

اللهم صل على سيدنا محمد ن النبي الأمي و على ا له

وصحبه و سلم.

2. صلو ة كما لية :

اللهم صل على سيدنا محمد و ا له كما لا نها ية لكمالك

وعدد كماله

3. صلو ة شفاء :

اللهم صل على سيدنا محمد طب القلوب ودوائها

و عا فية ا لأ بدان و شفا ئها و نو ر ا لأ بصار

و ضيا ئها و على ا له و صحبه و سلم.

4. صلو ة كا ملة :

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا

محمد الذى تنحل به العقد وتنفرج به الكر ب وتقضى

به الحوا ئج وتنال به الرغائب وحسن الخوا تم

ويستسقى الغمام بو جهه الكر يم وعلى آله وصحبه

فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلو م لك.

5. صلو ة تنجينا :

اللهم صل على سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع

الأهوال وا لأفات وتقضى لنا بها جميع الحاجات وتطهرنا

بهامن جميع السيئات وترفعنا بها عندك أعلى الدرجات

وتبلغنا بها أ قصى الغايات من جميع الخيرات فى الحيا ة

وبعد الممات وعلى اله وصحبه وسلم.

6. صلو ة فا تح :

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد الفاتح

لما اُغْلقَ والخاتم لما سبق ناصرالحق بالحق

(والناصر الحق بالحق ) والهادى الى صراطك المستقيم

صلى الله عليه وعلى اله وصحبه حق قدره ومقداره العظيم.

7. صلو ة او لو ا العز م :

اللهم صل على سيدنا محمد وسيدنا ادم وسيدنا نوح

وسيدنا ابراهيم وسيدنا موسى وسيدنا عيسى ومابينهم

من النبيين والمرسلين صلوة الله وسلامه عليهم اجمعين

8. صلو ة ملا ئكة مقر بين :

اللهم صل على سيدنا محمد و سيدنا

جبر يل وسيدنا ميكائيل

و سيدنا ا سر ا فيل و سيدنا عز ر ا ئيل و حملة العر ش

و المقر بين صلو ة الله و سلا مه عليهم ا جمعين.

9. صلو ة نو ر ا نية :

اللهم صل على سيدنا محمد شجرة الأصل النورانية

ولمعة القبضة الرحمانية وافضل الخليقة الانسانية

وأشرف الصورة الجسمانية ومعدن الأسرارالربانية

وخزائن العلوم الإصطفائية صاحب القبضة الأصلية

والبهجة السنية والرتبة العلية من اندرجت النبيون

تحت لوائه فهم منه واليه صل وسلم وبارك عليه وعلى اله

وصحبه واحييت عدد ماخلقت ورزقت وامت واحييت

الى يوم تبعث من افنيت وسلم تسليما كثيرا

والحمد لله رب العالمين

Ijazah di Kaum Sumedang

Tanggal 29 Rajab 1425 H / 14 September 2004 M

sumber : http://asysyifawalmahmuudiyyah.wordpress.com/2007/05/21/ijazah-sholawat/#comment-317
More … Alfatiha

Selasa, 2008 Januari 08

Allah menurut Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri berasal dari Fansur Barus di pesisir Barat Laut Sumatra Utara (Sumut). Beliau dipercaya sebagai seorang mistikus (gnostikus) yang mengikuti ajaran “kesatuan eksistensial” (wihdat al-wujud) milik Ibnu Arabi. Jadi, menurut Hamzah Fansuri ini, ketika segala sesuatu itu belum ada ato belum ber-wujud, maka yang pertama-tama ada hanyalah Allah sebagai Zat Semata, tanpa sifat dan nama. Allah sebagai zat itu adalah Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas atau Allah dalam aspeknya yang adikodrati, transenden. Ia adalah Yang Awwal dan Yang Akhir, yang tiada teribaratkan dan tiada termisalkan. Nama Zat Semata adalah Huwa. 1

Hamzah Fansuri menambahkan, Allah dalam kondisi diam tanpa aktivitas tersebut, adalah seperti laut yang dalam, tanya kenapa?…itu karena hakikat dari Zat tidak dapat dikenal dan diketahui, lagipula tak seorang juapun dapat tau akan hal itu. Jadi, kalo Allah dalam sisi-Nya yang transenden adalah Zat Semata dan bernama Huwa, so Allah dalam kondisi beraktivitas atau sisi imanen-Nya bernama Allah. Allah adalah himpunan segala nama Allah, dan di bawah nama Allah ini terdapat banyaka banget nama, namun ada 99 nama yang paling keren alias cakep, biasa diberi nama asma’ al-husna. Dengan kata lain, kalo Allah dalam dimensi transenden atau dalam aspek hakikat-Nya adalah imanen atau dimensi wujud-Nya bernama Allah.2

So, dalam dua aspek ini, yaitu Allah dalam aspek atau sisi transenden-Nya yang bernama Zat dan Allah dalam aspek imanen-Nya, yaitu wujud yang bernama Allah, maka Zat Allah dengan wujud Allah adalah esa.3 Nah.. itu artinya Allah dalam aspek tanzih atau esensi alias hakikat-Nya dengan Allah dalam aspek tasybih atau eksistensi alias wujud-Nya adalah tunggal bin esa, kurang lebihnya begitu… :)

Nah, berpijak pada keyakinan semacam itulah, so Hamzah Fansuri ini menegaskan bahwasanya wujud Allah dan wujud alam adalah esa… udah paham?, jadi begini, alam itu ‘khan pada dirinya sendiri, masih menurut Hamzah Fansuri, tidak memiliki wujud!.. tanya kenapa? sebab, bagi Hamzah Fansuri, alam itu bukanlah wujud. Wujud alam itu adalah wujud bayang-bayang atau wujud wahmi, artinya bagaikan bayang-bayang pada cermin, ia tampaknya memiliki wujud tapi sebenarnya tidak. Jadi, karena alam ini gak berwujud sendiri melainkan diberikan wujud oleh Allah, maka rupanya ada tapi pada hakikatnya tidaklah ada.

Sebenarnya Hamzah Fansuri melalui simbol cermin itu hendak menjelaskan hubungan timbal balik yang tidak terpisahkan antara Allah dan alam seperti tampak dalam ajarannya mengenai penciptaan. Bagi Hamzah, proses penciptaan tak lain ialah proses di mana Allah memanifestasikan diri-Nya sendiri, atau dalam istilah teknisnya dikenal dengan tajalli, dan proses pemanifestasian diri ini dilakukan via berbagai fase yang disebut dengan ta’ayyunat, yaitu kenyataan pertama, biasa disebut martabat wahdat, atau pemanifestasian Zat kepada diri-Nya sendiri. Lalu?… pada saat Allah menilik pada diri-Nya sendiri, maka Allah melihat kesempurnaan diri-Nya.4

Reference

1. Muhammad Naguib al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri (Kuala Lumpur: Universiti Malaya Press, 1970), hlm. 239-243. [↩]
2. Ibid., hlm. 270-315. [↩]
3. Ibid., hlm. 239. [↩]
4. Ibid., hlm. 242. [↩]

sumber : http://aufklarung.org/thematic/gnostica/allah-menurut-hamzah-fansuri.mspx
More … Alfatiha

NUR MUHAMMAD (MENURUT AL QUR’AN DAN HADIST)

ASAS DARI AL-QURAN DAN HADITH oleh alkausar
(Penghargaan kepada Sheikh Nuh Ha Mim Keller, Ismail Dhul-Qarnayn dan Prof. Dr. Abdul Hadi Palazzi terhadap sumbangan mereka dalam artikel ini.)
1. ASAS DARI AL-QURAN
1.1 Rasulullah s.a.w ialah cahaya dari Allah s.w.t., adalah sesuatu yang seseorang yang beriman boleh perkatakan kerana Al-Quran menjelaskannya pada ayat:

Wahai Ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami (Muhammad, s.a.w) dengan menerangkan kepada kamu banyak dari (keterangan-keterangan dan hukum-hukum) yang telah kamu sembunyikan dari Kitab Suci, dan ia memaafkan kamu (dengan tidak mendedahkan) banyak perkara (yang kamu sembunyikan). Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya kebenaran (Nabi Muhammad) dari Allah, dan sebuah Kitab (Al-Quran) yang jelas nyata keterangannya. (Qur’an 5:15-Terjemahan Ar-Rahman)

Dimana, perkataan Nur pada ayat di atas telah dijelaskan pada beberapa ahli tafsir Al-Quran seperti berikut:

# Jalal al-Din al-Suyuti(Tafsir al-Jalalayn, 139):

“Ia adalah Rasullullah s.a.w”
# Ibn Jarir al-Tabari (Jami‘ al-bayan, 6.161):

” Dengan cahaya, Dia memaksudkan Rasullullah s.a.w, melaluinya Allah s.w.t telah menyinari kebenaran, menampakkan Islam, dan memansuhkan penyembahan berhala; memandangkan baginda adalah suatu cahaya bagi sesiapa yang mencari penjelasan daripada baginda, akan nampak jelas kebenaran tersebut.”
# Fakhr al-Razi (al-Tafsir al-kabir, 11:194):

“Terdapat beberapa pendirian berkenaan ayat ini, yang pertama ialah Nur ialah Muhammad, dan kitab yang nyata itu adalah Al-Quran”
# al-Baghawi (Ma‘alam al-Tanzil, 2.228):

” Ia bermaksud Muhammad s.a.w, atau, mengikut pendirian yang lebih lemah, Islam “
# dan Qurtubi (Ahkam al-Qur’an , 6.118) berpendapat seperti di atas
# dan Mawardi (al-Nukat wa al-‘uyun, 2.22) menyebut bahawa tafsiran Nur sebagai “Muhammad”
# bagitu juga pendirian Imam bahasa Arab Ibrahim ibn Muhammad, al-Zajjaj (m. 311H).
# Qadi `Iyad berkata: ” Dia (Muhammad s.a.w) dinamakan cahaya kerana ketelusan kedudukan baginda dan kerana kenabiannya telah didzahirkan, dan juga kerana baginda telah menerangi hati-hati mereka yang beriman dan yang mereka yang mengetahui Allah s.w.t. dengan apa yang baginda bawa.”
# al-Qariberkata dalam Sharh al-shifa’ (1:505, edisi Mecca): ” Ia telah dikatakan bahawa Cahaya dan Kitab adalah kedua-duanya dimaksudkan kepada Muhammad s.a.w kerana baginda bukan saja suatu cahaya yang amat sangat dan juga adalah sumber semua cahaya, malah baginda juga adalah sebuah kitab yang mengumpulkan dan yang menjelaskan semua rahsia. Beliau juga mengatakan (1:114, edisi Madina): “Dan apakah sangkalan yang ada untuk menolak kedua-dua perkara terhadap baginda, memandangkan baginda adalah suatu cahaya yang amat sangat, berdasarkan kesempurnaan rupa baginda berbanding semua cahaya yang lain, dan baginda adalah satu kitab yang dzahir memandangkan baginda adalah kumpulan rahsia-rahsia secara keseluruhannya dan baginda mendapat bukti semua undang-undang, semua keadaan dan semua pilihan.”

Semua menunjukkan bahawa Rasullullah s.a.w. adalah cahaya dari Allah, mengikut Al-Quran. Ini adalah terjemahan para ahli tafsir yang awal, kerana al-Tabari adalah sheikh bagi para salaf dalam bidang tafsir; tegasnya menunjukkan bahawa Nur sebagai “Islam” ialah satu tafsiran yang datang kemudian.
1.2 Penjelasan terhadap Rasullullah s.a.w sebagai yang pertama dijadikan, antara ulama Islam yang berusaha mengumpul berkenaan keperibadian baginda ialah ulama’ hadith (hafiz hadith) Jalal al-Din al-Suyuti dalam dua jilid al-Khasa’is al-kubra, pada bab pertama, hadith pertama beliau telah dilaporkan oleh Ibn Abi Hatim dalam Tafsir [tafsir Al-Quran] , dan oleh Abu Nu‘aym dalam Dala’il al-nabuwwa , dengan beberapa rantaian perawian daripada Qatada yang melaporkannya daripada Hasan al-Basri, daripada Abu Huraira r.a, berhubung dengan ayat Al-Quran:

(Teruslah bertaqwa kepada Kami) dan (ingatlah) ketika Kami mengambil dari Nabi-nabi (umumnya): perjanjian setia mereka, dan (khasnya) dari engkau sendiri (wahai Muhammad), dan dari Nabi Nuh, dan Nabi Ibrahim, dan Nabi Musa, serta. Nabi Isa ibni Maryam; dan Kami telah mengambil dari mereka: perjanjian setia yang teguh (bagi menyempurnakan apa yang ditugaskan kepada mereka); (Qur’an 33:7-Terjemahan Ar-Rahman)

Bahawa Rasullullah s.a.w. berkata, “Aku adalah yang pertama dijadikan dan yang terakhir diutuskan.” (al-Khasa’is al-kubra, ms. 3).

Perbezaan temporal(masa) adalah relatif dan ini adalah jelas jika dilihat pada hadith berikut:

Sahih Bukhari : Jld. 4, Bk. 55, # 621:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasullullah s.a.w berkata, “Adam dan Musa bertelagah diantara satu dengan yang lain. ” Engkau adalah Adam yang atas kesilapanmu mengeluarkan kamu dari Syurga.” Adam berkata kepada nya, “Engkau adalah Musa yang Allah telah pilih sebagai PesuruhNya dan seorang yang Dia berfirman terus; akan tetapi engkau menyalahi aku bagi perkara yang telah tertulis di dalam ketetapan terhadapku sebelum kejadian ku?” Rasullullah s.a.w berkata dua kali, ” Maka, Adam menguasai Musa.”.

1.3 Penjelasan bagi Ayat 26:217-219:

Dan berserahlah kepada Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Mengasihani, Yang melihatmu semasa engkau berdiri (mengerjakan sembahyang), Dan (melihat) gerak-gerimu di antara orang-orang yang sujud. (Qur’an 26:217-219 -Terjemahan Ar-Rahman)

Terjemaham secara dzahir ayat ini ialah Tuhan melihat Rasullullah s.a.w berada dalam beberapa pergerakan sembahyang semasa baginda sembahyang berjemaah;

Ibn `Abbas ibn `Abd al-Muttalib r.a. dan beberapa jumlah ulasan selepas beliau melihat ayat ini sebagai merujuk kepada Rasulullah s.a.w ‘turun’ menerusi keturunan baginda yang semua mereka tekun beribadat dan dari kalangan para ambia’. (lihat Qadi `Iyaddi bawah)

1.4 Firman Allah s.w.t:

Allah yang menerangi langit dan bumi. Bandingan nur hidayah petunjuk Allah (Kitab Suci Al-Quran) adalah sebagai sebuah “misykaat” yang berisi sebuah lampu; lampu itu dalam geluk kaca (qandil), geluk kaca itu pula (jernih terang) laksana bintang yang bersinar cemerlang; lampu itu dinyalakan dengan minyak dari pokok yang banyak manfaatnya, (iaitu) pokok zaitun yang bukan sahaja disinari matahari semasa naiknya dan bukan sahaja semasa turunnya (tetapi ia sentiasa terdedah kepada matahari); hampir-hampir minyaknya itu – dengan sendirinya – memancarkan cahaya bersinar (kerana jernihnya) walaupun ia tidak disentuh api; (sinaran nur hidayah yang demikian bandingannya adalah sinaran yang berganda-ganda): cahaya berlapis cahaya. Allah memimpin sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang dan peraturanNya) kepada nur hidayahNya itu; dan Allah mengemukakan berbagai-bagai misal perbandingan untuk umat manusia; dan Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. (Surah 24:35-Terjemahan Ar-Rahman)

Suyuti berkata dalam al-Riyad al-aniqa:

” Ibn Jubayr dan Ka`b al-Ahbar berkata: “Apa yang dimaksudkan bagi cahaya yang kedua itu ialah Rasullullah s.a.w kerana baginda adalah PesuruhNya dan Pendedah dan Penyampai dari Allah s.w.t terhadap apa yang menerangi dan terdzahir.” Ka`b berkata: ” Minyaknya bersinar akan berkilauan kerana Rasullullah s.a.w bersinar akan diketahui kepada orang ramai walaupun jika baginda tidak mengakui bahawa baginda adalah seorang nabi, sama seperti minyak itu bersinar berkilauan walaupun tanpa dinyalakan.”

1.5 Firman Allah s.w.t:

Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi (terhadap umatmu), dan pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman) serta pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar). Dan juga sebagai penyeru (umat manusia seluruhnya) kepada ugama Allah dengan taufiq yang diberiNya; dan sebagai lampu yang menerangi. (Surah 33:45-46 -Terjemahan Ar-Rahman)

* Qadi al-Baydawi berkata dalam tafsir beliau: “Ia adalah matahari kerana firmanNya: Dan Kami jadikan matahari sebagai lampu; atau, ia mungkin bermaksud lampu.”
* Ibn Kathir menyatakan dalam tafsir beliau: “FirmanNya: dan sebagai lampu yang menerangi., ia itu: kedudukan kamu nampak dalam kebenaran yang kamu telah bawa, sama seperti matahari itu menampakkan dalam terbitnya dan sinarannya, yang tidak siapa menolak melainkan ……”
* Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradat (1:147) berkata: ” Perkataan (lampu) digunakan untuk semua yang menyinari.”
* al-Zarqani dalam Sharh al-mawahib (3:171) berkata: “Baginda dinamakan lampu kerana daripada satu lampu mengambilnya banyak lampu, dan cahayanya tidak berkurangan langsung.”

~~~~~ o O o ~~~~~

2. ASAS DARI HADITH

Rasulullah s.a.w menjelaskan bahawa ‘Nur’nya ‘turun’ menerusi keturunan beliau dalam 3 hadith berikut:
2.1 Aku telah diutuskan dalam keadaan yang terbaik pada semua keturunan anak Adam, sejak kejadian mereka.

* Sahih Bukhari, Jild 4, Buku 56, No. 757

2.2 Aku telah dimasukkan ke dalam tanah pada Adam dan adalah yang dijanjikan kepada ayahanda ku Ibrahim dan khabaran gembira kepada Isa ibn Maryam

* beberapa rantai dalam Ahmad 4:127-128,
* Bayhaqi dalam Shu’ab #1385 dan,
* dalam Dala’il al-nubuwwa 1:83, 2:130 dan
* Hakim.

2.3 Bila Tuhan menjadikan Adam, Dia menurunkan aku dalam dirinya(Adam). Dia meletakkan aku dalam Nuh semasa di dalam bahtera dan mencampakkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci sehingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapa ku. Tiada pun dari mereka yang terkeluar.

* Ibn Abi `Umar al-`Adani meriwayatkan dalam ‘Musnad’ dan,
* al-Tilimsani

2.4 Jabir ibn `Abd Allah r.a. berkata kepada Rasullullah s.a.w: “Wahai Rasullullah, biarkan kedua ibubapa ku dikorban untuk mu, khabarkan perkara yang pertama Allah jadikan sebelum semua benda.” Baginda berkata: “Wahai Jabir, perkara yang pertama yang Allah jadikan ialah cahaya Rasulmu daripada cahayaNya, dan cahaya itu tetap seperti itu di dalam KekuasaanNya selama KehendakNya, dan tiada apa, pada masa itu, dan ………” (petikan sebahagian).

* `Abd al-Hayy al-Lucknawi menyebutnya dalam al-Athar al-marfu`a fi al-akhbar al-mawdu`a (ms. 33-34 , edisi Lahore dan berkata: “Keawalan (awwaliyya) cahaya Muhammadan (al-nur al-muhammadi) telah perkukuhkan melalui perawian `Abd al-Razzaq, sebagai tetap mendahului semua kejadian.”
* `Ajluni (Isma`il ibn Muhammad) dalam Kashf al-khafa’ (1:265 Maktabat al-Ghazali edisi Beirut) meriwayatkan keseluruhan hadith ini daripada Qastallani iaitu penulisan beliau Mawahib. Mengikut Qastallani dalam al-Mawahib al-laduniyya (1:55) `Abd al-Razzaq (m 211H) meriwayatkannya dalam Musannafnya dan Zarqani dalam Sharh al-mawahib beliau (1:56 Matba`a al-`amira edisi Cairo) menjelaskan tiada kesangsian berhubung dengan kewibawaan `Abd al-Razzaq sebagai perawi. Bukhari mengambil 120 perawian daripada beliau dan Muslim 400 ahadith.
* `Abd al-Haqq al-Dihlawi menyebut hadith di atas sebagai bukti dalam Madarij al-nubuwwa (dalam bahasa Parsi 2:2 Maktaba al-nuriyya edisi Sakhore) dan mengatakan ia sahih.
* `Abidin (Ahmad al-Shami), menyebut hadith berkenaan sebagai komentari terhadap puisi Ibn Hajar al-Haytami al-Ni`mat al-kubra `ala al-`alamin.
* Nabahani menyebut dalam Jawahir al-bihar (3:354).
* Alusi (al-Sayyid Mahmud) dalam tafsir Al-Qur’an bertajuk Ruh al-ma`ani (17:105 edisi Beirut ) juga menyentuh berkenaan hadith ini yang dikaitkan dengan hadith yang lain, juga lihat al-Qasim #261.)

2.5 Ali ibn al-Husayn daripada bapanya daripada datuknya berkata bahawa Rasullullah s.a.w berkata: “Aku adalah cahaya dihadapan Tuhanku selama empatbelas ribu tahun sebelum Dia menjadikan Adam a.s.

* Imam Ahmad dalam Fada’il al-sahaba (2:663 #1130),
* Dhahabi dalam Mizan al-i`tidal (1:235), dan
* al-Tabari dalam al-Riyad al-nadira (2:164, 3:154).

2.6 Sayuti mencatitkan sembilan hadith yang lain yang menunjukkan bahawa Rasullullah s.a.w adalah yang pertama dijadikan , antara nya dilaporkan oleh Bukhari dalam Tarikh , dan juga oleh Ahmad, Tabarani, Hakim, dan Bayhaqi, bahawa Maysara al-Fajr r.a. berkata, ” Aku bertanya, ” Ya Rasullullah, bilakah engkau seorang nabi?, dan baginda berkata, “Sementara Adam diantara roh dan jasad.”(al-Khasa’is al-kubra, ms. 3-4)
2.7 Sebalik itu pula terdapat satu hadith dalam Tirmidhi yang menyatakan bahawa kesemua para nabi dijadikan daripada Nur dari Allah dan Muhammad s.a.w adalah yang pertama daripada mereka, dengan rantaian yang munasabah, tetapi tidak pula disebut oleh Suyuti. Ini adalah agak menghairankan yang Sayuti boleh tertinggal hadith yang berkenaan memandangkan bahawa beliau adalah seorang hafiz dalam hadith dan kitab beliau al-Khasa’is al-kubra mengkhusus kepada hadith yang sedemikian rupa. Pun bagitu memadailah ulasan di atas dan Al-Quran berkenaan Rasullullah s.a.w adalah cahaya dari Allah.

~~~~~ o O o ~~~~~
3. ASAS DARI SAHABAT r.a., TABI’EN DAN TABI’ET TABI’EN
.
3.1 Qadi `Iyad menyatakan, selepas merujuk kepada 3 hadith yang pertama di atas:

“Inilah apa yang dimaksudkan oleh al-`Abbas ibn `Abd al-Muttalib apabila beliau berkata:

…….Sebelum engkau datang ke dunia ini
engkau lah yang tebaik disebalik bayang bayangan dan di dalam diri
semasa mereka menutup diri mereka dengan daun daun
Kemudian engkau turun melalui masa
Semasa engkau dilahirkan, dunia menyinar
dan ufuk dicahayai oleh cahaya mu.
Kami berjalan in dalam sinaran itu
dan dalam cahaya dan laluan petunjuk yang benar “

* Ali al-Qari dalam ‘Sharh al-Shifa'(1:364) mengatakan ia diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Shafi`i dan Tabarani, dan
* juga disebut olehIbn `Abd al-Barr dalam ‘al-Isti`ab’ dan,
* Ibn al-Qayyim dalam ‘Huda Nabiyy Allah (s.a.w)’

3.2 Ibn `Abbas berkata, “Ruh Nabi Muhammad s.a.w adalah cahaya dihadapan Allah dua ribu tahun sebelum Dia menjadikan Adam a.s. Bahawa Nur itu memuji Dia dan para malaikat memuji dengan puji-pujian yang Nur itu memuji. Apabila Allah menjadikan Adam, Dia meletakkan Nur itu ke dalam Adam a.s.”

Ibn `Abbas juga menjelaskan taqallubak — “terjemahan engkau” — dalam surah (26:218-219) di atas, sebagai ” engkau turun melalui diri keturunan engkau.”

* al-Shifa oleh Qadi `Iyad.

3.3 Lain-lain rujukan berhubung dengan tafsiran ayat terutamanya perkataan ‘taqallubaka’ dan ‘sajidin’ serta ‘Lam azal unqal…’ pada hadith ke 3 diatas sila lihat :

* Suyuti dalam ‘Masaalik al-Hunafa’ fi waalidayy al-Mustafa ‘,
* Fakhr al-Din Razi dalam ‘Asrar al-Tanzil'(ms 39-40.),
* Imam Shahrastani dalam ‘al-milal wal-niHal'(ms 64),
* Imam Abul Hasan al-Mawardi dalam ‘A`lam al-nubuwwa’ (ms 67-68) dan,
* Abu Ja`far al-Nahhas dalam ‘Ma`aani al-Qur’aan’
* Allama Shabbir Ahmad Uthmani, Tafsir Uthmani, terj. Muhammad Ashfaq Ahmad (Bombay: Taj Publishers, 1992) Jld. 2, ms. 1657.

3.4 Abu Ja`far al-Nahhas dalam ‘Ma`aani al-Qur’aan’ menyentuh penjelasan Ibn `Abbas dan menambah:

“Betapa baik penjelasan Shams al-Din ibn Nasir al-Din al-Dimashqi apabila beliau berkata:

“Ahmad maju sebagai satu cahaya yang besar yang menyinari pada dahi-dahi mereka yang sujud. Baginda silih berganti di dalam mereka abad ke abad sehingga baginda menjelma sebagai terbaik dari para utusan.”

3.5 Sebagai satu pendirian bahawa Rasullullah s.a.w adalah bashar atau ‘manusia’, tiada kesangsian disini, kerana ia adalah Al-Quran dan Aqidah. Pun bagitu Al-Quran tidak cuma menjelaskan bahawa baginda adalah cuma seorang manusia, padahal lebih dari itu. Sebagai al-Busayri nukilkan dalam Qasida al-Burda :

Muhammad adalah seorang manusia,
tetapi tidak seperti kemanusiaan
Baginda adalah permata,
sementara manusia adalah batu.

3.6 Walaupun Rasullullah s.a.w adalah cahaya dari Allah s.w.t, baginda adalah cahaya yang dijadikan. Baginda tidak harus disamakan dengan bagaimana Kristian melihat ‘Jesus’ atau Hindu dengan Avatar mereka. Mungkin itulah antara sebab Allah mengantikan kepercayaan seperti ini dengan Islam yang tulin kembali.

3.7 Penambahan seperti Nur Allah tidak seharusnya difahamkan sebagai sifat kepada Allah akan tetapi ia adalah satu contoh idafa tashrif seperti Baitullah bagi Kaabah di Mekah. Ia adalah satu sandaran pengiktirafan kemuliaan terhadap sesuatu itu DARI Allah dan bukan TERHADAP Allah. Ini jelas pada ayat 24:35, jikapun diterjemahkan sebagai “Allah, Dia Cahaya langit dan bumi. …….” tidak dapat dipisahkan dengan “Petunjuk Allah kepada nurNya itu;” pada ayat yang sama. Pendirian ini adalah tidak keterlaluan dan tidak pula bertentangan kerana istilah seperti ini juga digunakan pada Al-Quran, yang antara lainnya ialah seperti unta betina kaum Thamud yang dikenali dalam Al-Quran sebagai Naqat Allah. Nur Allah hendaklah diletak pada prespektif yang sebenar seperti juga Baitullah tidak seharusnya dilihat sebagai tempat tinggal Allah ataupun Naqat Allah sebagai unta betina tunggangan Allah, nauzubillah.

Sebaliknya jika ada golongan yang cuba membolak balikkan kedudukan ini, maka pendirian mereka adalah keterlaluan dan jelas dari segi pemahaman, kematangan, tujuan dan motif.

~~~~~ o O o ~~~~~

4 RUMUSAN

4.1 Ketara pada penjelasan di atas, Muhammad sebagai Nur ataupun Nur Muhammad bukanlah suatu perkara asing pada zaman dan di antara kalangan para sahabat, Salaf as-salihin mahupun generasi Khalaf as-sadiqin. Ulama-ulama tafsir dan hadith pada genarasi sahabat, tabien, tabiet-tabien ini telah masak dengan “Awaluddin Makrifatullah’ masing-masing walaupun diiktiraf sebagai ulama’ dalam bidang-bidang tersendiri.

Sebagai contoh, Al-Bukhari yang bergelar Imam hadith adalah jauh lebih tinggi kemampuannya dari seseorang yang bertaraf hafiz hadith. Sebagai imam hadith termaklum bahawa penguasaan ahadith beliau jauh melebihi 600,000 perawian. Tidakkah menghairan kenapa beliau memasukkan hadith di atas di dalam Sahih beliau yang merujuk kepada apa yang diistilahkan sebagai Nur Muhammad, jika beliau sendiri tidak yakin mahupun menerima insitusi Nur Muhammad? Paling mudah dan selamat, beliau boleh memutuskan untuk tidak memasukkan perawian hadith berkenaan di dalam Kitab sahih beliau walaupun ia sahih dari segi sanad. Justeru, adakah Imam Bukhari was-was terhadap matan hadith berkenaan?

Dari sudut tasawwuf, institusi Muhammad s.a.w itu adalah luas dan jauh lebih luas dari kefahaman umum. Jika tidak, tasawwuf sendiri tidak akan jadi satu bidang pengajian yang formal jika ia bagitu mudah. Bagitu juga institusi Muhammad s.a.w dalam tasawwuf tidak akan dikaji secara mendalam jika telah ada cabang lain dalam Islam yang mampu mengkaji lebih baik dari bidang tasawwuf sendiri. Institusi Muhammad s.a.w perlu dikaji dengan lebih luas, lebih teliti dan lebih jitu kerana ada dalil dari Al-Quran dan hadith mahupun riwayat para sahabat, tabien dan tabiet-tabien yang menunjukkan sedemikian rupa. Ini memerlukan ia dikaji dengan lebih mendalam agar dapat diletakkan asas yang tepat terhadap institusi berkenaan.

Penulisan ini adalah setakat untuk menampakkan bahawa ada asas untuk mengkaji dan perlu dikaji Muhammad sebagai Nur, selain daripada setakat menerima Muhammad sebagai “abu basyar” sahaja. Paling ringkas, orang awam sendiri sedar bahawa institusi diri mereka sendiri mempunyai jasmani dan rohani. Itupun tidak mereka kaji sepenuhnya dan menjadikan ia satu bidang yang formal. Contoh, bidang kedoktoran sahaja adalah cuma sebahagian dari bidang jasmani. Kita tak dapat nak nafikan bahawa institusi pengkajian ini adalah amat luas dan melibatkan beratus ribu pakar diseluruh pelusuk dunia baik muslim mahupun bukan, dan masih ada lagi banyak persoalan yang berlum berjawab berbanding dengan yang telah dapat dijawab. Jawapan inipun seringkali diperbaiki dan diubah, dari masa ke semasa.

Agak menghairankan ada golongan yang boleh mempersoalkan perkara ini tanpa mempunyai asas langsung dalam bidang tasawwuf. Kita tidak nafi kewibawaan mereka dalam bidang mereka. Cuma persoalannya, pernahkah seorang pakar gigi mempersoalkan berkenaan pengajian perbedahan ataupun istilah-istilahnya? Pernahkah pakar jiwa yang mempunyai berbagai-bagai therapy mereka mempersoalkan kenapa rawatan cancer mengunakan perkataan therapy dalam istilah chemotherapy? Jauh sekali seorang jurutera letrik. Inilah yang dikatakan “professional ethic. “Sesungguhnya Islam dan muslim adalah dua perkara yang berbeza.

Semua melaung-laungkan perjuangan yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah. Sebaliknya, tuduhan-tuduhan berhubung dengan Nur dan Hakikat Muhammad berkitar pada isu neo-platonism, pathernism dan sepertinya. Rata-rata rujukan terhadap neo-platonism dan pathernism cuma bersumber kepada seorang muslim lain yang sependapat dengannya dan tidak lebih dari itu.

Antara sumber rujukan terawal berkenaan isu ini ialah kepada Prof. A. E. Affifi (edisi 1938). Adakah ini dalil? Paling dekat setakat yang penulis pernah jumpa adalah rujukan kepada “Encyclopedia of Islam” ed.2; pun bagitu adakah ini dalil, sedangkan edisi pertamanya pernah diharamkan kerana ia mempunyai gambar “Mohammad the Prophet”, yang segak dengan pedang dipinggang. Selain dari itu, rujukan demi rujukan rata-rata ‘berkiblatkan’ L. Massignon, Prof. Reynold A. Nicholson dan anak muridnya A.E. Affifi, M.A. Palacios, Whittaker(The Neo-Platonists), Wensinck (Encyclopedia of Islam) dan sepertinya. Tidakkah ini bertaqlid?

Ada baiknya, sangkalan seperti ini di rujuk terus kepada penulisan Plato atau Aristotal yang authentik lagi asli. Ini lebih tepat walaupun masih tidak dapat diterima sebagai dalil. Sekurang-kurangnya kita yang meraba-raba mencari kebenaran akan tahu kedudukan yang sebenar dan arah sangkalan atau arah rujukan dan arah keugamaan yang di anut oleh sesuatu pihak itu.

Mengapa amat kurang dan kebanyakan masanya tiada rujukan kepada nas dan ahadith, baik terhadapnya mahupun sebaliknya. Pun bagitu, perlu diingatkan bahawa penolakkan satu sanad tidak bermakna sanad yang lain juga mansuh.

Sebaiknya untuk menidakkan kedudukan yang dibentangkan di atas ialah:

1. Menunjukkan kesilapan pada rujukan-rujukan di atas.
2. Menampakkan kelemahan pada rujukan-rujukan di atas.
3. Membuktikan tafsir ayat dan sanad hadith di atas adalah lemah.
4. Memberi tafsir lebih kukuh pada nas-nas yang sama.
5. Memberi nas-nas yang menidakkan pendirian ini dengan tafsirnya sekali
6. Memberi rujukan hadith serta sanad yang lebih kukuh.

Siapa saja yang sayang akan ugama dan dirinya akan akur, begitu juga penulis yang jahil berhubung dengan ugama dan bertaqlid kepada yang lebih arif sebagai rujukan. Seandainya kejahilan penulis di lambakkan dengan rujukan yang lebih jahil dari itu, semestinya penulis akan menjadi lebih sombong untuk menidakkan apa yang dikemukakan. Inilah yang cuba dikikis oleh kesufian dan tasawwuf.

Sesungguhnya nafsu adalah musuh golongan sufi yang paling di hormati.

SUMBER :http://www.bicarasufi.com/bscweb/
More … Alfatiha

HIZIB SAIFI (6)

keagungan dan kemuliaan (1-Cetakan Ke 3). Ya Allah sesungguhnya Engkau telah memerintah kami dengan seruan Mu dan Engkau telah janjikan kami dengan perkenan dari Mu dan kami telah menyeru Mu, seperti yang telah Engkau perintahkan lalu perkenankanlah seperti yang telah Engkau janjikan wahai (Tuhan) yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, Sesungguhnya Engkau tidak pernah Mungkir Janji.(2-Cetakan Ke 3).

Ya Allah, apa yang telah Engkau takdirkan bagiku daripada kebaikan, dan apa yang telah aku syariatkan didalamnya dengan taufik dan kemudahan Mu, maka sempurnakanlah bagiku dengan sebaik-baik rupa semuanya, sebetul-betulnya, dan sesuci-sucinya, sesungguhnya Kamu amat berkuasa ke atas apa yang kamu kehendaki, amat layak untu memperkenankan sesuatu, sebaik-baik Tuan dan sebaik-baik Pembantu. Dan apa saja keburukan yang telah Engkau takdirkan ke atasku serta Kamu beri ingatan kepadaku daripadanya, maka jauhkanlah daripadaku, wahai Tuhan yang Maha Hidup dan Maha Berdiri, wahai yang menyempurnakan langit dan bumi melalui perintahnya, wahai yang menahan langit daripada

jatuh ke atas bumi kecuali dengan izinNya, wahai yang apabila menghendaki sesuatu urusan, Dia akan berkata ‘Jadi’ maka jadilah ia. Maha suci Tuhan yang berada ditanganNya kerajaan setiap sesuatu dan kepadaNya dikembalikan sesuatu. Maha suci Allah yang Maha Berkuasa dan Maha Mengalahkan, yang Maha Kuat, Maha Mulia, Maha Gagah, Maha Hidup, Maha Berdiri tanpa pembantu, tanpa penolong, dengan rahmat Mu aku meminta tolong, Wahai Tuhan perkenankanlah (terima) doa dan usaha ku ini, kepada Mu lah penyerahan ini. Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung (3 kali). Pujian-pujian bagi Allah di permulaan dan di akhiran, zahir dan batin, serta selawat dan salam ke atas penghulu kami Muhamad, dan ke atas keluarganya, sahabatnya yang mulia …….

dan suci, serta keselamatan yang banyak, mulia dan abadi hingga ke hari kiamat, cukuplah Allah bagi kami dan sebaik-baik wakil. Maha Suci Tuhan mu, Tuhan yang Maha Mulia dengan sifat-sifatnya, serta selawat ke atas utusan-utusanNya (rasul) dan pujian-pujian ke atas Tuhan semesta alam. Selawat ke atas penghulu kami Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya dalam setiap kelipan mata dan sorong tarik nafas makhluk sebanyak bilangan apa yang diliputi oleh ilmu Allah. Amin…………..

~~Selesai~~

SUMBER : http://www.bicarasufi.com/bscweb/asas/hizib6.html
More … Alfatiha

HIZIB SAIFI (5)

wahai (tuhan) yang amat penyayang.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dari Mu dan aku merayu pada Mu dengan keesaan Mu dari puji-puja Mu dan pengagungan Mu dan tahlil Mu (pengucapan La ilahai la llah) dan takbir Mu (ucapan Allahu Akbar) dan tasbih Mu (ucapan Subhanallah) dan kesempurnaan Mu dan pengurusan Mu, pengagungan Mu dan penyucian Mu, cahaya Mu, kasihan belas Mu kasih sayang Mu, ilmu Mu, kebijaksanaan (sifat lemah lembut dan tahu semua), ketinggian Mu, kehormatan Mu, kelebihan Mu, keagungan Mu, anugerah Mu, kesempurnaan Mu, kebesaran Mu (ketakburan), kekuasaan Mu dan kesultanan Mu serta budi penghargaan Mu, keindahan Mu, kecantikan Mu, petunjuk Mu, keampunan Mu, nabi Mu, wali Mu dan keturunannya yang suci murni, semoga Engkau memberi selawat (rahmat) ke atas penghulu kami Muhammad dan ke atas seluruh saudara maranya (yang terdiri dari ) nabi-nabi dan utusan-utusan dan semoga Engkau tidak mengharamkan aku dari pertolongan (sokongan) Mu dan keutamaan Mu …….

dan keindahan Mu serta keagungan Mu, dan faedah-faedah dari kemuliaan Mu (kemurahan hati) maka sesungguhnya, tidak pernah menghalang oleh kerana terlalu banyak apa yang telah Engkau hamburkan dari pemberian-pemberian oleh sebarang penghalang yang berupa kebakhilan (bererti Engkau tak pernah bakhil dalam memberi) dan tiada mengurangkan akan kemurahan hati Mu oleh pengurangan kesyukuran terhadap nikmat-nikmat Mu.

Dan tidak pernah habis (luak) khazanah-khazanah Mu. Pemberian Mu yang luas, tidak memberi sebarang kesan pada kemurahan hati Mu, yang agung itu, penganugerahan Mu yang banyak lagi agung itu serta indah itu, lagi unggul (asli), dan Engkau tidak pernah takut tekanan kepapaan untuk Engkau merasa bakhil. Dan tidak pernah Engkau dihambat perasaan takut kedana (papa), lalu mengurangkan dari kemurahan hati Mu limpahan keutamaan Mu (fadilat). Sesungguhnya Engkau atas apa-apa yang Engkau kehendaki itu amat berkuasa, dan dalam memperkenan (doa) itu amat patut.

Ya Allah, rezekikanlah aku akan hati yang khusyuk lagi tunduk, patuh, serta mata yang suka menangis dan badan yang sihat lagi sabar (cekal) serta keyakinan yang benar dan dengan kebenaran ia menumpu. ……

Dan taubat yang sebenar (nasuha) serta lidah yang sentiasa berzikir dan memuji serta keimanan yang betul serta rezeki yang halal dan baik,dan ilmu yang luas, yang bermenafaat serta anak yang soleh dan sahabat yang seia sekata, serta umur yang panjang dalam kebaikan yang sibuk dengan (terisi dengan) ibadat yang tulus murni, serta perangai (akhlak) yang elok dan amalan yang baik (soleh) yang diterima, dan taubat yang di terima serta darjat yang tinggi dan perempuan yang beriman, yang patuh. Ya Allah janganlah Engkau lupakan aku dalam ingatan Mu, jangan Engkau jadikan untukku pemimpin selain dari Mu dan jangan Engkau elakkan aku dari muslihat Mu serta jangan Engkau dedahkan dariku, perlindungan Mu, dan jangan biarkan aku putus asa dari rahmat Mu janganlah jauhkan aku dari penjagaan Mu dan dari sisi Mu, lindungi aku dari kemurkaan Mu dan kemarahan Mu, jangan jadikan aku berputus harap dari kasih Mu dan jadilah

dari segala kegerunan dan ketakutan, serta kesepian dan keterasingan. Dan lindungilah aku dan keluargaku dan saudara-saudara ku seluruhnya dari setiap kemusnahan dan selamatkanlah aku dari setiap bala bencana, dan penyakit, kecelaan dan kesukaran dan ujian (yang berat) atau (dugaan) dan gempa bumi dan kegetiran, kehinaan dan kerendahan dan kekurangan dan lapar dan dahaga dan kefakiran, dan kepapaan, kesempitan dan fitnah serta wabak dan bala, lemas (dalam air), kebakaran, kilat kecurian, kepanasan dan kesejukan, rompakan, kesesatan, kealpaan dan sesuatu yang sesat dan benda-benda terbang (yang membawa kejahatan), kegelinciran (dari jalan yang benar) dan dosa-dosa serta kerunsingan dan kedukaan, (ditelan bumi) dan lemparan (qazaf), cacat, sakit, uzur, gila, penyakit kusta, sopak, lumpuh dan buasir.

Penyakit beser (kencing tak tus) dan kekurangan dan kerosakan dan malu (skandal) dan kehuduhan di dua negeri (dunia/akhirat) sesungguhnya Engkau tiada pernah mungkir janji.

Ya Allah angkatkanlah aku dan jangan meletakkan aku ke bawah, pertahankanlah aku, jangan pula Engkau menolakku, berilah aku jangan pula Engkau haramkan aku (dari pemberian Mu), tambahkan kepadaku, janganlah mengurangkan aku, kasihanilah aku jangan disiksa diriku, lepaskan aku dari kedukaanku dan bukakan segala kerunsinganku, dan musnahkanlah seteruku dan bantulah aku dan jangan Engkau merendahkan aku (lekehkan). Muliakanlah aku, jangan Engkau malukan aku, dan utamakanlah aku, jangan hilangkan aku, sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu amat berkuasa. Wahai (Tuhan) yang paling berkuasa dari segala yang berkuasa, dan wahai (Tuhan) yang paling cepat menghitung dan selawat (rahmat) Allah berikan atas penghulu kami Muhammad dan keluarganya dan diberi kesejahteraan (salam) semuanya, Wahai (Tuhan) yang mempunyai ……
next …

sumber :http://www.bicarasufi.com/bscweb/asas/hizib5.html
More … Alfatiha

HIZIB SAIFI (4)

Dan boleh menjadikan aku rindu kepada Mu dan memberi aku minat pada apa yang disisi Mu dan catatkanlah bagiku (tentukanlah bagiku) disisi Mu keampunan dan sampaikanlah aku kepada kemuliaan (keramat) dari sisi Mu dan bahagiakanlah aku kesyukuran terhadap apa yang telah engkau beri nikmat dengannya atasku, maka sesungguhnya Engkaulah Allah yang tiada tuhan selain Engkau yang satu lagi tunggal yang tinggi lagi punya daya cipta yang memulakan dan mengembalikan yang maha mendengar lagi mengetahui yang tiada bagi urusan Mu tertolak (penolakkan) dan tiada dari ketentuan Mu yag terhalang, dan aku bersaksi bahawa Engkaulah tuhanku dan tuhan segala sesuatu, pencipta langit-langit dan bumi, maha mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, yang maha tinggi lagi besar dan maha meninggi (1- Dibaca surah Al-Ikhlas 3 x) Ya Allah sesungguhnya aku memohon dari Mu ketetapan dalam urusan dan keteguhan azam/kekuatan di atas kewarasan fikiran/petunjuk (jalan yang betul) dan kesyukuran atas nikmat-nikmat Mu dan aku memohon dari Mu akan kebaikan …..

ibadat terhadap Mu dan aku memohon dari Mu, dari kebaikan segala yang Engkau tahu dan aku berlindung dengan Mu dari kejahatan segala yang Engkau tahu, dan aku memohon ampun dari Mu, dari kejahatan segala yang Engkau tahu, sesungguhnya Engkau amat mengetahui segala yang ghaib, dan aku memohon dari Mu, untukku dan dan keluargaku serta saudara-saudaraku seluruhnya, akan keamanan dan aku berlindung dengan Mu dari kejahatan segala sesuatu yang jahat dan tipu helah setiap yang menipu dan kezaliman segala yang zalim dan sihir setiap yang menyihir (tukang sihir) dan pelampauan setiap yang melampaui. Dan hasad dengki segala yang dengki dan pengkhianatan segala yang khianat dan tipu daya segala yang menipu daya (buat perangkap) dan permusuhan segala yang memusuh (seteru) dan tikaman setiap yang menikam, dan hasutan setiap yang menghasut dan helah setiap yang berhelah dan ejekan setiap yang mengejek dan perseteruan setiap yang berseteru.

Ya Allah, dengan Mu aku mengamuk terhadap musuh dan sekutu-sekutu, dan akan di Kau aku berharap akan kedekatan

orang-orang yang tersayang dan para wali dan orang-orang yang hampir (muqarabbin) maka untuk Mu pujian atas apa yang aku tidak mampu menghitungnya serta membilangnya dari keuntungan-keuntungan keutamaan Mu, serta yang diketahui dari rezeki Mu. Serta berbagai jenis apa-apa yang telah Engkau berikan aku dengannya dari Limpahan Mu dan kemurahan Mu. Maka sesungguhnya Engkaulah Allah yang tiada tuhan selain dari Engkau yang telah tersebar luas dikalangan makhluk segala kepujian Mu, yang melebarkan (membentangkan) dengan kemurahan akan tangan Mu, tidak ada percanggahan dalam pemerintahan Mu dan tiada rebutan dalam urusan Mu dan kesultanan (kekuasaan) Mu dan kerajaan Mu, dan tiada sekutu (perkongsian) dalam ketuhanan Mu, dan tidak ada kekalutan dalam penciptaan makhluk Mu, Engkau memiliki dari makhluk alam, sebagai apa yang Engkau kehendaki, sedangkan mereka tidak pun memiliki diri Mu kecuali apa yang Engkau kehendaki.Ya Allah, sesungguhnya Engkau pemberi nikmat lagi pemberi keutamaan serta berkuasa dan penentu segala, yang perkasa lagi dipuja (disucikan) dengan pujian dalam cahaya.

kesucian yang Engkau salutinya dengan kemuliaan dan keindahan dan Engkau perbesarkan dengan kemuliaan dan ketinggian dan Engkau balut dengan kebesaran dan ketakburan (1-Dibaca Surah Al Ikhlas 3 x). Dan Engkau selubungi dengan cahaya dan sinaran. Dan Engkau perbesarkan (peragungkan) dengan kehebatan dan keindahan, untuk Mu anugerah yang lama (qadim) dan kekuasaan yang tinggi (mencakar langgit) dan kerajaan yang mewah serta kemurahan yang luas serta kekuasaan (qudrat) yang sempurna dan kebijaksanaan yang tinggi dan kemuliaan yang menyeluruh, maka untuk Mu segala pujian atas apa yang Engkau jadikan aku dari umat Muhammad Sallallahu A’lahi Wasallam, dan atas keluarganya juga (diselawat dan diberi salam), sedangkan dia adalah yang paling utama dikalangan anak Adam yang Engkau telah muliakan mereka dan telah Engkau tanggungkan mereka didaratan dan dilautan dan Engkau telah rezekikan mereka dari (rezeki) yang baik-baik. Dan Engkau telah utamakan mereka atas kebanyakan dari makhluk Mu, dengan pengutamaan. Dan Engkau telah menciptakan aku dalam keadaan mendengar..

melihat, sihat dan matang, sejahtera, afiat, dan tidak Engkau risaukan aku dengan kekurangan (kecacatan) pada badanku (yang boleh menghalangku) dari mentaati Mu, dan tidak pula dengan sebarang penyakit pada pancainderaku dan tidak pula kecacatan pada jiwaku dan akalku.

Dan Engkau tidak pernah menyekat aku dari kemurahan (kemuliaan) Mu terhadapku, dan keelokkan perbuatan Mu bagiku, dan kelebihan anugerahan Mu disisiku, serta nikmat-nikmat Mu atasku. Engkau (Tuhan) yang telah memperluaskan atasku di dunia ini akan rezeki, dan Engkau telah utamakan aku atas banyak dari ahlinya (ahli dunia termasuk haiwan dll) dengan kelebihan-kelebihan (keutamaan-keutamaan) maka Engkau jadikan bagiku pendengaran yang boleh mendengar ayat-ayat Mu, dan akal yang memahami keimanan Mu dan penglihatan yang yang dapat mengenali kebesaran Mu, Dan jantung (hati) yang dapat mengikat (mengiktiqad) tauhid Mu. Makasesungguhnya aku, bagi pengutamaan Mu atas ku menjadi saksi, memuji, bersyukur, dan bagi Mu jiwa ku yang berterima kasih (bersyukur) dan dengan hak (kebenaran) Mu ……

keatasku menjadi saksi, dan aku bersaksi bahawa Engkau hidup sebelum segala yang hidup dan hidup selepas segala yang mati dan hidup tidak mewarisi kehidupan dari yang hidup dan tidak pernah Engkau putuskan kebaikan Mu dari ku pada setiap waktu dan Engkau tidak pernah putuskan harapanku dan tidak pernah Engkau turunkan dengan ku siksaan-siksaan azab bencana . Dan tidak pernah Engkau ubah keatasku ikatan-ikatan nikmat dan tidak pernah Engkau halang dariku ketelitian/kehalusan penjagaan.

Seandainya aku tidak mengingati dari kebaikan (ihsan) Mu dan kenikmatan Mu keatasku, kecuali keampunan Mu tentang ku dan taufik (petunjuk) bagiku dan perkenan bagi doa ku ketika aku angkatkan suara ku dengan berdoa kepada Mu dan memuji Mu dan megesakan Mu dan mengagungkan Mu serta bertahlilkan (nama Mu) dan mengucap takbirkan dengan nama Mu, serta membesarkan Engkau. Dan kecuali pada penentuan Mu terhadap kejadian ku

ketika Engkau menggambarkan rupaku dan Engkau telah memperindahkan rupa paras ku, dan kecuali pada pembahagian rezeki ketika …….

Engkau telah menentukannya bagi ku nescaya akan adalah pada perkara itu apa yang merunsingkan fikiran ku kelelahan (kesesatan) maka, bagaimanakah apabila aku fikirkan pada nikmat-nikmat yang besar-besar yang aku sedang mengalaminya ? dan aku tidak sampai kepada kesyukuran sesuatu pun darinya. Maka untuk Mulah pujian-pujian, sebilangan apa yang dijaga oleh ilmu Mu dan berlari dengannya pena (Qalam) Mu dan terlaksana dengannya hukum Mu (perintah) di kalangan makhluk Mu. Dan sebilangan keluasan rahmat Mu dari semua makhluk Mu dan sebilangan apa yang diselubungi (diliputi) dengannya oleh kekuasaan (qudrat) Mu, dan berkali ganda apa yang Engkau perwajibkan dari semua makhluk Mu.

Ya Allah sesungguhnya aku mengakui nikmat-nikmat Mu, atasku (oleh itu) sempurnakanlah kebaikan (ihsan) Mu kepada ku pada apa yang masih tinggal lagi dari umurku, lebih besar, lebih sempurna, lebih elok dari apa yang Engkau telah beri ihsankan kepada ku pada masa-masa yang lalu, darinya dengan rahmat Mu ……

next …

sumber : http://www.bicarasufi.com/bscweb/asas/hizib4.html
More … Alfatiha

HIZIB SAIFI (3)

Terjemahan nya:

Dan limpahkan kebaikan di atas kesyukuran Mu. Engkau telah memulakan aku dengan nikmat-nikmat sebagai keutamaan (jasa baik) dan anugerah dan Engkau telah memerintahku dengan kesyukuran (supaya bersyukur) sebagai suatu hak dan keadilan dan Engkau telah menjanjikan aku berlipat ganda dan lebih-lebihan yang banyak dan Engkau telah memberikan aku rezeki Mu yang luas lagi banyak, dan Engkau meminta dariku untuknya kesyukuran yang sedikit.

Untuk Mu segala pujian Ya Allah keatasku, kerana Engkau telah menyelamatkan aku (lepaskan aku) dan memberi afiat (kesihatan) kepadaku dengan rahmat Mu dari keletihan bala dan dasar-dasar penderitaan, Engkau tidak pernah menyerahkan aku kepada kejahatan (yang jahat/tak baik) dari qada’ (ketentuan) Mu dan bala-bala Mu. Dan Engkau telah menjadikan pakaianku afiat (kesihatan) dan telah Engkau kurniakan aku kesenangan dan kemewahan dan Engkau telah gariskan jalan (syariat) untukku matlamat yang paling mudah, dan Engkau telah melipat-gandakan bagiku keutamaan yang mulia serta Engkau telah memperhambakan aku dengannya dari jalan jalan-jalan syariat dan Engkau telah sampaikan berita gembira dengannya dari darjat yang tinggi menggapai, dan Engkau telah memilih aku dengan seagung-agung ……

nabi-nabi dari segi dakwah, dan yang paling utama sekali dari segi syafaat dan yang paling tinggi darjat (kedudukan) dan yang paling hampir sekali dari segi tempat dan yang paling jelas sekali hujah-hujah (dalil), Penghulu kami Muhammad Salalllahu alaihi wassalam dan ke atas keluarganya beserta kesejahteraan dan ke atas seluruh nabi-nabi dan utusan-utusan dan sahabat-sahabatnya yang baik-baik lagi suci murni (1-Tamat separuh).

Ya Allah berikanlah salawat (rahmat) Mu ke atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan ampunilah bagiku dan keluarga ku serta saudara-saudara ku seluruhnya sekira-kira tidak dapat dimuatkan kecuali ampunan Mu dan tiada apa yang dapat menghapuskan (dosa) kecuali kemaafan Mu, dan tidak dapat menutupnya kecuali perlepasan darimu dan kelebihan Mu dan berilah kepadaku pada hariku ini dan malamku ini, dan jam aku ini, dan bulanku ini dan tahunku ini, suatu keyakinan yang benar yang boleh mempermudah (meremehkan) atasku segala malapetaka dunia dan akhirat dan kedukaan keduanya

NEXT…
SUMBER :http://www.bicarasufi.com/bscweb/asas/hizib3.html
More … Alfatiha

HIZIB SAIFI (2)

Terjemahan nya

Dan segala yang lain dari itu, kebijaksanaan bahasa-bahasa dan sesatlah di sana pentadbiran (pengaturan) dalam tindak-tanduk sifat-sifat, Barang siapa yang berfikir pada ciptaan Mu yang indah dan pujian Mu yang tinggi dan mendalami pada perkara itu nescaya kembalilah pancaindera Nya kepadanya dengan keadaan hampa, kecewa dan akalnya terpesona dan daya fikirnya bingung dan tertawan.

Ya Allah untuk Mu segala pujian, pujian-pujian yang banyak, sentiasa berterusan dan berturutan dan berlipat ganda, luas dan selaras , kekal dan terus berganda dan tidak akan luput selain dari yang hilang dalam malakut dan tidak terhapus dalam tanda-tanda , tidak mengurang pada pengenalan. Maka untuk Mu sahajalah segala pujian di atas kemuliaan Mu yang tidak terhitung dan nikmat-nikmat Mu yang tidak dapat dikira baik di malam hari apabila ia mengundur dan di pagi hari …..

apabila ia terbit, dan didaratan mahupun di lautan, baik di pagi hari dan di petang hari, baik di malam hari ataupun di pagi hari, baik di tengahari ataupun di dinihari. Dan di dalam segala bahagian (juzuk) dan bahagian-bahagian malam dan siang.

Ya Allah untuk Mu segala pujian dengan taufik Mu, telah Engkau hadirkan aku akan kelepasan (keselamatan) dan telah Engkau jadikan aku dari Mu dalam daerah penjagaan dan aku sentiasa dalam limpahan nikmat-nikmat Mu dan berterusan nikmat-nikmat / anugerah-anugerah Mu, terkawal dengan Mu dalam penolakkan dan halangan, terjaga dengan Mu dalam keteguhan pertahan diriku. Ya Allah sesungguhnya aku memuji Mu, kerana Engkau tidak memberatkan aku (membeban) lebih dari keupayaanku dan Engkau tidak redha (restu) dari ku selain dari ketaatan ku dan Engkau telah meredhai aku dari ketaatanku pada Mu dan pengabdian Mu tanpa kekuasaan ku, dan kekurangan daya-upayaku dan kekuasaanku, Maka sesungguhnya Engkau Allah …..

Raja yang benar yang tiada tuhan selain dari Mu. Engkau tiada hilang, dan tak kan terlindung dari Mu sesuatu yang hilang pun dan tidak akan tersembunyi dari Mu sesuatu pun yang bersembunyi dan tiada akan hilang dari Mu dalam kegelapan-kegelapan persembunyian (yang tersembunyi) suatu apa pun yang hilang, Hanya sanya, urusan Mu apabila Engkau menghendaki sesuatu, Engkau berkata padanya “jadilah” maka ianya pun jadi (1- Dibaca Surah Al Ihklas 3 x).

Ya Allah, hanya untuk Mu/bagi Mu pujian-pujian. Pujian-pujian yang banyak sentiasa seperti mana Engkau memuji dengannya akan diri Mu sendiri, dan berlipat ganda lagi apa yang dipuji akan diri Mu dengannya oleh orang-orang yang memuji dan telah bertasbih dengannya akan di Kau oleh orang-orang yang bertasbih, dan diagungkan dengannya oleh orang-orang yang mengagungkan Engkau dan telah ditakbir akan di Kau dengannya oleh orang-orang yang bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar), dan telah ditahlilkan (mengucapkan La ilaha llah) dengannya akan di Kau oleh orang-orang yang bertahlil, dan telah disucikan di Kau dengannya oleh orang-orang yang mensucikan dan telah mengesakan Engkau dengannya oleh orang-orang yang mengesakan, dan telah diagungkan (besarkan) di Kau dengannya

oleh orang-orang yang mengagungkan dan telah diminta ampun dari Mu dengannya akan orang-orang yang meminta ampun sehingga jadilah …..

untuk Mu dari ku sahaja pada setiap kelipan mata dan kurang dari itu lagi. Seperti pujian semua orang–orang yang memuji dan pengesaan semua jenis orang yang mentauhidkan dan yang ikhlas, dan pensucian semua kelas/jenis orang-orang yang arif, dan kata pujian semua orang yang bertahlil dan berselawat/bersolat, dan bertasbih dan seperti mana apa yang Engkau ketahui akannya dan Engkau dipuji, dan dikasihi dan terhijab (terlindung) dari semua makhluk Mu, seluruh mereka, baik dari haiwan-haiwan dan makhluk dan alam semesta.

Wahai Tuhanku, aku memohon pada Mu dengan memohon dengan permohonan-permohonan milik Mu dan aku gemar/sangat ingin kepada Mu, dengan Mu dalam keberkatan-keberkatan yang telah Engkau pertuturkan aku dengannya, dari pujian Mu dan telah Engkau taufikkan aku baginya, dari kesyukuran Mu. Dan pengagunganku terhadap Mu. Alangkah mudahnya, apa-apa yang telah Engkau taklifkan kepadaku dengannya, dari hak Mu, dan alangkah besarnya apa yang telah Engkau janjikan aku dengannya dari nikmat-nikmat Mu

next…

sumber :http://www.bicarasufi.com/bscweb/asas/hizib2.html
More … Alfatiha

Sabtu, 2008 Januari 05

HIZIB SAIFI (1)

Terjemahan nya

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasihani Dan telah berselawat Allah ke atas junjungan kami Muhammad, dan ke atas keluarganya serta sahabatnya, dan telah diberi kesejahteraan.

Ya Allah, sesungguhnya aku persembahkan (hadapkan) kepada Mu dihadapan segala nafas dan kelipan pandangan yang telah dipandang denganya oleh segala ahli langit dan ahli (penghuni) bumi, dan segala sesuatu, ia berada dalam ilmu (pengetahuan) Mu, samada yang sedang berada atau pun yang pernah ada (telah sedia), aku persembahkan kepada Mu di depan segalanya itu. Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasihani Ya Allah, Engkaulah Raja (Malik) yang hak (benar) yang nyata (mubin) yang qadim, Yang perkasa (mulia) dengan kebesaran dan ketakburan, yang esa (tunggal),

Terjemahan nya:

dengan kekekalan (baqa’), yang hidup, lagi menguruskan makhluk, yang berkuasa lagi menentukan, yang memaksa lagi kuat perkasa yang tiada tuhan selain Engkau (1-Dibaca surah Al Ihklas 3 x), Engkaulah Tuhanku dan akulah hambaMu, aku telah melakukan kejahatan dan telah menganiyai (menzalimi) diriku dan aku mengaku dengan dosaku, lalu ampunilah akan segala dosa-dosaku, lalu ampunilah akan segala dosa-dosaku seluruhnya. Sesungguhnya tiada siapa yang mengampunkan dosa-dosa kecuali Engkau sahaja. Wahai Tuhan yang Maha mengampuni, wahai Tuhan yang Maha bersyukur, wahai Tuhan yang Maha bijaksana (lemah lembut), wahai Tuhan yang pemurah (Mulia), wahai Tuhan yang kuat kesabarannya, wahai Tuhan yang amat penyayang.

Terjemahan nya:

dari tempat-tempat yang menempatkan kebenaran disisiMu, dan Engkau telah capaikan aku dengan dari pemberian-pemberian Mu yang bersambung (bertemu) kepadaku dan telah Engkau berbuat baik dengannya kepadaku, tiap waktu dari penolakan bala bencana daripadaku dan pemberian taufik (petunjuk) bagiku, dan perkenan bagi doa-doaku ketika aku menyeru Mu sebagai orang yang berdoa (menyeru) dan aku memanggil-manggil Mu (Munajat) dalam keadaan gemar (suka), dan aku menyeru Mu dengan rendah diri, dengan kejernihan, tunduk patuh dan ketika aku mengharapkan Engkau sebagai seorang yang mengharap lalu aku mendapati diri Mu lalu aku berlindung dengan Mu, pada semua pelusuk (tempat) seluruhnya, lalu jadilah bagiku dan keluargaku dan sanak saudaraku semuanya sebagai jiran yang hadir, rapat, baik, teman pada semua perkara seluruhnya dalam keadaan melihat (memerhati) dan atas segala seteru (musuh) semuanya sebagai pembantu (penolong) dan bagi segala kesalahan dan dosa-dosa seluruhnya sebagai pengampun, dan bagi segala keaiban (kecacatan) seluruhnya sebagai pelindung.

Aku tidaklah ketiaadaan bantuanMu dan kebaikanMu dan kebajikanMu ….

Terjemahan nya:

dan kemuliaanMu serta ihsan (baik budi/jasa baik) Mu walau sekelip mata pun, semenjak Engkau menurunkan aku (menempatkan aku) di negeri uijian/percubaan ini (dunia) dan (negeri) pemikiran serta perhitungan (pengiraaan) ini, untuk Engkau lihat apa yang aku telah persembahkan untuk negeri yang kekal abadi dan tetap (akhirat) dan (negeri) tempat kediaman bersama-sama orang-orang yang terpilih. Maka aku ini hambaMu, lalu jadilah aku wahai Tuhanku akan orang yang bebaskan (lepaskan) wahai Tuhanku, lepaskanlah aku serta keluarga dan saudara-maraku seluruhnya dari neraka dan dari semua yang memudaratkan (yang membahayakan) yang segala yang menyesatkan dan dari segala bencana dan perkara-perkara yang menimbulkan keaiban (kecelaan) dan timpaan (peristiwa yang menyedihkan) dan dari segala perkara yang pasti akan menimpa serta kerunsingan (kedukaan) yang telah mebuatkan aku bimbang (dihantui kebimbangan) tentangnya, oleh segala kedukaan dengan bentangan-bentangan segala jenis bala dan berbagai jenis kesukaran Qada’ (ketentuan Ilahi). Aku tiada ingat (sebut) dari Mu kecuali jasa baik (hok molek jah) dan aku tiada lihat dari Mu kecuali keutamaan (fadilat-fadilat) …

Terjemahan nya:

kebaikanMu bagiku menyeluruh (merangkumi) semua dan perbuatan (baik) Mu bagiku adalah sempurna dan sifat lemah lembut / pengetahuan (yang halus) dari Mu bagiku adalah melimpah dan keutamaanMu terhadapku adalah sentiasa berterusan dan berturut-turut serta nikmatMu bagiku (disisiku) sentiasa berhubung (tak putus-putus) tak pernah mungkir dari sisiku (tak pernah langgar janji), Engkau telah damaikan rasa takut ku (aman/tenteram), dan Engkau telah nyatakan cita-cita ku (tunaikan).

Engkau telah menemaniku dalam perjalananku, dan telah Engkau muliakan aku di kala aku menetap (hadir di negeri). Engkau telah sembuhkan (afiatkan) penyakitku dan Engkau telah sembuhkan penyakit-penyakit kronikku dan Engkau telah perelokkan tempat kembaliku dan kedudukkan ku, dan tidak Engkau jadikan pihak musuh-musuhku mengejekku begitu juga orang-orang yang dengki terhadapku dan Engkau telah membalas lemparan orang-orang yang telah melemparku dengan kejahatan, dan telah Engkau membalas (dengan setimpal) akan kejahatan orang-orang yang memusuhiku. Maka aku memohon Ya Allah, semoga sekarang, Engkau menolak dariku segala tipu daya (perangkap) orang-orang yang hasad dengki dan kekejaman (kezaliman) orang-orang yang kejam/zalim, dan kejahatan orang-orang yang keras kepala. Dan jagalah aku dan keluargaku serta sanak saudaraku …..

Terjemahan nya:

semuanya, di bawah khemah kemuliaanMu wahai Tuhan yang pemurah dari segala yang pemurah. Dan jauhilah antaraku dan musuh-musuhku, seperti Engkau telah menjauhkan antara timur dengan barat, dan sambarlah penglihatan mereka dariku (supaya mereka tak nampak), dengan cahaya kesucian Mu dan pancunglah leher-leher mereka dengan keagungan kemuliaan (kepujian) Mu, dan potonglah tengkok-tengkok mereka dengan amukan-amukan kekerasan Mu, dan musnahkanlah mereka serta lenyapkanlah mereka dengan satu kali lenyapan, seperti mana Engkau telah menolak tipu daya orang-orang yang sangat berhasad dengki dari nabi-nabiMu, dan seperti mana Engkau telah potong leher-leher orang-orang yang gagah berani (gedebe), terhadap orang-orang pilihan Mu (para wali-wali dsb) dan seperti mana Engkau telah sambar penglihatan musuh-musuh dari wali-wali Mu. Dan Engkau telah potong tengkok-tengkok orang-orang yang membesar diri (takbur) terhadap orang-orang yang takwa kepada Mu. Dan telah pun Engkau musnahkan fira’un-fira’un dan Engkau telah melenyapkan para dajjal (orang-orang sangat bohong/penipu) terhadap orang-orang yang telah Engkau pilih (khususkan) mereka (ahli khawas) yang hampir diri mereka dengan Mu serta hamba-hamba Mu yang soleh. …..

Terjemahan nya:

Wahai (Tuhan) yang amat membantu orang-orang yang meminta bantuan, bantulah aku (3x), menghadapi semua musuh-musuh Mu. Maka pujianku buat Mu wahai Tuhanku berhujanan (bercurahan) dan ucapan pujianku keatas Mu sentiasa berterusan, selama-lamanya dari masa ke masa dengan berbagai jenis tasbih (penyucian) dan pemujaan dan berbagai jenis penyucian yang tulus untuk mengingati Mu dan pengagungan dan setulus-tulus pengesaan (tauhid) dan ketulusan penghampiran dan pendekatan serta penunggalan (pengesaan), permurnian pujian/ pengagungan dengan kepanjangan taabbud (pengabdian) dan bilangan. Engkau tiada dibantu (sesiapa pun) dalam kekuasaan Mu, dan tiada di sekutukan (dikongsi) dalam ketuhanan Mu, dan tiada Engkau diajarkan (diberitahu) bagi Mu suatu hakikat pun, untuk Engkau menjadi sama rata dengan segala yang bersalahan/bermacam-macam. Dan tidak ditentukan …..

Terjemahan nya:

apabila disekat (ditahan) perkara-perkara lain (dari Mu) di atas keazaman yang bermacam-macam (tonggak yang berbagai) dan tiada dapat segala bayangan keraguan, meredah tabir-tabir (benteng-benteng) yang ghaib untuk menuju kepada Mu. Lalu aku meenganggap Engkau begitu terbatas dalam keagungan/kebesaran Mu. Dan tidak sampai kepada Mu kejauhan hemmah (cita-cita) dan tidak mencapai Mu kedalam kepintaran Mu dan tidak berakhir kepada Mu penglihatan orang yang melihat dalam keagungan jabarut Mu yang terangkat tinggi dari sifat-sifat makhluk oleh sifat-sifat kekuasaan Mu, dan meningkat tinggi dari sebutan (ingatan) orang yang menyebut (mengingat) oleh kebesaran Mu, lalu tiada kurang, apa-apa yang Engkau kehendaki ianya bertambah dan tidak akan bertambah, apa-apa yang Engkau kehendaki ianya berkurangan. Tiada seorang pun yang menyaksi Mu ketika Engkau mencipta makhluk dan tiada saingan mahupun lawan yang datang kepada Mu ketika Engkau mesucikan jiwa-jiwa.

Lemahlah (tumpul) segala lidah untuk menghurai (tafsirkan) ……

Terjemahan nya:

segala sifat Mu, dan gagallah (tak tergapai) segala akal fikiran dari hakikat pengetahuan Mu, dan sifat Mu. Dan bagaimanakah ia hendak mensifatkan (gambarkan) hakikat sifat Mu wahai tuhan, sedangkan Engkaulah Allah, raja yang paling berkebesaran, gagah perkasa (gedebe), maha suci lagi azali, kekal abadi selamanya , sentiasa dalan keghaiban Engkau sahaja, tiada sekutu bagi Mu, tiada seorang pun di dalamnya selain dari Mu dan tiada Tuhan selain Mu, akan kebingunganlah dalam lautan-lautan keindahan kerajaan (malakut) Mu oleh segala kedalaman aliran pemikiran, dan tunduklah oleh raja-raja kepada kehebatan Mu. Dan menunduk segala muka dengan kehinaan, ketenangan (kekalahan) kepada keagungan Mu lalu akan terpandulah segala sesuatu kepada kebesaran Mu, dan tunduklah segala tengkuk …..

Next…..

SUMBER : http://www.bicarasufi.com/bscweb/asas/hizib1.html
More … Alfatiha

Jumat, 2008 Januari 04

RELIGI JAWA (edisi lengkap)

RELIGI JAWA

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendak-Nya.
Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti,yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gustinya.
Puncak gunung dalam kebudayaan Jawa dianggap suatu tempat yang tinggi dan paling dekat dengan dunia diatas, karena pada awalnya dipercayai bahwa roh nenek moyang tinggal di gunung-gunung.
Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan yang telah berusaha mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir islam, dengan pandangan asli mengenai alam kodrati (dunia ini) dan alam adikodrati (alam gaib atau supranatural).
Pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup adalah sebuah pengaturan mental dari pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup.
Ciri pandangan hidup orang Jawa realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan Numinus antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang menentukan kehidupan. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja.
Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius.
Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos.
Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta, yang mengandung kekuatan-kekuatan supranatural (adikodrati). Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos.
Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta memiliki hirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan dan adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna ( dunia atas – dunia manusia – dunia bawah ). Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.
Sikap dan pandangan terhadap dunia nyata ( mikrokosmos ) adalah tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam masyarakat, tata kehidupan manusia sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam menghadapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini tergantung pada kekuatan batin dan jiwanya.
Bagi orang Jawa dahulu, pusat dunia ini ada pada pimpinan atau raja dan keraton, Tuhan adalah pusat makrokosmos sedangkan raja dianggap perwujudan wakil Tuhan di dunia, sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan dari dua alam. Jadi raja dipandang sebagai pusat komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari wakil Tuhan dengan keraton sebagai tempat kediaman raja. Keraton merupakan pusat keramat kerajaan dan bersemayamnya raja karena rajapun dianggap merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah kedaulatannya dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan wilayah.
Hal hal diatas merupakan gambaran umum tentang alam pikiran serta sikap dan pandangan hidup yang dimiliki oleh orang Jawa pada jaman kerajaan. Alam pikiran ini telah berakar kuat dan menjadi landasan falsafah dari segala perwujudan yang ada dalam tata kehidupan orang Jawa.

K E J A W E N

Mari kita mengutip satu tembang Jawa

Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan ini
Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu
Kabatinan akeh lire kabatinan banyak macamnya
Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat
Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah
Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih
Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti (Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti ) /pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.
Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap. Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti : hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.
Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam. Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “ yang berarti sekata satu tujuan.
Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.
Kejawen adalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkembang dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.
Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan sebagainya.
Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medo’akan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal (tahlillan). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.
Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah. Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya sangkakala.

Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.

Sembah Raga
Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:
Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton
Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.
Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.

Sembah Cipta ( Kalbu )
Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang kang momong.
Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.
Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).

Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat.
Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa.
Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina.
Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

Sembah Jiwa
Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing jiwa sutengong
Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengn air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi.
Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut :
Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama amota.
Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:
“Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono.”

Sembah Rasa
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur / sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung kalawan kasing batos.
Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
Iku luwih banget gawat neki / ing rar=’]asantang keneng rinasa / tan kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.

BUDAYA KEBATINAN

Di dalam serat Wulang Reh, karya “kasusastran” Jawa (dalam bentuk syair) yang ditulis oleh Sunan Paku Buono IV, terdapat juga ajaran untuk hidup secara asketik, dengan mana usaha menuju kasampurnaning urip (kesempurnaan hidup) dan mendekat Yang Maha Widi (Allah Yang Maha Kuasa) bisa dicapai.
Dalam tembang Kinanthi ajaran itu bertutur :
Pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lantip aja pijer mangan nendra kaprawiran den kaesti pesunen sarira nira sudanen dhahar lan guling
(Intinya, orang harus melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala dan tanda-tanda. Orang pun tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur).

Sejarah budaya Kebatinan
Pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di Semarang telah diadakan kongres dari berpuluh-puluh budaya kebatinan yang ada di berbagai daerah di jawa dengan tujuan untuk mempersatukan semua organisasi yang ada pada waktu itu. Kongres berikutnya yang diadakan pada tanggal 7 Agustus tahun berikutnya di Surakarta sebagai lanjutannya, dihadiri oleh lebih dari 2.000 peserta yang mewakili 100 organisasi. Pertemuan-pertemuan itu berhasil mendirikan suatu organisasi bernama Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) (Badan 1956), yang kemudian juga menyelenggarakan dua kongres serta seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962 (Pakan 1978:98).
Kebanyakan budaya kebatinan di Jawa awalnya merupakan budaya lokal saja dengan anggota yang terbatas jumlahnya, yakni tidak lebih dari 200 orang. Budaya seperti itu secara resmi merupakan “aliran kecil”, seperti Penunggalan, perukunan kawula manembah gusti, jiwa ayu dan pancasila handayaningratan dari Surakarta; ilmu kebatinan kasunyatan dari yogyakarta; ilmu sejati dari madiun; dan trimurti naluri majapahit dari mojokerto dan lain-lain.
Sebagian kecil dari budaya kebatinan ini biasanya mempunyai anggota tak lebih dari 200 orang namun ada yang beranggotakan lebih dari 1000 orang yang tersebar di berbagai kota di jawa dan terorganisasi dalam cabang-cabang. dan lima yang besar adalah hardapusara dari purworejo, susila budi darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di semarang, paguyuban ngesti tunggal (pangestu) dari surakarta, paguyuban sumarah dan sapta dari yogyakarta.
Hardapusara adalah yang tertua diantara kelima gerakan yang terbesar itu, yang dalam tahun 1895 didirikan oleh Kyai Kusumawicitra, seorang petani desa kemanukan dekat purworejo. Ia konon menamatkan ilmu dari menerima wangsit dan ajaran-ajarannya semula disebut kawruh kasunyatan gaib. Para pengikutnya mula-mula adalah seorang priyayi dari Purworejo dan beberapa kota lain di daerah bagelan. organisasi ini dahulu pernah berkembang dan mempunyai cabang-cabangnya di berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa timur, dan juga Jakarta. Jumlah anggotanya konon sudah mencapai beberapa ribu orang. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua buah buku yang oleh para pengikutnya sudah hampir dianggap keramat, yaitu Buku Kawula Gusti dan Wigati.
Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di semarang, pusatnya sekarang berada di Jakarta. Budaya ini tidak mau disebut budaya kebatinan, melainkan menamakan dirinya “Pusat Latihan Kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh Indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari para pengikutnya adalah orang Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul susila budhi dharma; selain itu gerakan itu juga menerbitkan majalah berkala berjudul Pewarta Kejiwaan Subud.
Pagguyuban ngesti tunggal, atau lebih terkenal dengan nama Pangestu adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini didirikan oleh Soenarto, yang di antara tahun 1932 dan 1933 menerima wangsit yang oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian diterbitkan menjadi buku sasangka djati.
Pangestu didirikan di surakarta pada bulan mei 1949, dan anggota-anggotanya yang kini sudah berjumlah 50.000 orang tersebar di banyak kota di Jawa, terutama berasal dari kalangan priyayi. Namun anggota yang berasal dari daerah pedesaan juga banyak yaitu yang tinggal di pemukiman transmigrasi di sumatera dan kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organisasi itu dwijawara merupakan tali pengikat bagi para anggotanya yang tersebar itu.
Paguyuban sumarah juga merupakan organisasi besar yang dimulai sebagai suatu gerakan kecil, dengan pemimpinnya bernama R. Ng. Sukirno Hartono dari Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada akhir tahun 1940-an gerakan itu mulai mundur, namun berkembang kembali tahun 1950 di Yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.
Sapta darma adalah yang termuda dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan tahun 1955 oleh guru agama bernama Hardjosaputro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri Gutomo. Beliau berasal dari desa keplakan dekat pare. Berbeda dengan keempat organisasi yang lain, sapta darma beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah kitab pewarah sapta darma.
Walaupun budaya kebatinan ada di seluruh daerah di jawa, namun Surakarta sebagai pusat kebudayaan jawa agaknya masih merupakan tempat dimana terdapat paling banyak organisasi kebatinan yang terpenting. Dalam tahun 1970 ada 13 organisasi kebatinan di sana; lima diantaranya dengan anggota sebanyak antara 30-70 orang, tetapi ada satu yang anggotanya sekitar 500 orang dalam tahun 1970. Sepuluh lainnya adalah organisasi-organisasi yang besar, yang berpusat dikota-kota lain seperti Jakarta, Yogyakarta, Madiun, Kediri dan sebagainya (jong 1973: 10-12).
S. de jong yang mempelajari budaya kebatinan jawa di jawa tengah, melaporkan bahwa dalam propinsi jawa tengah saja tercatat sebanyak 286 organisasi kebatinan dalam tahun 1870, dengan kemungkinan bahwa masih ada organisasi-organisasi kecil lainnya yang tidak terdaftar di sana.
Pengikut-pengikut terkemuka dari budaya kebatinan, yang diantaranya ada yang berlatar belakang pendidikan psikologi, biasanya menjelaskan bahwa timbulnya berbagai budaya itu disebabkan karena sebagian besar orang jawa butuh mencari hakekat alam semesta, intisari kehidupan dan hakekat Tuhan. Ahli sosiolagi Selosoemardjan berpendirian bahwa orang jawa pada umumnya cenderung untuk mencari keselarasan dengan lingkungan dan hati nuraninya, yang sering dilakukannya dengan cara-cara metafisik.

Mistik Kebatinan
Menurut pandangan ilmu mistik kebatinan orang jawa, kehidupan manusia merupakan bagian dari alam semesta secara keseluruhan, dan hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari kehidupan alam semesta yang abadi, dimana manusia itu seakan-akan hanya berhenti sebentar untuk minum.
Sikap. Gaya hidup, dan banyak aktivitas sebagai latihan upacara yang harus diterima dan dilakukan oleh seorang, yang ingin menganut mistik dibawah pimpinan guru dan panuntun agama itu, pada dasarnya sama pada berbagai gerakan kebatinan jawa yang ada. Hal yang mutlak perlu adalah kemampuan untuk melepaskan diri dari dunia kebendaan, yaitu memiliki sifat rila (rela) untuk melepaskan segala hak milik, pikiran atau perasaan untuk memiliki, serta keinginan untuk memiliki.. melalui sikap rohaniah ini orang dapat membebaskan diri dari berbagai kekuatan serta pengaruh dunia kebendaan di sekitarnya. Sikap menyerah serta mutlak ini tidak boleh dianggap sebagai tanda sifat lemahnya seseorang; sebaliknya ia menandakan bahwa orang seperti itu memiliki kekuatan batin dan keteguhan iman.
Kemampuan untuk membebaskan diri dari dunia kebendaan dan kehidupan duniawi juga melibatkan sikap narima yaitu sikap menerima nasib, dan sikap bersabar, yang berarti sikap menerima nasib dengan rela. Kemampuan untuk memiliki sikap-sikap semacam itu dapat diperoleh dengan hidup sederhana dalam arti yang sesungguhnya, hidup bersih, tetapi juga dengan jalan melakukan berbagai kegiatan upacara kegiatan upacara yang meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dengan jalan mengendalikan diri, dan melakukan berbagai latihan samadi. Melalui latihan bersemedi di harapkan agar orang dapat membebaskan dirinya dari keadaan sekitarnya, yaitu menghentikan segala fungsi tubuh dan keinginan serta nafsu jasmaninya.
Hal ini dapat memberikan keheningan pikiran dan membuatnya mengerti dan menghayati hakekat hidup serta keselarasan antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah. Apabila orang sudah bebas dari beban kehidupan duniawi (pamudharan), maka orang itu setelah melalui beberapa tahap berikutnya, pada suatu saat akan dapat bersatu dengan Tuhan ( jumbuhing kawula Gusti, atau manunggaling kawula-Gusti ) /Pendekatan kepada Illahi.
Namun dengan tercapainya pamudharan, yang memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari kehidupan dunia kebendaan, orang itu juga tidak terbebas dari kewajiban-kewajibannya dalam kehidupan yang konkret; bahkan, orang yang sudah mencapai pamudharan, wajib amemayu ayuning bawana, atau berupaya memperindah dunia, yaitu berusaha memelihara dan memperindah dengan jalan melakukan hal-hal yang baik, dan hidup dengan penuh tanggung jawab.

Gerakan Untuk Purifikasi Jiwa
Semua organisasi kebatinan yang besar umumnya, memang bersifat mistis; banyak gerakan kebatinan, terutama yang jumlah anggotanya sedikit, hanya berusaha untuk mencapai purifikasi jiwa, Hal yang mereka inginkan adalah memperoleh suatu kehidupan kerohanian yang mantap, tanpa rasa takut dan rasa ketidak-pastian. Inilah yang oleh orang jawa disebut orang yang sudah “bebas” (kamanungsan, kasunyatan).
Cara untuk kamanungsan pada umumnya sama dengan cara untuk mencapai pamudharan tersebut diatas. Kecuali beberapa variasi kecil, maka cara untuk mencapai purifikasi jiwa pada dasarnya adalah dengan menjalankan kehidupan yang penuh tanggung jawab, baik secara moral, sederhana, mampu membebaskan diri dari keduniawian, mempunyai sikap yang baik terhadap kehidupan, nasib dan kematian dan melakukan samadi secara ketat. Oleh karena gerakan-gerakan kebatinan ini berusaha mencari kebebasan rohaniah individu, maka orang mudah mengerti bahwa sifatnya agak individualis; gerakan-gerakan seperti itu paling tidak menarik bagi orang-orang yang membutuhkan kehidupan keagamaan, tanpa harus menaati peraturan-peraturan keagamaan yang resmi secara ketat, namun menyesuaikan dengan adat istiadat (Said 1972-a: 153-154)

Kebatinan Yang Berdasarkan Ilmu Gaib
Di seluruh daerah tempat tinggal orang jawa banyak terdapat gerakan-gerakan kebatinan yang hanya beranggotakan beberapa puluh orang saja. Kebanyakan dari gerakan seperti itu berpusat di kota-kota dan pada umumnya bersifat rahasia, yaitu dengan tujuan-tujuan yang bersifat mistik, moralis, atau etis dan dipimpin oleh seorang guru. Untuk mencapai tujuannya, para anggota gerakan seperti itu banyak melakukan praktek-praktek ilmu gaib, disamping studi dan bersamadi.
Banyak dari budaya semacam itu pada awalnya adalah suatu organisasi yang mengajar seni bela diri pencak. Kecuali memberi latihan fisik, gurunya juga melatih murid-muridnya untuk melakukan meditasi. Untuk menciptakan suasana keramat, ada juga yang ditambah berbagai ritus ilmu gaib secara rahasia yang dimaksudkan agar para muridnya, memperoleh kekebalan dan kesaktian tertentu.

CIPTA TUNGGAL

Cipta bermakna: pengareping rasa, tunggal artinya satu atau difokuskan ke satu obyek. Jadi Cipta Tunggal bisa diartikan sebagai konsentrasi cipta.

1. Cipta, karsa ( kehendak ) dan pakarti ( tindakan ) selalu aktif selama orang itu masih hidup. Pakarti bisa berupa tindakan fisik maupun non fisik, pakarti non fisik misalnya seseorang bisa membantu memecahkan atau menyelesaikan masalah orang lain dengan memberinya nasehat, nasehat itu berasal dari cipta atau rasa yang muncul dari dalam. Sangatlah diharapkan seseorang itu hanya menghasilkan cipta yang baik sehingga dia juga mempunyai karsa dan pakarti / tumindak yang baik, dan yang berguna untuk diri sendiri atau syukur -syukur pada orang lain.

2. Untuk bisa mempraktekkan tersebut diatas, orang itu harus selalu sabar, konsestrasikan cipta untuk sabar, orang itu bisa makarti dengan baik apabila kehendak dari jiwa dan panca indera serasi lahir dan batin. Ingatlah bahwa jiwa dan raga selalu dipengaruhi oleh kekuatan api, angin, tanah dan air.

3. Untuk memelihara kesehatan raga, antara lain bisa dilakukan :

a. Minumlah segelas air dingin dipagi hari, siang dan malam sebelum tidur, air segar ini bagus untuk syarat dan bagian-bagian tubuh yang lain yang telah melaksanakan makarti.

b. Jagalah tubuh selalu bersih dan sehat, mandilah secara teratur di negeri tropis sehari dua kali.

c. Jangan merokok terlalu banyak.

d. Konsumsilah lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan dan sedikit daging, perlu diketahui daging yang berasal dari binatang yang disembilah dan memasuki raga itu bisa berpengaruh kurang baik, maka itu menjadi vegetarian ( tidak makan daging ) adalah langkah yang positif.

e. Kendalikanlah kehendak atau nafsu, bersikaplah sabar, narima dan eling. Janganlah terlalu banyak bersenggama, seminggu sekali atau dua kali sudah cukup.

4. Berlatihlah supaya cipta menjadi lebih kuat, pusatkan cipta kontrol panca indera. Tenangkan badan (heneng) dengan cipta yang jernih dan tentram (hening). Bila cipta bisa dipusatkan dan difokuskan kearah satu sasaran itu bagus, artinya cipta mulai mempunyai kekuatan sehingga bisa dipakai untuk mengatur satu kehendak.

5. Buatlah satu titik atau biru ditembok atau dinding ( . ) duduklah bersila dilantai menghadap ke tembok, pandanglah titik itu tanpa berkedip untuk beberapa saat, konsentrasikan cipta, kontrol panca indera, cipta dan pikiran jernih ditujukan kepada titik tersebut. Jangan memikirkan yang lain, jarak mata dari titik tersebut kira-kira tujuh puluh lima sentimeter, letak titik tersebut sejajar dengan mata, lakukan itu dengan santai.

6. Lakukan latihan pernafasan dua kali sehari, pada pagi hari sebelum mandi demikian juga pada sore hari sebelum mandi tarik nafas dengan tenang dalam posisi yang enak.

7. Lakukan olah raga ringan (senam) secara teratur supaya badan tetap sehat, sehingga mampu mendukung latihan olah nafas dan konsentrasi.

8. Hisaplah kedalam badan Sari Trimurti pada hari sebelum matahari terbit dimana udara masih bersih, lakukan sebagai berikut :

Tarik nafas Tahan Nafas Keluarkan Nafas Jumlah
10 detik 10 detik 10 detik 30 detik minggu I : 3 kali
15 detik 10 detik 15 detik 40 detik minggu II : 3 kali
20 detik 10 detik 20 detik 50 detik minggu III : 3 kali
26 detik 8 detik 26 detik 60 detik minggu IV : 3 kali

9. Untuk memperkuat otak tariklah nafas dengan lobang hidung sebelah kiri, dengan cara menutup lobang hidung sebelah kanan dengan jari, lalu tahan nafas selanjutnya keluarkan nafas melalui lobang hidung sebelah kanan, dengan menutup lobang hidung sebelah kiri dengan jari.

Tarik nafas Tahan Nafas Keluarkan Nafas Jumlah
4 detik 8 detik 4 detik 16 detik minggu I : 7 kali
10 detik 7 detik 10 detik 27 detik minggu II : 7 kali
10 detik 10 detik 10 detik 30 detik minggu III & IV : 7 kali
20 detik 20 detik 20 detik 60 detik minggu V : 7 kali

10. Karsa akan terpenuhi apabila nasehat-nasehat diatas dituruti dengan benar, praktekkan samadi pada waktu malam hari, paling bagus tengah malam ditempat atau kamar yang bersih. Kontrol panca indera, tutuplah sembilan lobang dari raga, duduk bersila dengan rilek, fokuskan pandangan kepada pucuk hidung. Tarik nafas, tahan nafas, dan keluarkan nafas dengan tenang dan santai, konsentrasikan cipta lalu dengarkan suara nafas. Pertama-tama akan dirasakan sesuatu yang damai dan apabila telah sampai saatnya orang akan bisa berada berada dalam posisi hubungan harmonis antara kawula dan Gusti ALLAH

11. Cobalah lakukan sebagai berikut :
a. Lupakan segalanya selama dua belas detik
b. Dengan sadar memusatkan cipta kepada dzat yang agung selama seratus empat puluh detik.
c. Jernihkan pikiran dan rasa selama satu, dua atau tiga jam ( semampunya )

12. Tujuh macam tapa raga, yang perlu dilakukan
a. Tapa mata, mengurangi tidur artinya jangan mengejar pamrih.
b. Tapa telinga, mengurangi nafsu artinya jangan menuruti kehendak jelek.
c. Tapa hidung, mengurangi minum artinya jangan menyalahkan orang lain
d. Tapa bibir, mengurangi makan artinya jangan membicarakan kejelekan orang lain
e. Tapa tangan, jangan mencuri artinya jangan mudah memukul orang
f. Tapa alat seksual, mengurangi bercinta dan jangan berzinah
g. Tapa kaki, mengurangi jalan artinya jangan membuat kesalahan

13. Tujuh macam tapa jiwa yang perlu dilakukan
a. Tapa raga, rendah hati melaksanakan hanya hal yang baik
b. Tapa hati, bersyukur tidak mencurigai orang lain melakukan hal yang jahat
c. Tapa nafsu, tidak iri kepada sukses orang lain, tidak mengeluh dan sabar pada saat menderita
d. Tapa jiwa, setia tidak bohong, tidak mencampuri urusan orang
e. Tapa rasa, tenang dan kuat dalam panalongso
f. Tapa cahaya, bersifat luhur berpikiran jernih
g. Tapa hidup, waspada dan eling

14. Berketetapan hati
a. Tidak ragu-ragu
b. Selalu yakin orang yang kehilangan keyakinan atas kepercayaan diri adalah seperti pusaka yang kehilangan yoninya atau kekuatannya

15. Menghormati orang lain tanpa memandang jenis kelamin, kedudukan, suku, bangsa, kepercayaan dan agama, semua manusia itu sama : saya adalah kamu ( tat twan asi ). Artinya kalau kamu berbuat baik kepada orang lain, itu juga baik buat kamu, kalau kamu melukai orang lain itu juga melukai dirimu sendiri.

16. Sedulur papat kalimo pancer
Orang Jawa tradisional percaya eksistensi dari sedulur papat ( saudara empat ) yang selalu menyertai seseorang dimana saja dan kapan saja, selama orang itu hidup didunia. Mereka memang ditugaskan oleh kekuasaan alam untuk selalu dengan setia membantu, mereka tidak tidak punya badan jasmani, tetapi ada baik dan kamu juga harus mempunyai hubungan yang serasi dengan mereka yaitu :
a. Kakang kawah, saudara tua kawah, dia keluar dari gua garba ibu sebelum kamu, tempatnya di timur warnanya putih.
b. Adi ari-ari, adik ari-ari, dia dikeluarkan dari gua garba ibu sesudah kamu, tempatnya di barat warnanya kuning.
c. Getih, darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan, tempatnya di selatan warnanya merah
d. Puser, pusar yang dipotong sesudah kelahiranmu, tempatnya di utara warnanya hitam.

Selain sedulur papat diatas, yang lain adalah Kalima Pancer, pancer kelima itulah badan jasmani kamu. Merekalah yang disebut sedulur papat kalimo pancer, mereka ada karena kamu ada. Sementara orang menyebut mereka keblat papat lima tengah, (empat jurusan yang kelima ada ditengah). Mereka berlima itu dilahirkan melalui ibu, mereka itu adalah Mar dan Marti, berbentuk udara. Mar adalah udara, yang dihasilkan karena perjuangan ibu saat melahirkan bayi, sedangkan Marti adalah udara yang merupakan rasa ibu sesudah selamat melahirkan si jabang bayi. Secara mistis Mar dan Marti ini warnanya putih dan kuning, kamu bisa meminta bantuan Mar dan Marti hanya sesudah kamu melaksankan tapa brata ( laku spiritul yang sungguh-sungguh ).

17. Tingkatkan sembah, menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berarti juga menghormati dan memuja-Nya, istilah lainnya ialah Pujabrata. Ada guru laku yang mengatakan bahwa seseorang itu tidak diperkenankan melakukan pujabrata, sebelum melewati tapabrata.

a. Sembah raga
Ini adalah tapa dari badan jasmani, seperti diketahui badan hanyalah mengikuti perintah batin dan kehendak. Badan itu maunya menyenang-nyenangkan diri, merasa gembira tanpa batas. Mulai hari ini, usahakan supaya badan menuruti kehendak cipta yaitu dengan jalan: bangun pagi hari, mandi, jangan malas lalu sebagai manusia normal bekerjalah. Makanlah makanan yang tidak berlebihan dan tidur secukupnya saja: makan pada waktu lapar, minum pada waktu haus, tidur pada waktu sudah mengantuk, pelajarilah ilmu luhur yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

b. Sembah cipta
1. kamu harus melatih pikiranmu kepada kenyataan sejati kawula engenal Gusti.

2. Kamu harus selalu mengerjakan hal-hal yang baik dan benar, kontrollah nafsumu dan taklukan keserakahan. Dengan begitu rasa kamu akan menjadi tajam dan kamu akan mulai melihat kenyataan.
Berlatih cipta sebagai berikut :
1. Lakukan dengan teratur ditengah, ditempat yang sesuai.
2. Konsentrasikan rasa kamu
3. Jangan memaksa ragamu, laksanakan dengan santai saja
4. Kehendahmu jernih, fokuskan kepada itu
5. Biasakanlah melakukan hal ini, sampai kamu merasa bahwa apa yang kamu kerjakan itu adalah sesuatu yang memang harus kamu kerjakan, dan sama sekali tidak menjadi beban.
Kini kamu berada dijalan yang menuju ke kenyataan sejati, kamu merasa seolah-olah sepi tidak ingat apapun, seolah-olah badan astral dan mental tidak berfungsi, kamu lupa tetapi jiwa tetap eling ( sadar ) itulah situasi heneng dan hening dan sekaligus eling kesadaran dari rasa sejati. Ini hanya bisa dilaksanakan dengan keteguhan hati sehingga hasilnya akan terlihat.

c. Sembah jiwa
Sembah jiwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan rasa yang mendalam menggunakan jiwa suksma yang telah kamu temui pada waktu pada heneng, hening dan eling, ini adalah sembah batin yang tidak melibatkan lahir. Apabila kamu melihat cahaya yang sangat tenang tetapi tidak menyilaukan itu pertanda kamu sudah mulai membuka dunia kenyataan. Cahaya itu adalah pramana kamu sendiri, kamu akan merasa yakin pada waktu bersamadi, kamu dan cahaya itu saling melindungi.

d. Sembah rasa artinya sejati ( rasa sejati )
1. Kita bisa mengerti dengan sempurna untuk apa kita diciptakan dan selanjutnya apakah tujuan hidupmu.
2. Kita akan mengerti dengan sempurna atas kenyataan hidup dan keberadaan semua mahluk melalui olah samadi atau memahami Sangkan Paraning Dumadi, hubungan harmonis antara kawula dan Gusti layaknya seperti manisnya madu dan madunya, tidak terpisahkan.

PAPAT LIMA PANCER

Ing Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak. Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa. Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah.

SEDULUR PAPAT LIMA PANCER Njupuk sumber saka Kitab Kidungan Purwajati seratane , diwiwiti saka tembang Dhandanggula kang cakepane mangkene :
Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang Ing tembang dhuwur iku disebutake yen ” Sedulur Papat ” iku Marmati, Kawah, Ari-Ari, lan Getih kang kaprahe diarani Rahsa. Kabeh kuwi mancer neng Puser (Udel) yaiku mancer ing Bayi.
Cethane mancer marang uwonge kuwi. Geneya kok disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari-Ari lan Rahsa kuwi?. Marmati iku tegese Samar Mati ! lire yen wong wadon pas nggarbini ( hamil ) iku sadina-dina pikirane uwas Samar Mati. Rasa uwas kawatir pralaya anane dhisik dhewe sadurunge metune Kawah, Ari-Ari lan Rahsa kuwi mau, mulane Rasa Samar Mati iku banjur dianggep minangka Sadulur Tuwa. Wong nggarbini yen pas babaran kae, kang dhisik dhewe iku metune Banyu Kawah sak durunge laire bayi, mula Kawah banjur dianggep Sadulur Tuwa kang lumrahe diarani Kakang Kawah. Yen Kawah wis mancal medhal, banjur disusul laire bayi, sakwise kuwi banjur disusul wetune Ari-Ari. Sarehne Ari-Ari iku metune sakwise bayi lair, mulane Ari-Ari iku diarani Sedulur Enom lan kasebut Adhi Ari-Ari Lamun ana wong abaran tartamtu ngetokake Rah ( Getih ) sapirang-pirang. Wetune Rah (Rahsa) iki uga ing wektu akhir, mula Rahsa iku uga dianggep Sedulur Enom. Puser (Tali Plasenta) iku umume PUPAK yen bayi wis umur pitung dina. Puser kang copot saka udel kuwi uga dianggep Sedulure bayi. Iki dianggep Pancer pusate Sedulur Papat. Mula banjur tuwuh unen-unen ” SEDULUR PAPAT LIMA PANCER ” 0 Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak. Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa.
Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah kang kabeh mau bisa dibabarake kaya ukara ing ngisor iki: Amarah : Yen manungsa ngetutake amarah iku tartamtu tansaya bengkerengan lan padudon wae, bisa-bisa manungsa koncatan kasabaran, kamangka sabar iku mujudake alat kanggo nyaketake dhiri marang Allah SWT. Supiyah / Kaendahan : Manungsa kuwi umume seneng marang kang sarwa endah yaiku wanita (asmara). Mula manungsa kang kabulet nafsu asmara digambarake bisa ngobong jagad. Aluamah / Srakah : Manungsa kuwi umume padha nduweni rasa srakah lan aluamah, mula kuwi yen ora dikendaleni, manungsa kepengine bisa urip nganti pitung turunan. Mutmainah / Kautaman : Senajan kuwi kautaman utawa kabecikan, nanging yen ngluwihi wates ya tetep ora becik.
Contone; menehi duwit marang wong kang kekurangan kuwi becik, nanging yen kabeh duwene duwit diwenehake satemah uripe dewe rusak, iku cetha yen ora apik. Mula kuwi, sedulur papat iku kudu direksa lan diatur supaya aja nganti ngelantur. Manungsa diuji aja nganti kalah karo sedulur papat kasebut, kapara kudu menang, lire kudu bisa ngatasi krodhane sedulur papat. Yen manungsa dikalahake dening sedulur papat iki, ateges jagade bubrah. Ing kene dununge pancer kudu bisa dadi paugeran lan dadi pathokan. Bener orane, nyumanggakake

T I R A K A T

Liring sepuh sepi hawa Awas roroning atunggal Tan samar pamoring sukma Sinukmanya winahya ing ngasepi Sinimpen telenging kalbu Pambukaning wanara Tarlen saking liyep layaping ngaluyup Pindha sesating supena Sumusiping rasa jati Sajatine kang mangkana Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi Bali alaming asuwung Tan karem karameyan Ingkang sipat wisesa-winisesa wus Milih mula-mulanira Mulane wong anom sami.
Manusia jawa (tiyang Jawi) pada saat tertentu rela/mau dengan sengaja, menempuh kesukaran dan ketidaknyamanan untuk maksud-maksud ritual dalam budaya spiritualnya, yang berakar dari pikiran bahwa usaha-usaha seperti itu dapat membuat orang teguh imannya dan mampu mengatasi kesukaran-kesukaran, kesedihan dan kekecewaan dalam hidupnya melalui latihan keprihatinannya pada jalan tirakatnya. Mereka juga beranggapan bahwa orang bisa menjadi lebih tekun, dan terutama bahwa orang yang telah melakukan usaha semacam itu kelak akan mendapatkan pahala.
Tirakat kadang-kadang dijalankan dengan berpantang makan kecuali nasi putih saja (Mutih) pada hari senin dan kamis, dengan jalan berpuasa pada bulan puasa (Siyam) ada terkadang juga berpuasa selama beberapa hari (Nglowong) menjelang hari-hari besar Islam, seperti pada Bakda Besar (Bulan pertama menurut perhitungan orang Jawa), yaitu bulan Sura. Orang Jawa juga mempunyai adat untuk hanya makan sedikit sekali (tidak lebih daripada yang dapat dikepal dengan satu tangan) ngepel, untuk jatah makannya selama satu atau dua hari, atau adat untuk berpuasa dan menyendiri dalam suatu ruangan (ngebleng), bahkan ada juga yang melakukannya di dalam suatu ruangan yang gelap pekat, yang tidak dapat ditembus oleh sinar cahaya (patigeni).
Tirakat dapat juga dijalankan pada saat-saat khusus, misalnya pada waktu orang menghadapi suatu tugas berat, waktu mengalami krisis dalam keluarga, jabatan, atau dalam hubungan dengan orang lain, tetapi dapat juga pada waktu suatu masyarakat atau negara berada dalam suatu masa bahaya, pada waktu terkena bencana alam, epidemi dan sebagianya. Dalam keadaan seperti itu melakukan tirakat dapat dianggap sebagai tanda rasa prihatin yang dianggap perlu oleh orang Jawa bila seseorang berada dalam keadaan bahaya.

Bertapa ( Tapabrata )
Tapabrata dianggap oleh para penganut agami Jawi sebagai suatu hal yang sangat penting, Dalam kesusateraan kuno orang kuno, konsep tapa dan tapabrata diambil langsung dari konsep Hindu tapas, yang berasal dari buku-buku Veda. Selama berabad-abad para pertapa dianggap sebagai orang keramat, dan anggapan bahwa dengan menjalankan kehidupan yang ketat dengan disiplin tinggi, serta mampu menahan hawa nafsu, orang dapat mencapai tujuan-tujuan yang sangat penting. Dalam cerita-cerita wayang kita sering dapat menjumpai adanya tokoh pahlawan yang menjalankan tapa.
Orang jawa mengenal berbagai cara bertapa, dan cara-cara itu telah disebutkan oleh J. Knebel (1897 : 119-120 ) dalam karangannya mengenai kisah Darmakusuma, murid dari seorang wali di abad ke 16, berbagai cara menjalankan tapa adalah :
1. Tapa ngalong, dengan bergantung terbalik, dengan kedua kaki diikat pada dahan sebuah pohon.
2. Tapa nguwat, yaitu bersamadi disamping makam nenek moyang anggota keluarga, atau orang keramat, untuk suatu jangka waktu tertentu.
3. Tapa bisu, dengan menahan diri untuk tidak berbicara, cara bertapa semacam ini biasanya didahului oleh suatu janji.
4. Tapa bolot, yaitu tidak dan tidak membersihkan diri selama jangka waktu tertentu.
5. Tapa ngidang, dengan jalan menyingkir sendiri ke dalam hutan.
6. Tapa ngramban, dengan menyendiri di dalam hutan dan hanya makan tumbuh-tumbuhan
7. Tapa ngambang, dengan jalan merendam diri di tengah sungai selama beberapa waktu yang sudah ditentukan.
8. Tapa ngeli, adalah cara bersamadi dengan membiarkan diri dihanyutkan arus air di atas sebuah rakit.
9. Tapa tilem, dengan cara tidur untuk suatu jangka waktu tertentu tanpa makan apa-apa.
10. Tapa mutih, yaitu hanya makan nasi saja, tanpa lauk pauk.
11. Tapa mangan, dilakukan dengan jalan tidak tidur, tetapi boleh makan.

Ketiga jenis tapa yang tersebut terakhir, sebenarnya juga dilakukan oleh orang-orang yang hanya menjalankan tirakat aja, oleh karena itu batas antara tirakat dan tapabrata itu tidak begitu jelas. Walaupun demikian bahwa kita harus memperhatikan bahwa ke 11 jenis tapabrata itu jarang dilakukan secara terpisah, semua biasanya dijalankan dengan tata urut tersendiri, atau dilakukan dengan cara menggabung-gabungkan.
Oleh karena itu tapa semacam itu mirip dengan tapa pada orang hindu dahulu, sehingga dengan demikian ada suatu perbedaan fungsional antara tirakat dan tapabrata. Namun sering terjadi bahwa orang melakukan tapabrata bersamaan dengan samadi, dengan maksud untuk memperoleh wahyu. Tentu saja tujuan dari tapa semacam ini adalah untuk mendapatkan kenikmatan duniawian, akhirnya perlu disebutkan bahwa pada orang Jawa tapa merupakan salah satu cara penting dan utama untuk bersatu dengan Tuhan.

Meditasi atau Semedi.
Bahwa meditasi dan tapa adalah sama, serta perbedaan antara keduanya hanya terletak pada intensitas menjalankannya saja. Teknik-teknik serta latihan-latihan untuk melakukan meditasi ada bermacam-macam, yaitu dari yang sangat sederhana, seperti memusatkan perhatian pada titik-titik hujan yang jatuh ditanah, hingga yang sukar dan berat dijalankan, seperti menatap cahaya yang terang benderang dari dalam sebuah gua yang gelap ditepi pantai, dengan gemuruh ombak sebagai latar belakangnya, sambil berdiri dengan posisi yang sukar selama 12 jam berturut-turut.
Meditasi atau semedi memang biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata, orang yang melakukan tapa ngeli misalnya, tidak hanya duduk diatas rakitnya saja sambil bengong, tidak berbuat apa-apa, ia biasanya juga bermeditasi. Sebaliknya meditasi seringkali juga dijalankan bersama dengan suatu tindakan keagamaan lain, misalnya dengan berpuasa atau tirakat.
Maksud yang ingin dicapai dengan bermeditasi itu ada bermacam-macam, misalnya untuk memperoleh kekuatan iman dalam menghadapi krisis sosial ekonomi atau sosial politik, untuk memperoleh kemahiran berkreasi atau memperoleh kemahiran dalam kesenian, untuk mendapatkan wahyu, yang memungkinkannya melakukan suatu pekerjaan yang penuh tanggung jawab atau untuk menghadapi suatu tugas berat yang dihadapinya. Namun banyak orang melakukan meditasi untuk memperoleh kesaktian ( kasekten ) disamping untuk menyatukan diri dengan sang Pencipta.

M E D I T A S I

Dalam olah batin, meditasi menjadi salah satu topik pembicaraan yang tiada habis-habisnya. Tentu hal tersebut ada sebabnya, sebabnya tiada lain karena meditasi adalah salah satu usaha proses untuk meningkatkan pengembangan pribadi seseorang secara total. Tulisan ini didasari dari berbagai literatur mengenai meditasi.
Tulisan ini merupakan usaha melengkapi tulisan J. Sujianto yang berjudul “ Pengembangan Kwalitas Pribadi di Bidang Kebatinan, suatu Proses Meningkatkan Kreatifitas dan Pengetahuan Dunia Gaib “

Apakah Meditasi ?
Mengusahakan rumus yang pasti mengenai arti meditasi tidaklah mudah, yang dapat dilakukan adalah memberi gambaran berbagi pengalaman dari mereka yang melakukan meditasi, berdasarkan pengalaman meditasi dapat berarti :
1. Melihat ke dalam diri sendiri
2. Mengamati, refleksi kesadaran diri sendiri
3. Melepaskan diri dari pikiran atau perasaan yang berobah-obah, membebaskan keinginan duniawi sehingga menemui jati dirinya yang murni atau asli.
Tiga hal tersebut diatas baru awal masuk ke alam meditasi, karena kelanjutan meditasi mengarah kepada sama sekali tidak lagi mempergunakan panca indera ( termasuk pikiran dan perasaan ) terutama ke arah murni mengalami kenyataan yang asli.
Perlu segera dicatat, bahwa pengalaman meditasi akan berbeda dari orang ke orang yang lain, karena pengalaman dalam bermeditasi banyak dipengaruhi oleh latar belakang temperamen, watak dan tingkat perkembangan spiritualnya serta tujuan meditasinya dengan kulit atau baju kebudayaan orang yang sedang melaksanakan meditasi.
Secara gebyah uyah (pada umumnya) orang yang melakukan meditasi yakin adanya alam lain selain yang dapat dijangkau oleh panca indera biasa. Oleh karena itu mungkin sekali lebih tepat jika cara-cara meditasi kita masukkan ke golongan seni dari pada ilmu. Cara dan hasil meditasi dari banyak pelaku olah batin dari berbagai agama besar maupun perorangan dari berbagai bangsa, banyak menghasilkan kemiripan-kemiripan yang hampir-hampir sama, tetapi lebih banyak mengandung perbedaan dari pribadi ke pribadi orang lain. Oleh karena itu kita dapat menghakimi hasil temuan orang yang bermeditasi, justru keabsahan meditasinya tergantung kepada hasilnya, umpamanya orang yang bersangkutan menjadi lebih bijaksana, lebih merasa dekat dengan Tuhan, merasa kesabarannya bertambah, mengetahui kesatuan alam dengan dirinya dan lain-lainnya.
Keadaan hasil yang demikian, sering tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang-orang ( masyarakat ) di sekitar diri orang tersebut karena tingkah-lakunya maupun ucapan-ucapannya serta pengabdiannya kepada manusia lain yang membutuhkan bantuannya, mencerminkan hasil meditasinya.

Cara-cara dan akibat bermeditasi.
Cara bermeditasi banyak sekali.
Ada yang memulai dengan tubuh, arti meditasi dengan tubuh adalah mempergunakan menyerahkan tubuh ke dalam situasi hening. Lakunya adalah dengan mempergunakan pernafasan, untuk mencapai keheningan, kita menarik nafas dan mengeluarkan nafas dengan teratur. Posisi tubuh carilah yang paling anda rasakan cocok / rileks, bisa duduk tegak, bisa berbaring dengan lurus dan rata. Bantuan untuk lebih khusuk jika anda perlukan, pergunakan wangi-wangian dan atau mantra, musik yang cocok dengan selera anda, harus ada keyakinan dalam diri anda, bahwa alam semesta ini terdiri dari energi dan cahaya yang tiada habis-habisnya. Keyakinan itu anda pergunakan ketika menarik dan mengeluarkan nafas secara teratur.
Ketika menarik nafas sesungguhnya menarik energi dan cahaya alam semesta yang akan mengharmoni dalam diri anda, tarik nafas tersebut harus dengan konsentrasi yang kuat. Ketika mengelurkan nafas dengan teratur juga, tubuh anda sesungguhnya didiamkan untuk beberapa saat. Jika dilakukan dengan sabar dan tekun serta teratur, manfaatnya tidak hanya untuk kesehatan tubuh saja tetapi juga ikut menumbuhkan rasa tenang.
Bermeditasi dengan usaha melihat cahaya alam semesta, yang dilakukan terus menerus secara teratur, akan dapat menumbuhkan ketenangan jiwa, karena perasaan-perasaan negatif seperti rasa kuatir atau takut, keinginan yang keras duniawi, benci dan sejenisnya akan sangat berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali, yang hasil akhirnya tumbuh ketenangan. Meditasi ini harus juga dilakukan dengan pernafasan yang teratur.
Kesulitan yang paling berat dalam bermeditasi adalah “mengendalikan pikiran dengan pikiran“ artinya anda berusaha “ mengelola “ pikiran-pikiran anda, sampai mencapai keadaan “ Pikiran tidak ada “ dan anda tidak berpikir lagi, salah satu cara adalah “ mengosongkan pikiran “ dengan cara menfokuskan pikiran anda kepada suatu cita-cita, umpamanya cita-cita ingin menolong manusia manusia lain, cita-cita ingin manunggal dengan Tuhan. Cita-cita ingin berbakti kepada bangsa dan negara, cita-cita berdasarkan kasih sayang dan sejenis itu menjadi sumber fokus ketika hendak memasuki meditasi.
Secara fisik ada yang berusaha “ mengosongkan pikiran “ dengan memfokuskan kepada “ bunyi nafas diri sendiri “ ketika awal meditasi, atau ada juga yang menfokuskan kepada nyala lilin atau ujung hidung sendiri.
Jika proses meditasi yang dilukiskan tersebut diatas dapat anda lakukan dengan tepat, maka anda dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam pengertian spiritual, yang akibatnya pasti baik untuk diri anda sendiri, mungkin juga bermanfaat untuk manusia lain.
Sesuatu itu jangan dijadikan tujuan meditasi, karena hasil sesuatu itu adalah hasil proses meditasi, bukan tujuan meditasi.
Jika dalam proses tersebut pikiran anda belum dapat anda “ kuasai atau hilangkan “ janganlah putus asa atau berhenti, tetapi juga memaksakan diri secara keterlaluan. Pengembangan selanjutnya dari proses meditasi tersebut, anda sendiri yang akan menemukan dan meneruskannya, karena berciri sangat pribadi.
Untuk dapat berhasil anda sangat perlu memiliki motivasi yang cukup pekat dan dalam, sehingga dengan tiada terasa anda akan bisa khusuk dalam keheningan bermeditasi. Jika menemui sesuatu, apakah itu cahaya atau suara atau gambaran-gambaran, jangan berhenti, teruskan meditasi anda.
Pengalaman sesudah keadaan demikian, hanya andalah yang dapat mengetahui dan merasakannya, karena tiada kata kalimat dalam semua bahasa bumi yang dapat menerangkan secara gamblang. Dalam keadaan demikian anda tidak lagi merasa lapar, mengantuk bahkan tidak mengetahui apa-apa lagi, kecuali anda tersadar kembali. Biasanya intuisi anda akan lebih tajam sesudah mengalami proses meditasi yang demikian itu, dan mungkin pula memperoleh “ pengetahuan “ tentang alam semesta atau lainnya.
Di dalam serat Wulang Reh, karya “kasusastran” Jawa (dalam bentuk syair) yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Paku Buwono IV, terdapat juga ajaran untuk hidup secara asketik, dengan usaha menuju kasampurnaning urip.
Pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lantip aja pijer mangan nendra kaprawiran den kaesti pesunen sarira nira sudanen dhahar lan guling (Intinya, orang harus melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala dan tanda-tanda. termasuk ajaran tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur).

S A M A D I

Samadi berasal dari kata : Sam artinya besar dan Adi artinya bagus atau indah. Seseorang yang melakukan samadi adalah seseorang yang mengambil posisi-patrap untuk meraih budi yang besar, indah dan suci.
Budi suci adalah budi yang diam tanpa nafsu, tanpa keinginan dan pamrih apapun. Inilah kondisi suwung ( kosong ) tetapi sebenarnya ada aktifitas dari getaran hidup murni, murni sebagai sifat-sifat hidup dari Tuhan.
Budi suci terlihat seperti cahaya atau sinar yang disebut Nur, Nur itu adalah hati dari budi. Kesatuan dari budi dan nur secara mistis disebut curigo manjing warongko atau bersatunya kawula dan Gusti atau juga biasa digambarkan Bima manunggal dengan Dewa Ruci.
Istilah lainnya ialah Pangrucatan atau Kamukswan, pangrucatan itu artinya dilepas, apa yang dilepas ? pengaruh dari nafsu . Mukswa artinya dihapus, apa yang dihapus ? pengaruh dari nafsu, oleh karena itu samadi adalah satu proses dari penyucian budi, budi menjadi nur. Di dalam nur ini, kawula bisa berkomunikasi dengan Gusti untuk menerima tuntunan sesuai dengan kedudukannya sebagai kawula.

Praktek Samadi
Waktu bersamadi orang bisa mengambil posisi duduk atau tidur telentang diatas tempat tidur. Pilihlah tempat yang bersih, tenang dan aman, bernafaslah dengan santai, pada posisi tidur kaki diluruskan, kedua tangan diletakkan didada. Dengarkanlah dengan penuh perhatian suara nafas dengan tenang, menghirup dan mengeluarkan udara melalui hidung. Ini akan membuat pikiran menjadi tidak aktif. Nikmatilah suara nafas dengan jalan menutup mata, ini sama seperti kalau memusatkan pandangan kepada pucuk hidung.
Dengan melakukan ini, pikiran dinetralisir demikian juga angan-angan dan pengaruh panca indera. Sesudah itu nafsu dinetralisir didalam indera ke enam. Bila berhasil orang akan berada dalam suwung dan nur mendapatkan tuntunan mistis yang simbolis.

Manusia.
Manusia diciptakan oleh Tuhan, manusia adalah makluk yangmempunyai :
1. Badan jasmani = badan kasar.
2. Badan jiwa = badan alus.
3. Badan cahaya = nur atau suksma
Dengan susunan seperti tersebut diatas, diharapkan akan mampu mengetahui “ Sangkan Paraning Dumadi “ ( makna perjalanan kehidupan ).

Memahami Jagad Raya.
Sebelum adanya jagad raya, tidak ada apa-apa kecuali kekosongan dan suwung. Didalam suwung terdapat sifat-sifat hidup dari Tuhan, jagad raya adalah suatu Causa prima. Sifat-sifat hidup Tuhan terasa seperti getaran dan getaran ini terus menerus.
Ada tiga elemen yang terdiri dari :
1. Elemen merah dengan sinar merah, ini panas
2. Elemen biru dengan sinar biru, ini dingin
3. Elemen kuning dengan sinar kuning, ini menakjubkan.
Elemen-elemen ini selalu bergetar. Sebagai hasil dari perpaduan ketiga elemen tersebut, elemen ke empat lahir dengan warna putih atau putih keperak-perakan dan inilah yang disebut nur. Nur itu adalah sari dari jagad raya, ada yang menjadi calon planet, ada yang menjadi badan budi atau jiwa yaitu badan jiwa dari manusia, ketika nur menjadi sari dari badan jasmani manusia. Itu artinya didalam jagad raya dan galaksi akan selalu dilahirkan planet-planet dan bintang-bintang baru. Kondisi dari plenet-planet yang baru dilahirkan bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain, karena tergantung kepada pengaruh dari tiga elemen tersebut, ada planet yang bisa dihuni dan yang tidak bisa dihuni.

Miyos saking renteging hawa
ambedah anggit prayitnaing pikir
sesumeh bayu ayuning asih
njembari pajar latuning titah
ilang lunganing ngawang
nemoni asrep reseping wening
Ono sanepa kagem pepiling

Wong kang ambudi daya kalawan anglakoni tapa utawa semedi kudu kanthi kapracayan kang nyukupi apa dene serenging lan kamempengan anggone nindhakake. Atine kudu santosa temenan supaya wong kang nindhakake sedyane mau ora nganti kadadeyan entek pengarep-arepe yen kagawa saka kuciwa dening kahanane badane, wong mau kudu nindakake pambudi dayane luwih saka wewangening wektu saka katamtuwaning laku kang dikantekake marang sawiji-wijining mantram lan ajaran ilmu gaib awit gede gedening kagelan iku ora kaya wong kang gagal enggone nindakake lakune rasa kuciwa kang mangkono iku nuwuhake prihatin lan getun, nganti andadekake ciliking ati lan enteking pangarep-arep. Sawise wong mau entek pangarep arepe lumrahe banjur trima bali bae marang panguripan adat sakene mung dadi wong lumrah maneh.
Kawruhana wong kang lagi miwiti ngyakinake ilmu gaib sok sok dheweke iku mesthi nemoni kagagalan kagagalan kang nuwuhake rasa kuciwa. Sawijining wewarah kang luwih becik tumrap wong kang lagi nglakoni kasutapan iya iku ati kang teguh santosa aja kesusu-susu lan aja bosenan ngemungake wong kang anduweni katetepan ati lan santosaning sedya sumedya ambanjurake ancase iya iku wong kang bakal kasembadan sedyane. Wong ngyakinake prabawa gaib iku anduweni kekarepan supaya dadi wong lanang temenan kang diendahake dening wong akeh, iya anaa ing ngendi wae enggone nyugulake dirine, Amarehe diwedeni ing wong akeh panguwuhe gawe kekesing wong yen anyentak dadi panggugupake lan gawe gemeter dirine, ditrisnani ing wong akeh pitembungane digatekake lan pakartine diluhurake ing wong akeh, iya pancen nyata wong liyane mesthi tunduk marang sawijining wong kang ahli ilmu.
Wong ahli kasutapan tansah yakin enggone ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem dhirine. Ana paedahe kang migunani banget manawa wong nindakake pambudi daya kalawan misah dheweke ana ing papan kang sepi karana tinimune kekuwatan gaib iku sok-sok tinemu dhewekan ana ing sepen. Wong ahli kasutapan kudu budidaya bisane nglawan marang nepsune kekarepan umum (kekarepan wong akeh kang campur bawur ngumandang ana ing swasana), kalawan tumindak mangkono wong ahli kasutapan mau dadi nduweni pikiran-pikiran kang mardhika, iya pikiran-pikiran kang mangkono iku kang bisa nekakake kasekten gaib.
Sangsaya akeh kehing kang kena tinides, uga sangsaya gedhe tumandhoning kekuwatan gaib kang kinumpulake. Kekuwatan gaib iku tansah makarti tanpa kendhat enggone mujudake sedya lan nganakake kekarepan. Wong ahli kasutapan kudu anduweni ati kang tetep lan kekarepan kan dereng, kalawan ora maelu marang anane pakewuh pakewuhe lan kagagalan-kagagalaning. Kasekten iku kaperang ana rong warna, iya iku kasekten putih (Witte magie/white magic) utawa kasekten ireng (Zwarte magie/Black Magic). Awit saka anane perangan mau banjur dadi kanyatan yen perangan kang sawiji iku becik, dene perangan liyane ala.
Kasekten putih iku satemene ilmu Allah Kang Maha Luhur wis mesthi bae kapigunakake mligi kanggo kaslametane wong akeh. Dene kasekten ireng iku ilmu kaprajuritan kang kapigunakake luwih-luwih kanggo nelukake kalayan paripaksa, sarta bakal anjalari kacilakaning wong liya. Ananing sakaro karone saka sumber ilmu Allah sarta sakaro karane iku padha dipigunakake kalawan atas asma Allah. Tinemune ilmu-ilmu kasekten iki saranane kalawan kekuwataning pikiran pikiran iku manawa kagolongake meleng sawiji bisa nuwuhake kekuwatan kaya panggendeng kang rosa banget tumrap marang apa bae kang dipikir lan disedya.
Wong kang nglakonitapa kalawan nindakake laku-laku kang tinemtokake wis mesthi bae gumolonging pikirane bebarengan padha kumpul dadi siji sarta katujokake marang apa kang disedya kalawan mangkono iku kekuwatan daya anarik migunakake sarosaning kekuwatane banjur anarik apa kang dikarepake. Swasana kang katone kaya dene kothong bae iku satemene ana drate rupa-rupa kayata : geni murub emas kayu lemah waja, electrieiteit zunrstof koolzunr sarpaning Zunr lan isih akeh liya-liyane maneh.
Samengko umpamane ban ana sawijining wong kang lagi tapa kalawan duwe sedya supaya andarbeni daya prabawa kang luwih gedhe sarta anindakake sakehing kekuwatan pikiran kalawan ditujokake marang sedyane mau nganti nuwuhake daya prabawa. Kekuwataning daya anarik saka pikiran iku banjur anarik dzat ing swasana kang pinuju salaras karo daya prabawa mau kalawan saka sathithik sarta sareh dzat daya prabawa kang ing swasana iku katarik mlebu ing dalem badane wong kang lagi tapa mau. Kalawan mangkono dzat “prabawa” iku dadi kumpul ing dalem badane wong narik dzat iku nganti tumeka wusanane badane wong ahli tapa, iku bisa metokake daya prabawa kang gedhe daya karosane.
Wong kang andarbeni ilmu kang mangoko iku dadi sawijining wong kang sakti mandraguna. Tumrap wong-wong kang nglakoni tapa ditetepake pralambang telu : Diyan, Jubah lan Teken. Diyan minangka pralambanging pepadhang, tumrap kahanan kang umpetan utawa gaib. Jubah minangka dadi pralambange katentremaning ati kang sampurna, dene teken minangka dadi pralambanging kekuwatan gaib.
Ing dalem sasuwene wong nglakoni tapa iku prelu banget kudu migateake marang sirikane, kayata : wedi, nepsu, sengit, semang-semang lan drengki. Rasa wedi iku sawijining pangrasa kang luwih saka angel penyegahe. Menawa isih kadunungan rasa wedi ing dalem atine wong ora bakal bisa kasambadan apa kang disedyaak. Kalawan “rasa wedi” iku atining wong dadi ora bisa anduweni budi daya apa-apa.
Sajrone nglakoni tapa utawa salagine ngumpulake kekuwatan gaib, atining wong iku mesthi kudu tetep tentrem lan ayem sanadyan ana kadadeyan apa wae. Manawa atine wong iku nganti gugur, kasutapan iya uga dadi gugur lan kudu lekas wiwit maneh. Gegeman kalawan wadi sakehing ilmu gaib lkang lagi pinarsudi, luwih becik murih nyataning kasekten tinimbang karo susumbar kalawan kuwentos kayakenthos.
“Nepsu” iku andadekake tanpa dayane kekuwataning batin. “Semang-semang” iku andadekake ati kang peteng ora padhang terang. “Sengit utawa drengki” iku uga dadi mungsuhing kekuwatan gaib. Wong kang lagi nindakake katamtuwan ing dalem kasutapan kudu kalawan ati kang sabar anteng lan tetep.

Patrapebadan kang kaku lan kagugupan kudu didohake .
 Aja sok singsot
 Aja duwe lageyan sok nethek nethek kalawan driji tangan marang meja kursi utawa papan liyane.
 Aja ngentrok-entrokake sikil munggah mudhun.
 Aja sok anggigit kukuning dariji tangan.
 Aja mencap-mencepake lambe.
 Aja molahake lidhah lan andhilati lambe.
 Aja narithilake kedheping mata.
 Ngedohake sakehing saradan utawa bendana kang ora becik, kayata glegak-glegek molah-molahake sirah, kukur-kukur sirah, ngangkat pundhak lan liya-liyane sabangsane saradan kabeh.

Satemene perlu banget nyirnakake kekarepan “drengki” luk wit ngrasaning karep drengki iku banget nindhih marang diri pribadi. Ana maneh “drengki” iku kaya anggawa sawijining pikulan abot kang tansah nindhes marang dhiri lan sarupa ana barang atos medhokol kang angganjel pulung ati. “Drengki lan meri” iku mung anggawa karugiyan bae tumrap kita, ora ana gunane sathithik -thithika. Salawase wong isih anduweni pangrasan karep “drengki lan meri” iku ora bakal bisa tumeka kamajuwane tumrap dunya prabawaning gaib.
Ora mung tumindak bae tumrap sawijining wong bae bisa maluyakake wong liya kalawan kekuwatan gaib nanging uga tumindak tumrap sawijining wong maluyakake dhiri pribadi kalawan kekuwatan iku. Bisane maluyakake larane wong liya, mesthine kudu ngirima kekuwatan waluya marang sajroning badane wong kang lara. Manawa wong gelem naliti yen wong iku bisa ngumpulake kekuwatan gaib ing dalem badane dhewe lan ngetokake sabageyan kekuwatan gaib kawenehake marang wong liyane mestheni uwong bisa ngreti yen arep migunakake kekuwatan iku nganggo paedahe dhiri dhewe uga luwih gampang.
Supaya bisa nindhakake pamaluya marang dhirine dhewe kalawan sampurna wong ngesthi kudu mahamake cara-carane maluyakake panyakit. Iya iku cara-cara kang katindakake kanggo maluyakake wong liya lan wusanane ambudidaya supaya bisa migunakake obah-obahan iku marang awake dhewe.
Kawitane wong kudu nindakake patrape mangreh napas, kanggo negahake asabat. Dene carane ngatur napas iku kaprathelakake kalayan ringkes kaya ing ngisor iki :
 Madika panggonan kang sepi.
 Lungguha ing sawijining palinggihan kang endhek lan kepenak, sikil karo pisan tumapak ing lemah.
 Badan kajejegake lan janggute diajokake.
 Benik-beniking klambi kang kemancing padha kauculan, sabuk uga diuculi supaya sandangan dadi longgar lan kepenak kanggo tumindhak ing napas.
 Pikiran katarik mlebu, supaya luwar saka sakehing geteran pikiran kaya saka ing jaba.
 Sakehing urat-urat kakendokake.
 Banjur narika napas kalawan alon lan nganti jero banget tahanen napas iku sawatara sekon/detik (kira-kira 6 detik) lan wusanane wetokna napas iku kalawan sareh.

Anujokna gumolonging pikiran kalawan ngetut marang napas kang mlebu metu iku kalawan giliran. Cara nindakake napas kaya ing ngisor iki :
 Narik napas kalawan alon lan nganti jero ing sabisane, nganti dhadha mekar lan weteng dadi nglempet.
 Nahan napas iku kira-kira nem saat utawa luwih suwe ing dalem paru-paru dhadhane cikben lestari mekare, lan wetenge cikben lestaringlempetake kalawan mangkono iku gurung dalaning napas tansah tetep menga.
 Ambuangna napas kalawan alon nganti entek babar pisan nganti dhadha dadi kempes, lan weteng dadi mekar.
 Banjurna marambah-rambah matrapake mangkono iku suwene kira-kira saka lima tumeka limolas menit utawa luwih suwe nganti bisa nemoni pangrasa anteng lan tentrem ing sajroning badan.

Carane matrapake kasebut ing dhuwur iku sawijining cara kanggo napakake napas, iki kena lan kudu ditindakake saben dina telung rambahan, dening sapa bae kang nglakoni tapa supaya oleh ilmu gaib. Daya kang luwih bagus iya iku miwiti makarti miturut pituduhan. Aja weya nindakake patrap kanggo napakake napas iku.
Cara matrapake tumindaking napas iku kena uga ditindakake kalayan leyeh-leyeh mlumah : ngendokake sakabehing urat-urat nyelehake tangan karo pisan sadhuwuring weteng lan nindakake lakuning napas miturut aturan. Daya ngisekake Prana Ngadeg kalawan jejeg sikil karo pisan kapepetake dadi siji lan driji -drijining tangan karo pisan dirangkep dadi siji kalawan longgar.
Banjur matrapa lakuning napas sawatara rambahan miturut aturan. Gawe segering utek lungguha kalawan jejeg lan nyelehna tangan karo pisan ing sandhuwuring pupu kiwa tengen: mripat mandheng marang arah ing ngarep kalawan tetep: sikil karo pisan tumadak ing lemah. Kalawan jempol tangan tengen anutup lenging grana sisih tengen lan anarika napas liwat lenging grana sisih kiwa, wusana nglepasake jempol iku banjur ambuwang napas lan nutupa lenging grana kiwa kalawan driji narika napas liwat lenging grana tengen, lepasna driji panutup iku lan ambuwanga napas. Mangkono sabanjure kalawan genti-genten kiwa lan tengen.

SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN

Terjemahan :
Serat Kekiyasanning Pangracutan salah satu buah karya sastra Sultan Agung raja atara ( 1613 – 1645 )
Ini adalah keterangan Serat Suatu pelajaran tentang Pangracutan yang telah disusun oleh Baginda Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma di Mataram atas berkenan beliau untuk membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang sangat rahasia, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan harapan dapat dirembuk dengan para ahli ilmu kasampurnaan.

Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu adalah :

1. Panembahan Purbaya
2 Panembahan Juminah
2. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya
3. Panembahan Juru Kithing
4. Pangeran di Kadilangu
5. Pangeran di Kudus
6. Pangeran di Tembayat
7. Pangeran Kajuran
8. Pangeran Wangga
9. Kyai Pengulu Ahmad Katengan

1. Berbagai Kejadian Pada Jenazah
Adapun yang menjadi pembicaraan, beliau menanyakan apa yang telah terjadi setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami bermacam-macam kejadian pada jenazahnya dari berbagai cerita umum, juga menjadi suatu kenyataan bagi mereka yang sering menyaksikan keadaan jenazah yang salah kejadian atau berbagai macam kejadian pada keadaan jenazah adalah berbagai diketengahkan dibawah ini :
1) Ada yang langsung membusuk
2) Ada pula yang jenazahnya utuh
3) Ada yang tidak berbentuk lagi, hilang bentuk jenazah
4) Ada pula yang meleleh menjadi cair
5) Ada yang menjadi mustika (permata)
6) Istimewanya ada yang menjadi hantu
7) Bahkan ada yang menjelma menjadi hewan.

Masih banyak pula kejadianya, lalu bagaimana hal itu dapat terjadi apa yang menjadi penyebabnya.
Adapun menurut para pakar setelah mereka bersepakat disimpulkan suatui pendapat sebagai berikut :
Sepakat dengan pendapat Sultan Agung bahwa manusia itu setelah meninggal keadaan jenazahnya berbeda-beda itu suatu tanda bahwa disebabkan karena ada kelainan atau salah kejadian (tidak wajar), makanya demikian karena pada waktu masih hidup berbuat dosa setelah menjadi mayat pun akan mengalami sesuatu masuk kedalam alam penasaran. Karena pada waktu pada saat sedang memasuki proses sakaratul maut hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya, tidak dapat memusatkan pikiran hanya untuk satu ialah menghadapi maut.

Maka ada berbagai bab dalam mempelajari ilmu ma’rifat, seperti yang akan kami utarakan berikut ini :
1. Pada waktu masih hidupnya, siapapun yang senang tenggelam dalam kekayaan dan kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir hayatnya, maka jenazahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah liat sukmanya melayang gentayangan dapat diumpamakan bagaikan rama-rama tanpa mata sebaliknya, bila pada saat hidupnya gemar menyucikan diri lahir maupun batin. Hal tersebut sudah termasuk lampah maka kejadiannya tidak akan demikian.

2. Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat pusaka tetapi tidak mengenal batas waktunya bila tiba saat kematiannya maka mayatnya akn terongok menjadi batu dan membuat tanah perkuburannya itu menjadi sanggar adapun rohnya akan menjadi danyang semoro bumi walaupun begitu bila masa hidupnya mempunyai sifat nrima atau sabar artinya makan tidur tidak bermewah-mewah cukup seadanya dengan perasaan tulus lahir batin kemungkinan tidaklah seperti diatas kejadiannya pada akhir hidupnya.

3. Pada masa hidupnya seseorang yang menjalani lampah tidak tidur tetapi tidak ada batas waktu tertentu pada umumnya disaat kematiannya kelak maka jenaahnya akan keluar dari liang lahatnya karena terkena pengaruh dari berbagai hantu yang menakutkan. Adapun sukmanya menitis pada hewan. Walaupun begitu bila pada masa hidupnya disertai sifat rela bila meninggal tidak akan keliru jalannya.

4. Siapun yang melantur dalam mencegah syahwat atau hubungan seks tanpa mengenal waktu pada saat kematiannya kelak jenazahnya akan lenyap melayang masuk kedalam alamnya jin, setan, dan roh halus lainnya sukmanya sering menjelma menjadi semacam benalu atau menempel pada orang seperti menjadi gondaruwo dan sebagainya yang masih senang mengganggu wanita kalau berada pada pohon yang besar kalau pohon itu di potong maka benalu tadi akan ikut mati walaupun begitu bila mada masa hidupnya disertakan sifat jujur tidak berbuat mesum, tidak berzinah, bermain seks dengan wanita yang bukan haknya, semuanya itu jika tidak dilanggar tidak akan begitu kejadiannya kelak.

5. Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal dapat menahan hawa nafsu berani dalam lampah dan menjalani mati didalamnya hidup, misalnya mengharapkan janganlah sampai berbudi rendah, rona muka manis, dengan tutur kata sopan, sabar dan sederhana semuanya itu janganlah sampai belebihan dan haruslah tahu tempatnya situasi dan kondisi dan demikian itu pada umumnya bila tiba akhir hayatnya maka keadaan jenazahnya akan mendapatkan kemuliaan sempurna dalam keadaannya yang hakiki. Kembali menyatu dengan zat yang Maha Agung, yang dapat mneghukum dapat menciptakan apa saja ada bila menghendaki datang menurut kemauannya apalagi bila disertakan sifat welas asih, akan abadilah menyatunya Kawulo Gusti.
Oleh karenanya bagi orang yang ingin mempelajari ilmu ma’arifat haruslah dapat menjalani : Iman, Tauhid dan Ma’rifat.

2. Berbagai Jenis Kematian
Pada ketika itu Baginda Sultan Agung Prabu Hanyangkra Kusuma merasa senang atas segala pembicaraan dan pendapat yang telah disampaikan tadi. Kemudian beliau melanjutkan pembicaraan lagi tentang berbagai jenis kematian misalnya :
1. Mati Kisas
2. Mati kias
3. Mati sahid
4. Mati salih
5. Mati tewas
6. Mati apes
Semuanya itu beliau berharap agar dijelaskan apa maksudnya maka yang hadir memberikan jawaban sebagai berikut :
Mati Kisas, adalah suatu jenis kematian karena hukuman mati. Akibat dari perbuatan orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman karena keputusan pengadilan atas wewenang raja.
Mati Kias, adalah suatu jenis kematian akibatkan oleh suatu perbuatan misalnya: nafas atau mati melahirkan.
Mati Syahid, adalah suatu jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak, dirampok, disamun.
Mati Salih, adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri karena mendapat aib atau sangat bersedih.
Mati Tiwas, adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, disambar petir, tertimpa pohon , jatuh memanjat pohon, dan sebagainya.
Mati Apes, suatu jenis kematian karena ambah-ambahan, epidemi karena santet atau tenung dari orang lain yang demikian itu benar-benar tidak dapat sampai pada kematian yang sempurna atau kesedanjati bahkan dekat sekali pada alam penasaran.

Berkatalah beliau : “Sebab-sebab kematian tadi yang mengakibatkan kejadiannya lalu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu dengan yang bodoh ? Andaikan yang menerima akibat dari kematian seornag pakarnya ilmu mistik, mengapa tidak dapat mencabut seketika itu juga ?”
Dijawab oleh yang menghadap : “Yang begitu itu mungkin disebabkan karena terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat lagi dengan ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah penderitaan dan rasa sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan ilmunya mungkin akan kacau didalam melaksanakannya tetapi kalau selalu ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka kemungkinan besar dapat mencabut seketika itu juga.
Setelah mendengar jawaban itu beliau merasa masih kurang puas menurut pendapat beliau bahwa sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada suatu firasat dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya begitu saja beliau kurang sependapat oleh karenanya beliau mengharapkan untuk dimusyawarahkan sampai tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang lebih masuk akal.
Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: “Sabda paduka adalah benar, karena sebenarnya semua itu masih belum tentu , hanyalah Kangjeng Susuhunan Kalijogo sendiri yang dapat melaksanakan ngracut jasad seketika , tidak terduga siapa yang dapat menyamainya

3. Wedaran Angracut Jasad
Adapun Pangracutan Jasad yang dipergunakan oleh Kangjeng Susuhunan Kalijogo, penjelasannya yang telah diwasiatkan kepada anak cucu seperti ini caranya:
“Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata, tidak diakibatkan kematian, dapat mulai sempurna hidup abadi selamanya, didunia aku hidup, sampai di alam nyata (akherat) aku juga hidup, dari kodrat iradatku, jadi apa yang kuciptakan, yang kuinginkan ada, dan datang yang kukehendaki”.

4. Wedaran Menghancurkan Jasad
Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut : “Siapapun yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau terjadinya mukjizat seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para Wali, mendatangkan ma’unah seperti para Mukmin Khos, dengan cara menjalani tapa brata seperti pesan dari Kangjeng Susuhunan di Ampel Denta :
1. Menahan Hawa Nafsu, selama seribu hari siang dan malamnya sekalian.
2. Menahan syahwat (seks), selama seratus hari siang dan malam
3. Tidak berbicara, artinya membisu, dalam empat puluh hari siang dan malam
4. Puasa padam api, tujuh hari tujuh malam
5. Jaga, lamanya tiga hari tiga malam
6. Mati raga, tidak bergerak lamanya sehari semalam.

Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam itu beginilah caranya :
o Manahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari lalu teruskan dengan
o Menahan syahwat, bila telah mencapai 60 hari, lalu dirangkap juga dengan
o Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari, lalu lanjutkan dengan
o Puasa pati selama 7 hari tujuh malam, lalu dilanjutkan dengan
o Jaga, selama tiga hari tiga malam, lanjutkan dengan
o Pati raga selama sehari semalam.

Adapun caranya Pati Raga adalah : tangan bersidakep kaki membujur dan menutup sembilan lobang ditubuh, tidak bergerak-gerak, menahan tidak berdehem, batuk, tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari semalam tersebut. Yang bergerak tinggallah kedipnya mata, tarikan nafas, anapas, tanapas nupus, artinya tinggal keluar masuknya nafas, yang tenang jangan sampai bersengal-sengal campur baur.

DUNIA MAHKLUK HALUS

Pada kenyataannya banyak orang yang tertarik menelaah pada dunia mahkluk halus, barang kali mereka mendengar beberapa cerita atau membaca tulisan atau dari buku-buku. Bagi orang yang telah mencapai ilmu sejati dalam kejawen atau mungkin yang sudah menguasai metafisika, dunia mahkluk halus itu biasa adanya, bukannya omong kosong. Dibawah ini digambarkan informasi dari dunia-dunia mereka versi kejawen,dimana ( lebih dari satu dunia ) paling tidak yang terjadi ditanah Jawa.
Banyak ahli kejawen mempunyai pendapat yang sama bahwasanya di dalam dunia yang satu dan sama ini, sebenarnya dihuni oleh tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Di dunia ini memiliki tujuh saluran kehidupan yang ditempati oleh bermacam-macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak bercampur setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.
Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya ( badan Cahya ) atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus (wong alus) mahkluk yang tidak kelihatan. Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari atau bagaskoro ( Jawa halus ).

Konon Ada 2 macam mahkluk halus :
1. Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan – diciptakan sebagai mahkluk halus.
2. Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh.

Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dan lain-lain, sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dan lain-lain.
Inilah kenyataannya yang bukan hanya merupakan ilusi atau bayangan semata, alam lain itu antara lain :

1. Merkayangan
Kehidupan di saluran ini hampir sama seperti kehidupan di dunia manusia, kecuali tidak adanya sinar terang seperti matahari.
Dalam dunia merkayangan mereka merokok, rokok yang sama seperti dunia manusia, membayar dengan uang yang sama, memakai macam pakaian yang sama, ada banyak mobil yang jenisnya sama di jalan-jalan, ada banyak pabrik-pabrik persis seperti di dunia manusia. Yang mengherankan adalah, mereka itu memiliki tehnologi yang lebih canggih dari manusia, kota-kotanya lebih modern ada pencakar langot, pesawat-pesawat terbang yang ultra modern dan lain-lain.
Ada juga hal-hal yang mistis di dunia Merkayangan ini, kadang-kadang bila perlu ada juga manusia yang diundang oleh mereka antara lain untuk : melaksanakan pertunjukkan wayang kulit, menghadiri upacara perkawinan, bekerja di batik, rokok dan manusia-manusia yang telah melakukan pekerjaan di dunia tersebut, mereka itu dibayar dengan uang yang syah dan berlaku seperti mata uang di dunia ini.

2. Jin – Siluman
Mahkluk halus ini konon suka tinggal didaerah yang ber air seperti di danau-danau, laut , samudera dan lain-lain, masyarakat siluman diatur seperti masyarakat jaman kuno. Mereka mempunyai Raja, Ratu, Golongan Aristokrat, Pegawai-pegawai Kerajaan, pembantu-pembantu, budak-budak dll. Mereka bisa tinggal di Keraton-keraton, rumah-rumah bangsawan, rumah-rumah yang bergaya kuno dan lain-lain.
Kalau orang pergi berkunjung ke Solo-Yogyakarta atau jawa Tengah, orang akan mendengar cerita tentang beberapa siluman antara lain : Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Laut Selatan), Ratu legendaris, berkuasa dan amat cantik, yang tinggal di istananya di Laut Selatan, dengan pintu gerbangnya Parangkusumo.
Parangkusumo ini terkenal sebagai tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, dalam pertemuan itu, Kanjeng Ratu Kidul berjanji untuk melindungi semua raja dan kerajaan Mataram.
Beliau mempunyai seorang patih wanita yang setia dan sakti yaitu Nyai Roro Kidul, kerajaan laut selatan ini terhampar di Pantai Selatan Pulau Jawa, di beberapa tempat kerajaan ini mempunyai Adipati. Seperti layaknya disebuah negeri kuno di kerajaan laut selatan ini juga ada berbagai upacara, ritual dan lain-lain dan mereka juga mempunyai angkatan perang yang kuat.

Sarpo Bongso-Penguasa Rawa Pening.
Sebuah danau besar yang terletak di dekat kota Ambarawa antara Magelang dan Semarang. Sarpo Bongso ini siluman asli, yang telah tinggal di telaga itu untuk waktu yang lama bersama dengan penduduk golongan siluman. Sedangkan kanjeng Ratu Kidul bukanlah asli siluman, beberapa abad yang lalu beliau adalah seorang Gusti dikerajaan di Jawa, tetapi patihnya Nyai Roro Kidul adalah siluman asli sejak beberap ribu tahun yang lalu.

3. Kajiman
Mereka hidup dirumah-rumah kuno di dalam masyarakat yang bergaya aristokrat, hampir sama dengan bangsa siluman tetapi mereka itu tinggal di daerah-daerah pegunungan dan tempat-tempat yang berhawa panas. Orang biasanya menyebut merak Jim.

4. Demit
Bangsa ini bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu, mereka itu seperti manusia hanya bentuk badannya lebih kecil.
Disamping masyarakat yang sudah teratur seperti Merkayangan, Siluman, Kajiman, dan Demit masih ada lagi dua menjelaskannya lebih detail, secara singkat kedua masyarakat itu adalah untuk mereka yang jujur, suci dan bijak.

Mahkluk halus yang tidak sempurna.
Disamping tujuh macam alam permanen tersebut, ada sebuah saluran yang terjepit, dimana roh-roh dari manusia-manusia yang jahat menderita karena kesalahan yang telah mereka perbuat pada masa lalu, ketika mereka hidup sebagai manusia.
Manusia yang salah itu pasti menerima hukumaan untuk kesalahan yang dilakukannya, hukuman itu bisa dijalani pada waktu dia masih hidup di dunia atau lebih jelek pada waktu sesudah kehidupan ( afterlife ) diterima oleh orang-orang yang sudah melakukan : fitnah, tidak jujur, prewangan ( orang yang menyediakan raganya untuk dijadikan medium oleh mahkluk halus ) blakmagic, guna-guna yang membuat orang lain menderita, sakit atau mati dll, pengasihan supaya dikasihi oleh orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar, membunuh orang dll perbuatan yang nista.
Memuja berhala untuk menjadi kaya ( pesugihan ) yang dimaksud dengan berhala dalam kejawen bukanlah patung-patung batu, tetapi adalah sembilan macam mahkluk halus yang katanya, suka menolong “ manusia supaya menjadi kaya dengan kekayaan meterial yang berlimpah.
Pemujaan terhadap kesembilan mahkluk jahat itu merupakan kesalahan fatal, mereka itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatan seperti :
1. Jaran Penoreh – kuda yang kepalanya menoleh kebelakang
2. Srengara Nyarap – anjing menggigit
3. Bulus Jimbung – bulus yang besar
4. Kandang Bubrah – kandang yang rusak
5. Umbel Molor – ingus yang menetes
6. Kutuk Lamur – senagsa ikan, penglihatannya tidak terang
7. Gemak Melung – gemak, semacam burung yang berkicau
8. Codot Ngising – kelelawar berak
9. Bajul Putih – buaya putih.

Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan dengan jalan memuja atau menggunakan “ jasa-jasa Baik “ berhala diatas, mereka tentu akan mendapat hukuman sesudah “ kematiannya “ badan dan jiwa mereka mendapat hukuman persyaratan sangkan paraning dumadi ( datang dari suci, di dunia inii hidup suci dan kembali lagi ke suci ).

Berbagai macam hukuman sesudah kehidupan :
Ini merupakan hukuman yang teramat berat, tidak ada penderitaan yang seberat ini, maka itu setiap orang harus berusaha untuk menghindarinya. Bagaimana caranya ? mudah saja : bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melakukan perbuatan yang baik dan benar, berkelakuan baik, jujur, suka menolong, jangan menipu, jangan mencuri, jangan membunuh, jangan menyiksa, jangan melakukan hal-hal yang jelek dan nista.
Ada pepatah Jawa yang bunyinya “ Urip iku mung mampir ngombe “ artinya hidup didunia ini hanyalah untuk mampir minum, itu artinya orang hidup didunia ini hanya dalam waktu singkat maka itu berbuatlah yang pantas/ ” pene r”.
WEWEDHARANIPUN TRI BAWANA
[ Jabaran tiga dunia ]

Bahasa Jawa :
1. Ayat ingkang sapisan, dipun wastani pambukaning tata mahligai ing dalem Baitalmakmur, kados makaten wewedharanipun :
Sajatine ingsun nata malige ing dalem Baitalmakmur iya iku enggon parameyaningsun jumeneng ana sirahing Adam, kang ana sajroning sirah iku dimak, iya iku utek kang ana antaraning Dimak iku manik, sajroning pranawa iku sukna, sajroning sukma iku rahsa, sajroning rahsa iku ingsun ora ana pangeran, anging ingsun dzat kang anglimputi ing kahanan jati.

2. Ayat ingkang kaping kalih dipun wastani pambukaning tata mahlige ing dalem Baitalmukharam, kados makten wewedharanipun :
Sajatine ingsun anata malige ing dalem baitalmukharam, iya iku enggon laranganingsun jumeneng ana jajaning Adam, kang ana sajroning dhada iku ati, kang ana antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, sajroning jinem iku sukma, sajroning sukma iku rahsa, sajroning rahsa iku ingsun, ora ana Pangeran anging ingsun dzat kang anglimputi kahanan jati.

3. Ayat ingkang kaping tiga dipun wastani pambukaning tata mahlige ing dalem Baitalmukadas, mekaten wewejanganipun :
Sajatine ingsun anata Malige ing dalem Baitalmukadas, iya iku enggon pasucen ingsun jumeneng ana ing kontholing Adam, kang ana ing sajroning konthol iku pringsilan, kang ada antaraning iku mutfah, iya iku mani sajroning mutfah iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahso sajroning rahso iku ingsun, ora ana Pangeran anging ingsun dzat kang anglimputi ing kahanan jati.

Menggah ingkang sami kapareng amedharaken wedharan triloka wau para wali 8 :
1. Susuhunan ing Giri Kadhaton
2. Susuhunan ing Kudus
3. Susuhunan ing Panggung
4. Susuhunan ing Majagung
5. Susuhunan ing Pancuran
6. Susuhunan ing Cirebon
7. Syeh Maulana Ibrahim Jatiswara
8. Susuhunan ing Kajenar

Dene anggenipun sami karsa amedharaken Triloka punika saking anggenipun sami ambabar kaelokaning Ilmi kasampurnan, ingkang kaangge witting Ilmi bangsa Sorogan, kadosta :
1. Kawasa saget andhatengaken salwiring sedya.
2. Anggenipun kawasa saget adamel lumpuhing para cidra, inggih punika bangsaning pangetisan.
3. Sami kawasa saget adamel sarana wewelikaning pandulu inggih punika kalebet Aji Sesulapan.
4. Sami anggelaraken bangsaning gendam, urawi puter giling sapanunggalanipun, nanging sadya kal wau nalika pakumpulan kaliyan Kanjeng Susuhunan ing Kalijogo inggih sami ajrih anggelaraken.

Purunipun adamel kaelokan sareng Kanjeng Susuhunan Ing Kalijaga sampun kayun widaraini, tegesipun gesang toya kalih wonten ing donya gesang, ing kahanan akhir inggih gesang, sanyata langgeng boten ewah gingsir mila waget jumeneng Gosul Alam, tegesipun dados musthikaning Sapta Bawana, inggih punika winenang mengku Bumi langit sap pitu, tetep gesang piyambak boten wonten ingkang anggesangi

Terjemahan :
1. Ayat yang pertama dinamakan terbukanya tata mahligai Baital Makmur wedarnya/jabarannya sebagai berikut :
Sebenarnya aku mengatur singgasana di dalam Baital Makmur, di situlah tempat kesenangan-KU, berada di kepala Adam, yang berada didalam kepala disebut dimak yaitu otak, yang berada diantara dimak itu manik, didalam manik itu pramana adalah pranawa, didalam pranawa itu adalah sukma itu adalah rahsa, didalam rahsa itu adalah aku, tidak ada Pangeran hanya dzat yang meliputi disemua keadaan.

2. Ayat yang kedua dinamakan terbukanya susunan singgasana dalam Baital Mukharam sebagai berikut :
Sebenarnya aku menata singgasana dalam Baital Mukharam itulah tempat larangan-larangan-KU, yang berada didada Adam, yang berada di dalam dada itu hati, yang berada diantara hati itu jantung, di dalam jantung itu budi, di dalam budi itu jinem, di dalam jinem itu sukma, didalam sukma itu rahsa dan di dalam rahsa itu aku, tidak ada Tuhan kecuali aku, Dzat yang emliputi semua keadaan .

3. Ayat ketiga dinamakan terbukanya susunan singgasana dalam Baital Mukadas sebagai berikut :
Sebenarnya aku menata singgasana dalam Baital Mukadas, rumah tempat yang aku sucikan berada didalam kelaminnya Adam, yang berada di dalam kelamin itu pelir, yang berada di dalam pelir itu mutfah yakni mani, di dalam mutfah adalah madi, di dalam madi itu manikem, di dalam manikem itu rahsa, di dalam rahsa itu adalah aku tidak ada Tuhan kecuali aku, dzat yang meliputi semua keadaan.

Adapun yang ditunjuk mewedarkan wedaran Triloka ialah delapan wali, sebagai berikut :
1. Sesuhunan di Giri Kedaton
2. Sesuhunan di Kudus
3. Sesuhunan di Panggung
4. Sesuhunan di Pajagung
5. Sesuhunan di Pancuran
6. Sesuhunan di Cirebon
7. Syeh Maulana Ibrahim Jatiswara
8. Sesuhunan di Kajenar
Adapun mereka mau mewedarkan Triloka itu, karena mereka telah menyaksikan kehebatan ilmu kasampurnan, yang dianggap menjadi kuncinya ilmu sorogan, misalnya :
1. Mampu mendatangkan semua yang dikehendaki
2. Mampu melumpuhkan orang yang berniat jahat, yaitu tergolong pangatisan.
3. Mampu membuat penglihatan menjadi berubah ialah sebangsa sulapan.
4. Mampu menggelarkan jenisnya dendam, atau puter giling dan sebagainya, tetapi semua itu ketika masih berkumpul dengan Sunan Kalijogo, mereka takut mempergunakan ilmu-ilmu tersebut.

Mereka membuat keanehan setelah Sunan Kalijogo sudah kayun widaraini artinya hidup di akherat pun hidup. Ternyata abadi tidak berubah oleh karenanya dapat menyandang sebagai Gosul Alam, artinya menjadi mustikanya tujuh lapis Bawana mempunyai wewenang menguasai Bumi dan langit lapis tujuh.

AL FAATIHAH ( BEBUKA )
Surat kaping 1 : 7 ayat
( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah, tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir )

Bahasa Arab :
1. Bismillahir rahmaanir rahim
2. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin
3. Arrahmanir rahiim
4. Maaliki yaumid diin
5. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in
6. Ihdinash shiraathal mustaqiim
7. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin

Bahasa Jawa :
1. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih.
2. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran, Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita.
3. Kang Maha Murah Maha Asih.
4. Kang Ngratoni ing dina Piwelas.
5. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah, saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan.
6. Dhuh Gusti Allah, mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres.
7. Inggih punika margi, Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan, sanes ingkang sami kabendon, tuwin sanes ingkang sami sasar.

Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah :
Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah, kados kasebut ing ngandhap punika :

1. Bab ‘aqaid utawi kaimanan ; punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil, ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w, makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami, sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah, sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan, ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak, lan nilar sadaya brahalanipun.

2. ‘Ibadah ; utawi ngumawula lan manembah ing Allah, ingkang kuwajiban sadaya titah, langkung-langkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). Ingkang baku wonten sekawan, inggih punika : Shalat, Zakat, Shiyam lan kesah Haji. Saking ingkang baku kasebut, lajeng tuwuh ‘ibadah memuji, ndedonga, dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah, weweweh lan tetulung ing sasaminipun, lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami.

3. Angger- angger Hukum lan Pernatan- pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan, upami hukum, politik, tatanagari, sosial, ekonomi, perang, dahme, sesambetan internasional, kabudayan sarta kesenian, agami, sesambetaning manungsa kaliyan Allah, lan lingkungan sapiturutipun.

4. Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu, sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman, nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih.

5. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa, sampun ngantos damel sejarah awon, gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya.

AYAT KURSI

Allahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul qayyuumu laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa nauum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil ardhi man dzal-ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi-idznihii ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum, walaa yuhiithuuna bisyai-im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa-a wasi’a kursiyyu hus-samaawaati wal-ardha walaa ya-uuduhuu hif zhuhumaa wa huwal ‘aliyyul ‘azhiim.
Allah ora ana Pangeran kang sinembah kajaba mung Panjenengane piyambak kang Sugeng sarta kang Jumeneng Pribadi,Allah iku ora kataman ngantuk lan ora kataman sare,Kagungane ALLAH samubarang kang ana ing langit lan samubarang kang ana ing bumi.Ora ana kang bisa aweh syafa’at ana ing ngarsaning Allah, kajaba manawa oleh palilahe. Allah iku Ngawuningani samubarang kang ana ing ngarep lan saburine wong-wong mau, dheweke mau ora ana kang padha bisa nglimputi sathithik bahe saka ilmuNE ALLAH, kajaba barang kang dadi kaparenging Karsane. Jembare kursine Allah iku amot langit lan bumi, panjenengane ora rekaos anggone rumeksa ing sakarone langit lan bumi, lan Panjenengane Allah iku Maha Luhur tur Maha Agung. (QS. Al Baqarah:255)

KAUTAMANING LAKU

1. Wong eling ing ngelmu sarak dalil sinung kamurahaning Pangeran.
2. Wong amrih rahayuning sesaminira, sinung ayating Pangeran.
3. Angrawuhana ngelmu gaib, nanging aja tingal ngelmu sarak, iku paraboting urip kang utama.
4. Aja kurang pamariksanira lan den agung pangapunira.
5. Agawe kabecikan marang sesaminira tumitah, agawea sukaning manahe sesamaning jalma.
6. Aja duwe rumangsa bener sarta becik, rumangsa ala sarta luput, den agung, panalangsanira ing Pangeran Kang Maha Mulya, lamun sira ngrasa bener lawan becik, ginantungan bebenduning Pangeran.
7. Angenakena sarira, angayem-ayema nalarira, aja anggrangsang samubarang kang sinedya, den prayitna barang karya.
8. Elinga marang Kang Murbeng Jagad, aja pegat rina lan wengi.
9. Atapaa geniara, tegese den teguh yen krungu ujar ala.
10. Atapaa banyuara, tegese ngeli, basa ngeli iku nurut saujaring liyan, datan nyulayani.
11. Tapa ngluwat, tegese mendhem atine aja ngatonake kabecikane dhewe.
12. Aprang Sabilillah, tegese prang sabil iku, sajroning jajanira priyangga ana prang Bratayudha, prang ati ala lan ati becik

sing sapa reka arsa anglakoni
amutiha lawan amawasa
patangpuluh dina wae
lan tangi wektu subuh lan den sabar sukur ing ati
Isya ALLAH tinekan sak karsaniku,
nyawabi nakrakyatira.
saking sawab ing ilmu pangiket mami,
duk uneng Kalijaga

SERAT SABDO JATI

Megatruh

1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu
MarGAne suka basuki
Dimen luWAR kang kinayun
Kalising panggawe SIsip
Ingkang TAberi prihatos

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.

7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.

14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.

17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon

Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon

Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).

SERAT KALATIDA

Sinom

1. Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.

2. Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara

Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.

3. Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka

Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.

4. Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.

5. Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.

6. Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.

7. Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.

8. Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.

9. Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.

10. Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma

Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.

11. Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan

Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.

12. Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya

Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.

SABDA TAMA

Gambuh

1. Rasaning tyas kayungyun
Angayomi lukitaning kalbu
Gambir wanakalawan hening ing ati
Kabekta kudu pitutur
Sumingkiring reh tyas mirong

Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening
disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal yang salah.

2. Den samya amituhu
Ing sajroning Jaman Kala Bendu
Yogya samyanyenyuda hardaning ati
Kang anuntun mring pakewuh
Uwohing panggawe awon

Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu
sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada kerepotan.
Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.

3.Ngajapa tyas rahayu
Nyayomana sasameng tumuwuh
Wahanane ngendhakke angkara klindhih
Ngendhangken pakarti dudu
Dinulu luwar tibeng doh

Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik.
Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga.
Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,
melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.

4. Beda kang ngaji mumpung
Nir waspada rubedane tutut
Kakinthilan manggon anggung atut wuri
Tyas riwut ruwet dahuru
Korup sinerung agoroh

Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung.
Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai,
selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.

5. Ilang budayanipun
Tanpa bayu weyane ngalumpuk
Sakciptane wardaya ambebayani
Ubayane nora payu
Kari ketaman pakewoh

Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.
Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.
Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya.
Akhirnya hanyalah kerepotan saja.

6. Rong asta wus katekuk
Kari ura-ura kang pakantuk
Dandanggula lagu palaran sayekti
Ngleluri para leluhur
Abot ing sih swami karo

Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.
Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu kala,
betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.

7. Galak gangsuling tembung
Ki Pujangga panggupitanipun
Rangu-rangu pamanguning reh harjanti
Tinanggap prana tumambuh
Katenta nawung prihatos

Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan kekurangannya.
Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir,
barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.

8. Wartine para jamhur
Pamawasing warsita datan wus
Wahanane apan owah angowahi
Yeku sansaya pakewuh
Ewuh aya kang linakon

Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah.
Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.

9. Sidining Kala Bendu
Saya ndadra hardaning tyas limut
Nora kena sinirep limpating budi
Lamun durung mangsanipun
Malah sumuke angradon

Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.
Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.
Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.

10. Ing antara sapangu
Pangungaking kahanan wus mirud
Morat-marit panguripaning sesami
Sirna katentremanipun
Wong udrasa sak anggon-anggon

Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,
penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan disana-sini.

11. Kemang isarat lebur
Bubar tanpa daya kabarubuh
Paribasan tidhem tandhaning dumadi
Begjane ula dahulu
Cangkem silite angaplok

Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan.
Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya dapat makan.

12. Ndhungkari gunung-gunung
Kang geneng-geneng padha jinugrug
Parandene tan ana kang nanggulangi
Wedi kalamun sinembur
Upase lir wedang umob

Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan
meskipun demikian tidak ada yang berani melawan.
Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa.
Bisa racun ular itu bagaikan air panas.

13. Kalonganing kaluwung
Prabanira kuning abang biru
Sumurupa iku mung soroting warih
Wewarahe para Rasul
Dudu jatining Hyang Manon

Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang
berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air.
Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.

14. Supaya pada emut
Amawasa benjang jroning tahun
Windu kuning kono ana wewe putih
Gegamane tebu wulung
Arsa angrebaseng wedhon

Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning (Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam akan menghancurkan wedhon (pocongan setan).
(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).

15. Rasa wes karasuk
Kesuk lawan kala mangsanipun
Kawises kawasanira Hyang Widhi
Cahyaning wahyu tumelung
Tulus tan kena tinegor

Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.

16, Karkating tyas katuju
Jibar-jibur adus banyu wayu
Yuwanane turun-temurun tan enting
Liyan praja samyu sayuk
Keringan saenggon-enggon

Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati dimanapun.

17. Tatune kabeh tuntun
Lelarane waluya sadarum
Tyas prihatin ginantun suka mrepeki
Wong ngantuk anemu kethuk
Isine dinar sabokor

Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang.
Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria.
Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil)
yang berisi emas kencana sebesar bokor.

18. Amung padha tinumpuk
Nora ana rusuh colong jupuk
Raja kaya cinancangan angeng nyawi
Tan ana nganggo tinunggu
Parandene tan cinolong

Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang dicuri.

19. Diraning durta katut
Anglakoni ing panggawe runtut
Tyase katrem kayoman hayuning budi
Budyarja marjayeng limut
Amawas pangesthi awon

Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik. Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang jelek.

20. Ninggal pakarti dudu
Pradapaning parentah ginugu
Mring pakaryan saregep tetep nastiti
Ngisor dhuwur tyase jumbuh
Tan ana wahon winahon

Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak ada yang saling mencela.

21.Ngratani sapraja agung
Keh sarjana sujana ing kewuh
Nora kewran mring caraka agal alit
Pulih duk jaman runuhun
Tyase teteg teguh tanggon

Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala. Semuanya berhati baja.

SERAT JOKO LODANG

Gambuh

1. Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.

2.Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung
akan tetap masih terlihat bekasnya.
Lain sekali dengan jurang yang curam.

3. Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan
akan terjadi pada tahun Jawa 1850.
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.

Sinom

1. Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

2. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.
Banyak ulama berbuat maksiat.
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

3. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi.
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.

Megatruh

1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.
Kemudian Joko Lodang berkata lagi :
“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya
segera dan dapat terjadi “.

2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil)
yang berada banyak dijalan.
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut
isinya tidak lain emas dan kencana.

R U W A T A N

Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya.
Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi pandangan hidup dan sikap hidup umumnya orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi direferensi nasehat-nasehat nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi isian jiwa seni dan budaya Jawa.
Dalam ungkapan ” Crah Agawe Bubrah – Rukun Agawe Santosa ” menghendaki keserasian dan keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati. Perlambang dan ungkapan-ungkapan halus yang mengandung pendidikan moral, banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya :

 Ojo Dumeh : Merasa dirinya lebih
 Mulat sarira, Hangrasa wani : Mawas diri, instropeksi diri
 Mikul Duwur, Mendem Jero : Menghargai dan menghormati serta menyimpan – rahasia orang lain.
 Jer Basuki Mawa Beya : Kesuksesan perlu atau butuh pengorbanan
 Ajining diri saka obahing lati : Harga diri tergantung ucapannya

Prinsip pengendalian diri dengan ” Mulat Sarira ” suatu sikap bijaksana untuk selalu berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, serta ” Aja Dumeh ” adalah peringatan kepada kita bahwa jangan takabur dan jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya yang masih mempunyai arti sangat luas.
Kepercayaan terhadap keberadaan roh nenek moyang, menyatu dengan kepercayaan terhadap kekuatan alam yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama dan bahkan memberi warna khususu dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat Jawa, yaiku : Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran, Akomodatif serta Optimistik.
Berbagai ungkapan dan ungkapan Jawa, merupakan cara penyampaian terselubung yang bisa bermakna ” Piwulang ” atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati.
Terkemas hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta kesenian wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna yang unik, yaitu dari akar yang kuat, berpegang pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal segala bentuk kesenian dari India dan menjadi sempurna begitu masuk agama Islam di Pulau Jawa.
Paham mistik Jawa yang berpokok ” Manunggaling Kawula Gusti ” ( persatuan manusia dengan Tuhan ) dan ” Sangkan Paraning Dumadi ” ( asal dan tujuan ciptaan ) bersumber pada pengalaman religius, berawal dari sana manusia itu rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh-pengaruh agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan Suluk.
Wayang sebagai pertunjukan, merupakan ungkapan-ungkapan dan pengalaman religius yang merangkum bermacam-macam unsur lambang, bahasa gerak,suara, warna dan rupa. Dalam wayang terekam ungkapan pengalaman religius yang ” kuno ” seperti tampak bahwa pada tahap perkembangannya dewasa ini, masih berperan pula mitos dan ritus, misalkan pada lakon Ruwat atau Murwa Kala.
Secara tradisional, wayang merupakan intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang diwarisi secara turun temurun, tidak hanya sekedar tontonan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam kehidupannya, namun juga merupakan tatanan yang harus dititeni kanti titis. ( merupakan hukum alam yang maha teratur yang harus diketahui dan disikapi secara bijaksana ) untuk menuju kasunyatan serta mencapai kehidupan sejati. Bagi manusia jawa ( manusia yang mengerti sejati ) wayang merupakan pedoman hidup, bagaimana mereka bertingkah laku dengan sesama dan bagaimana menyadari hakekatnya sebagai manusia serta bagaimana dapat berhubungan dengan sang penciptanya.
Tradisi “upacara /ritual ruwatan” hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita “wayang” dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.
Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut “Kama salah kendang gumulung “. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi, agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).
Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sebagai berikut :
1. Alat musik jawa ( Gamelan )
2. Wayang kulit satu kotak ( komplit )
3. Kelir atau layar kain
4. Blencong atau lampu dari minyak

Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:
1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.

2. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.

3. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).
5. Bermacam-macam nasi antara lain :
a. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dan sebagainya.
b. Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.
c. Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

6. Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

7. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

8. Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.

9. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

10. Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

11. Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.

12. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.
Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.

Yang perlu atau harus di Ruwat
Menurut kepustakaan ” Pakem Ruwatan Murwa Kala ” Javanologi gabungan dari beberapa sumber, antara lain dari Serat Centhini ( Sri Paku Buwana V ), bahwa orang yang harus diruwat disebut anak atau orang ” Sukerta ” ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai berikut :

1. Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal

3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan

4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki

5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi ( placenta )

6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan ( yang lahir pada saat bersamaan )

7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan

8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan

9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki

10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan

11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anakyang semuanya laki-laki

12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan

13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki

14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan
9
15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam

16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari

17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang

18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal

19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir

20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus

21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan

22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah

23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macem warna, misalnya hitam dan putih

24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih ” bule “

25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam

26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil

27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok

28. Dengkak, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta

29. Wujil, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek

30. Lawang Menga, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya ” Candikala ” yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan

31. Made, yaitu anak yang lahir tanpa alas ( tikar )

32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan ” Dandhang ” ( tempat menanak nasi )

33. Memecahkan ” Pipisan ” dan mematahkan ” Gandik ” ( alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).

34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada ” tutup keyongnya “

35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei ( penutup kasur ).

36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.

37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.

38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat ( dandhang – misalnya ) tanpa ada tutupnya.

39. Orang yang membuat kutu masih hidup.

40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.

41. Orang yang duduk didepan ( ambang ) pintu.

42. Orang yang selalu bertopang dagu.

43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.

44. Orang yang mengadu suatu wadah atau tempat ( misalnya dandhang diadu dengan dandhang )

45. Orang yang senang membakar rambut.

46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu ( galar ).

47. Orang yang senang membakar kayu pohon ” kelor “.

48. Orang yang senang membakar tulang.

49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.

50. Orang yang suka membuang garam.
51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.

52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah ( dikolong ) tempat tidur.

53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.

54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam ( wayah surup ).

55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang ( wayah bedhug )

56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.

57. Orang yang menanak nasi, kemudian ditinggal pergi ketetangga

58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.

59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam ” lesung ” ( tempat penumbuk nasi )

60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran ” wijen ” ( biji-bijian )

Demikainlah 60 jenis ” Sukerta ” yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan oleh Sang Hyang Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan atau makananya, bahkan menurut Pustaka Raja Purwa ( jilid I halaman 194 ) karya pujangga R.Ng Ranggawarsito disebutkan ada 136 macam Sukerta.
Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut di atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka ( menjadi makanan Betara Kala ) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan atau ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon ruwatan yang misalanya : Baratayuda, Sudamala, Kunjarakarna dan lain-lain.
Selain Sukerta, terdapat juga ” Ruwat Sengkala atau Sang Kala ” yang artinya menjadi mangsa Sangkala yaitu jalan kehidupannya sudah terbelenggu serta penuh kesulitan, tidak bisa sejalan dengan alur hukum alam ( ruang dan waktu ) ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah lakunya pada masa lalu.

BIBIT – BOBOT – BEBET

Fatwa leluhur tersebut bermaksud agar orangtua malaksanakan pemilihan yang seksama akan calon menantunya atau bagi yang berkepentingan memilih calon teman hidupnya. Pemilihan ini jangan dianggap sebagai budaya pilih-pilih kasih, tapi sebenarnya lebih kepada kecocokan multi dimensi antara sepasang anak manusia. Kriteria yang dimaksud yaitu :

Bibit : yang berarti biji / benih
Bebet : yang berarti jenis / tipe
Bobot : yang berarti nilai / kekuatan

Untuk memilih menantu pria atau wanita, memilih suami atau isteri oleh yang berkepentingan, sebaiknya memilih yang berasal dari benih (bibit) yang baik, dari jenis (bebet) yang unggul dan yang nilai (bobot) yang berat.
Fatwa itu mengandung anjuran pula, janganlah orang hanya semata-mata memandang lahiriyah yang terlihat berupa kecantikan dan harta kekayaan. Pemilihan yang hanya berdasarkan wujud lahiriah dan harta benda dapat melupakan tujuan “ngudi tuwuh” mendapatkan keturunan yang baik, saleh, berbudi luhur, cerdas, sehat wal afiat, dan sebagainya.

Cinta, Waspada dan Pertunangan.
Peribahasa mengatakan: “cinta itu buta”. Berpedoman, bahwa hidup suami isteri itu mengandung cita-cita luhur yaitu mendapatkan keturunan yang baik, maka janganlah menuruti kata peribahasa tersebut. Pada hakekatnya peribahasa itu sendiri pun mengandung “peringatan”. Memperingatkan, agar supaya dalam bercinta tidak buta mata hati, mata kepala, dan pikiran.
Cinta kasih yang berhubungan erat dengan cita-cita justru harus diliputi oleh waspada dalam hati dan pikiran. Waspada akan tingkah kelakuan satu sama lain dan waspada akan penggoda di dalam hatinya sendiri. Kewaspadaan itu menghendaki pengamatan dan penghayatan satu sama lain mengenai sikap dan pendirian terhadap hal-hal yang penting yang sudah pasti dijumpai dalam hidup antara lain soal keluarga, agama, kemasyarakatan, dan sebagainya.
Perbedaan sikap dan pendirian terhadap hal-hal yang penting (prinsip) seperti diatas, niscaya akan mengakibatkan kesukaran dikemudian hari. Persesuaian haruslah timbul dari keyakinan dan tidak dengan membohongi diri sendiri, misalnya dengan berjanji atau memberi berkesanggupan dengan sumpah lisan atau tulisan, pernikahan di muka kantor pencatatan sipil, dan lain sebagainya tetapi di dalam hati masih ada keraguan.
Pertunangan dengan atau tanpa tukar cincin adalah usaha untuk mendekatkan pria dan wanita yang menjalin kisah dan hendak hidup sebagai suami isteri. Pertunangan tidak boleh diartikan lalu boleh bergaul sebebas-bebasnya hingga perbuatan sebagai suami isteri. Dalam hal itu calon isteri haruslah teguh hati, mencegah jangan sampai terjamah kehormatannya. Ingatlah, bahwa calon suami atau istri itu bukan atau belum suami atau istrinya. Sekali terjadi peristiwa dan sang wanita hamil tidak mustahil menjadi persoalan sebagai pangkal persengketaan. Kalau sang pria ingkar, pertunangan putus, sang wanita menjadi korban.

P E R K U T U T

Kegemaran memelihara burung perkutut /klangenan Perkutut merupakan warisan budaya jawa yang hingga kini masih dilestarikan, hal ini dimungkinkan di dalamnya mengandung nilai-nilai ajaran yang adiluhung sifatnya. Para leluhur kita, khususnya orang Jawa, telah menempatkan burung Perkutut begitu terhormat dibanding jenis burung yang lain. Burung Perkutut dianggap punya tuah mistis yang bisa disejajarkan dengan tuah mistis pusaka (keris dan azimat lainnya).
Berkaitan dengan tuah mistis Perkutut tersebut leluhur Jawa mewariskan ilmu tentang “katuranggan Perkutut” ( ilmu hal ihwal perkutut ). Berdasar ilmu katuranggan tersebut, bisa diketahui pengaruh burung Perkutut (yang mempunyai ciri-ciri tertentu) terhadap pemiliknya. Ada burung yang setengah dianjurkan untuk dipelihara, ada juga jenis yang tidak boleh dipelihara oleh sembarang orang.
Memelihara Perkutut dulunya lebih cenderung kepada suatu klangenan. Artinya barang (dalam hal ini, burung) yang dimiliki bisa memberikan rasa senang dalam batin atau bisa mempersembahkan keindahan kepada pemiliknya. Dalam bahasa Jawa Kuno mempersembahkan keindahan istilahnya kalangon atau kalangwan. Barangkali pula kata klangenan dalam bahasa Jawa kini berasal dari kata kalangon atau kalangwan tadi. Sudah barang tentu yang bisa mempunyai klangenan pada waktu dulu adalah golongan masyarakat priyayi, berduit, atau punya kedudukan penting di tengah masyarakat. Dengan demikian pengetahuan tentang Perkutut tidak bisa merambah ke rakyat biasa. Alasannya, rakyat kebanyakan belum pas mempunyai klangenan, dikarenakan kesibukannya dalam mencari nafkah.
Bagi rakyat biasa biasanya hanya sebagai penangkap burung (tukang pikat). Dikarenakan Perkutut sebagai klangenan, maka para penangkap burung memburu burung yang bagus kualitas suaranya memenuhi pesanan para priyayi yang tinggal di kota. Sebaliknya para pemelihara yang menganggap burung yang dipelihara sebagai klangenan, maka tidak terpikirkan untuk membudidayakan atau mengembang biakkan dengan cara diternak. Akibatnya Perkutut di alam bebas semakin langka yang bagus, bahkan cenderung punah.
Jaman sekarang kegemaran memelihara Perkutut sebagai klangenan khas Jawa ini, rupanya telah menular kepada etnis Tionghoa yang tinggal di bumi Jawa. Barangkali oleh orang Tionghoa yang bernaluri bisnis tinggi, menganggap Perkutut bisa dijadikan sarana berhubungan dengan kekuasaan yang ada. Dan kalau hubungan dengan kekuasaan terjadi, maka lancarlah bisnisnya.
Orang-orang Tionghoa memang sangat jeli melihat peluang bisnis. Begitu mengetahui burung Perkutut di alam bebas Indonesia mendekati kepunahan, mereka mendatangkan burung Perkutut dari Thailand. Semula Perkutut Bangkok kurang menarik bagi penggemar di Indonesia, karena suaranya kurang memenuhi selera. Kesannya hanya besar tapi tanpa lagu. Para pedagang burung Thailand (yang awalnya kebetulan juga etnis Tionghoa) sangat kreatif untuk memenuhi selera pasar di Indonesia. Disamping mereka mengekspor burung ke Indonesia, juga membeli burung dari Indonesia.
Perkutut Indonesia itu kemudian disilangkan dengan Perkutut Bangkok. Bahkan persilangan begitu berkembang dengan berbagai jenis Perkutut yang ada di Asia Tenggara. Dan hasilnya burung Perkutut Bangkok yang di ekspor ke Indonesia bisa memenuhi selera penggemar di Indonesia. Sampai saat ini hubungan silang menyilang Perkutut antara Indonesia dan Thailand terus berlanjut. Maka semakin menarik dan menjadi tantangan bagi kita, Bangsa Indonesia, untuk menggeluti Budidaya Perkutut agar warisan budaya ini bisa dilestarikan.
Pada awal pertama seseorang berminat untuk memelihara burung Perkutut seyogyanya berusaha memahami lebih dahulu tentang dasar suara burung Perkutut. Pada masa sekarang, bunyi yang diminati para penggemar sudah mengalami perubahan.

Meskipun demikian tetap saja menggunakan 5 (lima) pokok dasar penilaian suara :

1. Suara depan : hoor, kini telah berkembang dari nilai rendah ke atas : Hoor, Klaar, Wee, Kleo, dan Klao.

2. Suara tengah : kete, berkembang dalam beberapa jenis : – telon : te , sehingga bunyinya : hoor te kuung – engkel : tete, sehingga bunyinya : hoor tete kuung – satu setengah : tetete, sehingga bunyinya : hoor tetete kuung – double : tete tete, sehingga bunyinya : hoor tete tete kuung – double setengah : tete tetete, sehingga bunyinya : hoor tete tetete kuung – triple : tete tete tete, sehingga bunyinya : hoor tete tete tete kuung

3. Suara belakang : kuung merupakan yang terbaik, dibawahnya kooo, kemudian kuuk yang terendah nilainya.

4. Irama : merupakan perpaduan suara depan, tengah, dan belakang. Yang bagus lelah atau laras (Jawa). Ketukan iramanya terdengar merdu menyentuh rasa keindahan, seolah-olah menjadi perantara antara yang ada dan suwung.
Ibarat suara gamelan dalam Pathet Manyura atau Pathet 9 yang mempunyai pengaruh menenangkan. Sedang irama yang kurang baik adalah yang groyok dan rentet, suaranya mempengaruhi perasaan menjadi gelisah.

5. Dasar suara atau latar. Jenisnya beberapa macam, diantaranya : – Cowong tembus : bening merdu dan mendengung, kira-kira seperti suaranya Pavaroti atau Nyi Condro Lukito. – Cowong : merdu jangkauan suaranya sedang, Kristal : melengking tinggi dan terdengar jelas bunyi (ng). – Arum : suara sedang tanpa bunyi (ng) – Alus atau ulem (Jw.) – Kaku atau keras (atos, Jw.), belakangnya terkunci bunyi (k) : hoor kete kuuk – Tebal (Kandel) : mantap terdengarnya. – Tipis (lemah) : lirih suaranya.

Perpaduan lima dasar penilaian suara tersebut yang menentukan bagus tidaknya suara Perkutut. Hal ini sulit dijelaskan dengan tulisan, maka kami anjurkan untuk mendengar langsung secara praktek kalau ada lomba atau latihan lomba. Pada dasarnya suara burung Perkutut tidak ada yang sama persis meskipun berasal dari induk yang sama. Maka memilih suara butung Perkutut untuk klangenan subyektif sekali sifatnya. Kecocokan hati setiap orang terhadap suatu jenis suara burung perkutut tidak sama.
Maka suatu anjuran yang sederhana dan sekiranya bisa dijadikan pedoman adalah memilih suara burung yang cocok dengan hati dan perasaan kita masing-masing. Dengan demikian semakin mengendap kemampuan spiritual seseorang akan semakin mudah menemukan suara burung Perkutut yang sesuai dengan citarasanya.
Maka bisa dipahami juga kalau pada para penghayat Spiritualisme Jawa kebanyakan juga penggemar Perkutut. Memang pada dasarnya untuk bisa memahami tentang suara Perkutut dituntut pula pemahaman tentang hidup yang selaras dan tenteram serta menjauhi semua kemungkinan persengketaan dengan siapapun termasuk dengan alam.
Yang diinginkan adalah keindahan yang selaras sebagaimana kebanyakan orang Jawa berpandangan hidup. Dalam bahasa Jawa Kuno dikenal kata Kalangwan atau Kalangon yang artinya mempersembahkan keindahan. Dari akar kata Kalangon itulah muncul kata Klangenan yang barangkali artinya menangkap atau bergumul dengan keindahan.

Perkutut Putih.
Menurut wacana kejawen, perkutut putih dipercaya membawa kekuatan magis. RM Ng Prodjosudardjo yang paranormal menyebutkan sebagi burung siluman, jelmaan roh. Konon bisa membawa keberuntungan bagi yang memelihara, tak heran berung jenis ini tidak hanya diburu para hobi. tetapi juga mereka yang meyakini akan manfaat tuahnya
Sayangnya perkutut putih amat sangat langka, jangankan yang sudah ” kung ” belum bisa apa pun asal seluruh bulunya warna putih orang sudah berani menawar dengan harga tinggi. Terlepas dari kata tidaknya, unsur magis menurut Ir. Suharno Budi Santosa, perkutut putih sebenarnya merupakan kasus penyimpangan gen. Ini kasus langka dalam khasanah perkutut. Prosentasenya sangat kecil dan belum tentu satu kasus dari seribu perkutut.
Berdasarkan ciri fisik, akibat penyimpangan gen, perawakan maupun suara perkutut putih lebih jelek ketimbang perkutut biasa. Serba lebih kecil. Yang kata, perkutut putih tidak bisa ditangkarkan , karena rata-rata perkutut putih itu mandul.
Mengamati kebiasaan serta perilakunyajenis perkutut ini , sebenarnya tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang mencolok dibanding perkutut normal. Sehingga kadang mengherankan, kenapa perkutut macam begini harganya bisa setinggi langit, bisa puluhan juta rupiah.
Perkutut putih tidak setiap saat bisa didapat, di pasar burung tradisional apalagi begitu sulitnya mencari perkutut putih, sementara kenyataan permintaan pasar cukup tinggi, sering membuat orang berbuat curang, sehingga bagi pemula sulit membedakan perkutut putih asli dengan yang ” sudah dipermak “

Adapun sebagai acuan ciri ciri yang asli :
Paruhnya harus juga putih,namun agak kemerahan,kaki merah muda,bulu ekor bagian bawah walaupun segaris/se titik biasanya ada unsur warna coklat,demikian juga bulu sayap ada motif bintik bintik (blirik) transparan coklat kemerahan.

GUNUNG LAWU

Di atas ketinggian 3.265 meter dari permukaan laut, puncak Gunung Lawu yang merupakan bentukkan dari sisa kawah tak aktif, menjadi daerah tujuan wisatawan menikmati lembah Tawangmangu yang menawan, Sarangan dengan danau indahnya, birunya Laut Selatan, hingga suguhan sunset dan sunrise.
Bahkan, desa dan kota-kota di sekitarnya, termasuk Solo, menyuguhkan pesona dan keindahan luar biasa jika dinikmati dari Puncak Lawu. Keindahan kian mencekam saat awan datang menebarkan selimut mayanya. Perbukitan sontak disulap bak pulau kecil berbatas lautan awan. Tak ubahnya, pengunjung seolah berada di atas awan laiknya kahyangan.
Di balik keindahan yang memukau, Puncak Lawu merupakan sosok angker yang menyimpan misteri. Setidaknya ada tiga tempat yang dikeramatkan, yaitu; Puncak Argo Dalem, Argo Dumilah dan Argo Dumiling.
Diyakini, Argo Dalem adalah tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya, sedangkan Arga Dumiling sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon. Sementara Arga Dumilah masih tetap menjadi misteri yang sering dipakai sebagai arena olah batin dan meditasi.
Keangkeran Puncak Lawu tak lepas dari cerita tentang Raja Majapahit, Prabu Brawijaya. Konon, melihat salah seorang anaknya, Raden Patah, masuk Islam dan mendirikan kerajaan islam di Demak, Sang Prabu yang memeluk agama Budha merasa gelisah. Muncul kegamangan tentang kelangsungan Kerajaan Majapahit.
Untuk itu, dia bermeditasi, memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Wisik pun datang yang mewartakan adanya kerajaan dan agama baru. Rampung meditasi Sang Prabu berpesan kepada para abdinya mengenai saatnya ia turun dari kejayaan. Sang Prabu juga berbagi wilayah kepada para abdinya, siapa yang menguasai Gunung Lawu dan semua mahluk gaib hingga batas yang ia tentukan. Yakni ke barat hingga Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan, dan ke utara sampai pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu.
Dan Prabu Barawijaya pun moksa di Argo Dalem, dan abdinya, Sabdopalon moksa di Arga Dumiling. Tinggalah dua abdinya yang lainnya, Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Prabu Brawijaya.

Selain tiga puncak tadi, masih banyak tempat lain di Gunung lawu yang diyakini mempunyai nilai spiritual, diantaranya:

 Sumur Jolotundo = Lokasi yang diyakini Prabu Brawijaya menerima wangsit dalam perjalanan naik ke Puncak Lawu. Gua yang gelap dan curam sedalam kurang lebih 5 meter sering dipakai untuk bertapa.

 Lumbung Selayur = Di lokasi ini terdapat sumur yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan para pengikut Prabu Brawijaya.

 Pawon Sewu = Terletak pada pertengahan perjalanan pendakian menuju ke Puncak Lawu. Di tempat ini para pengikut Prabu Brawijaya mendirikan dapur untuk memasak makanan.

 Gua Selarong = Gua ini dimanfaatkan para pengikut Prabu Brawijaya untuk bermalam sekaligus sebagai tempat pemantauan.

 Sendang Intan = Menurut kepercayaan penduduk setempat, di sendang ini para wisatawan dapat memohon berkah dengan cara minum air langsung ke mulut masing-masing dengan menengadahkan muka. Semakin banyak air yang didapat semakin banyak pula berkah yang diperoleh.

 Jurang Pangari-Arip = Bila para pendaki sudah mencapai tempat ini, mereka mempunyai harapan untuk dapat mencapai Puncak Lawu. Dari tempat ini para pendaki dapat melihat Kawah Condrodimuko.

 Sendang Derajad = Menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila para wisatawan mempunyai cita-cita atau niat tertentu dapat terkabul apabila mandi di sendang ini.

 Kepatihan:Tengen = Lokasi ini merupakan tempat peristirahatan pengikut Prabu Brawijaya.

 Pasar Diyeng : Di sini para pengikut Prabu Brawijaya mendirikan pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 Pandean Suroloyo : Di tempat ini para pengikut Prabu Brawijaya membuat pusaka dan persenjataan mereka.

 Telaga Kuning : Telaga ini merupakan tempat mandi putra-putri pengikut Prabu Brawijaya.

 Argo Fruso : Di tempat ini Raja Brawijaya menyimpan pusaka-pusakanya.

 Kayangan : Tempat ini merupakan taman yang sangat indah tempat istirahat sambil menikmati pemandangan alam yang indah.

 Selo Pundutan : Merupakan tempat untuk latihan olah kanuragan pengkiut Prabu Brawijaya dan masih dipergunakan sampai sekarang oleh para pendaki puncak Lawu.

Patuhi aturan
Karena keangkerannya, siapa pun yang hendak pergi ke puncaknya diharap mematuhi ‘aturan’. Yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Menurut penduduk setempat, beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar, diantaranya jangan mendaki jika jumlahnya ganjil, karena ‘penguasa’ gunung akan menggenapkannya dengan mengambil salah satu dari mereka. Pantangan lain, jangan pernah sekali-kali menyombongkan diri, misalkan dengan angkuh mengatakan bahwa mendaki Gunung Lawu tidak sulit dan sebagainya, karena akan mengalami celaka.

GUNUNG MERAPI

Kepercayaan serta kosmologi manusia Gunung Merapi didasarkan dalam Legenda Kyai Sapujagad. Cerita legenda itu terjadi pada waktu Kerajaan Mataram kedua muncul dan mengambarkan hubungan pendiri kerajannya yaitu ‘Panembahan Senopati’ dengan dunia gaib.
Kosmologi manusia Daerah Gunung Merapi terdiri dari lima bagian yaitu Kraton Mataram Yogyakarta di tengah yang berada di dunia manusia dan Kraton Mahluk Halus Gunung Merapi ke utara, Kraton Laut Selatan ke selatan, Gunung Lawu ke timur dan Khayangan, Dlephih ke barat yang berada dalam dunia gaib. Akibatnya dari Legenda Kyai Sapujagad adalah perjanjian bahwa Kraton Mataram Yogyakarta bertanggungjawab untuk memberi sesajian kepada para mahluk halus di empat tempat yang lain dalam kosmologi manusia. Dalam kembalinya rakyatnya akan dilindungi oleh para mahluk halus tersebut. Perjanjian itu berbentuk Upacara Labuhan yang dilakukan setiap tahun sekali dan mulai pada tanggal 25 bulan Bakdamulud di Laut Selatan.
Kraton Mahluk Halus Merapi di dalam kosmologi Kraton Yogyakarta dipercayai oleh penduduk dipimpin oleh mahluk halus bernama ‘Empu Rama’ dan ‘Permadi’ dan menurut orang yang lain oleh ‘Kyai Merlapa. Selain pemimpin di dalam kratonnya penduduk juga percaya dalam macam-macam tokoh lain yang mendiami kraton itu. Kepercayaan manusia tentang Kraton Mahluk Halus Merapi tidak hanya dipercayai oleh Kraton Yogyakarta tetapi juga memperluas sampai rakyat desa-desa di lereng gunungnya. Rakyat tersebut punya kepercayaan tentang dunia akhirat.
Menurut mereka waktu manusia meninggal rohnya akan mendiami tempat-tempat yang tergantung pada perlakuan hidupnya. Kalau orang waktu manusia melakukan hidupnya yang baik, rohnya akan tinggal di dalam Kraton Mahluk Halus Merapi atau Kraton laut Selatan. Sebaliknya kalau orang waktu manusia melakukan hidupnya yang tidak baik, rohnya akan dibuang dari kratonnya dan mendiami batu, pohon, tempat sepi dan sebagainya. Selain kepercayaan dunia akhirat itu manusia Gunung Merapi juga punya kepercayaan mengenai tempat-tempat angker serta binatang-binatang sakral di daerahnya.
Menurut kepercayaan penduduk daerah Gunung Merapi kalau gunungnya akan meletus mahluk halus Kraton Merapi akan memberikan tanda kepada manusia. Biasanya tanda itu dalam bentuk mimpi yang termia oleh para dukun atau ‘juru kunci’ Gunung Merapi.
Dari dua daerah penelitian ditemukan beberapa persamaan dan hanya sedikit saja perbedaan. Walaupun kepercayaan manusia di dalam kedua daerah penelitian memang adalah kepercayaan berbeda, kepercayaannya didasarkan dalam asal usul yang sama. Dalam pemeriksaan ke dalam asal usulnya ditemukan tiga unsur yang bersama. Semua legenda dan upacara didasarkan dan disah dalam sejarah, yaitu Daerah Tengger bersejarah kerajaan Majapahit dan Daerah Gunung Merapi bersejarah kerajaan Mataram kedua.
Lagi pula kebanyakan kepercayaan manusia terhadap gunung berunsur agama Hindu-Budha dari zaman kerajaan Hindu-Budha atau kepercayaan animisme dari zaman prasejarah. Kalau orang Jawa beragama Islam, Kristen atau agama yang lain biasanya mereka juga punya kepercayan yang berasal Jawa. Dalam kepercayaan manusia berasal Jawa tersebut gunung-gunung memang berperan yang sangat penting.

HA NA CA RA KA

HURUF BACA MAKNA HURUF

Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci

Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candara-pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi

Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi-satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal

Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani

Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya

Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup

Sa Sifat ingsun handulu sifatullah- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan

Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas

La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi

Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah

Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar

Ja Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya

Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah /kodrat Illahi

Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin – mantap dalam menyembah Ilahi

Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani

Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam

Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niatan

Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi -manusia

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Filsafat ha-na-ca-ka-ra yang diungkapan Paku Buwana IX dikutip oleh Yasadipura sebagai bahan sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang dibawakan Yasadipura adalah ” Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta Haksara Jawi kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton Surakarta Hadiningrat “. Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura ( 1992 : 9 – 10 ) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran ( filsafat hidup ) berdasarkan aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi, sebagai berikut.

Nora kurang wulang wuruk tak kurang piwulang dan ajaran
Tumrape wong tanah Jawi bagi orang tanah Jawa
Laku-lakune ngagesang perilaku dalam kehidupan
Lamun gelem anglakoni jika mau menjalaninya
Tegese aksara Jawa maknanya aksara Jawa
Iku guru kang sejati itu guru yang sejati

Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa itu sebagai berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Serat Wulang Sunu
Karya : PakuBuwono IV

Latar belakang dan tujuan ditulisnya Serat Wulang Sunu
Pada abad 18-19 M, kondisi politik kerajaan Surakarta dalam penjajahan bangsa Eropa, Paku Buwana IV telah beberapa kali berusaha mengusir penjajah tersebut. Akibat dari penjajahan bangsa Eropa telah membuat rakyat Surakarta menjadi sengsara baik lahir maupun bathin. Suasana kehidupan semakin berat dan sulit, tidak ada kegembiraan kerena kesusahan yang tiada akhir. Pihak istana yang diharapkan sebagai perlindungan rakyat Surakarta, sudah tidak mampu lagi kerena kekuasaannya telah dirampas oleh penjajah, untuk itulah Paku Buwana IV dan para pujangga lainya mencoba mengalihkan kegiatan istana kepada kerohanian. Hal tersebut mempunyai maksud untuk memberikan pengajaran atau panutan kepada rakyat Surakarta khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Untuk mengembalikan atau membuat suasana tentram, damai dan makmur rakyat Surakarta, maka Paku Buwana IV mencoba menulis nasehat-nasehat dalam bentuk karya sastra, diantaranya adalah Serat Wulang Sunu. Dengan karya sastra tersebut Paku Buwana IV berharap kepada rakyat Surakarta mempunyai pegangan hidup di dunia ini untuk menjalani kehidupan sehari-hari dalam kaitannya mencari ilmu, etika, terhadap guru, terhadap orang tua dan sesama manusia.
Dalam hal menyembah kepada Allah juga sangat ditekankan oleh Paku Buwana IV, beberapa hal tersebut merupakan ajaran pokok Paku Buwana IV dalam rangka menciptakan perikehidupan masyarakat Jawa yang damai dan tentram tidak melanggar aturan dan larangan sehingga nantinya akan selamat baik di dunia maupun di akherat yang menjadi tujuan bagi seluruh umat manusia.

P u p u h I

a) Wulang sunu kang kinarya gendhing, kang pinurwa tataning ngawula, suwita ing wong tuwane, poma padha mituhu, ing pitutur kang muni tulis, sapa kang tan nuruta saujareng tutur, tan urung kasurang-surang, donya ngakir tan urung manggih billahi, tembe matine nraka.

b) Mapan sira mangke anglampahi, ing pitutur kang muni ing layang, pasti becik setemahe, bekti mring rama ibu duk purwa sira udani, karya becik lan ala, saking rama ibu, duk siro tasih jajabang, ibu iro kalangkung lara prihatin, rumeksa maring siro.

c) Nora eco dahar lawan ghuling, ibu niro rumekso ing siro, dahar sekul uyah bae, tan ketang wejah luntur, nyakot bathok dipunlampahi, saben ri mring bengawan, pilis singgul kalampahan, ibu niri rumekso duk siro alit, mulane den rumongso.

d) Dhaharira mangke pahit getir, ibu niro rumekso ing sira, nora ketang turu samben, tan ketang komah uyuh gupak tinjo dipun lampahi, lamun sira wawratana, tinatur pinangku, cinowekan ibu nira, dipun dusi esok sore nganti resik, lamun luwe dinulang.

e) Duk sira ngumur sangang waresi, pasti siro yen bisa rumangkang, ibumu momong karsane, tan ketang gombal tepung, rumeksane duk sira alit, yen sira kirang pangan nora ketang nubruk, mengko sira wus diwasa, nora ana pamalesira, ngabekti tuhu sira niaya.

f) Lamun sira mangke anglampahi, nganiaya ing wong tuwanira, ingukum dening Hyang Manon, tembe yen lamun lampus, datan wurung pulang lan geni, yen wong durakeng rena, sanget siksanipun, mulane wewekas ingwang, aja wani dhateng ibu rama kaki, prentahe lakonano.

g) Parandene mangke sira iki, yen den wulang dhateng ibu rama, sok balawanan ucape, sumahir bali mungkur, iya iku cegahen kaki, tan becik temahira, donya keratipun, tan wurung kasurang-kasurang, tembe mati sinatru dening Hyang widhi, siniksa ing Malekat.

h) Yen wong anom ingkang anastiti, tan mangkana ing pamang gihira, den wulang ibu ramane, asilo anem ayun, wong tuwane kinaryo Gusti, lungo teko anembah iku budi luhung, serta bekti ing sukma, hiyo iku kang karyo pati lan urip, miwah sandhang lan pangan.

i) Kang wus kaprah nonoman samangke, anggulang polah, malang sumirang, ngisisaken ing wisese, andadar polah dlurung, mutingkrang polah mutingkring, matengkus polah tingkrak, kantara raganipun, lampahe same lelewa, yen gununggungsarirane anjenthit, ngorekken wong kathah.

j) Poma aja na nglakoni, ing sabarang polah ingkang salah tan wurung weleh polahe, kasuluh solahipun, tan kuwama solah kang silip, semune ingeseman ing sasaminipun, mulaneta awakingwang, poma aja na polah kang silip, samya brongta ing lampah.

k) Lawan malih wekas ingsun kaki, kalamun sira andarbe karsa, aja sira tinggal bote, murwaten lan ragamu, lamun derajatiro alit, aja ambek kuwawa, lamun siro luhur, den prawira anggepiro, dipun sabar jatmiko alus ing budi, iku lampah utama.

l) Pramilane nonoman puniki, dan teberi jagong lan wong tuwa, ingkang becik pituture, tan sira temahipun, apan bathin kalawan lahir, lahire tatakromo, bathine bekti mring tuhu, mula eta wekasing wong, sakathahe anak putu buyut mami, den samya brongta lampah.

Terjemahan Pupuh I :

a) Wulang sunu yang dibuat lagu, yang dimulai dengan tata cara berbakti, bergaul bersama orang tuanya, agar semuanya memperhatikan, petunjuk yang tertulis, siapa yang tidak mau menurut, pada petunjuk yang tertulis, niscaya akan tersia-sia, niscaya dunia akherat akan mendapat malapetaka, sesudah mati di neraka.

b) Bila nanti kamu melaksanakan petunjuk yang tertuang dalam serat pasti baik pada akhirnya berbakti kepada ibu bapak, ketika pertama kali diperlihatkan akan perbuatan baik dan buruk dari ibu bapak ketika kamu masih bayi, ibumu lebih sakit dan menderita memelihara kamu.

c) Tidak enak makan dan tidur, ibumu memelihara kamu walau hanya makan nasi garam walaupun hanya untuk membasahi kerongkongan , makan kelapa pun dilakukannya setiap hari mandi dan mencuci di sungai dengan langkah terseok-seok ibumu memelihara kamu ketika kecil untuk itu rasakanlah hal itu.

d) Keadaan pahit getir ibumu memelihara kamu dia tidur hanya sambilan meskipun penuh dengan air seni terkena tinja dilakukannya bila kamu buang air besar ditatur dan dipangku, dibersihkan oleh ibumu dimandikan setiap pagi dan sore sampai bersih, bila kamu lapar disuapi.

e) Ketika kamu berumur sembilan bulan, pada saat kamu bisa merangkak pekerjaan ibumu hanya menjagamu walau hanya memakai kain sambungan, memeliharamu ketika kamu masih kecil, bila kamu kurang makan, dicarikan sampai dapat, nanti kalau kamu sudah dewasa, tidak bisa pembalasanmu kecuali berbuat baik dan berbakti kepadanya.

f) Bila kamu nanti berbuat aniyaya terhadap orang tuamu, dihukum oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui, besok kalau mati niscaya akan kembali bersama api, kalau orang senang durhaka, siksanya sangat berat, maka aku berpesan jangan berani ibu bapak anakku, lakukan perintah keduanya.

g) Adapun kamu nanti, bila dididik ibu bapak ucapanmu sering berlawanan menyahut lalu berpaling, cegahlah itu anakku, tidak baik pada akhirnya, dunia akherat akan sia-sia, besok kalau mati dimusuhi Tuhan, disiksa oleh Malaikat.

h) Sedangkan anak muda yang baik, pendapatnya tidak begitu dididik ibi bapaknya, duduk bersila dihadapannya, orang tuanya bagaikan Tuhan, pergi pulang bersujud, itu adalah budi yang luhur serta berbakti kepada Tuhan Yang Maha Hidup yaitu yang menciptakan mati dan hidup serta pemberi sandang dan pangan.

i) Yang sudah kaprah bagi anak muda, bertingkah malang melintang memanjakan diri, bertingkah yang keterlaluan duduk seenaknya dan tak tahu kesopanan, berlaku congkak, senang memperlihatkan badannya, kelakuannya tidak terarah, bila badannya tersentuh menjingkat dan selalu membuat onar orang banyak.

j) Ingat-ingat jangan ada yang melakukan, segala tingkah yang salah, tingkahnya pasti akan terkuak (diketahui orang banyak), ia akan tersuluh dan tidak kuat menyandangnya, seolah-olah semua orang hanya melempar senyum, untuk itu anakku, ingatlah jangan ada yang berbuat salah agar hidupmu tidak mengalami kesusahan.

k) Ada lagi nasehatku anakku, bila kamu mempunyai kehendak jangan sampai memberatkan diri, jagalah badanmu, bila derajatmu kecil, jangan merasa pesimis, bila kamu menjadi orang luhur, tegakkanlah pendapatmu, bersabar dengan kehalusan, budi, itulah perbuatan yang utama.

l) Maka dari itu kaum muda sekarang bersabarlah, bergaul dengan orang tua, perhatikanlah petunjuknya yang baik, dari lahir sampai batin, lahir dengan tatakrama, batinnya dengan berbakti kepadanya, itulah nasehatku semua anak cucu cicitku, agar hidupmu tidak mengalami kesusahan.

P U P U H II

1) Pupuh II ini terdiri dari 22 bait, selengkapnya penulis sampaikan sebagai berikut :

2) Lawan malih wekas mami, anak putu butut ingwang, miwah canggih wareng ingwang, poma padha estokna, ing pitutur kang arja, aja ana wong tukar padu, amungsuh lawan sudara.

3) Dhahat ingsun tan nglilami, sujatma ahli dursila, cewengan lan sudarane, temahan tan manggeh arja lan tipis kang sarira, wong liyan kathah kan purun, mejanani mring sira.

4) Mokal sira tan miyarsa, kang kocap sujana kathah, gecul mgrumpul bandhol ngrompol, nanging aja kalirua, babasan kaya ika, den waskitheng surupipun, babasan kaya mangkana.

5) Dipun kumpul sira sami, aja gecul tekadira, dipun ngrompol ala bandhol, poma iku estokna, yen sira nedya arja, aja ma kawongan pocung, anom kumpul tuwo pisah.

6) Yen kayaa pocung ugi, salawsiro neng donya, dadi wong pidhangan bae, dudu watek wong sujana, salawasira neng donya, lamun sujalma kang surup, nom kumpul tuwa tan pisah.

7) Poma den astiti, pitutur ing layang iki, poma aja na maido, lamun sira maidoa, lan mara ayonana, dumeh tutur tanpa dhapur, tinarik tan manggih arja.

8) Yen sira karsa ngayeni, pitutur ing layang iki, anuli solahe age, mungsuhe lawan sudara, nuli pisaha wisma, samangsane sira luput, kalawan sujalma liyan.

9) Pasti sira den ayoni, den ira sujalma liyan, sadulur wis tega kabeh, sanajan silih kataha, kadhang mangsa belas, sajege sira tan atut, lawan sanak kadhangira.

10) Pan ana saloka maning, poma padha estokna, surasane, ujaring ngong, rusak sana den karesa, mangkana tuturing wang, wonten sima tukar padu, amungsuh kalawan wana.

11) Mangkana sang sima angling, heh wana sira kapurba, denira kuwasaning ngong, yen aja na kuwating wang, pasti sira binabat, denira sujalma agung, temah sira lebur sirna.

12) Kang wana nyahuri bengis, apa ta samono ugo, yen aja na kuwating ngong, amasti sira meneka, den risak jalma kathah, kiniter winaos lampuh, samana diya-diniya.

13) Sang sima lawan manadri, anulya talak tinalak, samya arengat manhe, samana sang sima kesah medal sing wana wasa, anjog wiring dhusun, anglela ing ara-ara

14) Yata ganti kang winarni, wonten laren ngon maesa, saksana anulya anon, yen wonten sima punika, anglela ngara-ara, cangkelak anuli wangsul, apa jarwang tuwanira.

15) Kaget ingkang awawarti, anulya samya wawarta, ing prapat monca limane, pan samya nabuh gendhala, rame poman dedesan, suwanten lumyang gumuruh, pan samya sikep gegaman.

16) Wusraket sikeping jurit, tumulyan sigra amedal wus prapteng jawi desane, wus prapto ing ingara-ara, sima sigra kinepung, kecandhak winaos sampun, yata ganti kawarnaha.

17) Kocapa ingkang wanadri, tet kala wahu tinilar, dhumateng sima lampahe, yata wonten kawarnaha, jalma samya kawawanan, arsa badhe karsanipun, ngupados babahing tegal.

18) Wus prapta dhateng wanadri, kang wana nuli sinuksma, suwung tan ana simane, tumulya sigra binabat, dhening sujalma kathah, wus garing nulya tinunu, wana lebur sirna ilang.

19) Nuli tinanduran sami, pari kapas miwah jarak, kacang dhele lombok terong, wus ilang labething wana, genggeng ponang tanduran, lama-lama dadi dhukuh, wus ilang labething wana.

20) Pan iku saloma mami, anak putu buyut ingwang, miwah canggah warenging ngong, puniku apan upama, tapa badan prayoga, lamun sira karem padu, amungsuh lawan sudara

21) Benal ngammi wal ngamati, wa bena jho jhi wa jho jhit puniku nenggih tegese, kawasa tan kawasaa, wajib sira asiha, dhumateng sudara kakung, muwah sadulur wanodya

22) Poma-poma wekas mami, anak putu buyut ingwang, aja katungkul uripe, aja lawas saya lawas, lawan den saya lawas, siyang dalu dipun imut, wong anom sedya utama.

Terjemahan PUPUH II :

1) Ada lagi nasehatku anak cucu cicitku, serta canggah (anak cicit) dan wareng (cucunya cicit) ku, supaya memperhatikan petunjuk menuju selamat. Jangan ada yang bertengkar, bermusuhan dengan saudara

2) Aku juga tidak merestui, manusia yang melanggar kesusilaan, bertengkar dengan saudaranya, akhirnya tidak akan menemui keselamatan, tetapi apabila kamu suka membantu banyak orang yang senang menjalin hubungan denganmu.

3) Mustahil kalau kamu tidak mendengar yang diucapkan oleh orang banyak, penjahat berkumpul dengan penjahat, agar dirimu tidak keliru, seperti peribahasa tadi, perhatikanlah bagaimana akhirnya, demikian itu peribahasanya.

4) Bila kamu berkumpul, janganlah berniat jahat, berkumpul janganlah berbuat jahat, perhatikanlah itu bila ingin selamat, jangan ada orang seperti pocung, waktu mudanya berkumpul setelah tua berpisah.

5) Bila seperti pocung juga, selamanya kamu didunia hanya menjadi hinaan orang, itu bukan watak orang yang baik selama hidup di dunia, sedang orang yang baik adalah waktu muda berkumpul sampai tua tidak berpisah.

6) Agar diperhatikan petunjuk dalam serat ini jangan ada yang membantah, bila kamu membantah cepat datang dan lakukan, jangan dikira petunjuk tanpa dasar, digunakan tidak bermanfaat.

7) Bila kamu membentah petunjuk dalam serat ini, cepatlah berbuat, bermusuhlah dengan saudara, lalau berpisahlah dengan rumahnya, sewaktu-waktu kamu berbuat salah, terhadap orang lain.

8) Bila kamu lakukan juga saudaramu kau anggap orang lain, saudaramu juga ikhlas semua, meski telah banyak berkorban, saudaramu tidak akan membela, selama kamu tidak pantas, tinggal bersama sanak saudaramu.

9) Dan ada seloka lagi, agar diperhatikan, isi dari perkataanku, rusaknya karena kehendaknya, begini petunjukku, ada harimau bertengkar bermusuhan dengan hutan.

10) Harimau berkata begini, hai hutan, dari dulu kamu ada dalam kekuasaanku, kalau tidak ada kekuatanku, kamu pasti sudah terbabat oleh kekuatan manusia, akhirnya kamu hilang lebur.

11) Hutan menyahut dengan kasar, begitu juga kamu, kalau tidak ada kekuatanku, meskipun kamu memanjat, akan diburu oleh orang banyak dan ditangkap sampai mati, begitulah mereka saling menghina.

12) Harimau dan hutan kemudian saling bertengkar, hatinya sama-sama terbakar, seketika harimau pergi keluar dari hutan belantara sesampainya dibatas perkampungan tiduran di tanah lapang.

13) Kemudian berganti yang dibicarakan, ada seseorang anak menggembala kerbau, tiba-tiba ia melihat ada seekor harimau sedang tiduran di tanah lapang, kemudian anak tersebut pulang secepatnya, menceritakan kepada orang tuanya.

14) Semua orang yang diberitahu terkejut, semua orang kemudian diberitahu, disetiap perempatan orang menabuh kentongan, keadaan desa menjadi ramai, terdengarlah suara gemuruh, semua orang telah siap menjadi senjata.

15) Setelah diatur seperti prajurit, mereka segera keluar mereka sudah sampai diluar desanya, sesampainya di tanah lapang, harimau segera dikepung, tertangkap sudah sekarang, kemudian berganti keadaannya.

16) Sementara itu hutan yang tadi ditinggalkan oleh harimau sudah berganti, banyak manusia mencari ladang yang luas.

17) Sesampainya di hutan, hutan tersebut diperhatikan kosong tidak ada harimaunya, kemudian segera ditebang oleh orang banyak, setelah kering tanahnya dioleh hutan telah kehilangan dirinya.

18) Kemudian secara bersama-sama mereka tanami, padi kapas dan jarak, kacang kedele dan terong, lama-lama menjadi kampung, hutan telah kehilangan dirinya.

19) Demikian selokaku, anak cucu cicitku, serta canggah dan warengku, itu tadi adalah sebuah perumpamaan, menyepikan diri itu lebih baik, bila kamu senang bertengkar, bermusuhan dengan saudara.

20) Dan telah terungkap dalam dalil, perintah dari Tuhan Yang Maha Hidup, yang diturunkan kepada Rasul, yang terucap dalam khutbah, beginilah perintahnya, la budda an tuhibbahu bainal ikhwat wal akhwat.

21) Bainal ‘ammi wal ‘ammati wabainaz zauji waz zaujati, maksudnya adalah mau tidak mau kamu wajib mengasihi terhadap saudara laki-laki serta saudara perempuan.

22) Jangan lupa nasehatku, anak cucu cicitku hidupmu jangan sampai terbius, jangan semakin lama semakin terlena, sertailah dengan kewaspadaan, siang malam harus diingat, anak muda hendaknya mempunyai niat yang utama.

P A N G K U R
Jangka Kagem Tanah Jawi

Sekar Pangkur Ginupita
Wonten Resi Saking Ngatas Angin
Ngejawa Njujug Ing Gunung
Ing Kendheng Tanah Ngayogja
Asung Weca Yen Hardi Merapi Njebluk
Mbenjang Pecah Hardi Sigar
Dadi Kali Tanggung Nami

Ngayogja Lawan Sala
Mbenjang Pecah Datan Anunggil Siti
Sinelanan Kali Tanggung
I L I N E P O N A N G T I R T A
Langkung Banter Anjoging Seganten Kidul
Para Dhemit Kagegeran
Wadyana Sang Ratu Dewi

Njeng Ratu Kidul Punika
Para Dhemit Mbenjang Ndarat Wor Jalmi
Sarengan Lindhu Ping Pitu
Obahing Bumi Pra Tinepa
Gara – Gara Gonjang – Ganjing Gumuruh
Gunung Kendheng Larag Gempal
Udan Awu Miwah Krikil

Cleret Tahun Nggegranjang
Kilat Thathit Kekuwung Lan Obar – Abir
Surakarta Pindhahipun
Tan Kenging Yen Dinuwa
Papan Iku Wus Kersaning Hyang Agung
Yeku Nagri Surakarta
Keratonipun Mbenjanng Ngalih

Kacarita Wetan Bengnawan
Ing Wana Ketangga Manggih Mukti
Mangsuli Riwayat Wau
Longsor Pecahing Arga
Ingkang Tirta Amalih Wor Lan Endhut
Lan Rawa Pening Mbarawa
Mubal Geni Keh Jalma Mati

Sinareng Ing Tanah Jawa
Nuli Wonten Pernyakit Ndatengi
Lamine Hari Wulan Puniku
Satanah Jawa Warata
Para Kawula Sami Nggiris Manahipun
Ketaman Benduning Hyang
Nyarengi Mangsa Paceklik

Jumenengira Narendra
Kalamercu Candrane Sri Nara Pati
Kala Sesa Patihipun
Nglamat Praja Rengka
Nagri Pindah Kathah Bot Repotipun
Kawula Saya Ndadra
Ing Pakarti Kang Tanjuti

Kawastanan Jaman Edan
Kathah Jalma Nglampahi Sungsang Balik
Kataman Ing Kala Bendu
Para Hambek Sarjana Katur Kasingkur
Hardaning Angkara Murka
Mustaka Candhaning Ati

Wong Agung Remen Mbebahak
Marang Raja Hartane Wong Cilik
Ilang Tabeting Budi Ayu
Kesruh Handeling Praja
Para Kawula Sami Nandhang Pakewuh
Wuwuh – Wuwuh Tanpa Mendha
Pinuju Pajeg Mas Picis

Kathah Salahing Kawula
Kekumpul Lan Arsa Ngupaya Budi
Nanging Ta Ketawar – Tawur
Tinalen Ing Pepacak
Dening Praja Ingkang Ngasta Hukum
Kang Tan Welas Mring Kawula
Ratu Nangkoda Mbekjuti

P U N I K A P I N A N G K A N I R A
Nanging Wurti Badhe Timbul Malih
Angsal Pitulunganing Hayang Agung
Wangsul Wahyu Nurbuat
Tanah Jawi Pulih Kadi Duk Rumuhun
Majapahit Dukung Kuna
Nagri Mandhiri Pribadi

Gemah Ripah Kerta Raharja
Tata Tentrem Ing Salami – Lami
Ilang Kang Samya Laku Dur
Murah Sandhang Lan Boga
Kang Amengku Asih Mring Kawulanipun
Lumintu Salire Dana
Sahasta Pajek Saripis

Siti Sajung Mung Sareyal
Tanpa Uba Rampe Sanese Malih
Antinen Wae Meh Rawuh
Mulyaning Tanah Jawa
Awit Saking Tan Keregon Liyanipun
Nakoda Wus Datan Kuwasa
Pulih Asal Mung Gegrami

KAWRUH BASA
Istila-istilah dalam Sastra Jawa

Babad :
Sastra sejarah dalam tradisi sastra Jawa, digunakaan untuk pengertian yang sama dalam tradisi sastra Madura dan Bali; istilah ini berpadanan dengan carita, sajarah [Jawa/Sunda], hikayat, silsilah, sejarah Sumatera, Kalimantan, dan Malaysia

Bebasan :
Ungkapan yang memiliki makna kias dan mengandung perumpamaan pada keadaan yang dikiaskan, misalnya nabok nyilih tangan.

Gancaran :
Wacana berbentuk prosa.

Gatra :
Satuan baris, terutama untuk puisi tradisional.

Gatra purwaka :
Bagian puisi tradisional [parikan dan wangsalan] yang merupakan isi atau inti.

Guru gatra :
Aturan jumlah baris tiap bait dalam puisi tradisional Jawa [tembang macapat].

Guru lagu :
[disebut juga dhong-dhing] aturan rima akhir pada puisi tradisional Jawa.

Guru wilangan :
Aturan jumlah suku kata tiap bait dalam puisi tradisional Jawa.

Janturan :
Kisahan yang disampaikan dalang dalam pergelaran wayang untuk memaparkan tokoh atau situasi adegan.

Japa mantra :
Mantra, kata yang mempunyai kekuatan gaib berupa pengharapan.

Kagunan basa :
Penggunaan kata atau unsur bahasa yang menimbulkan makna konotatif; ada berbagai macam kagunan basa, antara lain tembung entar, paribasan, bebasan, saloka, isbat, dan panyandra.

Kakawin:
Puisi berbahasa Jawa kuno yang merupakan adaptasi kawyra dari India; salah satu unsur pentingnya adalah suku kata panjang dan suku kata pendek [guru dan laghu].

Kidung :
Puisi berbahasa Jawa tengahan yang memiliki aturan jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan pola rima akhir sesuai dengan jenis metrum yang membingkainya; satu pupuh kidung berkemungkinan terdapat lebih dari satu pola metrum.

Macapat :
Puisi berbahasa Jawa baru yang memperhitungkan jumlah baris untuk tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan vokal akhir baris; baik jumlah suku kata maupun vokal akhir tergantung atas kedudukan baris bersangkutan pada pola metrum yang digunakan; di samping itu pembacaannya pun menggunakan pola susunan nada yang didasarkan pada nada gamelan; secara tradisional terdapat 15 pola metrum macapat,
yakni dhandhang gula, sinom, asmaradana, durma, pangkur, mijil, kinanthi, maskumambang, pucung, jurudemung, wirangrong, balabak, gambuh, megatruh, dan girisa.

Manggala :
” Kata pengantar ” yang terdapat di bagian awal keseluruhan teks; dalam tradisi sastra Jawa kuno biasanya berisi penyebutan dewa yang menjadi pujaan penyair (isthadewata), raja yang berkuasa atau yang memerintahkan penulisan, serta-meskipun tak selalu ada–penanggalan saat penulisan dan nama penyair; istilah manggala kemudian dipergunakan pula dalam penelitian teks-teks sastra Jawa baru.

pada: bait

Parikan :
Puisi tradisional Jawa yang memiliki gatra purwaka (sampiran) dan gatra tebusan (isi); pantun [Melayu].

Parikan lamba :
Parikan yang hanya mempunyai masing-masing dua baris gatra purwaka dan gatra tebusan.

Parikan rangkep:
Parikan yang mempunyai masing-masing dua baris gatra purwaka dan gatra tebusan.

Pepali :
Kata atau suara yang merupakan larangan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, misalnya aja turu wanci surup.

Pupuh :
Bagian dari wacana puisi dan dapat disamakan dengan bab dalam wacana berbentuk prosa.

panambang: sufiks/akhiran

Panwacara :
Satuan waktu yang memiliki daur lima hari: Jenar (Pahing), Palguna (Pon), Cemengan (Wage), Kasih (Kliwon), dan Manis (Legi).

Paribasan :
Ungkapan yang memiliki makna kias namun tidak mengandung perumpamaan, misalnya dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.

Pegon :
Aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa.

Pujangga :
Orang yang ahli dalam menciptakan teks sastra; dalam tradisi sastra Jawa; mereka yang berhak memperoleh gelar pujangga adalah sastrawan yang menguasai paramasastra (ahli dalam sastra dan tata bahasa), parama kawi (mahir dalam menggunakan bahasa kawi), mardi basa (ahli memainkan kata-kata), mardawa lagu (mahir dalam seni suara dan tembang), awicara (pandai berbicara, bercerita, dan mengarang), mandraguna (memiliki pengetahuan mengenai hal yang ‘kasar’ dan ‘halus’), nawung kridha (memiliki pengetahuan lahir batin, arif bijaksana, dan waskitha), juga sambegana (memiliki daya ingatan yang kuat dan tajam).

Saloka :
Ungkapan yang memiliki makna kiasan dan mengandung perumpamaan pada subyek yang dikiaskan, misalnya kebo nusu gudel.

Saptawara :
Satuan waktu yang memiliki daur tujuh hari: Radite (Ngahad), Soma (Senen), Buda (Rebo), Respati (Kemis), Sukra (Jumuwah), dan Tumpak (Setu).

Sasmitaning tembang :
Isyarat mengenai pola metrum atau tembang; dapat muncul pada awal pupuh (isyarat pola metrum yang digunakan pada pupuh bersangkutan) tetapi dapatpula muncul di akhir pupuh (isyarat pola metrum yang digunakan pada pupuh berikutnya.

Sastra gagrak anyar :
Sastra Jawa modern, ditandai dengan tiadanya aturan-aturan mengenai metrum dan perangkat-perangkat kesastraan tradisional lainnya.

Sastra gagrak lawas :
Sastra Jawa modern, ditandai dengan aturan-aturan ketat seperti–terutama–pembaitan secara ketat.

Sastra wulang :
Jenis sastra yang berisi ajaran, terutama moral.

Sengkalan :
Kronogram atau wacana yang menunjukkan lambang angka tahun, baik dalam wujud kata maupun gambar atau seni rupa lainnya yang memiliki ekuivalen dengan angka secara konvensional.

Singir :
Syair dalam tradisi sastra Jawa.

Sot :
Kata atau suara yang mempunyai kekuatan mendatangkan bencana bagi yang memperolehnya.

Suluk :
[1] jenis wacana (sastra) pesantren dan pesisiran yang berisi ajaran-ajaran gaib yang bersumberpada ajaran Islam;
[2] wacana yang ‘dinyanyikan’ oleh dalang dalam pergelaran wayang untuk menciptakan ‘suasana’ tertentu sesuai dengan situasi adegan.

Supata :
Kata atau suara yang ‘menetapkan kebenaran’ dengan bersumpah.

Tembung entar :
Kata kiasan, misalnya kuping wajan.

Wangsit :
Disebut juga wisik, kata atau suara yang diberikan oleh makhluk gaib, biasanya berupa petunjuk atau nasihat.

Wayang purwa :
Cerita wayang atau pergelaran wayang yang menggunakan lakon bersumber pada cerita Mahabharata dan Ramayana.

Weca :
Kata atau suara yang mempunyai kekuatan untuk melihat kejadian di masa mendatang.

Wirid :
Jenis wacana (sastra) pesantren yang berkaitan dengan tasawuf.

PUNAKAWAN

Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Dalam wayang Bali karakter punakawan terdiri atas Malen dan Merdah (abdi dari Pandawa) dan Delem dan Sangut (abdi dari Kurawa)

Semar adalah pengasuh dari Pendawa. Alkisah, ia juga bernama Hyang Ismaya. Meskipun ia berwujud manusia jelek, ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi bahkan melebihi para dewa.

Gareng adalah anak Semar yang berarti pujaan atau didapatkan dengan memuja. Nalagareng adalah seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya kadang- kadang serba salah. Tetapi ia sangat lucu dan menggelikan. Ia pernah menjadi raja di Paranggumiwang dan bernama Pandubergola. Ia diangkat sebagi raja atas nama Dewi Sumbadra. Ia sangat sakti dan hanya bisa dikalahkan oleh Petruk.

Bagong berarti bayangan Semar. Alkisah ketika diturunkan ke dunia, Dewa bersabda pada Semar bahwa bayangannyalah yang akan menjadi temannya. Seketika itu juga bayangannya berubah wujud menjadi Bagong. Bagong itu memiliki sifat lancang dan suka berlagak bodoh. Ia juga sangat lucu.

Petruk anak Semar yang bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, panda berbicara, dan juga sangat lucu. Ia suka menyindir ketidakbenaran dengan lawakan-lawakannya. Petruk pernah menjadi raja di negeri Ngrancang Kencana dan bernama Helgeduelbek. Dikisahkan ia melarikan ajimat Kalimasada. Tak ada yang dapat mengalahkannya selain Gareng

S E M A R

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :

Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )
Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka

KAKANG SEMAR LAN ANTAGA KAKI
WECAN TUNJUNG SETA
TUMEKA KAKI SEMAR
GINUBAH DENING : PANEMBAHAN PRAMANA SETA ING GIRIMAYA
dandang gulo

1. INGSUN MELING MRING SIRA KALIHNYA
KANG DADYA SESENGGEMANE
NGIRIDA GUNG LELEMBUT
BALA SILUMAN NUSA JAWI
KABYANTOKNA SANG NATA
H E R U C A K R A P R A B U
NATA TEDHAKING BARATA
WIJILIRA ING KETANGGA SONYARURI
SAJRONING ALAS PUDHAK

2. DUK TIMURNYA BABARAN SURANDHIL
INGKANG IBU TEDHAKING MATARAM
KANG RAMA TRAHING RASULE
G I N A I P M I Y O S I P U N
SANG TUNJUNG SETA JEJULUK NEKI
DUK SIH KINEKER MARANG HYANG
KESAMPAR KESANDUNG
JALMA SAMYA KATAMBUHAN
TAN WIKAN MRING PUDHAK SINUMPET SINANDI
DEWA MANGEJAWANTAH

Paradoks Semar
PARA pencinta wayang kulit Jawa tentu tak asing lagi dengan tokoh Semar. Setiap pertunjukan tokoh ini selalu hadir. Semar dan anak-anaknya selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat pola pikir yang mendasarinya.
Tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu Semar. Batara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).
Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa.
Kenyataannya, ruang-waktu-pelaku itu selalu bersifat dua dan kembar. Langit di atas, bumi di bawah. Malam yang gelap, dan siang yang terang. Manik yang tampan dan kuning kulitnya, Semar (Ismaya) yang jelek rupanya dan hitam kulitnya. Paradoks pelaku semesta itu dapat dikembangkan lebih jauh dalam rangkaian paradoks-paradoks yang rumit.
Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, Semar mahadewa di dunia bawah. Batara Guru penguasa kosmos (keteraturan) Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.
Batara Guru simbol dari para penguasa dan raja-raja, Semar adalah simbol rakyat paling jelata. Batara Guru biasanya digambarkan sering tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya, Semar justru sering mengendaikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan – kebijaksanaan. Batara Guru berbicara dalam bahasa prosa, Semar sering menggunakan bahasa wangsalan (sastra).
Batara Guru lebih banyak marah dan mengambil keputusan tergesa-gesa, sebaliknya Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikannya dan sesamanya serta penuh kesabaran.
Batara Guru ditakuti dan disegani para dewa dan raja-raja, Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Batara Guru selalu hidup di lingkungan yang “wangi”, sedang Semar suka kentut sembarangan. Batara Guru itu pemimpin, Semar itu rakyat jelata yang paling rendah.
Seabrek paradoks masih dapat ditemukan dalam kisah-kisah wayang kulit. Pelaku kembar semesta di awal penciptaan ini, Batara Guru dan Batara Semar, siapakah yang lebih utama atau lebih “tua”? Jawabannya terdapat dalam kitab Manik-Maya (abad ke-19).
Ketika Batara Semar protes kepada Sang Hyang Wisesa, mengapa ia diciptakan dalam wujud jelek, dan berkulit hitam legam bagai kain wedelan (biru-hitam), maka Sang Hyang Wisesa (Sang Hyang Tunggal?) menjawab, bahwa warna hitam itu bermakna tidak berubah dan abadi; hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya “ada” itu “tidak ada”, sedangkan yang “tidak ada” diterka “bukan”, yang “bukan” diterka “ya”.
Dengan demikian Batara Semar lebih “tua” dari adiknya Batara Guru. Semar itu “kakak” dan Batara Guru itu “adik”, suatu pasangan kembar yang paradoks pula.
Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.
Mengingat genealogi Semar yang semacam itu dalam budaya Jawa, maka tidak mengherankan bahwa tokoh Semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, penuh humor.
Kulitnya, luarnya, kasar, sedang dalamnya halus. ** DALAM ilmu politik, Semar adalah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni “manunggaling kawula-Gusti” (kesatuan hamba-Raja). Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar ini.
Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia ini harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.
Hukum-hukum negara yang baik dari atas, belum tentu berakibat baik, kalau yang dari atas itu tidak disinkronkan dengan kepentingan dan kondisi rakyat. Manunggaling kawula-Gusti. Pemimpin sejati bagi rakyat itu bukan Batara Guru, tetapi Semar. Pemimpin sejati itu sebuah paradoks.
Semar adalah kakak lebih tua dari Batara Guru yang terhormat dan penuh etiket kenegaraan-kahiyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa. Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, tetapi kepada majikan yang diabdinya (rakyat) ia berbahasa halus.
Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa-dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya. Semar itu hakikatnya di atas, tetapi eksistensinya di bawah.
Badan halusnya, karakternya, kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar gampang menangis melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah sebabnya wayang Semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Pemimpin Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Ego Semar itu telah lenyap, digantikan oleh “yang lain”.
Semar itu seharusnya penguasa dunia atas yang paling tinggi dalam fenomena, tetapi ia memilih berada di dunia bawah yang paling bawah. Karena penguasa tertinggi, ia menguasai segalanya. Namun, ia memilih tidak kaya. Semar dan anak-anaknya itu ikut menumpang makan dalang, sehingga kalau suguhan tuan rumah kurang enak karena ada yang basi, maka Semar mencegah anak-anaknya, yang melalui dalang, mencela suguhan tuan rumah. Makanan apa pun yang datang padanya harus disyukuri sebagai anugerah. Batara Semar, di tanah Sunda, dikenal dalam wujud Batara Lengser.
Lengser, longsor, lingsir, selalu berkonotasi “turun”. Semar itu adalah pemimpin tertinggi yang turun ke lapis paling bawah. Seorang pemimpin tidak melihat yang dipimpinnya dari atas singgasananya yang terisolasi, tetapi melihat dari arah rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi menangisi rakyat yang dihujat bawahanbawahannya. Seorang pemimpin tidak marah dimarahi rakyatnya, tetapi memarahi dirinya akibat dimarahi rakyat.
Pemimpin sejati itu, menurut filsafat Semar, adalah sebuah paradoks. Seorang pemimpin itu majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah namun tetap berkasih sayang. Filsafat paradoks kepemimpinan ini sebenarnya bersumber dari kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa.
Dewa Kekayaan berseberangan dengan Desa Kedermawanan, yang bermakna seorang pemimpin harus mengusahakan dirinya (dulu, sebagai raja) agar kaya raya, tetapi kekayaan itu bukan buat dirinya, tetapi buat rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin Indonesia sekarang ini selayaknya seorang enterpreneur juga, yang lihai menggali kekayaan buat negara. Dewa Keadilan berseberangan dengan watak Dewa Kasih Sayang.
Seorang pemimpin harus membela kebenaran, keadilan, tetapi juga mempertimbangkan rasa keadilannya dengan kasih sayang untuk memelihara kehidupan.
Dewa Api (keberanian) itu berseberangan dengan Dewa Laut (air), yakni keberaniannya bertindak melindungi rakyatnya didasari oleh pertimbangan perhitungan dan kebijaksanaan yang dingin-rasional. Dewa Maut berseberangan dengan watak Dewa Angin.
Menumpas kejahatan dalam negara itu harus dipadukan dengan ketelitiannya dalam mengumpulkan detail-detail data, bagai angin yang mampu memasuki ruang mana pun.
Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata tersebut, dan dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks itu. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Ia Dewa Tua tetapi menjadi hamba.
Ia berkuasa tetapi melayani. Ia kasar di kalangan atas, tetapi ia halus di kalangan bawah. Ia kaya raya penguasa semesta, tetapi memilih memakan nasi sisa. Ia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil, ia menyindir dalam bahasa metafora apabila yang dilayaninya berbuat salah. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tetapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan

3. WUS PINASTI KANG MURBENG DUMADI
SANG TUNJUNG SETA KINARYA DHUTA
JUMENENG PARANPARANE
N G A D I L I N U S A N I P U N
NGASTHA DARMANING UMUM’
KALIS ING MAYANE NDOYA
WUS WINELEG MUKTI WIBAWANING DIRI
ING KETANGGA SILUMAN

4. SATRU MUNGSUH SAMYA HANGEMASI
TUMPES TAPIS KATAMAN PRABAWA
KASEKTEN SABDA CIPTANE
NGGEGIRISI BALANIPUN
WUJUD KALABANG KALAJENGKING
S I R U L L A H A J I N I P U N
P R A J U R I T L E L E M B U T
IKU KANG WEKAS INGWANG
SIRA NDEREK ANGEMONG ING TEMBE WURI
SANG NATA BINATHARA

5. WONG CILIK SAMYA SUKA ING ATI
GUMUYU MURAH SANDHANG LAN TEDHA
GUYUB RUKUN SESAMANE
SAMYA MADHEP SUMUJUD
NGARSENG HYANG WIDHI LAN NJENG GHUSTI
W E D I W E W A L A T I R A
WINGITING SANG RATU
MANANGKA JAMAN KENCANA
KAKANG SEMAR GYA TINDAKNA WELING MAMI
NGIRIDTA GUNG LELEMBUT

6. MANANGKA WELINGE SANG AJI
SRI JAYABAYA NATA BINATHARA
MRING SANG PAMONG KALIHE
KAKANG SEMAR UMATUR
PUKULUN JAYABAYA AJI
PUN KAKANG WUS ANAMPA
KABEH SABDANIPUN
DADYA PASEKSENING JANGKA
MANGEJA WANTAHIRA PADUKA AJI
SANG NATA BINATHAR

7. JUMENENGIRA GUSTHI PRIBADI
LAMUN JANGKANING NUSA TUMEKA
NORA ENDHAS LAN BUNTUTE
PUN KAKANG WUS SUMAGGUH
NGEMONG SANG TUNJUNG SETA AJI
LAN NGIRID BYANTOKNA
S A G U N G I N G L E L E M B U T
SINEGEG WAWAN SABDANYA
SRI JAYABAYA LAN PAMONGNYA KEKALIH
MECA JANGKANING NUSA

D E W A R U C I

Cerita Ajaran Dewa Ruci tentang Arya Wrekudara / Arya sena/Bima ketika masuk ke dasar samudera guna memenuhi tugas gurunya mencari air penghidupan (Tirtamerta), yang disadur dari bentuk kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta, Yosodipuro berjudul: “Serat Dewaruci Kidung” yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus dan sesuai rumus-rumus tembang, dengan bahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa Kuna.
Intisari kisahnya yaitu bahwa pihak kaum Kurawa dengan dinegeri Amarta, ingin menjerumuskan pihak Pandawa dinegeri Astina,(yang sebenarnya adalah:bersaudara) ke dalam kesengsaraan, melalui perantaraan guru Durna. Sena yang juga adalah murid guru Durno diberikan ajaran: bahwa dalam mencapai kesempurnaan demi kesucian badan ,Sena diharuskan mengikuti perintah sang Guru untuk mencari air suci penghidupan ke hutan Tibrasara. Sena mengikuti perintah gurunya dan yakin tidak mungkin teritipu dan terbunuh oleh anjuran Gurunya, dan tetap berniat pergi mengikuti perintah sang Guru,walaupun sebenarnya ada niat sang Guru Durno untuk mencelakaannya.
Kemudian Durna memberi petunjuk kepada Sena, bahwa jika ia telah menemukan air suci itu ,maka akan berarti dirinya mencapai kesempurnaan, menonjol diantara sesama makhluk,dilindungi ayah-ibu, mulia, berada dalam triloka,akan hidup kekal adanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa letak air suci ada di hutan Tibrasara, dibawah Gandawedana, di gunung Candramuka, di dalam gua. Kemudian setelah ia mohon pamit kepada Druna dan prabu Suyudana, lalu keluar dari istana, untuk mohon pamit, mereka semua tersenyum, membayangkan Sena berhasil ditipu dan akan hancur lebur melawan dua raksasa yang tinggal di gua itu, sebagai rasa optimisnya ,untuk sementara merekamerayakan dengan bersuka-ria, pesta makan minum sepuas-puasnya.
Setelah sampai di gua gunung Candramuka, air yang dicari ternyata tidak ada, lalu gua disekitarnya diobrak-abrik. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala yang berada di gua terkejut, marah dan mendatangi Sena. Namun walau telah dijelaskan niat kedatangannya, kedua raksasa itu karena merasa terganggu akibat ulah Sena, tetap saja mengamuk. Terjadi perkelahian …….Namun dalam perkelahian dua Raksaksa tersebut kalah, ditendang, dibanting ke atas batu dan meledak hancur lebur. Kemudian Sena mengamuk dan mengobrak-abrik lagi sampai lelah,dalam hatinya ia bersedih hati dan berfikir bagaimana mendapatkan air suci tersebut.Karena kelelahan,kemudian ia berdiri dibawah pohon beringin.
Tak lama kemudian, Sena mendengar suara tak berwujud : “Wahai cucuku yang sedang bersedih,enkau mencari tidak menjumpai, engkau tidak mendapat bimbingan yang nyata, tentang tempat benda yang kau cari itu, sungguh menderita dirimu”. Diceritakan saat Sena sudah pasrah….. suara itu yang ternyata adalah dua dewa, Sang Hyang Endra dan Batara Bayu, yang memberitahu bahwa dua raksasa yang dibunuh Sena,ternyata memang sedang dihukum Hyang Guru. Lalu dikatakan juga agar untuk mencari air kehidupan, Sena di perintahkan agar kembali ke Astina.Perintah inipun dituruti lagi………
Setibanya di serambi Astina, saat lengkap dihadiri Resi Druna, Bisma, Suyudana, Patih Sangkuni, Sindukala, Surangkala, Kuwirya Rikadurjaya, Jayasusena, lengkap bala Kurawa, dan lain-lainnya, terkejut….! atas kedatangan Sena. Ia memberi laporan tentang perjalannya dan dijawab oleh Sang Druna :bahwa ia sebenarnya hanya diuji, sebab tempat air yang dicari, sebenarnya ada di tengah samudera. Suyudana juga membantu bicara untuk meyakinkan Sena.
Karena tekad yang kuat maka Senapun nekat untuk pergi lagi….., yang sebelumnya ia sempat mampir dahulu ke Ngamarta.(tempat para kerabatnya berada)
Sementara itu di Astina keluarga Sena yang mengetahui tipudaya pihak Kurawa mengirim surat kepada prabu Harimurti/Kresna di Dwarawati, yang dengan tergesa-gesa bersama bala pasukan datang ke Ngamarta. Setelah menerima penjelasan dari Darmaputra, Kresna mengatakan bahwa janganlah Pandawa bersedih, sebab tipu daya para Kurawa akan mendapat balasan dengan jatuhnya bencana dari dewata yang agung.
Ketika sedang asyik berbincang-bincang, datanglah Sena, yang membuat para Pandawa termasuk Pancawala, Sumbadra, Retna Drupadi dan Srikandi, dan lain-lainnya, senang dan akan mengadakan pesta. Namun tidak disangka, karena Sena ternyata melaporkan bahwa ia akan meneruskan pencarian air suci itu, yaitu ke tengah samudera. Nasehat dan tangisan, termasuk tangisan semua sentana laki-laki dan perempuan, tidak membuatnya mundur.
Sena berangkat pergi, tanpa rasa takut keluar masuk hutan, naik turun gunung, yang akhirnya tiba di tepi laut. Sang ombak bergulung-gulung menggempur batu karang bagaikan menyambut dan tampak kasihan kepada yang baru datang, bahwa ia di tipu agar masuk ke dalam samudera, topan datang juga riuh menggelegar, seakan mengatakan bahwa Druna memberi petunjuk sesat dan tidak benar.
Bagi Sena, lebih baik mati dari pada pulang menentang sang Maharesi, walaupun ia tidak mampu masuk ke dalam air, ke dasar samudera. Maka akhirnya ia berpasrah diri, tidak merasa takut, sakit dan mati memang sudah kehendak dewata yang agung, karena sudah menyatakan kesanggupan kepada Druna dan prabu Kurupati, dalam mencari Tirta Kamandanu, masuk ke dalam samudera.
Dengan suka cita ia lama memandang laut dan keindahan isi laut, kesedihan sudah terkikis, menerawang tanpa batas, lalu ia memusatkan perhatian tanpa memikirkan marabahaya, dengan semangat yang menyala-nyala mencebur ke laut, tampak kegembiraannya, dan tak lupa digunakannya ilmu Jalasengara, agar air menyibak.
Alkisah ada naga sebesar segara anakan, pemangsa ikan di laut, wajah liar dan ganas, berbisa sangat mematikan, mulut bagai gua, taring tajam bercahaya, melilit Sena sampai hanya tertinggal lehernya, menyemburkan bisa bagai air hujan. Sena bingung dan mengira cepat mati, tapi saat lelah tak kuasa meronta, ia teringat segera menikamkan kukunya, kuku Pancanaka, menancap di badan naga, darah memancar deras, naga besar itu mati, seisi laut bergembira.
Sementara itu Pandawa bersedih hati dan menangis memohon penuh iba, kepada prabu Kresna. Lalu dikatakan oleh Kresna, bahwa Sena tidak akan meninggal dunia, bahkan mendapatkan pahala dari dewata yang nanti akan datang dengan kesucian, memperoleh cinta kemuliaan dari Hyang Suksma Kawekas, diijinkan berganti diri menjadi batara yang berhasil menatap dengan hening. Para saudaranya tidak perlu sedih dan cemas
Kembali dikisahkan Sang Wrekudara yang masih di samudera, ia bertemu dengan dewa berambut panjang, seperti anak kecil bermain-main di atas laut, bernama Dewa Ruci. Lalu ia berbicara :”Sena apa kerjamu, apa tujuanmu, tinggal di laut, semua serba tidak ada tak ada yang dapat di makan, tidak ada makanan, dan tidak ada pakaian. Hanya ada daun kering yang tertiup angin, jatuh didepanku, itu yang saya makan”. Dikatakan pula :”Wahai Wrekudara, segera datang ke sini, banyak rintangannya, jika tidak mati-matian tentu tak akan dapat sampai di tempat ini, segalanya serba sepi. Tidak terang dan pikiranmu memaksa, dirimu tidak sayang untuk mati, memang benar, disini tidak mungkin ditemukan”.
“Kau pun keturunan Sang Hyang Pramesthi, Hyang Girinata, kau keturunan dari Sang Hyang Brama asal dari para raja, ayahmu pun keturunan dari Brama, menyebarkan para raja, ibumu Dewi Kunthi, yang memiliki keturunan, yaitu sang Hyang Wisnu Murti. Hanya berputra tiga dengan ayahmu, Yudistira sebagai anak sulung, yang kedua dirimu, sebagai penengah adalah Dananjaya, yang dua anak lain dari keturunan dengan Madrim, genaplah Pandawa, kedatanganmu disini pun juga atas petunjuk Dhang Hyang Druna untuk mencari air Penghidupan berupa air jernih, karena gurumu yang memberi petunjuk, itulah yang kau laksanakan, maka orang yang bertapa sulit menikmati hidupnya”, lanjut Dewa Ruci.
Kemudian dikatakan : “Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu”. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan tempat yang harus disembah”.

Wrekudara masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan.
” Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku “, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa sena bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”.Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.
Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri. Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.
Ada empat macam benda yang tampak oleh Sena, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci: Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.
Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.
Lalu Wrekudara melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.
Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.
Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.
Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.
Penerima ajaran dan nasehat ini tidak boleh menyombongkan diri, hayati dengan sungguh-sungguh, karena nasehat merupakan benih. Namun jika ditemui ajaran misalnya kacang kedelai disebar di bebatuan tanpa tanah tentu tidak akan dapat tumbuh, maka jika manusia bijaksana, tinggalkan dan hilangkan, agar menjadi jelas penglihatan sukma, rupa dan suara.
Hyang Luhur menjadi badan Sukma Jernih, segala tingkah laku akan menjadi satu, sudah menjadi diri sendiri, dimana setiap gerak tentu juga merupakan kehendak manusia, terkabul itu namanya, akan segala keinginan, semua sudah ada pada manusia, semua jagad ini karena diri manusia, dalam segala janji janganlah ingkar.
Jika sudah paham akan segala tanggung jawab, rahasiakan dan tutupilah. Yang terbaik, untuk disini dan untuk disana juga, bagaikan mati di dalam hidup, bagaikan hidup dalam mati, hidup abadi selamanya, yang mati itu juga. Badan hanya sekedar melaksanakan secara lahir, yaitu yang menuju pada nafsu.
Wrekudara setelah mendengar perkataan Dewa Ruci, hatinya terang benderang, menerima dengan suka hati, dalam hati mengharap mendapatkan anugerah wahyu sesungguhnya. Dan kemudian dikatakan oleh Dewa Ruci :”Sena ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang didatangkan, semua sudah kau kuasai, tak ada lagi yang dicari, kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah dalam cara melaksanakan.
Dewa Ruci selesai menyampaikan ajarannya, Wrekudara tidak bingung dan semua sudah dipahami, lalu kembali ke alam kemanusiaan, gembira hatinya, hilanglah kekalutan hatinya, dan Dewa Ruci telah sirna dari mata,
Wrekudara lalu mengingat, banyak yang didengarnya tentang tingkah para Pertapa yang berpikiran salah, mengira sudah benar, akhirnya tak berdaya, dililit oleh penerapannya, seperti mengharapkan kemuliaan, namun akhirnya tersesat dan terjerumus.
Bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, kematian seolah dipaksakan, melalui kepertapaannya, mengira dapat mencapai kesempurnaan dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru, mengosongkanan pikiran, belum tentu akan mendapatkan petunjuk yang nyata. Tingkah seenaknya, bertapa dengan merusak tubuh dalam mencapai kamuksan, bahkan gagallah bertapanya itu.
Guru yang benar, mengangkat murid/cantrik, jika memberi ajaran tidak jauh tempat duduknya, cantrik sebagai sahabatnya, lepas dari pemikiran batinnya, mengajarkan wahyu yang diperoleh. Inilah keutamaan bagi keduanya.
Tingkah manusia hidup usahakan dapat seperti wayang yang dimainkan di atas panggung, di balik layar ia digerak-gerakkan, banyak hiasan yang dipasang, berlampu panggung matahari dan rembulan, dengan layarnya alam yang sepi, yang melihat adalah pikiran, bumi sebagai tempat berpijak, wayang tegak ditopang orang yang menyaksikan, gerak dan diamnya dimainkan oleh Dalang, disuarakan bila harus berkata-kata, bahwa itu dari Dalang yang berada dibalik layar, bagaikan api dalam kayu, berderit oleh tiupan angin, kayu hangus mengeluarkan asap, sebentar kemudian mengeluarkan api yang berasal dari kayu, ketahuilah asal mulanya, semuanya yang tergetar, oleh perlindungan jati manusia, yang yang kemudian sebagai rahasia.

Kembali ke Negeri Ngamarta
Tekad yang sudah sempurna, dengan penuh semangat, Raden Arya Wrekudara kemudian pulang dan tiba ke negerinya, Ngamarta, tak berpaling hatinya, tidak asing bagi dirinya, sewujud dan sejiwa, dalam kenyataan ditutupi dan dirahasiakan, dilaksanakan untuk memenuhi kesatriaannya. Permulaan jagad raya, kelahiran batin ini, memang tidak kelihatan, yang bagaikan sudah menyatu, seumpama suatu bentukan, itulah perjalanannya.
Bersamaan dengan kedatangan Sena, di Ngamarta sedang berkumpul para saudaranya bersama Sang Prabu Kresna, yang sedang membicarakan kepergian Sena, cara masuk dasar samudera. Maka disambutlah ia, dan saat ditanya oleh Prabu Yudistira mengenai perjalanan tugasnya, ia menjawab bahwa perjalanannya itu dicurangi, ada dewa yang memberi tahu kepadanya, bahwa di lautan itu sepi,tidak ada air penghidupan. Gembira mendengar itu, lalu Kresna berkata :”Adikku ketahuilah nanti, jangan lupa segala sesuatu yang sudah terjadi ini”.

MAKNA AJARAN DEWA RUCI
Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.
Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.

Pencarian air suci Prawitasari
Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.

Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka
Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.
1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.
2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.
Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.

Raksasa Rukmuka dan Rukmakala
Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.
Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).
Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)
Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.

Samudra dan Ular
Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.
Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya.

Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1. Rila: dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.

2. Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.

3. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.

4. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.

5. Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.

6. Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.

7. Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.

8. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.

9. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.

10. Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.

11. Samadi.

12. Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.

Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci
Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Didalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.

Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :
Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.

Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.
Didalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.

Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima
Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunytan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat didalam paningal.

Batik poleng :
Kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.

Tusuk konde besar dari kayu asem
Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.

Tanda emas diantara mata.
Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.

Kuku Pancanaka
Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya.
Melambangkan :
1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.
2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.
Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.

PRANATA MANGSA
( aturan waktu musim kuno )

Pranata Mangsa atau aturan waktu musim biasanya digunakan oleh para petani pedesaan, yang didasarkan pada gejala naluriah alam dan mencoba memahami asal-usul dan bagaimana uraian satu-satu kejadian cuaca di dalam setahun. Petani di Jawa dahulu masih memakai patokan untuk mengolah pertanian dengan prantan ini. Uraian mengenai Pranata Mangsa ini diambil dari buku sejarah para raja di Surakarta, yang tersimpan di musium Radya-Pustaka.
Yang menurut riwayatnya, sebetulnya baru mulai dikenalkan pada tahun 1856, saat kerajaan Surakarta diperintah oleh Pakoeboewono VII, yang memberi patokan bagi para petani agar mempunyai hasil panen yang baik dalam bertani, tepatnya dimulai tanggal 22 Juni 1856, dengan urut-urutan :

1. Kasa, mulai 22 Juni, berusia 41 hari. Para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan di masa ini dimulai menanam palawija, sejenis belalang masuk ke tanah, daun-daunan berjatuhan. Penampakannya/ibaratnya : lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).

2. Karo, mulai 2 Agustus, berusia 23 hari. Palawija mulai tumbuh, pohon randu dan mangga, tanah mulai retak/berlubang. Penampakannya/ibaratnya : bantala (tanah) rengka (retak).

3. Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari. Musimnya/waktunya lahan tidak ditanami, sebab panas sekali, yang mana Palawija mulai di panen, berbagai jenis bambu tumbuh. Penampakannya/ibaratnya : suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran).

4. Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari. Sawah tidak ada (jarang) tanaman, sebab musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya : waspa kumembeng jroning kalbu (sumber).

5. Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari. Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon asem mulai tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya : pancuran (hujan) emas sumawur (hujannya) ing jagad.

6. Kanem, mulai 10 Nopember, berusia 43 hari. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya), burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya : rasa mulya kasucian (sedang banyak-banyaknya buah-buahan).

7. Kapitu, mulai 23 Desmber, usianya 43 hari. Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan, banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya : wisa kentar ing ing maruta (bisa larut dengan angin, itu masanya banyak penyakit).

8. Kawolu, mulai 4 Pebruari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari. Padi mulai hijau, uret mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya : anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan, musimnya kucing kawin).

9. Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari. Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah, jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara. Penampakannya/ibaratnya : wedaring wacara mulya ( binatang tanah dan pohon mulai bersuara).

10. Kasepuluh, mulai 26 Maret, usianya 24 hari. Padi mulai menguning, mulai panen, banyak hewan hamil, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya : gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang hamil).

11. Desta, mulai 19 April, berusia 23 hari. Seluruhnya memane n padi. Penampakannya/ibaratnya: sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan).

12. Saya, mulai 12 Mei, berusia 41 hari. Para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke lumbung. Di sawah hanya tersisa dami. Penampakannya/ibaratnya : tirta (keringat) sah saking sasana (badan) (air pergi dari sumbernya, masa ini musim dingin, jarang orang berkeringat, sebab sangat dingin).

Demikian uraian singkat tentang Pranata Mangsa, yang jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, hal tersebut diatas tentunya harus diselaraskan secara ilmiah, kondisi alam, kemajuan teknologi pengindraan satelit cuaca, dan sebagainya.

WUKU dan KELAHIRAN

Tiap-tiap wuku mempunyai watak sendiri-sendiri. Watak wuku dapat dipergunakan untuk mengetahui dasar watak bayi lahir :

1. Sinta..dewanya sangyang Yamadipati = wataknya seperti raja dan pendita, banyak kemauan, keras, cepat bahagia, bakat kaya harta benda. Memanggul tunggul = mudah mendapatkan kesenangan hidup. Kaki belakang direndam dalam air = perintahnya panas didepan dingin belakang. Pohonnya : Kendayakan = jadi pelindung orang susah, dan orang minggat.
Burungnya : Gagak = mengerti petunjuk gaib. Gedungnya didepan = memperlihatkan simbul kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : Berada di pertengahan umur. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau seharga 21 keteng dimasak pindang, membelinya tidak menawar. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Tolak bilahi. Candranya : Endra = gemar bertapa brata, angkuh, suka kepada kepanditan. Ketika kala wuku berada ditimu laut, selama 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

2. Landep.dewanya sangyang Mahadewa = bagus rupanya, terang hatinya, gemar bersemadi. Kakinya direndam dalam air = perintahnya keras didepan dingin dibelakang, kasih sayang. Pohonnya : Kendajakan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burungnya : Atatkembang = jadi kesukaan para agung, jika menghambakan diri jadi kesayangan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir.
Bahayannya : korobohan pohon. Tangkalnya : Selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus. Lauknya daging rusa dicacah lalu dibakar. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Surating raditya = tajam ingatannya, dapat mengerjakan segala pekerjaan, dapat menggrirangkan hati orang lain.

3. Wukir.dewanya sangyang Mahayekti = besar hatinya, menghendaki lebih dari sesama. Tunggalnya : didepan = akhirnya hidup senang. Menghadapi air di jembung besar = baik budi pekertinya. Pohonnya : Nagasari = bagus rupaya, sopan-santun, jika bekerja dicintai oleh majikannya. Burungnya : Manyar = tak mau kalah dengan sesama, dapat mengerjakan segala pekerjaan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : dianiaya.
Penangkalnya : selamatan nasi uli, beras sepritah dikukus, daging ayam ayam putih dimasak pakai santan dan sayur lima macam. Selawatnya 4 keteng. Doanya rajukna. Candranya : Gunung artinya jika didekati sulit dan berbahaya jika dilihat dari jauh menyedapkan pemandangan. Ketika kolo wuku berada ditenggara, dalam 7 hari tidak boleh mendatangi tempat kolo.

4. Kurantil.dewanya sangyang Langsur = pemarah. Memanggul tunggal = akhirnya mendapat kesenangan hidup. Air dalam jimbung besar disebelah kiri = serong hatinya. Pohonnya : Ingas = tak dapat untuk berlindung, karena panas. Burungnya : Salinditan = tangkas. Gedungnya terbalik didepan = murah hati. Bahayanya : jatuh memanjat.
Penangkalnya : selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam lereng dipecal. Selawatnya 7 keteng. Doanya : rajukna dan pina. Candranya : Woh-wohan = tak tentu rejekinya.Ketika kolo wuku berada dibawah, dalam 7 hari tak boleh turun dari gunung dan tak boleh menggali tanah.

5. Tolu.dapat menyenangkan hati orang lain, kalau marah berbahaya, tak dapat dicegah, Tunggulnya : dibelakang = kebahagiannya terdapat dibelakang hari. Pohonnya : Wijayamulya = sangat indah rupanya, tajam roman mukanya, tinggi adat-istiadatnya, teliti, suka pada kesunyian, selamat hatinya. Burungnya : Branjangan = riang tangan, cepat bekerjanya. Gedungnya didepan = suka memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya = ditanduk atau disiung.
Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam dimasak dengan santan. Selawatnya 3 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Wangkawa = angkuh, tidak tetap, suka bohong.Ketika kolo wuku berada dibarat-laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

6. Gumbreg.dewanya sangyang cakra = keras budinya, segala yang dikehendakinya segera tercapai, tak mau dicegah, pengasih. Kakai sebelah yang didepan direndam dalam air = perintahnya dingin didepan, panas dibelakang. Pohonnya : beringin = jadi pelindung keluarganya, budinya tinggi. Burungnya : ayam hutan = liar, dicintai oleh para agung, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya dikirikan = penyayang, jika marah taka sayang kepada harta bendanya.
Bahayanya : tenggelam atau kejatuhan dalam. Tangkalnya : selametan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam berumbun yang masih muda dan daun-daun 9 macam. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Rajukna. Candranya : Geter nekger ing wijati = hening pikirannya, perkataannya nyata redhoan.Ketika “kala wuku” berada di Selatan menghadap utara, dalam 7 hari tidak boleh memandang wajah kala.

7. Warigalit, dewanya sangyang asmara = bagus rupanya,senang asmara, cemburuan, hatinya mudah tersentuh, Pohonnya : sulastri = bagus rupanya, banyak yang cinta. Burungnya : kepodong – cemburuan, tak suka berkumpul dengan orang banyak. Bahayanya : tersangkut suatu perkara.
Tangkalnya : selametan nasi urap beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau ranjapan (pembelian bersama-sama), dimasak getjok. Selawatnya 8 keteng. Doanya : tolak bilahi. Candranya : kaju kemladean ngajak sempal = dimana-mana dapat tumbuh. Ketika “kala wuku” berada diatas, dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala

8. Warigagung, dewanya sanghyang mahajekti = berat tanggungannya, berkeinginan. Tunggulnya : dibelakang – rejekinya dibelakang hari. Pohonnya : cemara = rame bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati. Burungnya : betet = keras kemauannya, pandai mencari kehidupan. Gedungnya dua buah dibelakang dan didepan = ichlasnya hanya setengah. Bahayanya : dimarahi temannya.
Penangkalnya : selamatan nasi uduk bers sepitrah dikukus, lauknya daging bebek dimasak gurih dan daun-daunan 5 macam. Selawatnya 5 keteng. Doanya : rasul. Candranya : Ketug lindu = menepati perkataannya, jika marah menakutkan, tidak mau menerima takdir. Ketika “kala wuku” berada di utara menghadap ke selatan, dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.

9. Julungwangi, dewanya sanghyang sambu = tinggi perasaannya, tidak boleh disamai. Mengahadap air dijembung = pradah ikhlasan, akan tetapi harus diperlihatkan harum = dicintai oleh orang banyak. Burungnya kutilang = banyak bicara dan perkataannya dipercayai orang, dicintai para pembesar.
Bahayanya : diterkam harimau. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam brumbun dan uang suwang (+/- 81 ½ sen). Selawatnya : kucing. Doanya Tolak bilahi. Candranya : kasturi arum angambar = segala kehendaknya belum terjadi telah tersiar banyak yang cinta.

10 Sungsang, dewanya sanghyang gana = pemaranh, gelap hati. Air dijebung didepannya +/- pradah, ikhlasan, harus diperlihatkan pemberiannya, banyak rejekinya. Pohonnya : tanganan = tak suka menganggur, keras budinya, suka kepada kepunyaan orang lain. Burungnya : nori = pemboros, jauh kebahagiaannya, murka. Gedungnya terbalik dibelakang = ikhlasan dengan tidak pakai perhitungan.
Bahayanya : kena besi. Tangkalnya : selamatan nasi megana dan tumpeng betas 2 pitrah, daun-daunan 9 macam dicampur dalam tumpeng. Selawatnya 10 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : sekar wora-wari bang = besar amarahnya, tetapi mudah dicegah. Ketika “kala wuku” berada di timur dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.

11. Galungan, dewanya sangyang Komajaya = teguh hatinya, dapat melegakan hati orang susah, cinta pada perbuatan baik, jauh kepada perbuatan jahat. Memangku air dalam bokor =suka bersedekah, pengasih, namun sedikit rejekinya. Pohonnya : Tanganan = ringan tangan, keras budinya, gampang suka pada kepunyaan orang lain. Burungnya : Bido = besar nafsunya, murka.
Bahayanya : berselisih.Penangkalnya : selamatan nasi beras sepitrah dikukus, lauknya daging kambing. Doanya : Selamat pina. Candranya : peksi wonten ing luhur = jika mencari hasil dengan menundukkan kepala, sebab gora-goda. Ketika kolo wuku berada di selatan daya, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

12.Kuningan, dewanya sangyang Indra = melebihi sesama, tinggi derajatnya. Pohonnya : Wijayakusuma = rupanya sangat indah, sangat puaka, tinggi budinya dan teliti, menghindari keramaian, selamat hatinya. Burungnya : Urang-urangan = cepat bekerjanya, lekas marah, pemalu.
Gedungnya dibelakang, jendelanya tertutup = hemat. Bahayanya = diamuk..Penangkalnya : selamatan nasi punar beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau membelinya beramai-ramai, digoreng. Selawatnya 11 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Garojogan = rame bicaranya, banyak bohong.Ketika kolo wuku berada di Barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala

13. Langkir, dewanya sangyang Kala menggigit bahunya sendiri = besar nafsunya, tidak sayang kepada badannya sendiri, yang melihat takut, buruk adat-istiadatnya, tidak mau menurut, murka, banyak larangan. Pohonnya : Ingas dan cemara tumbang = panas hati, tak boleh didekati orang,
Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah dikukus, lauknyadaging kambing dan ikan dimasak pakai santan, sayuran secukupnya. Selawatnya 5 keteng. Doanya : Slametpina. Candranya : Redi gumaludug = bicaranya menakutkan, tetapi tidak mengapa.Ketika kolo wuku berada di selatan daya, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

14. Mandasia,dewanya sangyang Brama, kuat budinya, pemaran, tak mau memberi ampun, jika marah tak dapat dicegah, tegaan. Pohonnya : Asam = kuat dan dicintai orang banyak, jadi pelindung sengsara. Burungnya : Platukbawang = kuat budinya, cepat pekerjaannya, tidak sabaran. Gedungnya terguling didepan = hemat dan banyak rejekinya. Bahayanya : Kena api dan dijahili orang.
Penangkalnya : selamatan nasi merah beras sepitrah dikukus, sayur bayam merah, daging ayam merah dipindang dan bunga setaman yang merah. Selawatnya uang baru 40 keteng. Doanya : Slamat. Candranya : Watu item munggeng papreman lan wreksa gung lebet tancepnya = sabar, tetapi jika marah kejam.Ketika kolo wuku berada diatas, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

15. Djulungpujut, dewanya sangyang guretno, = suka kepada keramaian, tersiar baik, mempunyai kedudukan yang lumayan. Menghendaki bukit = besar kemaunnya, tak suka diatasi, menghendaki memerintah. Pohonnya : Rembuknya = indah warnanya, tidak berbau, dimana-mana jadi kunjungan orang.
Burung : Prijohan = besar kemauannya, halus budinya. Bahayanya : diteluhPenangkalnya : selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus, daging ayam merah dipanggang, daun- daunan 9 macam. Selawatnya 30 keteng. Doanya : Balasrewu dan Kunut. Candranya : Palwa ing samodra = kesana-kemari mencari nafkah, rejekinya tidak kurang.Ketika kolo wuku, berada di utara dan selatan, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

16. Pahang, dewanya sangyang tantra = perkataannya melebihi sesama, tidak sabaran menepati janji. Jembungnya disebelah kiri dibelakangnya = suka jalan serong. Memanggul senjata tajam = waspada, kasar perkataannya, panas hati, suka bertikai. Pohonya : Kendayaan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burung : Cocak = gelatak bicaranya. Gedung telentang = boros.
Bahayanya : dianiaya.Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah, lauknya daging ayam dimasak sansan, daun-daunan 11 macem. Selawatnya 9 keteng. Doanya : Rasul.Candranya : Pulo katinggal saking tebih = tersiar semua tingkah lakunya, lahirnya suci, batinnya kotor, angkuh, selalu susah.Ketika kolo wuku berada di Barat-Laut dalam 7 hari tak boleh mengunjungi tempat kala.

17. Kuruwelut, dewanya sanhyang wisnu : tajam ciptanya, tinggi dan selamat budinya, melebihi sesama dewa. Memanggul : cakra = tajam hatinya, berhati-hati. Pohonnya : parijata = jadi pelindung dan besar kebahagiaannya. Burungnya : puter = jika berbicara mula-mula kalah, akhirnya menang, tidak pernah bohong, tidak suka terhadap perkataan yang remeh. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, puaka tak dapat dipermudah.
Bahayanya : kena racun daun. Tangkalnya : selamatan bermacam-macam sayuran, jajan pasar, sekar boreh, tindihnya uang lama sebaranDoanya : tawil. Candranya : tirta wening = sedikit bicaranya, suci hatinya, diturut perintahnya, jadi tempat pengungsian. Ketika “kala wuku” berada diatas, dalam 7 hari tidak boleh mendatangitempat kala.

18. Mrakeh, dewanya sangsyang surenggana = tawakal hatinya, agak ingatan, berkesanggupan, berani kepada kesulitan. Tunggulnya membalik = lekas hidup senang. Pohonnya : Trengguli = buahnya tidak berguna. Tak mempunyai burung = tak boleh disuruh jauh, tentu mendapat bahaya. Gedungnya dipanggul = memperlihatkan pemberian. Bahayanya : tenggelam.
Tangkalnya : selamatan nasi uduk, daging ayam mulus dimasak dengan santan dan bermacam-macam ketan. Selawatnya 100 keteng.Doanya : tolak bilahi. Candranya : pandam ageng amerapit = tawakal, mempunyai hati kasihan kepada orang miskin. Ketika “kala wuku” berada di utara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

19. Tambir, dewanya sanghyang siwa = lahir dan batinnya terkadang berlainan. Pohonnya : Upas = bukan tempat perlindungan, tajam perkataannya. Burungnya : prenjak = tahu petunjuk gaib, suka membuat perkabaran yang mengherankan, . Gedongnya ditengah = tinggi percaya dirinya Bahayanya : terkena pasangan. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah diliwet, lauknya daging bebek dan ayam dipindang, kuah merah dan putih dan ketimun 25 buah.
Selawatnya : pisau baja dan jarum satu. Doanya : slamet dina. Candranya : idune lir upas ratjun = dihargai semua perkataannya. Ketika “kala wuku” berada di barat daya, dalam 7 hari tidak boleh mengunjungi tempat kala.

20. Madangkungan, dewanya sanghyang basuki : ahli bicara, tawakal, tetap hatinya. Pohonnya : plasa = hanya jadi perhiasan hutan, tidak ada gunanya. Burungnya : pelug = suka tinggal di air, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya di atas = mendewa-dewakan kekayaannya, tawakal, hemat. Bahayanya : dibunuh pada waktu malam. Tangkalnya
Selamatan nasi punar beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam kuning (wiring kuning) dan berumbun, digoreng, jenang merah pada waktu hari kelahirannya. Selawatnya : 5 keteng. Doanya : ngumur. Candranya : umajang kang tetabuhan = menepati perkataan, dan dapat menyenangkan hati orang lain. Ketika “kaa wuku” berada di timur, dalam 7 hari tak boleh mendatangi kala

21. Maktal, dewanya sanghyang sakri = lurus hatinya, baik pekerjaannya. Pohonnya : nagasari = bagus rupanya, lemah lembut tutur katanya, dicintai oleh pembesar. Burungnya : ayam hutan = liar dan tinggi budinya, banyak tanda-tandanya akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya ditumpangi tunggal = kaya benda dan dihormati. Bahayanya = bertikai.
Tangkalnya : selamatan nasi uduk, daging ayam dan bebek dimasak 2 macam, dipindang dan dimasak dengan santan, niatnya : ngrasul. Selawatnya 4 keteng. Doanya : rasul. Candranya : lesus awor lan pancawara = lebar pemandangannya, dalam pikirannya. Ketika “kala wuku” berada di timur laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi kala

22. Wuje, dewanya betara kuwera = menggirangkan hati orang lain, perkataannya lurus dan mengherankan, singkat hati, tetapi sebentar baik. Memasang keris terhunus disebelah kaki = waspada dan tajam hatinya. Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar tanda kebahagiannya, kuat dan tetap hatinya. Burungnya : gogik = cemburuan, tak suka kepada keramaian. Gedungnya terlentang didepan = pengasih.
Bahayanya : diteluh. Tangkalnya : selamatan jajan pasar secukupnya dan bermacam-macam ketan seharga sataksawe (+/- 10 sen). Yang dibeli dahulu madu untuk selanunggal rum arum = peteng hati, sukar dijalani, suka kepada bau harum, besar kehendaknya. Ketika “kala wuku “ berada di barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

23. Manahil, dewanya sangyang Citragatra = menjunjung diri sendiri, dapat berkumpul ditempat ramai, bakat angkuh, selalu bersedia-sedia untuk membela diri. Air dijembung dibelakangnya = Arum perintahnya, akan tetapi tak mempunyai pangkat. Memangku tombak terhunus = waspada dan tajam hatinya.
Pohonnya : Tageron = sedikit faedahnya, liat hatinya. Burungnya : Sepahan = liar budinya, tajam pikirannya. Bahayannya : terkena senjata tajam.Penangkalnya : selamatan nasi liwet beras sepitrah, lauknya daging ayam dan ikan, sayuran secukupnya, sambal gepeng. Selawatnya 8 keteng. Doanya : Selamat tolak bilahi. Candranya : Trenggana abra ing wijit = sabar segala kemauannya, tak suka menganggur, banyak kemauannya.Ketika kala wuku berapa di Tenggara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

24. Prangbakat, dewanya sangyang Bisma = pemarah, tangkas, pemalu, memperlihatkan watak prajurit, menghendaki jadi pemimpin orang, lurus pembicaraannya, segala yang dikehendaki tak ada sukarnya. Kakinya kanan direndam dalam air jembung = perintahnya dingin didepan panas dibelakang. Pohonnya : Tirisan = panjang umurnya, cukup rejekinya, tetap pikiranya.
Burungnya : urang-urangan = cepat kerjanya. Bahayanya : memanjat atu karena tingkahnya sendiri. Tangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah, lauknya daging sapi, dimasak bumbu manis, sayuran secukupnya. Selawatnya : pacul. Doanya : aelamat pina. Candranya : wesi trate pulasani = keras hatinya, cepat kerjanya, pemberi, jujur, belas kasihan. Ketika “kala wuku” berada dibawah, dalam 7 hari tak boleh turun dari gunung dan menggali tanah.

25. Bala, dewanya batari Durga = suka berbuat huru-hara,membuat berita, jahil, suka bercampur dengan kejahatan, tak ada yang ditakuti, pandai sekali bertindak jahat. Pohonnya : cemara = ramai bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati.
Burungnya : Ayam hutan = liar budinya, dicintai oleh pembesar, tinggi budinya, banyak tanda-tanda akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat yang sunyi. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah dilahir. Bahayanya : diteluh dan kena upas.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, sayur 7 macam, panggang ayam hitam. Selawatnya 40 keteng. Doanya : Rajukna : Udan salah mangsa = rejekinya dari jual beli.Ketika kala wuku berada di Barat-Laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

26. Wugu, dewanya sangyang Singajala = banyak akal, lekas mengerti, baik budinya. Pohonya : Wuni sedang berbuah = siapa yang melihat bagaikan mengidam, akan tetapi jika telah makan, sering mencela, banyak rejekinya. Burungnya : Podang = cemburuan, tidak suka berkumpul. Gedungnya tertutup dibelakang = hemat dan pendia. Bahayanya : digigit ular dan disia-sia.
Penangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus dan bermacam-macam ketan, jajan pasar, lauknya daging bebek putih sejodoh dimasak dengan santan. Selawatnya 10 keteng. Doanya: Selamat. Candranya : awang-uwung = baik budinya.Ketika kala wuku berada di sebelah Selatan, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

27. Wayang, dewanya batari Sri = banyak rejekinya, pradah, bakti, teliti, dingin perintahnya dicintai oleh orang banyak. Jembung berisi air didepan dan duduk disitu = sejuk hatinya, sabar, rela hati, akan tetapi harus diperlihatkan pemberiannya. Pasang keris terhunus = perintahnya mudah didepan, sukar dibelakang. Pohonnya = Cempaka = dicintai oleh orang banyak
Burungnya = Ayam hutan = dicintai oleh pembesar, liar budinya, berbakat angkuh, senang tinggal ditempat yang sunyi. Bahayanya : kenah tulah dan difitnah.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, daging kambing kendit dimasak macam-macam ketan, ayam dimasak sesukanya, sayuran secukupnya. Selawatnya 40 keteng. Doanya : selamat. Candranya : damar murub, bumi langit = selamat, banyak ilmunya.Ketika kolo wuku berada diatas, dalam 7 hari tak boleh naik.

28. Kulawu, dewanya sangyang Sadana = kuat budinya, besar harapannya. Duduk dijembung berisi air ditepi kolam = sejuk hatinya, dingin perintahnya. Membelakangi senjata tajam = pikirannya terdapat dibelakang, kurang pandai. Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar harapannya, kuat budinya.
Burungnya : Nori, boros, murka. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : terkena bisa. Penangkalnya : selamatannasi golong beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam dan bebek yang berwarna merah, ikan dan daging burung, dimasak sekehendahnya. Selawatnya 5 keteng. Doanya : Kabula. Candranya : Bun tumetes ing sendang = ketika kecil miskin, akhirnya besar kebahagiannya, banyak rejekinya.Ketika kala wuku berada di Utara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

29. Dukut, dewanya sangyang Sakri = keras hatinya. Menghadapi keris terhunus = waspada, tajam pikirannya, segala yang dilihatnya berhasrat dipunyainya. Pohonnya : Pandan wangi = kiri tempatnya, dengki, tak boleh didekati. Burungnya : Ayam hutan = dicintai oleh para pembesar, liar dan tinggi budinya, besar harapannya, suka tinggal ditempat sunyi.
Membelakangi gedungnya = hemat dan pendiam. Bahayanya : dimedan perang.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, lauknya panggang ayam putih mulus dan ayam brumbun. Selawatnya satakswawe. Doanya : Slamet. Candranya : tunggul asri sesengkeraning nata = bagus rupanya, penakut.Ketika kala wuku berada di Barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

30. Watugunung, dewanya sangyang Antaboga dan batari Nagagini. Antaboga = senang tinggal alam untuk bertapa. Nagagini = gemar kepada asamara. Menghendaki janji = suka bertapa ditempat yang sunyi, jika menjadi pendita, mendapat kehormatan, gemar bersemedi, sering bersedih hati. Pohonnya : Wijayakusuma = rupawan, tinggi budinya, tidak suka pada keramaian, terlihat angkuh, teliti. Burungnya : Gogik = cemburuan. Bilahinya : teraniaya.
Penangkalnya : selamatan beras sepitrah dikukus, lauknya daging binatang yang diburu, binatang berliang, burung, semuanya yang halal, dimasak bermacam-macam jenang, daun-daunan 7 macam. Selawatnya 9 keteng. Doanya : Mubarak. Candranya : Lintang wulan keraianan = terang hatinya, tetapi tidak bercahaya.Ketika kala wuku berapa di timur, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.

Memayu hayuning buwana
Amung sami adremi nengga
Sabda Gusti hing wasana
Nemahi jaman buwana yudha
Ilanging bumi sakabehe
Nuli ganti alam lestari
Ojo nganti padha rugi
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat),
dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”,
pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada
mereka (balasan) pekerjaan mereka.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

( QS. Al Zalzalah )

sumber : http://sunansaung.multiply.com/reviews/item/2
More … Alfatiha

SUWUNG PAMRIH TEBIH AJRIH

SUWUNG PAMRIH TEBIH AJRIH

(Karya Raden Sostro Kartono, putra Bupati Jepara. Beliau adalah kakak kandung RA Kartini. Syair cinta ini ditulis sekitar tahun 1886 M).

Sugih tanpa banda

Nglurug tanpa bala

Digdaya tanpa aji

Menang tanpa ngasorake.

Menawi kula ajrih,

Rak kirang manteb kula

Dateng Gusti kula.

Tameng kula inggih Gusti kula.

Ing donya mung kebak kangelan,

Sing sapa ora gelem kengelan, aja ana ing donya.

Ajinipun inggih mboten sanes namung aji tekad, ilmunipun ilmu pasrah, rapalipun adiling Gusti.

Sinahu melu susah, melu sakit.

Tegesipun: Sinau ngudi raos lan batos.

Sinau ngudi kamanungsan.

Ganjarane ayu lan arume sesami.

Nanging kulo mboten kenging nilar patokan waton kulo piyambak, utawi supe dateng maksud lan ancasipun agesang; Inggih punika: ngawula dateng kawulaning Gusti, lan memayu ayuning urip.

Langgeng tan ana susah, tan ana seneng.

Anteng manteng, sugeng, jeneng.

Prabotipun wong lanang inggih punika: bares, wani, mantep

Kula bade ngukur dedeg kula, nimbang boting kamantepan, njajagi gayuhanipun budi.

Yen kersa nyangoni, sampun nyangoni uwas, nanging nyangoni mantep lan pasrah.

Punika sangunipun wong lanang.

Insya Allah kula nglajengaken lampah.

Tanpa tedeng aling-aling.

Sampun duwe rasa wani.

Ugi sampun duwe ati wedi.

Yen kapengkok aja mlayu.

Pakarti asor numusi anak putu lan mbekta kasangsarane tiyang katah.

Babad Pajang, Patah, Mataram Sultan Agung, Mangkurat lan sapiturutipun saged dados tepa palupi.

Eling.

Ayo pada dilakoni.

Durung menang, yen durung wani kalah.

Durung unggul, yen durung wani asor.

Durung gede, yen durung ngaku cilik.

Welas asih.

Aja dumeh tepa slira ngerti kuwalat

Yen unggul, sujud bakti marang sesami.

Ikhlas marang apa sing wis kelakon.

Trimah apa kang dilakoni.

Pasrah marang apa kang bakal ana.

Joko pring.

Mandor Klungsu.

Catur Murti.

SANG GURU

Murid, gurune pribadi.

Guru, muride pribadi.

Pamulangane, sengsarane sesami.

Ganjarane, ayu lan arume sesami.

MANDOR KLUNGSU

Para Pangeran ingkang sami rawuh perlu manggihi pun Klungsu.

JOKO PRING

Pring pada Pring.

Weruh pada weruh.

Eling pada eling.

Eling tanpa nyanding.

Kendel

Kendel.

Wani mengku: anteping ati, kencenging pikir, boboting kekuwatane.

Nekad: kekendelan, ngluwihi kekuwatan.

Jejeg.

Jeneng.

Marang rusak.

Marang jejg.

Rasa asih, tekad asih.

Yen tunggal bangsa.

Ingkang dados polanipun lampah kula inggih puniko:

Jawi bares.

Jawi deles.

Jawi sejati.

Kula dermi anglampahi kemawon.

Yen kepareng wonten buktinipun mugi dumawaho dumunungo wonten ing bongso kulo.

Yen wonten kahormatan, bongso kito ingkang gadah hak.

Yen wonten kaluhuran, inggih bongso kulo ingkang dados pemandenganipun bongso sanes.

Kulo namung trimo dados kawulo, dermi nglampahi.

Punika teges maksudipun lampah kulo.

Hormat dan cinta pada bangsa lain, tapi hormat dan juga pada bangsa sendiri, mboten kenging nyudo reginipun saliro. Utawi nyudo reginipun bangsanipun.

Nyebar wijio sederekan lan wiji utamining kejawen ing manca negari.

Kulo sowan dateng para Sultan inggih ajeg ngangge rasukan takwo lurik, mawi sinjang tenunan, mboten isin ngluhuraken pusoko lan wasiyat warisan Jawi. Malah puniko mewahi pengaos.

K. Ratu putri Langkat ngantos karso ngyasakaken dateng kulo minongko tondo pangenget-engrt.

Dipun damelaken piyambak.

Sampun mundhut contonipun takwo kulo.

Semanten jayanipun rasukan takwo.

Milo tiyang gesang puniko mboten kenging ngino pusoko wasiyatipun piyambak.

Ingkang tansah kulo mantepi:

1. agami kulo lan
2. kejawen kulo.

Inggih bab kalih puniko ingkang kulo luhuraken.

Budi jawi.

Angluhuraken bongso kito; tegesipun

Anyebar wineh budi Jawi.

Gampilaken marganing bongso ngupoyo papan panggesangan.

Ngawulo dateng kawulaning Gusti, lan memayu ayuning urip.

Ageng alit sami sambat lan tangisipun dateng ulun, amemelas, angrentahaken luh lan manah. Awrat sangetawratipun dipun sambati tiyang katah, langkung awrat malih yen sambatipun dipun lebetaken rasa lan batos.

Medal malih luhing manah, kemutan para sesmi ingkang saweg ginanjar nandang susah lan sangsara, mboten kolu nedo, mboten kolu ngombe, kemutan tiyang sakit, tiyang keluwen semanten cacahipun.

Ical, sirna susah sayahipun pribadi anggagas, amndeng lan mantheng susahipun sesami, luluh sakit lan susahipun pribadi wontening sagunging samodraning sakit lan sangsaranipun sesami.

Gusti, Ingkang Maha Agung.

Gusti, Ingkang Maha Kuwasa, mugi-mugi kaparingan kabul ingkang dados maksud lan kajatipun para umat sadoyo. Mugi-mugi rentaha welas lan ngapuraning Gusti dumateng para umat, umat Gusti.

Gusti mugi kersa ndawahaken samodraning berkah dateng para umat, nyirnakaken sagunging susah lan sakit, paring wewahing sugeng lan senengipun para kawulo.

Luh ingkang mijil saking sucining batos lan raos, ingkang tuwuh saking sucining bakti marang kersaning GUSTI.

Welas, welas Gustining Jagad.

Waras, waras saking karsaning Allah.

Emut kulo dateng pepunden, panembahan kula, emut dateng Ibu.

Tuwuh gagasan kula ingkang mekaten:

Iba bungahe Ibu yen pirsa aku payah, aku lara saka enggonku nulung wong; jalaran saking manteb lan eklasing panggalih. Seger sariro, terang pikiran, ser tilem badan ingkang nandang kesel lan lara wau.

Apa sing diarani jamu utama?

Yaiku baktiku, tresnaku marang Ibu, yaiku ing paran ngendi-endi sing dadi jamu caket, jamu adoh, jamu susah, jamu lara, jamu peteng, jamu padang, jamu turu, jamu laku.

Ibu yaiku wakil Allah ing donyo.

Ibu sing nyaketake aku marang Gusti .

Elinga, para sadulur sing lali marang Ibune.

Ingkang tansah dados ancasipun lampah kulo mboten sanes namung sunyi pamrih puji kulo mboten sanes namung sugih, sugeng, senengipun sesami.

Prabot kulo mboten sanes badan lan budi.

Aji Pring

Among guyup

Ancas kulo mboten sanes namung mugi-mugi kaparingan kiyat saged urun budi.

Memayu ayuning urip, memayu awonipun agesang, nyuwito

Ngawulo bakti dateng sesaminipun.

Lampah kulo tansah anglampahi dados kawulaning sesami tansah anglampahi dados muriding agesang, wajib tiyang gesang, wajib tiyang gesang sinau anglaras batos saha raos.

Kawulaning sesami

Nulung pepadane, ora nganggo mikir wayah, waduk, kantong.

Yen ana isi luuntur marang sesami.

Nulung sesami punika mboten mesti wonten ganjaraipun nandang sae sering nandang pitenah.

Trimah mawi pasrah.

Dede tekad pamrih, nanging tekad asih.

Senajan dede sanak, dede kadang, dede mitra, dede tepangan, kula aturi sinahu nyupakaken susah lan sesakitipun piyambak, sinahu ngraosaken lan nyumerepi tunggalipun manusa, tunggalipun rasa, tunggalipun asal lan maksudipun agesang.

Tiyang mlampah punika, sangunipun lan gembolanipun namung satunggal, inggih punika ; ‘maksudipun.’

Barang sanesipun kenging dipun wastani ngriribedi lan ngrawati lampah kenging dipun wastani ugi : ngendoni niyat utawi “nginger ancas lan tujuning lampah.”

Sucining batos lan raos.

Tumraping kula piyambak, kejawi urun batos, raos, kula kedah wani urun badan, urun dada, urun bahu.

Mugi-mugi kaparingan “kuat,” kuat niat, kuat urat.

Ingkang kulo dalaken dede tekad pamrih,nanging tekad asih.

Luh ingkang medal saking manah punika, dede luhipun tangis pamrih, nanging luh peresanipun manah suwung pamrih.

Sinau ngudi raos lan batos, sinau ngudi kemanungsan.

Manah kula minangka kacanipun susahipun, raosipun sesami.

Kaca punika inggih rasa, mila kita kedah sinau maca mawi kaca, sinau maos mawi raos.

Anglurug, tanpo bolo, tanpo gaman.

Ambedah, tanpo perang, tanpo pedang.

Menang, tanpo mejahi, tanpo nyakiti.

Wenang, tan ngrusak ayu, tan ngrusak adil.

Yen unggul, sujud bakti marang sesami.

I am the sword.

I defend the weak.

I am the sword.

I kill the weak.

Aja sira aweh kasekten marang durjana.

Tilaripun pangkat, menangipun budi.

SANG ALIF

Ngawulo dateng kawulanging Gusti lan memayu ayuning urip.

Nindakaken ibadat, inggih punika nindakaken kewajiban bakti lan suwito kulo dateng sesami.

TIRTA HUSADA

Ngawula dateng kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip, tanpo pamprih tanpo ajrih, jejeg, mantep mawi pasrah.

Sebab payung kulo GUSTI kula, tameng kula inggih GUSTI kula.

Yen kula mundur, sebab ajrih, kula kenging dipun wastani kirang pasrah dateng GUSTI.

Yen kula ajrih, kenging dipun wastani ngandut pamrih utawi ancas ingkang mboten sae.

Suwung pamrih, suwung ajrih, namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggakaken dateng GUSTI.

Matur sewu sembah nuwun.

Nyuwun gunging pangestu.

Nyuwun ngapuro.

ANGUKUP KABEH ANYANDAK SIJI

Angukup kabeh.

Anyandak siji.

Ambuka netra.

Tegesipun.

Anutup netra.

SEPI PAMRIH JAUH DARI TAKUT

Terjemahan oleh : M. Hariwijaya

Kaya tanpa harta benda.

Menyerang tanpa bala tentara.

Kuat tanpa azimat.

Menang tanpa mengalahkan.

Kalau saya takut,

Kan kurang mantap saya kepada Tuhan.

Payung saya Tuhan saya.

Perisai saya ya Tuhan saya.

Dunia ini hanya penuh dengan kesulitan,

Barang siapa takut sama kesulitan, jangan ada di dunia.

Azimatnya tidak lain hanya tekad, ilmunya ilmu menyerah, rapalnya keadilan Tuhan.

Belajar ikut merasakan susah, ikut merasakan sakit. Artinya: Belajar menyempurnakan rasa dan batin.

Belajar menyempurnakan perikemanusiaan.

Pahalanya kebaikan dan keharuman sesama manusia.

Tetapi saya tidak boleh meninggalkan pedoman utama saya sendiri, atau lupa kepada maksud dan tujuan hidup, yaitu: mengabdi kepada hamba Tuhan, melindungi keselamatan hidup.

Abadi tiada duka, tiada suka.

Tenang, memusat, selamat, bahagia.

Perabot seorang jantan ialah:

Kejujuran, keberanian, kemantaban

Saya akan mengukur tinggi saya, menimbang beratnya kemantapan, mendalami raihan budi.

Pabila mau memberi bekal, jangan memberi bekal was, tetapi memberi bekal mantab dan menyerah.

Itulah bekal seorang jantan.

Insya Allah saya meneruskan perjalanan.

Secara terang-terangan.

Jangan mempunyai rasa berani.

Juga jangan mempunyai hati takut.

Jika kepergok jangan lari.

Perbuatan yang rendah menembus mengenai anak cucu dan membawa kesengsaraan bagi orang banyak.

Sejarah Pajang, Patah, Mataram Sultan Agung, Mangkurat dan seterusnya dapat dijadikan contoh.

Ingat,

Mari sama-sama dijalani.

Belum menang, kalau belum berani kalah.

Belum unggul, kalau belum berani rendah.

Belum besar, kalau belum mengaku kecil.

Belas kasihan.

Jangan mentang-mentang.

Tenggang rasa.

Tahu kena tuah.

Kalau unggul, sujud berbakti kepada sesama hidup.

Iklas kepada apa yang telah terjadi.

Menerima apa yang dijalani.

Pasrah kepada apa yang akan ada.

Jejaka bambu.

Klungsu = biji asam

Empat penjelmaan Sang Guru

Murid, gurunya diri pribadi.

Guru, muridnya diri pribadi.

Tempat belajarnya, kesengsaraan sesama.

Mandor Klungsu

Para Pangeran yang datang perlu menjumpai Si Klungsu

Joko Pring

Bambu sama-sama bambu.

Tahu sama-sama tahu.

Ingat sama-sama ingat.

Ingat tanpa berdampingan.

Berani

Berhenti.

Berani merangkum: ketetapan hati, keteguhan pikiran, bobotnya kekuatan.

Nekad: keberanian, melebihi kekuatan.

Tegak.

Tegak, jujur.

Menuju rusak.

Menuju tegak, jujur.

Rasa belas kasihan, tekad belas kasihan.

Kalau satu bangsa.

Yang jadi pola laku saya ya hanya ini:

Jawa jujur

Jawa asli.

Jawa sejati

Saya hanya sekedar melaksanakan saja.

Pabila diperkenankan ada buktinya semoga jatuhlah menjadi bangsa saya.

Pabila ada kehormatan, bangsa kita yang mempunyai hak.

Pabila ada keluhuran, juga bangsa kitalah yang menjadi pandangan bangsa lain.

Saya hanya sekedar menjadi hamba, sekedar melaksanakan.

Inilah arti maksud laku saya.

Hormat dan cinta kepada bangsa lain, tapi hormat dan cinta juga pada bangsa sendiri, tidak boleh mengurangi nilai pribadi Atau mengurangi nilai bangsanya.

Menabur benih persaudaraan dan benih keutamaan budi luhur di negeri asing.

Saya menghadap para Sultan ya selalu mengenakan pakaian taqwa lurik, memakai kain tenunan, tidak malu meluhurkan pusaka dan wasiat warisan Jawa. Malah hal itu menambah penghargaan.

Kanjeng Ratu Putri Langkat sampai mau membuatkan untuk saya sebagai tanda peringatan -kenang-kenagan.

Dibuatkan sendiri.

Telah minta contohnya taqwa saya.

Begitu jayanya baju taqwa.

Makanya orang hidup itu tidak boleh menghina pusaka wasiatnya sendiri.

Yang selalu saya mantabi:

1. Agama saya dan
2. Rasa jiwa Jawa saya.
3. Ya dua hal ini yang saya luhurkan.

Budi Luhur

Meluhurkan bangsa kita, berartia:

Menyebar benih budi luhur.

Memudahkan jalan bangsa mencari tempat nafkah hidup.

Mengabdi kepada hamba Tuhan, dan melindungi keselamatan hidup.

Besar kecil sama-sama meratap dan menangis di hadapan diriku, mengibakan, menyebabkan air mata menitik, meruntuhkan hati. Berat sungguh berat diratapi orang banyak, lebih berat lagi jika ratapan mereka dimasukkan ke dalam rasa dan hati.

Keluar lagi air mata hati, teringat kepada para sesama manusia yang sedang diberi kesusahan dan kesengsaraan, tidak ingin makan, tak ingin minum, teringat kepada orang sakit, orang kelaparan begitu banyak.

Hilang lenyap susah payah pribadi, memikirkan mereka, menatap dan memusatkan kesusahan sesama, luluh sakit dan susah pribadi di dalam samodra sakit semua dan kesengsaraan sesama.

Tuhan Yang Maha Agung.

Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga dikabulkan apa yang menjadi maksud dan hajat para umat semua.

Semoga jatuh belas kasihan dan ampun Tuhan kepada para umat, umat Tuhan.

Tuhan semoga sudi menjatuhkan samodra berkah kepada para umat, melenyapkan semua susah dan sakit, memberi tambahan kebahagiaan dan kesenangan kepada para hamba.

Air mata yang ke luar dari kesucian batin dan perasaan, yang timbul karena kesucian bakti kepada kemauan Tuhan.

Belas kasihan, belas kasihanilah Tuhan seru sekalian alam.

Sembuh, sembuh karena kehendak Illahi.

Teringat saya kepada pepunden, persembahan saya, teringat kepada Ibu .

Timbul pikiran saya begini:

Alangkah girang hati Ibu, jika melihat saya lelah, saya sakit karena habis menolong orang, dengan mantab dan iklas hati. Segar badan, terang pikiran, serta tidurlah badan yang menderita capai dan sakit tadi.

Apa yang dinamai obat utama?

Yaitu bakti saya, kasih sayang saya kepada Ibu, itulah yang di manapun menjadi obat dekat, obat jauh, obat susah, obat sakit, obat gelap, obat terang, obat tidur, obat laku.

Ibu, yaitu wakil Allah di dunia.

Ibu, yang mendekatkan saya kepada Tuhan.

Ingatlah saudara-saudara, yang lupa kepada Ibunya.

Yang selalu jadi tujuan laku saya, tidak lain hanya sunyi pamrih, puji saya tidak lain hanya kaya, bahagia dan senangnya sesama.

Prabot saya tidak lain badan dan budi.

Kesaktian bambu

Rasa persaudaraan.

Tujuan saya tidak lain hanya semoga diberi Tuhan kekuatan agar dapat menyumbang dengan budi.

Melindungi kebahagian hidup, menutup keburukan sesama hidup,

Melayani

Mengabdi

Berbakti kepada sesama manusia.

Laku saya selalu mengerjakan menjadi abdi sesama, selalu mengerjakan menjadi murid sesama hidup, wajiblah orang hidup belajar merenungkan batin dan perasaan.

Abdi manusia

Menolong sesama manusia tanpa mengingat (memikir) waktu, perut, saku

Jika saku berisi segera mengalir kepada sesama.

Menilong sesama manusi ini tidak tentu ada hadiahnya mendapat kebaikan, sering mendapat fitnah.

Menerima dengan penuh penyerahan.

Bukan tekad pamrih

Tetapi tekad belas kasihan.

Walaupun sama sekali bukan saudara, bukan teman, bukan kenalan, saya silahkan belajar melupakan susah dan sakitnya diri sendiri, belajar membela dan merasakan susah dan sakitnya sesama, yaitu belajar merasakan dan mengetahui ketunggalan asal dan maksudnya hidup ini

Orang berpergian itu, bekalnya dan yang dibawa hanya sebuah barang, yaitu: “maksudnya.”

Barang lain dapat dikatakan hanya menggaggu dan memberati perjalanan, dapat dikatakan juga: mengendorkan niat atau memutar arah dan tujuan perjalanan.

Sucinya hati dan perasaan.

Mengenai diri saya sendiri, kecuali menyumbangkan batin dan rasa, saya harus berani menyumbangkan badan, menyumbangkan dada menyumbangkan bahu.

Semoga dikarunia “kekuatan” kuat niat, kuat urat.

Yang saya keluarkan bukan tekad pamrih, melainkan tekad asih.

Air mata yang ke luar dari hati ini, bukan air mata tangis pamrih, tetapi air mata perasaan hati yang kosong pamrih.

Belajar menyempurnakan rasa dan batin, belajar menyempurnakan perikemanusiaan.

Hatiku sebagai cermin kesusahan, dan perasaan sesama manusia.

Cermin itupun juga rasa, maka dari itu kita harus belajar membaca pakai kaca, belajar membaca pakai rasa.

Menyerang, tanpa belatentara, tanpa senjata.

Menerobos, tanpa perang, tanpa pedang.

Menang, tanpa membunuh, tenpa menyakiti.

Berkuasa, tidak merusak kebaikan, tidak merusak keadilan.

Jika unggul, sujud berbakti kepada sesama manusia.

Saya adalah pedang

Saya melindungi yang lemah.

Saya adalah pedang

Saya bunuh yang lemah

Kamu jangan memberi kesakitan kepada penjahat.

Hilangnya pangkat, menangnya budi

Sang Alif

Mengabdi kepada hampa Tuhan dan menyempurnakan kebahagiaan hidup.

Mengerjakan ibadat, yaitu mengerjakan kewajiban berbakti dan pelayanan saya kepada sesama manusia.

Tirta Husada

Mengabdi kepada hamba Tuhan dan menyempurnakan kebagiaan hidup, tanpa pamrih, tanpa takut, tegak, mantab dengan penyerahan.

Sebab payung saya Tuhan saya.

Pabila saya mundur, karena takut, saya dapat dikatakan kurang menyerah kepada Tuhan.

sumber : http://parandaru.multiply.com/journal/item/1
More … Alfatiha

“Suluk Panggung”

Uswatun hasanah ing solah diri

Salam taklim sedaya manah suci

Tuntunan uriping sholat sayekti

Allohu Robbi

Dumununging laku iman sayekti

Amartha Jati ingkang kasembadan

Lampahing Darul Huda kaluhuran

Illahi Robbi dadhos ajining paugeran

Ihdinas shirathim mustaqim

Manembah Gusti Illahi kanthi taklim

Amaling syareat agamining muslim

Memayu hayuning akhlaqul karim

Trap sila medharing kawaskitan

Osiking rasa ambadhar kalangan

Nurul Huda ajining pangumbaran

Osiking bathin kuncen paseduluran

Budhining sanubari lan satya janji

Ukhuwah lahir bathin ingkang sawiji

Dhamparing para mukmin sajati

Ingkang trisna Kanjeng Nabi kaprapti

Manunggaling sirring kamanungsan

Amarsudi luhuring sifat kautaman

Kamiling taqwa kamaling iman

Mungguh sujud dumateng Pangeran

Ungguling agama lan kabudayan

Nedya jati pamoring sangkan paran

Ingkang silih warna puputing mahkuta

Semuning ajining busana tapa

Mungguh jatining pakerti utama

Usadha laku binangun bharata

Bagaimana memimpin diri sendiri dan orang lain dengan berbekal cahaya cinta dalam ruang keimanan dan ketaqwaan kita kepada Gusti Allahu Rabbi? Dalam suatu bentang zaman yang panjang, jarak antara kita kini dengan Hadrat Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, Sanak keluarganya, Khalifahnya, Sahabatnya, serta para Mutawakilnya seperti Wali Songo yang memperjuangkan menyebarnya hikmah syahadatain di seluruh penjuru nusantara, bahkan mencapai wilayah Asia Tenggara. Terasa jauhkah jarak kita dengan Rasulullah?

Catatan sejarah hidup kita akankah dibiarkan seperti bunga teratai yang terapung di atas ruang permukaan air telaga kehidupan, yang diam tanpa suatu hikmah ataupun khazanah bukti nyata apapun, hanyakah sejarah kita nantinya cukup hanya dengan kesaksian gerak detak detik perubahan waktu semata? Sejarah kita tergantung kita..!!!

Meneruskan perjuangan suci kedua orang tua kita dalam mendidik dan membesarkan, serta membekali kita dengan ilmu yang bermanfa’at secara lahir maupun bathinpun bukanlah hal yang mudah untuk ditebus hanya dengan persembahan harta benda, kederajatan hidup, ilmu yang tinggi, istana duniawi yang megah, ataukah pasangan hidup yang berparas elok sekalipun? Belumlah tentu diterima oleh kedua orang-tua kita, bilamana kita justru melalaikan adabul kharimah?, akhlaqul hasanah?, atau wujud pengabdian anak yang shalih sebagai penerus sejarahnya, dan menyempurnakan dharma bhakti kita sebagai abdillah yang kaffah? Syahadat dan syahadatkan selalu lahir bathin..

Sudah kaffahkah Cinta bhakti kita tulus lahir bathin mengabdi dan memuliakan kehormatan orang tua kita pada setiap sujud kita ke Hadrat Illahi Robbi? Doa dan cinta yang hidup dalam setiap sujud, syukur, dan ta’lim anak pada Walidannya adalah Jannatul Dunya, ridho Allahu wa ridho wali, atau “Pangestuning walidanira neku swarga dunyaning sira” pitutur Kanjeng Sunan Gunung Jati kepada Sunan Fattah, yang akhirnya merebut Batavia dari kekuasaan Kompenial VOC Belanda dan menganti namanya sebagai Darul Fattahillah, Jayakarta.

Uswatun hasanah ing solah diri

Salam taklim sedaya manah suci

Tuntunan uriping sholat sayekti

Allohu Robbi

Dumununging laku iman sayekti

Amartha Jati ingkang kasembadan

Lampahing Darul Huda kaluhuran

Illahi Robbi dadhos ajining paugeran

Bercampurnya mitologis, pencarian jati diri, pengolahan kepribadian, siklus nasib, kisah asmara, ataupun pengalaman bathin akan menjadikan seseorang dapat berada pada kondisi di antara realitas dan surealitas psikis, atau di antara alam wujud dan alam bathiniyahnya sendiri. Hal macam itu pula yang terkadang sulit dicerna, difahami, atau dimengerti oleh pihak yang belum pernah mengalami risalah pengalaman-pengalaman bathiniyah tersebut, rahasiakan saja..

Rahasiamu adalah untuk dirimu sendiri?

Hanya Allah dan dirimu.

Adalah ketika mereka berjuang dengan sadar, jeli, tekun serta totalitas dalam merintis suatu pembaharuan keadaan sosial suatu lingkungan masyarakat, demi membangun karakteristik generasi penerus, dan mencetak suatu identitas sistim dan pola kehidupan bermasyarakat yang madani dengan catatan sejarah, serta berbagai bukti nyata didalamnya. Akankah mengulang sejarah? Ataukah hanya sekedar hikayat semata? Demi masa depan anak cucu, kita bermajelis!

Singkat kata, semua cita-cita akan kembali lagi kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita mendukung sepenuhnya perjuangan para Ulama kita? Misalnya, Kanjeng Ustadz Muhammad Ali Al Harist Bin Ahmad Harist Bin Haji Muhammad Minan Bin Abdillah yang kita kasihi di Pondok Panggung Majelis Darul Huda yang menjadi basis harapan nyata, serta titik temu ukhuwah lahir bathin, hati kita bersama?

Ada benang merah yang menyatukan seluruh untaian warna-warni benang yang merajut indahnya kalimat lafal “Allahu” dan lafal kalimat “Muhammad” itu di atas mihrab hijab Pondok Panggung Majelis Darul Huda Lenteng Agung! Permadani merah, ataukah jubah merah, sebagaimana kesungguhan niat berjuang dalam ibadah dan berbhakti kepada leluhur, trah darah kedua orang-tua kita, keluarga besar, dan segenap sahabat. Inilah paras keluhuran akhlaqul mu’min atas berpendarnya hikmah niat dan doa jama’ah dari setiap tetesan hikmah tuntunan nyata Kalam, dan bimbingan Imam majelisnya, masya Allah..

Cahaya keimananmu..

Melesat jauh dan tinggi

Menembus segala dimensi

Menerangi semesta raya

Mencari wilayah Sidhratul Malikul Arsyil Mulkillahi

Mengunjungi ruang Sidhratul Muntaha

Dan melimpahkan cahaya maghfirah

Serta syafa’at Rasulullah

Ke segala sudut alam kubur muslimin

Tiada batas jarak ruang maupun waktu

Antar zaman dan risalah direkatkan ruh cinta

Terpujilah Cahaya Ilalhi

Terpujilah Cahaya Rasulillahi

Dan, demikian pula sebaliknya?, bagaimana nasib lakon birrul walimah Kanjeng Ustadz Ali Al Harist, sang Imamnya Majelis Darul Huda pun seyogyanya juga didukung sepenuhnya oleh doa, cinta, dorongan semangat, serta karakteristik unik setiap kepribadian ahlul jama’ahnya juga. Habib Ma’mun Ar Ridwan juga jangan sampai ketinggalan gerbong doa birrul walimahnya, njih mboten? Sepanjang zaman saling berkaitan rasa, saling mendukung, serta saling mawas diri bersama, Allahumma amiin..

Di dalam ta’lim majelis Duniawi

Manusia sekedar duduk di halaqoh dzikir

Sudah tiada mencari rohani dzikir

Dan hawa bathin semakin kikir

Hanya memandang alam semesta

Bukan takut atas limpahan MurkaNya

Bilamana manusia yang berdzikir

Hanyalah nafas dan suara

Memandang huruf dan kalimat

Tiada jelas arah pandangnya

Tiada dasar ucap pemahamannya

Mencapai ketiadaanlah yang dicapainya..

Dan Nurul Huda bertahta didalam rahasiaNya

Majelis Darul Huda yang menjaga syahadatainNya

Hikmah Al Qur’an dan Hadist Rasulullah kuncinya

Persaudaraan lahir bathin abadi sepanjang masa

Telah berkesudahankah tanda keteguhan nyawa iman pada ketentuan ma’rifah? Telah berkesudahankah ketentuan ma’rifah pada akal budi pekerti pemikiran dan perasaan kita? Telah berkesudahankah ketentuan ma’rifah pada akal budi pekerti penglihatan bathin kita? Telah berkesudahankah budi pekerti perbuatan atas jasad kita? Telah berkesudahankah budi pekerti kita? Jawabnya tidak bersama Al Huda..

Marilah kita koreksi ulang diri kita sendiri

Dan mempertanyakan pada hati nurani

Apa yang telah kita sumbang-sihkan bagi Majelis?

Selain apa yang telah peroleh dari Majelis..?

Bi husnil adabul birrul Imanan minallahu wa birrul hikmah nurul qur’anil karimah alla sholihin wal muttaqin! Kesemuanya itu akankah kita relakan berlalu bersama petualangan sang waktu? Adakah hakikatnya Al Huda telah kita temukan dan rasakan keindahannya serta kenyamanannya dalam ruang bathin di sepanjang waktu kita berkumpul bersama, untuk berdzikir dan bersyukur bersama. Doa kita bersama itulah yang secara nyata teruji mampu menyatukan segala perbedaan warna yang ada, yang datang akan kembali, yang hilang akan dimunculkan kembali. Cahaya petunjukNya itulah yang menerangi majelis kita..

Ihdinas shirathim mustaqim

Manembah Gusti Illahi kanthi taklim

Amaling syareat agamining muslim

Memayu hayuning akhlaqul karim

Adab dan akhlaq menjadi bahasa lahir maupun bathin setiap majelis di seluruh penjuru alam dan dunia, la jinni wal insi? Mengapa? Sebab, memang demikianlah bukti nyata keluhuran warisan wasilah wa risalah syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah. Semuanya sudah saling kenal dan membuktikannya. Hanya melalui adabul syahadatain, jarak kita dengan Gusti Allahu Rabbul Haqq dan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah terasa demikian teramat dekat, bahkan di setiap tetes air mata kangen..

Trap sila medharing kawaskitan

Osiking rasa ambadhar kalangan

Nurul Huda ajining pangumbaran

Osiking bathin kuncen paseduluran

Syaikh Maulana Ahmad Fariduddin Attar dalam Suluk Musyawarah Burung, atau Manthiq Al Thayr, menjelaskan ketika terjadi musyawarah para burung yang bermaksud mencari raja mereka yang bernama Raja Simurg. Dalam kisah suluk itu diriwayatkan bahwa para burung berkumpul dan bermusyawarah untuk mencapai batas ujung dunia, rahasia hakikat, arah dan tujuan pengembaraan kehidupan ini. Hayatul manakib..

Budhining sanubari lan satya janji

Ukhuwah lahir bathin ingkang sawiji

Dhamparing para mukmin sajati

Ingkang trisna Kanjeng Nabi kaprapti

Dan, dengan bahasa sastra yang indah, untaian syair suluk rohani itu menjadi perenungan untuk memahami arti dan beragam tafsir didalam sastranya, misalkan:

1] Thalaab

Lembah pencarian, disebut juga sebagai “Awareness of Thinking and Born to be King”. Kita saling mencari sesuatu yang tidak kita fahami dengan pemikiran-pemikiran tentang apa arti dan tujuan hidup serta kehidupan ini? Dan kita kadang tidak terfikir untuk menaklukkan segala permasalah hidup ini dan memenangkannya dan menjadi Raja atas sifat, watak, nafsu, dan diri kita sendiri. Bermula dengan pemikiran dan menguasainya.

Wahay hambaKu..

IlmuKu itu

Menceraikanmu daripadaKu

Dan KaruniaKu

Memalingkanmu daripadaKu

Maka langkahmu kepadaKu

Adalah langkahKu

Kepadamu jua..

Maka ingkarmu kepadaKu

Adalah MurkaKu

Bagimu pula..

Raja yang menguasai lahir bathinnya sendiri, berdaulat dalam wilayah lubuk hatinya sendiri, berkuasa dalam ruang sidang daya pemikirannya sendiri, membaur dan mengendalikan kesadaran jiwa dari seluruh unsur nafsu jasmani dan rohaninya. Mengenali diri sendiri, dan memahami arti arah hidupnya sendiri.

2] Isyq

Lembah cinta kepada Rabbi Illahi, atau “Awareness of silence”, jikalau engkau diam, maka Rabbmu yang berbicara langsung kepadamu. Rindumu kepada Rasulullahmu itu adalah sumber kekuatan perjalanan penyempurnaan amal lahiriyahmu di dunia dalam limpahan cahaya syafa’atnya. Dan rasa kangenmu karena rasa takutmu kepada Allahu Akbar Rabbmu akan segala MurkaNya itulah derajat status keabdillahanmu yang sebenarnya.

Hai hamba..!

Bila engkau menghendakiKu

Maka tinggalkanlah apa-apa selainKu

Sekalipun apa-apa yang selainKu itu

Pernah melihatKu

Dan tinggalkanlah pula apa yang telah dilihatnya

Walaupun denganKu ia mendatangimu

Hai hamba..!

Bila engkau merasakan ketentraman

Dengan perkenalan selainKu

Maka hendaklah engkau campakkan

Perkenalanmu kepadaKu itu

Dibalik punggungmu..

Tinggalkan dirimu..!

Dalam engkau meninggalkan dirimu

Engkau akan memperoleh kemenangan atasnya

Bila engkau sudah merasa cukup

Sudah tidak lagi membutuhkan pada dirimu

Walaupun dirimu dalam kebinasaan sekalipun

Itulah arti kemenanganmu atas dirimu

Hamba dengan rahasia cinta pada Rabbnya

Hukum kenyataan itu seluruhnya adalah ketakutan yang sesungguhnya, rasa takut kepada Allahu Rabbul Hakim! Dan bahaya pengkhianatan kebenaran selalu saja rapat mendampingi setiap hokum, karena segala yang nyata dari apa yang lahiriyah itu akan berkesudahan pada hakikat kelenyapan. Jadi, syarat suatu keridhaan itu ialah penilaian antara penolakan dan pemberian Allah atas segala maksud ataupun hajat adalah sama.

3] Ma’rifah

Lembah pemahaman atas kesadaran, atau pengenalan akan risalah ketuhanan, atau “Awareness of success & the power of love”. Ilmu itu adalah lisan lahiriyahmu, dan ma’rifah itulah lisan bathinmu dengan Rabbmu. Monggo, belajarlah Ilmu Tawhid tapi dengan syari’at..

Ilmu itu

Minuman Jiwamu

Ma’rifah itu

Minuman Hatimu

Hukum itu

Minuman Akalmu

Dan keputusan itu

Minuman Rohmu

4] Istighraaq

Lembah kepuasan hati, atau “Awareness of soul & the power of soul”, kekuatan dari sang jiwa. Gusti Allahu Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Dhahir dan Yang Maha Bathin, dan Allahu Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang tersembunyi di dalam fikiran, perasaan, maupun relung hati kita. Suka maupun duka sudah tiada beda rasanya, selain takut dan kangen kepada Dzat Allahu Azza Wa Jalla dalam jalan hidup ini. Kebahagiaan hati juga rahasia..

Aku telah mendahuli bagian-bagian

Maka denganKu

Telah terbagi-bagi

Bukan pembatasan

Dan Aku telah mendahuli pembatasan

Maka denganKu

Telah berbatas

Bukan dengan batas ruang atau waktu

Aku telah mendahului segala rahasiamu

Aku telah mendahuli jarak

Maka denganKu

Yang teguh bukanlah jarak

Ataupun batas hawa atau udara

Selain Cahaya di atas cahaya

Aku telah mendahului setiap kejadianmu

5] Tawhiid

Lembah kesatuan dengan segala keindahan rahasia segala rahasia kesemestaan asal muasal dan tujuan akhir kehidupan didalamnya, “Awareness of wisdom”, air kehidupan yang suci adalah sumber kebijaksanaan hidup yang sejati. Bila dengan perantauanmu itupun hatimu masih saja murung oleh gemerlapnya kemilau sinar dunya? Ghirah boleh-boleh saja, asalkan jangan lupa diri saja, njih..

Maka berdirilah di hadapan dunya, dan sujudlah di hadapan Allahu Rabbus samawati wal ardhi. Dan yang membeberkan hajat kebutuhan dan keluh-kesah kepadaNya, telah jelas bahwa maksud tersembunyi yang terlontar dari lisannya itu sebenarnya adalah jalan pelariannya. Allahu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui niat hati..

Wahai.. hambaKu

Simpanlah hajat kebutuhanmu

Dalam hatimu

Dan janganlah engkau beberkan

Niscaya bagimu

Akulah yang menjadi tempat pelarianmu

Dan bukanlah lisanmu..

6] Hayrah

Lembah ketakjuban, “Awareness of vision”, Tuhan pun bervisi. Melalui pembuktian-pembuktian tentang suatu kebenaran, akhirnya kebenarannya yang membuktikan kuasa kemuliaan Al Haqq-Nya. Akal budi kemanusiaanku setiap pergeseran detak detik waktu telah menjelaskan kepadaku, bahwa kediamanku didalam hikmah kebajikan dan kebijaksanaan. Sementara rumah kebijaksanaanku tiada berpintu, tiada berjendela, dan juga tiada berpagar, sehingga siapapun akan mudah memasuki celah pintunya. Kebenaran dan kebathilan akhirnya dapat tampak tiada berbeda, sebab yang indah ataupun yang terburuk sekalipun dengan mudah dapat menerobos masuk ke ruang sanubari.

Seluruh rumah dipenuhi dengan pintu-pintu, dan itulah rumah tanpa atap tanpa naungan, tiada juga tanah untuk segala sesuatu boleh berkata sesuka hati, pengaduan apapun kuterima, dengan suka rela aku dimusuhi, dan aku berada di setiap kesadaran, juga kepentingan orang lain yang mendatangiku. Setiap tamu adalah rizqiku dari Allahku!

Mengapa ketika bermajelis setiap waktu

Di setiap sampai satu pertanyaan kepadaku

Akhirnya yang menjawab bukan akal budi

Melainkan kesadaran dalam kesadaran

Atas rahasia hikmah dan Haqq pertemuan

Jawabannya pertanyaan itu sendiri..

7] Fanaa’

Lembah kefakiran, “Awareness of surrender & The power of zero”, kekuatan yang muncul dari keikhlasan hati. Perjalanan ibadah, sebagaimana suatu pengembaraan bathiniyah, atau pengelanaan rohaniyah dalam rangka proses mendidik kesadaran diri untuk lebih merasa takut [khauf] kepada Allah. Dan merasa selalu kangen dan jatuh cinta kepada Kanjeng Sayidina Nabi Muhammad Rasulullah.

Hanya pada dasar rasa takut dan rasa cinta, itu saja. Dan jalan rohani pada zaman ini sangatlah penting menjadi alas kaki perjalanan para Pemimpin Agama dimanapun berada, sebab jalan rohani merupakan jalan untuk mensucikan lahir dan bathin dari segala amal perbuatan yang munkar dan bathil kepada Gusti Allahu Rabbil Haqq.

Bercermin diri dengan menatap luasnya wajah angkasa. Dan sebelum mensucikan diri dimulai dengan meneguhkan kehendak, sehingga cermin penglihatan rohaninya, kepekaan bathinnya, kesadaran hatinya akan semakin terang dan jelas dalam melihat kenyataan hidup, bagaimanapun alur jalan ceritanya, akan diterima dengan kedalaman iman dan ketaqwaan, bukan lagi dengan nafsu emosional belaka. Bagaimana dengan semua yang bermula dari lidah?

Ya Allah

Tuhan Sesembahanku

Denganku daku hina

DenganMu daku mulia

Denganku daku papa

DenganMu daku kaya

Denganku daku lemah

DenganMu daku tangguh

Maka pujilah siapapun mereka untuk segala sesuatu yang telah mereka capai dengan perjuangan ibadah yang tulus, dan bukannya memperlihatkan bagaimana buruknya orang lain karena perbuatannya, tapi yang terfikir adalah bagaimana kita dapat berperan semampu kita dalam membantu orang lain dapat menerangi kehidupannya masing-masing dengan bahasa rasa takut kepada Allah, serta rasa kangen kapada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, dan rasa cunta kepada kedua orang-tua di dunia secara lahir maupun bathin. Lahir bathin untukMu Ya Allah Pemegang Sakaratul Mautku..

Pujilah siapapun mereka

Tentang beberapa hal sepele di hari ini

Dan siapapun mereka

Akan lebih tulus lebih berbuat baik esok hari..

Diri kita seutuhnya, waktu, fikiran, jiwa, perasaan, watak, kekuatan, dan kelemahan kita, menjadi bahan renungan rutin sebelum mata terpejam untuk melupakan seluruh kejadian hidup di sepanjang hari yang telah dilalui. Katakanlah:

Inilah hambaMu yang hina dina

Ya Allahu Rabb

Lahir bathin ini semua MilikMu

Lakukanlah denganku

Apa yang menjadi KehendakMU

Ya Allahu Rabb

Dan janganlah diri kita biarkan terjebak dalam perangkap permainan duniawi? Ketika mata kita hanya terpusat pada rasa, kesenangan, tuntutan, kepentingan dan kebutuhan duniawi semata. Biarlah kita menyadari betapa sesungguhnya hak milik [qodhar] dan prestise [qodho’] itu hanyalah bersifat sementara saja.

BagiNya

Wajah tanpa rupa

Bagi Nya

Mata tanpa kedip

BagiNya

Ucap tanpa huruf

BagiNya

Ilmu tanpa halaman

Baginya

Dekat tanpa batas

Baginya

Jauh tanpa hingga

Di sinilah harapan nyata. Di Saung Panggung Darul Huda Lenteng Agung ada harapan untuk masa depan. Maka, janganlah kita pudarkan sendiri pijar cahaya ketaqwaan yang telah bersinar dalam setiap hati seluruh Jama’ah Majelis Darul Huda Lenteng Agung, dan berkumpul terang benderang menerangi wilayah-wilayah pemikiran yang tiada terduga sebelumnya, bahwa Janji Allah itu benar!, dan kita membuktikannya bersama-sama..

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam proses mengkaji jati diri, seseorang tidak dapat melakukannya bilamana dalam proses pencariannya hanya melalui pemikiran logika, atau hal-hal yang terkait dengan masalah intrelektualitas semata. Sebab mendekati Rabb secara intelektual tidaklah akan sampai pada makna hakiki.

Dan, makna hakiki juga tidaklah pula dapat dicapai hanya dengan modal perasaan kerinduan. Sebab, pengalaman rohaniyah ini harus melibatkan seluruh proses rasionalitas dan spiritualitas, yang mengungkap segala rahasia tentang manakib fitrah, atau hakikat qodrat setiap insani di muka bumi ini.

Uswatun hasanah ing solah diri

Salam taklim sedaya manah suci

Tuntunan uriping sholat sayekti

Allohu Robbi dadhos pusoko sejati

Dumununging laku iman sayekti

Amartha Jati ingkang kasembadan

Lampahing Darul Huda kaluhuran

Illahi Robbi dadhos ajining paugeran

Uswatun hasanah dalam pembawaan diri, salam taklim seluruh sanubari suci, tuntunan hidupnya sholat yang nyata, Allahu Robbi menjadi pusaka sejati, tempatnya perjalanan iman yang nyata. Kedamaian kehidupan masyarakat beriman dan bertaqwa yang sejati yang diwujudkan, perjalanan Darul Huda yang luhur dan meluhurkan, Illahi Robbi menjadi pusat kekuatan adab pergaulan masyarakat.

Ihdinas shirathim mustaqim

Manembah Gusti Illahi kanthi taklim

Amaling syareat agamining muslim

Memayu hayuning akhlaqul karim

Ihdinas shirathim mustaqim, menyembah Gusti Illahi dengan ta’lim, pengamalan syari’at agamanya muslim, senantiasa berjuang melestarikan akhlaqul karim.

Trap sila medharing kawaskitan

Osiking rasa ambadhar kalangan

Nurul Huda ajining pangumbaran

Osiking bathin kuncen paseduluran

Adab tata kepribadian diri membebaskan kecerdikan, getaran rasa mendamaikan setiap perbedaan, Nurul Huda yang menjadi pusat kekuatan tali silahturahmi, Getaran bathin yang menjadi juru kunci persaudaraan.

Budhining sanubari lan satya janji

Ukhuwah lahir bathin ingkang sawiji

Dhamparing para mukmin sajati

Ingkang trisna Kanjeng Nabi kaprapti

Amalnya sanubari dan setia pada janji, ukhuwah lahir bathin yang menyatu, singgahsananya para mukmin sejati, yang cinta kepada kanjeng Nabi secara murni.

Manunggaling sirring kamanungsan

Amarsudi luhuring sifat kautaman

Kamiling taqwa kamaling iman

Mungguh sujud dumateng Pangeran

Ungguling agama lan kabudayan

Nedya jati pamoring sangkan paran

Manunggalnya perjalanan kesadaran sifat kemanusiaan, Yang memperjuangkan luhurnya sifat keutamaan, Kamilnya taqwa Kamalnya iman, Hingga mencapai sujud kepada Pangeran [yang dimaksud adalah Allah], Unggulnya agama dan kebudayaan, membawa kebenaran sebagai pamornya perjalanan hidup.

Ingkang silih warna puputing mahkuta

Semuning ajining busana tapa

Mungguh jatining pakerti utama

Usadha laku binangun bharata

Yang berganti faham sirnanya mahkota, semunya pesona tentang busana dzikir, untuk mencapai kesejatian pekerti yang utama, berupaya menjalani membangun persaudaraan.

Menutup obrolan kali ini, kepada Kanjeng Sunan Kali Jogo di Jabal Marwah Al jawi, Kanjeng Syaikh Maulana Hasan As Syadzily berpesan, “Ketahuilah, Ngger Sahid Abdurrahman, bahwa para Ulama adalah Al Mutawakilnya Kanjeng Rasulullah. Maka, mohonlah fatwa kepada para Ulama tentang suatu perkara di setiap Majelis, agar hati nurani tiada mudah dibengkokkan oleh perangkap Duniawi, dan bathin tiada gampang dibelokkan oleh fitnah lahir maupun bathin, serta agar fikiran tiada rapuh terjebak oleh bisikan nafsu syaithan yang sesat..!”

Salam kangen bathin..

Mohon ma’af lahir dan bathin

Jazakallahu khairan wa barakallahu

Mudzakarah~15 Tambun Bekasi, 28/8/2006

sumber : http://halaqoh14.multiply.com/journal
More … Alfatiha

Selasa, 2008 Januari 01

JIWA DAN RUH INSANI

Ketahuilah bahawa Allah Taala menjadikan manusia ini terdiri daripada dua suatu yang berbeza iaitu:

Jisim yang gelap, tebal, termasuk di bawah kejadian dan kebinasaan (Al-Kun Wal-Fasad) yang tersusun, bersifat ketanahan yang tidak dapat melaksanakan urusannya melainkan dengan yang lain.

Jiwa Jauhari yang tunggal yang bercahaya, mencapai, bertindak lagi menggerakkan dan menyempurnakan alat-alat (alat-alat dalam badan manusia baik yang bersifat ruhaniah seperti Ruh Haiwani, Ruh Tobie dan lain-lain atau bersifat jasmaniah seperti otak dan bahagian-bahagiannya dan lain-lainnya.
Allah Taala menyusun jasad-jasad dari bahagian-bahagian makanan dan menjaganya dengan bahagian-bahagian zat makanan yang lebur menyerap ke dalam jasad, menyediakan asas, menyempurnakan anggota-anggota penting, menentukan anggota-anggota kaki dan tangan dan melahirkan jauhar jiwa dari urusan yang tunggal, sempurna menyempurna lagi memberi faedah.

Bukanlah saya(Imam Ghazali) maksudkan ‘jiwa’ itu kekuatan untuk mendapatkan makanan;

bukan kekuatan yang menggerakkan syahwat (Al-Nafsu) dan kemarahan;
bukan kekuatan yang berada dalam jantung(Al-Kolbu) yang melahirkan hidup, menimbulkan rasa dan gerak dari jantung kepada seluruh anggota, kerana kekutan ini dinamakan ‘Ruh Haiwani’.
Rasa, gerak, syahwat adalah dari tentera Ruh Haiwani ini.

Kekuatan mendapatkan makanan yang berada dan menguruskan dalam hati(Al-Kabad) dinamakan ‘Ruh Tobie.’ Pencernaan dan penolakan adalah daripada sifat-sifatnya. Kekuatan merupa, melahir, menyubur dan lain-lain kekuatan tobie semuanya menjadi khadam-khadam bagi jasad dan jasad pula adalah khadam kepada Ruh Haiwani, kerana jasad menerima kekuatan-kekuatan dari Ruh Haiwani dan bekerja menurut geraknya.

Sebenarnya yang saya maksudkan dengan ‘JIWA’ itu ialah JAUHAR YANG SEMPURNA LAGI TUNGGAL (Al-Jauhar Al-Kamil Al-Mufrad) yang kerjanya hanya

mengingat
menghafaz
memikir membeza dan
mengamat-amati; juga
menerima segala ilmu dan
tidak jemu-jemu menerima rupa-rupa abstrak yang bersih dari benda.
Jauhar ini adalah ketua segala ruh dan raja. Segala kekuatan semuanya berkhidmat kepada jauhar ini dan menjunjung perintahnya. Jauhar ini tidak lain tidak bukan dari JIWA BERAKAL (Al-Nafs An-Naathokoh) yang diberikan berbagai-bagai nama. Para ahli falsafah menamakan jauhar ini sebagai JIWA BERAKAL(Al-Naf An-Naathokah).Al-Quran menamakannya sebagai JIWA YANG TENANG(Al-Nafsul Mutomainnah). Al-Quran juga menamakannya sebagai RUH URUSAN (Al-Ruh Al-Amri). Ahli Tasauf menamakannya sebagai QALBU(Al-Qalbi). Perbezaan cuma pada segi nama-nama sahaja tetapi ertinya satu, tidak ada perselisihan. Oleh itu ‘QALBU’ dan ‘RUH’ pada kita juga ‘YANG TENANG’ semua nama-nama itu adalah bagi ‘JIWA BERAKAL’ (Al-Nafs Al-Naathokoh). Jiwa berakal ialah ‘Jauhar yang Hidup’, ‘aktif’, lagi mencapai kalau disebut Ruh Mutlak atau Qalbu. Maksudnya ialah jauhar ini juga.

Ahli-ahli Tasauf menamakan ‘Ruh Haiwani’ pula dengan nafsu. Syarak juga memberikan pengertian yang sama sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud:

“Musuh engkau yang paling ketat ialah nafsu engkau”.

Baginda bersabda lagi dengan maksud:

“Nafsu engkau ialah yang terletak di antara dua pihak”.

Perkataan nafsu yang dimaksudkan oleh syarak di sini ialah kekuatan ‘syahwaaniah’ dan kemarahan kerana kedua-duanya muncul dari jantung yang terletak di antara dua pihak(dari tubuh manusia).

Bila kamu telah faham dan mengetahui perbezaan nama-nama itu ternyatalah bahawa para pengkaji memberikan nama yang bermacam-macam terhadap Jauhar yang bernilai ini dan mengemukakan pendapat-pendapat yang berbeza. Para ahli Ilmu Kalam yang pandai dalam debat menganggap jiwa itu sebagai suatu jisim dan menyatakan bahawa ia adalah jisim yang halus sebagai tantangan bagi jisim yang tebal ini. Mereka hanya melihat perbezaan di antara ruh dan jasad dari segi kehalusan dan ketebalan sahaja.

Sebahagian dari mereka menganggap ruh sebagi ‘aradh. Sebahagian daripada ahli-ahli kedoktoran cenderung ke arah pendapat ini. Ada pula yang menganggap darah sebagai ruh.

Mereka semua merasa puas hati dengan pendapat mereka kerana dipengaruhi oleh kecantikkan pandangan dan mereka ‘TIDAK BERUSAHA’ mencari bahagian ketiga sedangkan sebenarnya ada tiga bahagi iaitu Jisim, Aradh dan ‘Al-Jauhar-Al-Mufrad’. Ruh Haiwani ialah jisim yang halus seolah-olah lampu bernyala terletak dalam kaca jantung. Jantung yang dimaksudkan di sini ialah rangka sanubari yang tergantung pada dada manusia. Hidup adalah lampu tersebut,

Darah ialah minyaknya,
Rasa dan gerak merupakan nurnya,
Syhwat ialah kepanasannya,
Kemarahan ialah wapnya,
Kekuatan mencari makanan yang berada di dalam hati merupakan khadam atau penjaganya dan wakilnya.
Ruh ini terdapat pada segala binatang. Ruh ini tidak menerima ilmu dan tidak mengetahi soal yang berhubung dengan alam dan tidak mengetahui hak-hak Pencipta Alam. Ia hanya merupakan khadam yang terikat. Ia mati bersama dengan matinya badan. Jika bertambah darah, padam lampu itu kerana bertambah kepanasan dan sebaliknya jika berkurangan darah, ia akan padam juga kerana bertambah kesejukan. Padamnya menjadi sebab bagi matinya badan. Tidak ada ‘khitob Tuhan’ iaitu (perkataan-perkataan Tuhan yang lazim yang dihadapkan kepada orang-orang mukallaf berhubung dengan perbuatan-perbuatan mereka) dan tidak ada ‘takhlif’ (pemikul tanggungjawab yang diamanahkan dari Allah melalui hukum syarak yang lima) tuan punya syarak terhadap ruh ini. Kerana inilah segala binatang tidak termasuk ke dalam makhluk-makluk yang menerima ‘khitob’ dengan hukum-hukum syarak.

Manusia sebenarnya ‘ditakhlif’ dan ‘dikhitob’ kerana suatu makna yang lain terdapat padanya sebagai suatu tambahan yang dikhaskan untuknya. Maknanya ialah pada manusia ada ‘JIWA YANG BERAKAL’ (Al-Nafs-An-Naatokoh), ‘RUH URUSAN'(Ruhul-Amri) dan ‘JIWA YANG TENANG'(Al-Nafsul Muthomainnah).

Ruh ini bukanlah jisim dan bukanlah ‘aradh’, kerana ia datang dari urusan Allah Taala sebagaimana firmannya yang bermaksud:

‘Katakanlah hai Muhammad bahawa Ruh itu adalah urusan Tuhanku.

(Surah Al-Israk ayat 85)

Allah berfirman lagi yang bermaksud:

‘Hai Jiwa yang Tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan redho dan diredhoi.” (Surah Al-Tahrim ayat 12)

Urusan Allah bukanlah berupa jisim dan bukan pula ‘aradh’, malahan ia adalah suatu kekuatan ‘ILAHIYAH’ seperti ‘AKAL YANG PERTAMA’ (Al-‘Aklul-Awal), Luh dan Qalam. Kekuatan Ilahiyah adalah Jauhar-Jauhar Tunggal yang bukan dari benda, malah ia merupakan sinar-sinar abstrak yang dapat difahami oleh akal (Ma’quulah). Bukan boleh dirasa. Apa yang kita sebut sebagai ruh dan Qalbu adalah dari Jauhar-Jauhar itu. Ia

tidak rosak
tidak layu
tidak binasa
tidak mati bahkan;
ia terpisah dari badan dan menantikan perkembaliaan pada hari kiamat
sebagaimana yang dinyatakan dalam syarak dan telah disahkan dalam ilmu-ilmu ‘HIKMIAH’ (Falsafah) dengan alasan-alasan yang tidak dapat ditolak lagi. Buktinya yang nyata menunjukkan bahawa ‘RUH YANG BERAKAL’ bukanlah jisim dan bukanlah ‘aradh, malah ia adalah JAUHAR yang sabit(nyata) lagi kekal tiada binasa. Di sini rasanya tidak perlu lagi kita menyebut alasan-alasan dan membentangkan dalil-dalil kerana telah dibuat dan disebut orang. Sesiapa yang mahu mengesahkannya silalah tatap kitab-kitab yang baik mengenai ilmu ini. Cara kita memberi huraian dalam risalah ini bukanlah dengan mengemukakan alasan, malah dengan berpegang pada apa yang telah dialami menerusi ‘PENGLIHATAN YANG YAKIN DAN PENGLIHATAN IMAM.’ Allah Taala ada menghubungkan ruh kepada urusan dan kadang-kadang kepada ‘IZAH’Nya(zat yang tiada boleh dicapai dengan akal dan fikiran) dengan firmanNya yang bermaksud:

‘Dan Aku(Allah) tiupkan padanya ruh dariKU’ (Surah Al-Hijr ayat 39).

dan firmanNya lagi yang bermaksud:

‘Katakanlah (hai Muhammad) bahawa roh itu adalah urusan tuhanku’ (Al-Israk ayat 85)

dan firmanNya lagi yang bermaksud:

‘Lalu kami tiupkan padanya dari roh kami.'(Surah Al-Tahrim ayat 12)

Bila roh itu dihubungkan oleh Allah Taala kepada diriNya tentulah ia bukan jisim atau A’radh kerana rendah tingkat kedua-duanya, selalu berubah-ubah dan cepat hilang serta akan rosak. Rasulullah S.W.T. bersabda yang bermaksud:

“Roh-roh adalah sebagai tentera yang lengkap”

dan dalam sabda Baginda yang lain lagi Beliau menyatakan:

“Roh para syuhadah terletak dalam bayang-bayang burung-burung hijau.”

Begitu juga dengan A’radh tidak kekal selepas hilangnya jauhar kerana A’radh tidak boleh berdiri dengan zatnya sendiri. Manakala jisim menerima peleburan kembali sebagaimana asalnya sebelum penyusunan dari benda (Al Madah) dan rupa seperti yang tersebut dalam kitab-kitab (kitab-kitab falsafah).

Setelah kita mengetahui ayat-ayat, hadis-hadis dan alasan-alasan akal, ketahuilah kita bahawa ruh itu adalah JAUHAR MUFRAD YANG SEMPURNA (Al-Jauharul Mufrad Al-Kamil) hidup dengan zatnya, baik dan buruknya agama adalah datang daripadanya, manakala ruh Tobie dan Ruh Haiwani dan kekuatan badaniah seluruhnya daripada tentara Jauhar Mufrad Yang Sempurna ini.

Jauhar ini menerima rupa-rupa maklumat dan hakikat maujudah (sesuatu yang wujud di alam ini) dengan tidak diganggui oleh ain-ain dan peribadinya kerana jiwa berkuasa mengetahui hakikat manusia tanpa melihat peribadi (manusia) itu sendiri; begitu juga ia mengetahui malaikat dan syaitan-syaitan dengan tidak perlu melihat peribadi-peribadi mereka. Ini adalah kerana kedua-dua jenis makhluk itu tiada dapat dicapai oleh deria-deria kebanyakan orang.

Satu golongan ahli tasauf berkata bahawa ‘ Qalbu ‘ mempunyai dua mata, serupa juga dengan dua mata bagi jasad ini. Jasad dapat melihat benda-benda yang zahir dengan mata-mata zahir dan Qalbu melihat hakikat dengan mata akal. Rasulullah S.W.T. bersabda yang bermaksud:

‘Tiada ada seorang hambapun melainkan Qalbunya mestilah mempunyai dua mata.’

Dengan kedua-dua mata ini dapatlah dicapai apa yang ghaib. Bila Allah Taala hendak memberikan kebaikan kepada hambanya, ia bukakan dua mata Qalbunya supaya dapat melihat sesuatu yang ghaib dari pemandangan mata lahirnya. Roh ini tidaklah mati dengan matinya badan kerana Allah Taala menyerunya supaya kembali kepadaNya dengan firmanNya yang bermaksud:

‘Kembalilah kepada Tuhanmua’ (Surah Al Fajr Ayat 28).

Sebenarnya ruh ini hanya bercerai dan berpaling dari badan. Oleh kerana berpaling ini maka kakulah segala yang bersangkut dengan kekuatan-kekuatan Haiwaniah dan Tabii’yah. Maka diamlah yang bergerak itu dan dikatakan kepada yang diam itu, ialah MATI.

Ahli-ahli Thorikat atau ahli Tasauf lebih banyak berpegang pada roh dan Qalbu dari berpegang pada peribadi. Apabila roh itu dari urusan Allah Taala, maka beradanya dalam badan adalah sebagai orang dagang. Mukanya mengarah pada asalnya dan tempat datangnya. Ia dapat mengambil faedah-faedah dari pihak asalnya lebih banyak dari apa yang ia dapat dari pihak peribadi bila ruh itu kuat dan tidak dikotori oleh kekotoran-kekotoran tabiat.

Bila anda mengetahui ruh adalah Jauhar Mufrad dan mengetahui pula jasad memerlukan ruang dan A’Radh maka selain dari ini tidak ada lagi melainkan Jauhar. Ketahuilah bahawa Jauhar ini tidak menempati pada sesuatu tempat dan tidak mendiami pada sesuatu ruang. Bukanlah badan adalah ruang bagi ruh dan bukan pula tempat bagi Qalbu malahan badan adalah alat ruh, alat Qalbu dan kenderaan jiwa. Zat ruh sendiri tidak bersambung dengan bahagian-bahagian badan dan tidak berpisah daripadanya bahkan ia menhadap kepada badan, memberi faedah dan melimpah kepadanya.

Mula-mula lahir nur ruh pada otak kerana otak tempat kenyataan yang khas.

Pada bahagian depannya ia menjadi penjaga
Pada bahagian tengahnya ia menjadi menteri dan pentadbir
Pada bahagian belakangnya ia menjadi perbendaharaan. Ahli perbendaharaan dan seluruh bahagian manjadi kakitangan dan kenderaan
Roh Haiwani menjadi khadam
Roh Tobie menjadi wakil
Badan menjadi kenderaan
Dunia menjadi medan
Hayat menjadi barang (modal)
Gerak menjadi perniagaan
Ilmu menjadi keuntungan
Hari akhirat menjadi matlamat dan tempat pulang
Syarak menjadi jalan dan cara
Terhadap jiwa pendorong kejahatan (nafsu Amarah) menjadi penjaga dan pemerhati
Terhadap jiwa pengkritik (nafsu Lawamah) ia menjadi penyedar.
Pancaindera menjadi pengikut-pengikut dan pembantu.
Agama menjadi penghalang
Akal menjadi mahaguru
Rasa pancaindera menjadi murid
Ar-Robh (Allah) menjadi pemerhati
Jiwa dengan sifat-sifat ini bersama dengan alat-alat ini tidak mengarah kepada peribadi yang tebal ini dan tidak berhubung dengan zatnya, malahan ia mengarah kepada Tuhannya dan Tuhannya memerintahkannya supaya mengambil kesempatan mendapatkan sesuatu yang berguna hingga kepada satu tempoh yang tertentu.

Oleh itu ruh tidaklah menumpukan pemerhatian ke arah memikirkan yang lain dalam masa perjalanan (hidup di atas dunia) ini, melainkan berusaha mencari ilmu untuk menjadi perhiasan di dalam negeri akhirat. Ini adalah kerana perhiasan harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia sahaja sebagaimana mata menumpukan pemerhatian ke arah mendengar suara-suara, lidah siap sedia untuk menyusun kata-kata, Ruh Haiwani tunduk kepada keenakkan marah, Ruh Tobie cintakan kelazatam makan dan minum, maka ruh yang tenang (AL-Ruh Al-Muthomainnah) ertinya Qalbu tidak menghendaki apa-apa selain daripada ilmu dan tidak gemarkan sesuatupun selain daripada ilmu. Ia belajar dan belajar sepanjang usianya. Ia menghiasi dirinya dengan ilmu dalam seluruh zaman hingga waktu bercerainya dari badan. Jika ia menerima sesuatu yang lain daripada ilmu, maka penerimaannya ini cuma untuk kepentingan badan, bukan untuk kepentingan dirinya dan kecintaan asalnya. Bila anda telah mengetahui hal ehwal ruh, kekalannya yang berterusan, kecintaannya dan pemerhatiannya kepada ilmu maka patutlah anda mengetahui pula tentang jenis-jenis ilmu.

SUMBER : http://ruhaniah.blogspot.com/2007/12/keterangan-mengenai-jiwa-dan-ruh-insani.html
More … Alfatiha

CAHAYA MATA HATI

Ketahuilah olehmu bahawasanya nafsu itu atas tiga bahagi iaitu

Amarah
Lawamah dan
Muthomainnah.

Maka nafsu Lawammah itu iaitu nafsu Haiwaniah (kebinatangan) yang mengekalkan bagi segala syahwat dan nafsu Amarrah itu iaitu nafsu Syaithoniah (keiblisan) yang mengerasi atasnya kasih segala Mukholafat(sesuatu yang menyalahi perintah Allah) dan nafsu Muthomainnah iaitu nafsu Aqliyah(bersifat keruhhan) yang telah suci daripada segala kekeruhan; maka terangkatlah daripadanya segala hijab(sesuatu yang mendindingi)
Setengah ulama daripada golongan “ahli suluk” seperti yang tercatat dalam Kitab Sirras Salikin; mengkelaskan bahagian nafsu yang ada pada seseorang itu kepada 7 jenis iaitu;

Ammarah
Lawammah
Mulhimmah
Muthommainnah
Rodhiah
Mardhiah dan
Kamaliah.

Tetapi sesetengah ahli lebih suka membahagikan jenis-jenis nafsu itu kepada tiga bahagian sahaja.

Nafsu Lawammah dikaitkan dengan sesuatu sifat jiwa manusia yang lebih banyak kecendurangannya kepada sifat-sifat untuk memenuhi keperluan lahiriah sahaja. Sama halnya dengan sifat-sifat binatang yang hanya memikirkan tentang makan, minum, jimak berenak-enak dan bersenang lenang dengan dunia sekelilingnya sahaja. Manusia seperti ini, tidak pernah memikirkan tentang alam lain dan keperluan-keperluan ruhaniah mereka malah mereka hanyut dengan kekalutan dunia yang fana ini.

Pentakrifkan perihal Nafsu Amarrah pula dengan sesuatu sifat manusia yang dibayangi oleh feel kelakuan syaitan dan iblis yang sesat lagi menyesatkan. Keperihalannya adalah berkisar kepada penderhakaan kepada hukum dan perintah Allah serta RasulNya. Manusia jenis ini bertindak mengikut kerakusan nafsunya tanpa memperhitungkan soal halal haram, sah batal , wajib haramnya. Mereka sebenarnya adalah syaitan yang bertopengkan manusia. Angkuh sombong, perosak, penindas, pemfitnah, pentingkan diri dan kedudukan, dan lain-lainnya kemungkaran.

Nafsu Muthomainnah mengikut pandangan hamba pula ialah merujuk lepada keperihalan satu golongan manusia mukmin yang Sholeh, yang telah dihidupkan ruhnya, yang dengan pancaran Nurnya dapat memberikan kesan dengan menerbitkan sifat dan peribadinya yang tinggi, yang dapat memandang ke alam tinggi, yang hidup cahaya mata hatinya untuk melihat sesuatu yang ghaib, mengenal sesuatu dengan rasa dan zauk,. Jiwa ini adalah jiwa yang telah bebas dari kurungan nafsu syahwat dan penjara kemanusian yang terbang bebas dengan sayap ruhnya yang bermakrifat ke alam yang haq dan hakiki. Dengan sebab itulah, hamba mendatangkan Kalam Hikmah yang seterusnya;.

“Maka cahaya mata hati itu iaitu Nurul Aqliyah yang menunjukkan kepada Iman yang memandangkan ia(Nurul Aqliyah) akan dikau akan hampirnya (Allah) daripadamu hingga engkau lihat bahawasanya Haq Taala itu terlebih hampir kepadamu daripada urat tengkuk. Maka tidalah sah bagi maksiat kerena engkau ketahui dengan kenyataan atasmu.”.

Kalam hikmah di atas cuba mengutarakan apa itu yang dimaksudkan dengan cahaya mata hati. Cahaya mata hati ini adalah Nurul Aqliyah yang mentahqiqkan kepercayaan seseorang kepada seluruh perkara yang meliputi hakikat Iman berdasarkan ilmu pengetahuan. Guru suluk semasa menjelaskan pengertian Nurul Aqliah menggunakan rangkaikata “rahsia sifat Ilmu” . Ini adalah bersandarkan kepada fahaman bahawa dengan ilmu sahaja seseorang itu tidak mampu untuk mempercayai sesuatu yang ghaib malah ada di antara mereka yang mengingkarinya. Tetapi bagi seseorang yang mempercayai akan kebenaran; keadaannya adalah berlainan. Bila kepercayaan kepada ilmu tadi telah diteguhkan dengan terbukanya penglihatan batin(Ilmu Yakin) lantaran telah bersih dari segala kekeruhan, maka terlihatlah kepadanya kebenaran ilmu tersebut. Akan terhurailah kepadanya rahsia-rahsia sifat ilmu yang didapatinya dengan melihat dan memandang akan kebenaran hakikat bagi ilmu yang diyakininya. Maka cemerlanglah hatinya dengan Nurul Aqliyah yang dapat meyakini dengan melihat bahawa Allah itu di atas sesuatu Maha Meliputi hatta diri dan perasaannya terlalu dekat dengan kewujudan Allah. Manusia yang melihat dengan Nurul Aqliyah ini sama sekali tidak akan terjerumus ke dalam dosa dan maksiat kerana pandangan mereka sentiasa melihat Allah itu sentiasa memerhati dan mengawasi setiap gerak-gerinya zhohir dan batin. Inilah yang dimaksudkan dengan “engkau ketahui dengan kenyataan ke atasmu” iaitu nyata dalam pengetahuanmu yang tahqiq bahawa Allah itu terlalu hampir dengannya.

“Dan Ainul Basyirah itu iaitu Nurul Ilmu yang memandangkan ia(Nurul Ilmu) akan dikau kepada ketiadaanmu kerana adanya (Allah) hingga tiada engkau lihat bagi dirimu Amal dan tiada hal kerana nazhor(tilik)mu bagi berkehendakmu kepadaNya. ”

Jika kalam hikmah sebelum ini membicarakan tentang “cahaya mata hati”, maka kalam hikmah yang berikutnya pula cuba menyatakan sesuatu yang lebih tinggi dari Nurul Aqliyah itu. Ainul Basyirah atau “mata hati” (tanpa meyebutkan cahaya) adalah merujuk kepada kebolehan dan kemampuan sifat mata hati itu memandang dengan suluhan rahsia cahaya ilmu yang akan melenyapkan pandangan kepada hal dirinya atau amalannya malah tiada pelakuan yang terbit dari dirinya.

Berbeza dengan Nurul Aqliyah(seperti yang dinyatakan dalam kalam hikmah sebelumnya), keyakinannya sekarang memanjat kepada “Nurul Ilmu” atau “cahaya ilmu” iaitu pandangan yang yakin dan tahqiq kerana melihat sendiri akan benarnya Wujud pentadbiran Allah dengan sendiriNya. Pada tahap ini atau maqam Ainul Basyirah ini seseorang itu akan fana dengan perbuatan Allah dan sifat Allah yang menguasai di atas tiap-tiap sesuatu. Mereka tidak melihat amalannya, mereka tidak melihat halnya malah mereka tenggelam dalam musyahadah akan TuhanNya dalam setiap lakuan.

“Dan Haqqul Basyirah itu iaitu Nurul Haq yang menunujukkan kepada hakikat yang diI’tiqadkan yang (dapat) mandangkan ia(Nurul Haq) akan dikau kepada wujudnya (Allah) atas sendirinya dengan tiada Wasitah (pengantara) hingga tiada engkau lihat akan segala yang maujud atas hakikat lain daripadaNya (Allah) tiada ketiadaanmu dan tiada wujudmu dan tiada dunia dan tiada akhirat.
Kalam hikmah selanjutnya adalah memperihalkan tentang sesuatu yang menjadi haq atau hakiki atau puncak kepada Nur yang sebelum ini. Haqqul Basyirah adalah cahaya yang Haq yang kehadirannya akan menjadi satu petunjuk untuk menjejaki hakikat pada segala hakikat sesuatu yang dipercayai dengan ilmu (cahaya mata hati)dan sesuatu yang diyakini dengan penglihatan Ainul Basyirah. Pandangan kepada Haqqul Basyirah ini menjadikan diri seseorang itu kosong(tidak wujud) dan tidak diiktibarkan wujud diri bila berhadapan dengan Wujud Allah yang hakiki atau Wujud Yang Mutlaq atau Wujud Yang Zaati.
Pandangan ini akan menyingkapkan kenyataan hakikat bahawa Wujud Allah itu adalah Wujud yang Qiyamuhu Binafsih(berdiri dengan sendiri) Wujud yang Esa dengan segala sifat-sifat Ketuhanan yang Istiqna (Terkaya daripada sesuatu) dan Iftiqor (berhajat tiap-tiap sesuatu kepadaNya). Kenyataan ini akan menyingkapkan hakikat bahawa tidak ada sesuatu pun yang wujud di Alam ini melainkan Allah jua yang Wujud hatta diri yang memandang sekalipun tenggelam dalam Kewujudan Allah Yang Mutlak ini. Tidak ada wasitah atau dalil untuk yang diperlukan di sini bagi melihat wujud Allah yang hakiki malah segala sesuatu itu akan lebur dan hancur bila berhadapan dengan Haqqul Basyirah ini.

“Telah ada Allah dan tiada sesuatu sertaNya iaitu sekarang atas barang (hal/sifat) yang atasNya telah adaNya dahulu jua tiada serta zaman(masa) dan tiada berkait akan Dia wujud akuan (alam ini) tetapi segala zaman itu Umuru Wahamiah(sangkaan yang waham) tiada wujud baginya (akuan) atas tahqiq dan maksud dan bahawasanya Allah Taala jua tiada suatu sertaNya kerana tetap sendiriNya.

Wujud Allah adalah wujud yang Qidam iaitu sediakala yang tiada permulaan bagi adanya Ia.
Wujudnya juga adalah yang Baqa iaitu kekal yang tiada sut dan kesudahanNya.
Wujud Allah juga Mukholafatuhu lil hawadis iaitu bersalahan dengan sesuatu yang baru (wujud alam ini/akuan) . Wujud Allah adalah wujud yang tidak bertempat, berzaman, berpihak, berjisim dan tidak ada sesautu yang boleh disamakan, dibandingkan atau dikaitkan dengan kewujudannya yang Zaati dan Mutlak. Semuanya itu adalah sangkaan dan waham-waham fikiran khayali sahaja. Malah Wujud Allah adalah Wujud yang Wahdaniah (Esa pada zat, esa pada sifat, esa pada perbuatan dan esa pada nama), Wujud yang terkaya daripada segala sesuatu sama ada kaya Allah daripada berhajat kepada Zat, kaya Allah daripada Fael (sesuatu untuk menjadikanNya) dan kaya daripada Muhkosis (sesuatu untuk menyempurnakanNya).
Allah jua lah yang mempunyai hakikat Wujud yang tidak ada sesuatu sertaNya dan tetap sendirinya dari dengan segala sifatNya Maha Sempurna.

Rasulullah SAW. pernah bersabda yang bermaksud;
“Ya Allah, engkaulah Yang Awal yang tidak ada pun sebelumMu; engkaulah Yang Terakhir yang tidak apa pun selepasMu; Engkaulah Yang Zhohir yang tidak ada pun atasMu; Engkaulah Yang Batin yang tidak ada pun di bawahmu”.

Firman Allah dalam Surah Fudhilat ayat 54 yang bermaksud;
“Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala-galanya”

Keterangan Mengenai Hati Dan Niat

Ketahui olehmu adalah hati itu terbahagi pada 2 bahagian:

1. Dinamakan hati sanubari

2. Dinamakan hati nurani

Adapun hati sanubari itu hal keadaannya zulmah ertinya gelap tiada menerima sinaran nur atau cahaya ma’rifat, oleh kerana hati sanubari itu tempat dinaungi oleh Syaitan ditakluk dengan nafsu amarah yang sekeji keji dan seburuk buruk nafsu. Ianya termasuk didalam satu dari anggota tubuh badan yang kasar ini yang terletak disebelah kiri didalam dada. Hati sanubari adalah segumpal daging yang berbentuk bulat mamanjang dan mempunya’i tugas tugas tertentu yang didalamnya berongga dan ada terkandung darah hitam.

Hati inilah yang disabdakan oleh Nabi:

‘Inni fi jasadabni adama mudghatan, fa’iza salakhat, jasadu kulluhu. wa iza fasadat, fasadal jasadu kulluhu, ala wahiyal qalbu.’

Sesunggunya didalam tubuh anak Adam ada segumpal daging, maka apabila baik daging itu baiklah seluruh anggota badannya, dan manakala rosak daging itu binasalah seluruh tubuh badannya, ialah hati sanubari dan hati sanubari ini tidak lain melainkan jantung. Maka adalah jantung ini sesuatu yang amat penting bagi kehidupan tubuh badan. Ianya diperolehi pada manusia dan haiwan. Adapun kejadiannya dicipta dari alam nyata atau disebut alam syahadah.

2. Adapun hati yang kedua dinama’i hati nurani. Hati inilah yang dapat menerima sinaran nur ma’rifat dari Tuhan, bahkan ialah yang menerima tajalli Tuhan, menanggung amanah dan rahsia Tuhannya, berpakaian dengan tujuh Sifat Maani. Ianya merupakan haqiqat Insan dan bersifat Ketuhanan. Hati Nurani ini bukanlah kejadian yang dijadikan dari alam nyata, bahkan dicipta ia dari unsur unsur alam ghaib. Oleh kerana itu Hati Nurani ini tiada boleh dilihat dengan mata kasar. Maka hati inilah yang di tuntut hadhir dalam sembahyang, menghadap Tuhannya, memuji dan bermohon kepada Tuhan. Hati Nurani inilah yang disebut Ruh Latifurabbaniyah. atau Hakikat Insan atau juga disebut diri sebenar diri. Oleh kerana ianya merupakan hakikat insan maka dinama’i pula dengan sebutan Insan Hakiki. Dialah semulia mulia dan setinggi tinggi kejadian dan sebaik baik makhluk sebagaimana Firman Allah:

“Laqad khalaknal insana akhsani taqwim” Demi sebaik baik kejadian yang Kami jadikan ialah Insan.

Insan hakiki inilah yang di isyarat oleh Allah dengan firmanNya didalam Hadith Qudsi:

“Al Insanu Sirri Wa ANA sirruhu” Adalah Insan itu rahsiaKu dan Aku rahsianya.

Demikian dengan terang dan tegas sekali dinyatakan oleh Allah. Dengan itu jua bererti ianya menjadi dalil yang nyata bagi wujud Allah, suatu dalil yang paling hampir kepada Allah, dengan dialah dijadikan sebagai jalan yang paling dekat untuk mencapai ma’rifat kepada Allah sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi s.a.w. dengan sabdanya yang begitu jelas dan tegas: “Man arafa nafsahu, fakad arafa rabbahu” Barang siapa mengenal akan dirinya dengan sebenar benar pengenalan, maka telah ia akan Tuhannya.

Didalam Hadith Qudsi pula Allah berfirman:

“Man talaballahu bighairi nafsihi fakad dalla dalalan ba’idan”. Barang siapa menuntut ma’rifat akan Allah dengan barang yang lain dari dirinya sendiri maka telah sesat ia dengan kesesatan yang amat jauh.

FirmanNya lagi dalam Hadith Qudsi:

“Man wasafallahu bisyai in min khalqihi fajad kafar, waman angkara ma wasafallahu bihi binafsidi fakad kafar.”

Barang siapa mensifatkan Allah dengan sesuatu daripada barang yang dijadikan Allah, maka telah kafirlah ia dan barang siapa yang ingkar pada yang telah disifatkan Allah dengannya dengan Zatnya maka telah kufurlah ia.

Ketahui olehmu adalah Hati Nurani atau alam Ruh Latifurr Rabbaniah itu alam latif dan tiada padanya rupa dan warna yang dapat dilihat dengan mata kasar. Tuhan telah menjadikannya terdahulu dari kejadian jasad dua ribu tahun lamanya.

Adapun pada istilah Tahqiq bahawa adalah Ruh itu beberapa namanya,

1. Ruhul Quddus

2. Ruh Idhafi

3. Ruhani

4. Ruhul Hayat

5. Ruhul Amar

6. Ruh Jamadi

7. Ruh Nabati

8. Ruh Haiwani

9. Ruh Insani

10. Ruh Kamalat

11. Ruhul Ajsad

Adapun yang bernama Ruh Nabati ialah tatkala darah yang setitik maka pada alam kabir iaitu segala tumbuh tumbuhan.

Ruh Jamadi itu tatkala daging yang seketul atau segumpal.Maka pada Alam Kabir ialah segala batu batu dan kayu kayan.

Ruhani iaitu tatkala sudah dimasukkan nyawa padanya.

Ruh Haiwani iaitu tatkala berhajat kepada makan dan minum dan jimak, maka pada alam kabir ialah segala binatang.

Ruh Insan iaitu tatkala sudah zahir dari perut ibu.

Ruh Kamalat iaitu tatkala bersuara menangis pada pertama pertama jadi.

Maka adalah perbezaan roh dan nafas itu adalah roh itu batin dan nafas itu zahir. Maka nafas itu adalah kezahiran roh atau kenyataannya yang juga disebut kelakuan atau sifatnya.

Yang demikian tertib Allah s.w.t. yang amat halus pekerjaanNya lagi bijaksana, dengan IradatNya menggerakkan Ruhul Amar dan Ruhul Amar menggerakkan Ruhul Hayat dan Ruhul Hayat menggerakkan Nafas dan Nafas pula menggerakkan Jasad. Maka zahirlah kelakuannya pada Jasad.

sumber : http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6748100452625985593
More … Alfatiha

Print Halaman Ini

Searching

BEBERAPA ZAWIYAH/MAJLIS DZIKR NAQSYBANDI

1. PONDOK PESANTREN AL-MADANIYAH
Anggrek Mas F-5 Baloi, Batam, Riau Islands, Indonesia
H.Nugrahanto 0811701176

2. PONDOK PESANTREN AL-QURAN AL-FALAH I
Cicalengka, Bandung, West of Java, Indonesia
KH Syahid 081321526295

3. PONDOK PESANTREN AT-TAUFIQY
Wonopringgo, Pekalongan, Central of Java, Indonesia
K.H.Taufiq Subki (0285) 785018

4. ZAWIYAH NAQSYBANDI AL KINDY
Jl.Reformasi 31 Api-api, Bontang, East of Kalimantan, Indonesia
Isom 0813-5025-6708

5. PONDOK PESANTREN SIRAJUL HUDA
Tiga Binanga, Kab.Karo, North of Sumatera
Encep Fariduddin 08192097181

6. PESANTREN PONDOK ASRI
Singaraja, Bali, Indonesia
H. Sauqi 081338775421 Ridwan Pinem 08123992329

7. ZAWIYAH NAQSYBANDI GALUNG
Depan Balai Nagari Galung,Banuhampu, Bukittinggi, West of Sumatera
Sukardi Jatman 08161833598

8. ZAWIYAH NAQSYBANDI
Tiara Citra II B5 MAGUWOHARJO YOGYA, Indonesia
Darul TM 081227000322
9. ZAWIYAH NAQSYBANDI BUANA GUMILAR
Wisbun B-12 Batam Center telp 0778-478835 Indonesia
Abdul Mughist 081325256938

10. ZAWIYAH NAQSYBANDI
CILANDAK-TOWNSQUARE
Abd. Aziz 0812844421

11. ZAWIYAH NAQSYBANDI CIREBON
Weru_Plered Cirebon, West of Java, Indonesia
M.Rofiq 081315445446
12. ZAWIYAH NAQSYBANDI DEMEN-NGANDHEL
Ngantingan-Senori, Jojogan, Tuban East of Java, Indonesia
Munzakki 0813-3563-6418
13 ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Jl.Hasbi 40 Ottista JAKARTA 13330, Indonesia
Telp 021-8190475

14. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Orchid Park D-11 Batam Center, Indonesia
Yandri Irzaq 08127022415

15. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI CIKRETEG
Vila Pancawati, Cikreteg, Ciawi, Bogor, West of Java, Indonesia
Abd.Qadir 08128014661

16. ZAWIYAH NAQSYBANDI JEMBER
Jl.Sawo II/3 Jember, East of Java, Indonesia
Muji-Irmulandari 08124982163

17 ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI KEBAYORANLAMA
Jl. Sholihun Kby.Lama Jakarta, Indonesia
Wahyudi Yusuf 08158903433

18. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
KEBONTENGAH-PEKALONGAN, Central of Java, Indonesia
Muhlishin 081548092838 Muhib 081326841075

19. ZAWIYAH NAQSYBANDI LUMAJANG
Rogotrunan, Lumajang, East of Java, Indonesia
A.Rosyid Murodi 081336528874

20. ZAWIYAH NAQSYBANDI PADANG
Jl.Raya Padangpasir 17 Padang West of Sumatera, Indonesia
Telp 0751-36257 Effendi Awal 0811661285

21. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
PANDANARUM-PEKALONGAN, Central of Java, Indonesia
Mutawali 081575359228
Susilo 081575652358


22. ZAWIYAH NAQSYBANDI SIWALAN
Komplek Siwalan Permai, Tuban, East of Java, Indonesia
Yudi 081330654310

23. ZAWIYAH NAQSYBANDI ASY-SYIFAA PEKANBARU
Jl.Farmasi 24 Pekanbaru 28111, Riau, Indonesia
Dr.Chairuddin Lubis 0811755721

24. ZAWIYAH SAWIYAH
Jl.Sawi 16, Semarang, Central of Java, Indonesia
Joko Abd.Haqq 0811279108

25. ZAWIYAH AL FATTAH
Pisangan, Bontang, East of Kalimantan, Indonesia
Lutfi 0813-4739-7472, Mulkan 0852-4634-4150

26. ZAWIYAH AL-MUBAROKAH
Sanden, Mranggen, Semarang, Central of Java, Indonesia
Ajib 0818455527 Riza 081325632124

27. ZAWIYAH NAQSYBANDI PAKIS SURABAYA
Pakis Surabaya, East of Java, Indonesia
Madyo 031-70699644

28. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Jl.Panjaitan Dalam 37 Malang, East of Java, Indonesia,
Masud 081334520958

29. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Jl. Mandala Selatan 16, Tomangraya, Jakarta, Indonesia
H.Sunarto Telp 021-5670472

30. ZAWIYAH NAQSYBANDI SULAIMAN TARIGAN
Cempaka Putih Raya 114 Jakarta, Indonesia
A.Malik Tarigan 08159968067

31. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Jl.Brawijaya IA/16 Kby.Baru, Jakarta, Indonesia

32. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Jl. Teuku Umar 41 Jakarta, Indonesia
Sekretariat Yayasan Haqqani Indonesia

33. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI KEBONJERUK
Jl.Raya Klapadua no.1, Kebonjeruk, Jakarta, Indonesia
H. Ahmadin 0811131629

34. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Jl.Pangkalanjati 71, Pondoklabu, Jakarta, Indonesia
Effendi Siregar 0817-987-0793

35. MUSHALLA UKHUWAH ISLAMIYAH
Templek, Takeran, Magetan, East of Java, Indonesia
Suyitno 08883402757 S. Riyanto 08123408790

36. ZAWIYAH LEMBAH KHWAJAGAN
Jl. Garuda Sakti Km 7 Pekanbaru, Riau, Indonesia
Dr. Pramudjo Abdul Gani 08127518084

37. ZAWIYAH NAQSYBANDI INDRAPURA
Jl.Turi blk V Indrapura Asahan. north of Sumatera, Indonesia
Zainal Arifin 081361749324

38. ZAWIYAH NAQSYBANDI SIMALUNGUN
Lalang, North of Sumatera, Indonesia
Budhi Dalimunthe

39. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Patran 99, Gamping, Sleman, Yogya, Indonesia
Dwi 0811255774

40. ZAWIYAH NAQSYBANDI DENPASAR
Perum Lukluk, Denpasar, Bali, Indonesia
Bambang Supriyanto 081338535239

41. ZAWIYAH TELAGA AL KAUTSAR
Vila Kenali Permai C-18 Asam Bawah Jambi 36361, Indonesia
Debby 081366917752

42. ZAWIYAH PANTAI DANAU TOBA
binti Yahya 3RAS, TOBA, North of Sumatera, Indonesia
Abd Karim

43. ZAWIYAH RENGGANIS
Bumi Rengganis 5A/110 Balikpapan, East of Kalimantan
Ahmad Hidayat 08125429981

44. ZAWIYAH JABALNUR
Jl. Monginsidi 54 Samarinda, East of Kalimantan, Indonesia
H.Zahruddin Tarmizi 081347113135

45. ZAWIYAH SETANGKUP DAMAI
Jl. Gunung Malabar no. 27 Komplek BSD Bontang
Rahmat Effendi 085246023058

46. ZAWIYAH BANDAR TINGGI
Bandar Tinggi Asahan Medan, Indonesia
Zainal Abidin 081361749324. Roslan

47. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
JL.Pattimura,.hidayat lane no 56 Jambi, Indonesia
Amin Abdullah (0741) 66305

48. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Bulungan, Jakarta, Indonesia
Iseng 08176669545

49. ZAWIYAH NAQSYBANDI HAQQANI
Sea, Jaga1 Pineleng Minahasa Induk, Manado, North of Sulawesi,
Indonesia, Hanz 0852-4096-1749

50. ZAWIYAH Naqsybandi Haqqani
Masjid Jabal.Rahmah Bohabak IV Bolangitang, Bolaang Mangondow,
North of Sulawesi, Indonesia

51. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Masjid Turobunnur Sipatanah, Jl Membramo Bulotadaa Tmr
Gorontalo, Indonesia
KH.Ridwan Padungge

52. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Masjid Diponegoro, Air Madidi, Manado, North of Sulawesi,
Indonesia, Fritz 0815-2367-4769

53. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Banjarbaru, South of Kalimantan, Indonesia
Untung 0511-768-8494

54. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Jl.Sei Putih 11A, Medan, North of Sumatera, Indonesia
Hasan Sebayang 081362317176

55. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Sirajul Huda, Tigabinanga, Karo, North of Sumatera
Indonesia, Encep Fariduddin 0819-209-7181



56. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Kabanjahe, Karo. North of Sumatera, Indonesia
A.Aziz Tarigan 0813-7616-2688

57. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Simalungun, North of Sumatera, Indonesia
Supardi Zulham 0813-622-2446

58. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Ma’had Daarus Syifa al Fitrat, Sukabumi, West of Java,
Indonesia, Ece Supriatna 0811-115-875

59. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Masjid Darussalam, Jababeka, Cikarang, West of Java, Indonesia
Arif Hamdani 0816-830-748

60. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Pesantren Al Falah Cicalengka Bandung, West of Java, Indonesia
HQ Rif’at Syahid 0815-715-5776

61. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Citeureup, Bogor, West of Java, Indonesia
Eka 0813-8386-3497

62. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Kampus ITS Surabaya, East of Java, Indonesia
Son Kuswadi 0813-3193-2011

63. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Taman Sepanjang East of Java, Indonesia
Sentot Punjangpunjung 0813-3013-0897

64. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Bondowoso, East of Java, Indonesia
Pujer, Bustomi 0852-5852-0200
Kajar, Abdul Hamid 0819-1386-3552

65. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Aceh, Indonesia
Lambhuk, Zamhuri 0813-6095-0190
Lhok Sumawe, Syamsul Bahri 0852-1674-2447

66. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Depok, West of Java, Indonesia
Pes.Al Ma’unah 702-40607, Limo, Shohib 0813-1727-6504

67. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Baiturrahim, Jl.Erlangga, Semarang, Indonesia
M.Rosyad 0813-2526-0088

68. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Jembrana, Negara, Bali, Indonesia
Asep Abdus Sattar 0812-396-4538

69. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Islamic Center Jakarta, Indonesia
Dedi Alim 0813-8000-9933

70. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Cijantung, Jakarta, Indonesia
Nurhidayat 0815-1412-0122

71. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Pasar Lapan, Batubara, North of Sumatera
Syahruddin Siregar 0813-6174-9388

72. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Jl.Diponegoro 50 Sumenep, Madura, Indonesia
Syehra Chozin 0856-4821-0333

73. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Taman Burung Bintaro, West of Java, Indonesia
Ir.Syaiful Husni 0813-8914-4591

74. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Taman Cibubur, Bogor, West of Java, Indonesia
Linggogeni 0816-105-464

75. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Tiara Citra Asri F-14 Candi, Sidoarjo, East of Java,
Indonesia, Faizuddin Firdaus 0812-324-3458

76. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Kudus, Central of Java, Indonesia
Sa’dulloh Wahab +62291-432567

77. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Griya Mukti Bumi Sempaja, Samarinda, East of Borneo, Indonesia
Muiz 0856-4266-5681


78. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Sinar Qubro Samarinda Seberang Mahakam, East of Borneo, Indonesia,
Sumari 081347372366

79. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Al Musthafawiyah, Madina, North of Sumatera, Indonesia
Saleh Hasibuan 0858-3058-9056

80. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Tenggarong, East of Borneo, Indonesia
Ir. Chairul Anwar 0811-583-249

81. Zawiyah Naqsybandi Haqqani
Imogiri, Yogya. Indonesia
Iskandar Waworuntu 0819-0405-2228

*****Manunggaling Kawula Klawan Gusti*****

syaikhuna al-mukarrom

•Februari 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
ahmad mahfudin

ahmad mahfudin

function setAttributeOnload(object, attribute, val) {
if(window.addEventListener) {
window.addEventListener(“load”,
function(){ object[attribute] = val; }, false);
} else {
window.attachEvent(‘onload’, function(){ object[attribute] = val; });
}
}

CERMIN * RAHSA * * ELING LAN WASPADA *

Tan Samar Pamoring Sukma Sinukmaya Winayah Ingasepi Sinimpen Ing Telenging Kalbu Pambukaning Warana Jiwangga Sumanten Haqq Haqq Tan Ajrih lan Kuwatos Suraos Jenjem Ayem Tentrem Sumurup Dening Allah SWT * Ila Hadroh N.Muhammad SAW,Ahli Bait, Shohabat2,Ambiya, Mursalin, Syuhada, Sholihin, Malaikat2,Sulthon Auliya,Murobbi,Rijalulloh,Abdal,Aqthab,Authad,Nujba,Ahli Haqq,Wali2, Guru2, Yogi2,Abi Ummi ,Leluhur2,Mas MbakYu ,Garwo ,Wayah2, Dulur2,Muslimin Muslimat Ahya Wa Mamat AlFatihah *

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak” (Ar-Rahman: 37)

Tawassul

Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam.Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:

(1) Nabi
(2) Shiddiq
(3) Salmaan
(4) Qaasim
(5) Ja’far
(6) Thayfuur
(7) Abul Hasan
(8) Abuu ‘Ali
(9) Yuusuf
(10) Abul ‘Abbaas
(11) ‘Abdul Khaaliq
(12) ‘Aarif
(13) Mahmuud
(14) ‘Alii
(15) Muhammad Baabaa as-Samaasii
(16) Sayyid Amiir Kulaali
(17) Khwaaja Bahaa’uddin Naqsyband
(18) ‘Alaa’uddiin
(19) Ya’quub
(20) Ubayd Allaah
(21) Muhammad az-Zaahid
(22) Darwiisy Muhammad
(23) Khwajaa al-Amkanaki
(24) Muhammad al-Baaqi
(25) Ahmad al-Faruuqi
(26) Muhammad Ma’sumM
(27) Sayfuddiin
(28) Nuur Muhammad
(29) Habib Allaah
(30) ‘Abd Allaah
(31) Syekh Khaalid
(32) Syekh Ismaa’il
(33) Khaas Muhammad
(34) Syekh Muhammad Effendi al-Yaraaghi
(35) Sayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-Husayni
(36) Abuu Ahmad as-Sughuuri
(37) Abuu Muhammad al-Madanii
(38) Sayyidina Syekh Syarafuddin ad-Daghestani
(39) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-Daghestani
(40) Sayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani

Syahaamatu Fardaani
Yuusuf ash-Shiddiiq
‘Abdur Ra’uuf al-Yamaani
Imaamul ‘Arifin Amaanul Haqq
Lisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-Sakhaawii
Aarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-Mulhaan
Burhaanul Kuramaa’ Ghawtsul Anaam
Yaa Shaahibaz Zaman
wa yaa Shahibal `Unshur

Yaa Budalla
Yaa Nujaba
Yaa Nuqaba
Yaa Awtad
Yaa Akhyar
Yaa A’Immatal Arba’a
Yaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardh
Yaa Awliya Allaah
Yaa Saadaat an-Naqsybandi

Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, a’sa nahdha bi-fadhlillah,
Al-Faatihah

Image of Heart with Dhikr, for Members Only Email staff@sufimeditationcenter.com

Rabu, 2008 Januari 30

HUWA (DIA)

Bismillah

Alhamdulillah … Astaghfirullah … Shollallah Ala Muhammad
Huwa : Dia adalah merupaka Salah satu nama Allah yang merupakan nama yang disenangi para ahli mistikus. Bahkan penerapannya dapet kita jumpai dalam ritus – ritus tarekat di jawa dan olah kebatinan islam kejawen yang menggunakan Huu (Dari Huwa, yang dalam membacany wawunya di waqofkan) sebagai meditasi tarik keluar nafas yang biasa disebut pengamalan sholat daim. (Tarik nafas Huu , Buang Nafas Allah; ada juga Tarik Nafas Yaa, Simpan Nafas Allah , Buang Nafas Huu; dan berbagai kombinasi ayang menyertakan Huu ). Huwa adalah Dia. Nama yang bisa dikatakan universal. Sedangkan Allah adalah nama yang dikenalkan Allah SWT di Alqur’an. Nama yang mencakup nama pengesaan/peneguhan. Dimana 99 asma Allah yang lain terangkum dalam nama Allah. Huwa adalah nama Allah dalam entitas Dia dalam Alam Ahadiyat. Yaitu Alam yang piningit. Alam Suwung . Alam dimana Hanya Allah yang ada. Sehingga dikatakan ‘Dia’. Yaitu dia yang belom bernama apapun. Masih belum tersentuh keberadaan-nya/ Dzatnya. Dia adalah nama dimana Nama itu merupakan realitas yang dituju oleh para pecinta sejati. Nama itu adalah nama yang berada di alam sangkan paraning dumadi. alam dimana yang tiada meminta kepada Dia untuk diadakan. Yang pada akhirnya segala sesuatu yang dikatakan ada akan meminta untuk ditiadakan kembali. Kembali dalam realitas yang hampa dan sunyi dimana Hanya Dia yang ada. Dikisahkan dari kitab asmaul husna karya alqusyairi bahwa ada seorang sufi menjumpai seorang sufi yang lain yang nampaknya sedang majdzub (mengalami kegilaaan ilahiah/ ekstase spiritual sehingga ‘lupa ingatan’ karena mabuk cinta pada Allah). Dari bibir sang sufi yang sedang majdzub hanya terkatakan Huwa … Huwa… Huwa.. Maka sang sufi yang sedang lewat itu menjumpai sang sufi yang sedang majdzub tadi. Namamu siapa? Di jawab Huwa.
Siapa Nama Ayahmu. Punya keluarga ? Di jawab Huwa. Tempat tinggalmu? di jawab Huwa. Apa maksudmu Huwa? Di jawab Huwa.Pokoknya setiap pertanyaan selalu di jawab Huwa.
Akhirnya ditanyakan apa yang kamu maksud Huwa tadi itu Allah? Mendengar ini sang sufi yang selalu menjawab Huwa tadi menjerit dalam kerinduan yang dalam dan makin keras Huwa nya lalu rubuh tak bernyawa. Ternyata mendengar nama Allah kerinduannya makin memuncak. Sehingga di dorong kerinduan yang dalam ruhnya bersuka ria menuju Alam Huwa.
Tujuan para pencari sejati
Alhamdulillah … Astaghfirullah … Shollallah Ala Muhammad
More … Alfatiha

‘Islamnya ‘ Orang Jawa

Bismillah…
Alhamdulillah … Astaghfirullah …. Shollallah ala Muhammad
Secara pakem dalam tasawuf sunni (tasawuf yang merujuk pada AlGhozali dan Imam Junayd)
tangga dalam islam dikenal ada 4 : yaitu syari’at , tarekat, hakikat dan makrifat.
Dilakukan secara berurut dan merupakan satu kesatuan yang utuh.
atu bundle tak terpisah. batal satu batal semuanya.
Dalam tasawuf islami/ tasawuf falsafi (merujuk pada Ibnu Arobi dan AlHallaj )sebenarnya juga 4 itu menjadi hal yang satu. urutannya juga sama. hanya saja di tasawuf falsafi
penekanan terhadap pemahaman nur muhammad menjadi sentral. Sebenarnya tarekat – tarekat
yang ada bisa disebut kombinasi dari kedua tasawuf ini. Disebutkan bahwasnya tarekat
menurunkan ilmu tarekatnya berupa dzikir/dzikir atau latihan- latihan yang harus di jalani murid dan menurunkan kunci tarekatnya berupa pengertian hakekat yang dalam dan
pengetahuan makrifat yang lebih spesifik yang biasanya terkait dengan pengamalan nur muhammad. Biasanya secara awal latihan/latihan meditasi yang di pusatkan di lathifah-lathifah. (titik – titik tubuh gerbang ke rasa/dalaman/ batin diri, beda dengan cakra yang merupakan gerbang ke energi alam semesta; kalo cakra semakin jauh posisi di atas cakra mahkota semakin ilahi) . Yang merupakan cloning murni dari tasawuf sunni adalah tarekat alawiyah yang merupakan tarekatnya para sadah alawiyyin (keturunan dari keturunan nabi saw dari jalur sayyid alwi bin ubaidillah bin ahmad almuhajir bin isa hadromi , yaman).
Yang merupakan paduan tarekat alghozali dan tarekat syadzili. Di indonesia tarekat ini menyebar melalui wali songo. Sedangkan konon secara jelas tasawuf falsafi di bawa
syekh siti jenar ke jawa menjadi ajaran islam kejawen yaitu manunggaling kawulo gusti. Sedangkan dilihat dari tata cara meditasi di islam kejawen mirip sekali dengan
tarekat naqsbandi dan tarekat syatariah. Besar kemungkinan juga ajaran islam kejawen
di pengaruhi dua tarekat ini. Penyebarannya bisa melalui syeh siti jenar. Atau barang kali ada beberapa dari ‘kelompok’ wali songo yang mengajarkan. Tapi yang jelas di jawa wali songo mengajarkan tarekat alawiyah yang di padu dengan ‘kebudayaan manusia jawa’ setempat. Besar kemungkinan dua hal itu malah salaing lengkap melengkapi.
Jika kita lihat lebih ke dalam pada islam kejawen , sebenarnya mengakui 4 tangga secara jelas yaitu syariat , tarekat , hakekat dan makrifat. Ini terungkap dari suluk sukma lelana dari pujangga besar Ronggo Warsito. Tapi ternyata ada hal yang membedakan dari pakem yang sebenarnya. Yaitu urutannya terbalik. Bukan dari syariat dulu kemudian menaik. Tapi bisa dari makrifat (sebagian) – hakekat – syariat – makrifat (full). Karena banyak dikisahkan banyak orang jawa yang rajin solat justru dari urutan yang terbalik tadi. Setelah tau makrifat yang sebagian Dikatakan sebagian karena orang jawa dengan kebudayaan batin yang tinggi malah mengalami mukasyafah sebagian yaitu bisa melihat alam bawah sadar , melihat aura, membaca hati dan pikiran orang dengan laku ‘mulia’ yang di lakoninya berdasar falsafah / kebudayaan batin asli jawa yang adi luhung. Ini terwujud ketika orang jawa tulen solat betul – betul tumbuh dari makrifat apa yang ia syahadatkan, ia weruh / makrifat terhadap sholat syariat yaitu peningkatan dari eling (sholat daim). Tau urgensitasnya/hakekatnya kenapa harus solat dan memahami betul cara untuk sholat yang baik kemudian ketika menjalani sholat secara syariat betul – betul tumbuh dati kebeningan rasa dan pikir. Lahir batin. Ketika itulah ia bermakrifat terhadap Allah dengan sebenar-benarnya. Tau yang dilakukan lahirnya karena kehendak batinnya. Dalam suluk2 terlihat syekh siti jenar, ki ageng pengging dan sunan panggung dan murid2nya yang kemudian di pengaruhi juga menjadi murid sunan kalijaga pad akhirnya , mengkritik ahli syareat yang hanya tau kulit tanpa tau isinya. Karena konon pewaris2 dari murid2 mereka juga menjalani disiplin syariat yang ketat. Hanya saja urutannya terbalik. Mereka benar- benar baru bisa menjalankan syariat jika lahir dari kehendak yang palin dalam. Sehingga banyak cerita , banyak orang jawa tulen jika sudah menjalani syariat malah betul – betul bisa total. Dan banyak juga murid tarekat yang berasal dari jawa tulen setelah masuk ke tarekat malah lebih cepat ‘lulus’. karena sudah terbantu dengan latihan jiwa menurut falsafah jawa. Malah banyak juga bahkan banyak sekali yang sedari kecil sudah kenyang melihat tulisan-tulisan arab tidak paham-paham juga, Sehingga sulit melewati kelulusan tarekat. Mereka tidak paham tarekat adalah sekolah untuk mencuci jiwa. banyak malah dari mereka yang belajar untuk agar sakti untuk mendapat karomah atau untuk menjadi wali, Padahal bukan itu tujuannya. Bahkan Habib Luthfi ketua JATMAN (organisasi tarekat nu’tabarah di bawah nu) berulang kali menjelaskan bahwa tarekat adalah sekolahan untuk membersihkan jiwa. Sehingga disiplin2 dzikir bertujuan mencuci jiwa dan menggantikannya dengan kalimat tauhid dan ismu dzat. Penisbatan dan Penafi’an yaitu pengukuhan dan peniadaan. Bukan untuk tujuan yang lain sebagai tangga untuk menapak tahap selanjutnya. MSH, Khalifah haqqani, juga menjelaskan bahwa tarekat merupakan disiplin jiwa untuk tahap ihsan. Jadi jawa yang tulen dalam kepemahaman islam kejawen adalah mengerti terhadap apa yang diperbuatnya. Tau lahir batin terhadap apa yang telah di syahadatkan. Ada kisah pada waktu dulu seorang kejawen datang ke seorang mursyid kamil mukammil tarekat naqsbandi kholidiyah di suatu daerah kajen, pati untuk menguji kedalaman ilmu sang mursyid. Maka sang mursyid berkata pada tamunya kalo sampeyan memang benar makrifat coba ceritakan pada saya proses biji tumbuhan sampai berbuah secara komplit meliputi apa kebutuhan bagaimana proses tumbuhnya. Dijawab sang penguji lah saya kan gak belajar ilmu tumbuh2an. kalo anak saya yang di sd yah belajar. namanya ipa atau apa saya juga gak dong. saya kan orang kuno. gak tau gituan. wong gak sekolah kok. Sang mursyid menjawab yah sama, saya juga gak sekolah. dari kecil mesantren. belajar kitab kuning dan menghafal qur’an. gak belajar ilmu gituan. lah sampeyan kan ngaku makrifat tentunya tau dong. makrifat kan tau tanpa belajar. tau tanpa ada yang memberitahu. taunya tanpa sarana atau ilmu. Balik sang penguji tanya. kalo menurut sampeyan gmn jawaban yang sampeyan tanyakan. Akhirnya sang mursyid menjawab ..bla..bla…bla..jawabannya komplit banget. hehehe…samapi kholofil dan khloroplas tau..melebihi taunya ahli botani. Akhirnya sang penguji mengakui kedalaman sang mursyid ini malah minta dibai’at. Hebatnya sang penguji yang kemudian menjadi murid ini datangnya cuman sekali dua kali tapi oleh sang mursyid dinyatakan lulus. Artinya apa? jika orang sudah bagus lakunya dan sempurna tekadnya untuk mencari kebenaran maka mudah untuk dibentuk dan belajarnya juga cepat. Alhasil maksud uraian ini adalah marilah beragama lebih baik lagi, berspiritual lebih baik lagi. Lahir batin sama. Lahir tumsusing batin. Mari…
Alhamdulillah … Astaghfirullah …. Shollallah ala Muhammad
More … Alfatiha

SEMAR DALAM KALIGRAFI

Bismillah
Alhamdulillah… Astaghfirullah … Shollallah ala muhammad
Kaligrafi itu tergantung di rumah kost teman .
Kaligrafi ayat kursi berbentuk semar yang di lukiskan di atas media kulit dengan lingkaran hitam yang melingkupi ayat kursi berbentuk semar dengan posisi jari telunjuk bersyahadah ‘mengganggu’ sekali di pikirku maka tergerak untuk memberi nadzornya.
* Pertama mengenai lingkaran berwarna hitam yang akan di nadzor.
Warna hitam disini simbol dari akhfa / the most hidden . Sesuai dengan arti lakon
wayangnya : semar : Semar diambil dari kata samar (tidak terang / gelap). Dalam
terminologi sufistik akhfa ini adalah realitas yang paling hakiki dimana sudah
tidak dikenal lagi ruang dan waktu. Disinilah segala rahasia berada. Disinilah hal
– hal yang ‘ginaib’ berada. Empat pepesten (takdir) yaitu mati hidup jodoh dan
rezeki berada disini . Sehingga disebut juga baitul muharrom (‘rumah larangan’).
Dalam bahasa jawa disebut ‘rasa sejati’. Sehingga ditempat inilah rahasia diri kita
yang sejati.Dikatakan segala bentuk niat kita hanya kita dan Allah yang tau maka
maknanya merujuk pada tempat ini. Juga di katakan bahwa ‘Berdo’alah kepadaku ,
Niscaya Aku kabulkan’ juga merujuk pada baitul Muharrom ini. Di rumah ini terjaga
panah – panah api yang akan menghanguskan segala lelembut/jin yang berusaha
mengintip. Jadi tempat2 ini betul2 ‘privat’. Tempat ini / rasa sejati ini memiliki
sifat ‘kayu’/ hidup dan qodim /kekal. Hidup karena ketitipan Hidupnya Gusti Allah
SWT dan qodim karena di qodimkan oleh Allah. Sifat hidup mutlak dan qodim mutlak
hanya milik Gusti Allah SWT.
* Kedua mengenai lukisan ayat kursi yang membentuk lukisan semar. Semar di lukiskan
berperawakan tambun dengan jari telunjuk bersyahadah. Ayat kursi sendiri bermakna
‘kekuasaan’ atau ‘tempat kedudukan’. Ayat kursi dalam dunia hikmah dapat digunakan
untuk membakar ‘syetan’. Jadi semar / samar dan ayat kursi menguatkan sifat
lingkaran hitam yang ‘ginaib’ dan ‘kekuasaan Allah ‘ yang abadi. Dalam dunia wayang
dikenal kredo ‘Semar ngejo wantah’ artinya semar mengeja wantah atau menjelma.
Senada dengan kredo ini adalah tik kullah (titik/titis Allah), Kun kunung – kunung
kumasalah (pancaran cahaya yang amat terang di alam ketuhanan), nur sari marang
(inti cahaya yang menjelma ke bumi).
Bukan berarti ada wujud dalam bentuk semar dari langit lalu turun ke bumi . bukan
itu maksudnya. Maksudnya bahwa manusia ketitipan
rasa sejati yang senantiasa berada dalam ‘Kekuasaan Allah’ secara mutlak. Dengan
hal ini pulalah manusia di jadikan khalifah di muka bumi. Dan jika mulut manusia
menjadi ‘mulut Allah’ , mendengar dengan ‘pendengaran Allah’ , melihat dengan
‘penglihatan Allah’ , kedua tangannya ‘Tangan Allah’ maka di rasa sejati yang
samar inilah tajalli-Nya/manifestasi-Nya. Semar dilukiskan tambun. Ini melambang
kan bahwa rasa sejati bersifat ‘sentosa’, ‘kenyang’ tak butuh makan. terjaga tidak
tidur. Telunjuk bermusyahadah adalah bahwa rasa sejati ini hendaknya dilahirkan/
dimusyahadahkan. Sehingga dikatakan yang batin telah disyahadahkan/di tampakkan.
Lahir batin hendaknya sama. Manusia harus jujur lahir batin untuk meraih keutamaan.
Apa yang tersirat sama dengan apa yang tersurat.
* ketiga. lukisan itu dilukis di media kulit bulu. Tidak di media yang lain
seperti kain atau yang lain. Ini mengandung maksud pada kulit dan bulu manusia.
Maksudnya pada jasad manusia inilah ketitipan oleh Allah rahasia yang agung /
rasa sejati ini. Dengan jasad berwujud manusia inilah manusia menjadi khalifah
di muka bumi. Jadi lahir batin manusia adalah sempurna. Inilah yang disebut
manusia diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna. Dikatakan manusia
yang melalaikan titipan Allah nanti tidak akan disiksa dalam wujud ‘manusia’.
Manusia yang lebih rendah dari binatang akan disiksa dalam wujud ‘kebinatangannya’.
Yang rakus seperi babi akan disiksa seperti babi. uang seperti anjing suka
menggonggong dan menggigit akan disiksa dalam wujud anjing. yang hidupnya hanya
menuruti syahwat seperti binatang ternak juga akan disiksa dalam wujud binatang
ternak. sebabnya karena manusia melalaikan titipan yang agung berupa rasa sejati
dan jasad yang begitu dimuliakan oleh Allah. Untuk mengoperasikan secara benar
titipan jasad ini manusia dikaruniai akal. Sedangkan diberi nafsu sebagai cobaan
‘hidup’ untuk dikendalikan kea arah jalan utama agar manusia tampak elok dan
sempurna. selesai nadzornya.
Alhamdulillah… Astaghfirullah … Shollallah ala muhammad
More … Alfatiha

Kamis, 2008 Januari 24

Mas Parman Mencari Tuhan

Mas Parman Mencari Tuhan
* M Dawam Rahardjo *

“Ada yang aku lupa laporkan padamu, Yon,” kata Mas Ihsan padaku, “ketika aku bertemu dengan Mas Parman.”

“Wah, apa yang lupa, Mas?” tukasku menanyakan soal yang kelihatannya sangat penting. “Aku sempat bertanya begini,” jelas Mas Ihsan padaku. “Apakah Mas sekarang sudah percaya dengan adanya Tuhan?”

Lalu, Mas Parman menjawab, “Loh, aku selama ini, sejak tidak percaya kepada Tuhan, tidak mencari-cari lagi. Sebab, apa saja yang telah aku temukan sebelumnya, pasti bukan Tuhan. Kalaupun ada, itu pun Tuhan ciptaan manusia. Tapi, mengapa tiba-tiba saja, kau menanyakan hal itu, San?” Mas Parman balik bertanya kepadaku.

“Kita kan sama-sama tahu, jika seseorang ingin bertemu dengan Tuhan, lakukanlah dengan amal saleh. Menurut hematku, sekalipun orang itu sudah atheis sejak awalnya, jika perbuatannya itu baik, ia akan menemukan Tuhan melalui pintu hidayah.”

“Oh, begitu.”

“Saya punya permintaan kepada Mas Parman, sebagai saudara tua yang paling kami cintai dan sayangi.”

“Apa permintaanmu itu?”

“Begini Mas, tetapi jangan tersinggung kalau memang selama ini Mas Parman tidak lagi bermaksud mencari Tuhan, bagaimana jika waktu masuk masa pensiun, Sampeyan sekarang ini terus mempertahankan budi pekerti luhur sebagai jembatan untuk memperoleh penjelasan mengenai Tuhan. Jadi, Mas Parman mencari Tuhan atas permintaan saya dan demi seluruh saudara-saudara kita.”

“Lalu, bagaimana hasilnya?” tanyaku tak sabar ingin mengetahui reaksi yang ditunjukkan Mas Parman.

“Alhamdulillah, Yon, Mas Parman mau. Tetapi, dia memerlukan bantuanku. Dia ingin mencari dan menemukan Tuhan melalui proses dialog denganku.”

“Memang Sampeyan berdua itu paling akur, akrab, dan cocok pula. Kalau aku tidak sanggup, sebagaimana Sampeyan juga tahu, aku orangnya tidak sabar. Sebaliknya, Sampeyan, Mas Ihsan, memang telaten. Kemudian, apa saja yang sudah Sampeyan berdua lakukan dan bisa diceritakan padaku, Mas?” aku terus mengejar lantaran makin penasaran.

“Ya, pertama-tama aku mengajaknya sowan ke Gus Dur. Sebelum sowan, aku pertemukan Mas Parman dengan KH Agus Miftah, seorang kiai pengembara yang belajar di pelbagai pesantren, persis seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim.”

“Apa yang Sampeyan dan Mas Parman dapatkan dari kiai itu?”

Ia bilang seperti ini:

“Wah, kalau sampeyan-sampeyan tanya tentang eksistensi Tuhan padaku, aku belum tahu jawabannya. Mari kita sowan ke Gus Dur dulu dan menanyakan pertanyaan ini kepadanya.”

Ketika kami bertemu dengan Gus Dur, Kiai Agus bertanya kepada sang kiai yang sering dijuluki sebagai wali itu, “Kami ingin tanya, Gus…”

“Apa pertanyaanmu itu? Pasti aku kesulitan menjawabnya, sebab kamu ini kiai NU yang mbeling.”

“Gus, sebetulnya Tuhan itu ada atau tidak ada, sih?”

“Oh, kalau pertanyaan itu, gampang saja menjawabnya.”

“Apa jawabannya, Gus?”

“Ya, kalau orang percaya pada Tuhan, Tuhan ada. Tetapi kalau orang itu tidak percaya Tuhan, ya Tuhan tidak ada,” jawab Gus Dur tidak mau repot.

Namun, seusai sowan dengan Gus Dur dan berpisah dengan Kiai Agus, Mas Parman berujar, “Saya kira, saya setuju dengan pendapat Gus Dur, kendati pendapat saya tetap berbeda dengan pandangan Gus Dur itu. Menurut saya, Tuhan itu tidak ada, karena itu tidak usah dicari-cari.”

Setelah itulah aku menegaskan kembali maksud utamaku kepada Mas Parman sambil mengungkapkan pikiranku, “Kalau aku sendiri,” demikian aku berkata pada Mas Parman, “sejalan dengan kedua pandangan Kiai Agus Miftah dan Gus Dur, karena itulah, lagi-lagi, kami saudara-saudara Sampeyan, memohon agar Mas Parman memenuhi permintaan kami.”

Selang beberapa hari kemudian, kami menerima undangan untuk menghadiri Majelis Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah. Pengajian itu dilaksanakan di Simprug, rumah Kiai Agus Miftah. Di rumah itu, pengajian dilaksanakan di tepi kolam renang dengan udara terbuka. Kebetulan, waktu itu muncul bulan sabit di sela-sela pohon kelapa. Suasananya memang indah, hanya saja dingin. Yang cukup menarik lagi, ternyata pengajian tersebut dihadiri orang-orang dan tokoh-tokoh lintas agama. Tentu saja, pembicaranya tidak hanya ulama-ulama, tetapi juga pendeta dan romo-romo. Pesertanya bisa beragam dan hampir dari semua kalangan. Karena itu, pengajiannya lebih berbentuk diskusi yang bersifat dialog kritis. Acara presentasi yang biasanya dilakukan paling sedikit oleh dua orang dan didahului dengan uraian dari Kiai Agus Miftah. Tak dapat disangkal, kiai itu luas sekali pengetahuannya, tidak saja mengenai Islam tetapi agama-agama lain juga. Dalam ceramah yang kami hadiri itu, Kiai Agus mencoba menjawab pertanyaan kami, yaitu apakah Tuhan itu ada? Sesuai dengan jawaban Gus Dur, Kiai Agus Miftah juga berpendapat bahwa hal itu sesuai dengan orang yang bertanya. Apabila orang itu percaya, ya Tuhan ada, jika tidak, ya Tuhan tidak ada. Kemudian Kiai Agus menguraikan selintas sejarah Tuhan, seperti halnya dilakukan oleh Karen Amstrong.

Ia mengawali keterangannya seperti ini: “Sebagian manusia memang percaya dengan adanya Tuhan. Masalahnya, mereka tidak mampu memberikan argumen yang memadai tentang adanya Tuhan. Ilmu pengetahuan yang ilmiah telah gagal. Dengan kata lain, Tuhan memang tidak dapat dicari dengan ilmu pengetahuan, tetapi dengan pengalaman kebatinan. Menyelami pengalaman mencari Tuhan merupakan laku seorang sufi. Sebagian dari mereka merasa telah menemukan Tuhan. Misalnya, Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn ‘Arabi, dan sebagainya. Namun, permasalahan asal dari semua itu akan selalu berbenturan dengan adagium dasar. Yakni, Tuhan yang ditemukan oleh siapa pun adalah bukan Tuhan. Tuhan hanya bisa ditemukan di akhirat kelak. Itu pun kita tidak bisa tahu dan memastikannya. Dari pengalaman mencari Tuhan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan yang kita percaya selama ini adalah Tuhan buatan manusia.”

Di tengah-tengah paparan Kiai Agus, Mas Parman berbisik kepadaku, “Makanya aku tidak memercayai Tuhan yang digambarkan oleh manusia, kalaupun harus percaya, aku hanya percaya kepada Tuhan yang diinformasikan oleh Tuhan sendiri. Tetapi, kalau boleh tanya, dari mana informasi ihwal Tuhan dapat diperoleh, apakah dari Alquran?”

“Ya memang tidak,” jawabku. Aku pun lantas menambahkan, “Kita bisa mendapatkan informasi tentang Tuhan dari semua Kitab Suci, bahkan juga penjelasan dari para filsuf dan sufi. Akan tetapi, informasi yang tetap autentik pasti dari Kitab Suci, bukan filsafat. Karena, lagi-lagi semua yang dideskripsikan oleh filsuf atau seorang sufi sekalipun, itu adalah Tuhan ciptaan manusia atau yang dipersepsikan oleh manusia. Akibatnya, deskripsi tentang Tuhan berbeda-beda. Antara lain, Tuhan menurut orang Islam: Allah, orang Kristen: Tri-Tunggal, Sang Bapak, Sang Anak, dan Roh Kudus, yang merupakan three in one. Di sisi lain, Tuhan menurut orang Yahudi sering disebut Yahweh. Jadi, Mas Parman, masalahnya tetap soal kepercayaan.”

“Demikianlah diskusi antara aku dan Mas Parman di sela-sela pengajian Kiai Agus Miftah. Kemudian kami terus mendengarkan dengan khidmat ceramahnya,” ungkap Mas Ihsan.

“Yon,” Mas Ihsan mencoba memberikan pengertian padaku, “Itulah sebabnya kita mesti dapat memahami sikap Mas Parman yang selama ini menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada, namun akhir-akhir ini dia mulai berusaha mencari-Nya. Tak pelak, yang dilakukan Mas Parman itu tidak berbeda sama sekali dengan laku para sufi, yaitu mencari Tuhan dengan pengalaman batin. Pada prinsipnya, Tuhan memang bisa dicari dengan pelbagai cara. Kita sendiri meyakini seseorang yang mampu menemukan Tuhan, semata-mata berkat hidayah-Nya. Untuk bisa memperoleh hidayah, kita harus beribadah. Menurut Kiai Agus konsep ketuhanan Islam itu berasal dari konsep Yahweh. Keduanya, Islam dan Yahudi, menyebut Tuhan itu sebagai Baal. Sedangkan simbol ketuhanan dalam Islam sendiri adalah Kakbah, yang di dalamnya terdapat Hajar Aswad. Konsep itu sejatinya mengikuti simbol ketuhanan Yahudi, yang disebut rock of the doom. Bagi kami, orang Islam, Tuhan Yahudi, dan Tuhan orang Islam pada hakikatnya sama. Tetapi, sebagian ulama memberikan tafsiran bahwa Tuhan Yahudi itu merupakan Tuhan yang keras, sedangkan Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang Pengasih, dan Islam sendiri menyebut Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena itu, Tuhan dalam Islam menyempurnakan konsep-konsep Tuhan sebelumnya, terutama Tuhan orang Kristen dan Yahudi.”

Kemudian, aku mengajukan pertanyaan lebih lanjut pada Mas Ihsan, yang setelah lulus dari Pabelan memang berhasil menjadi seorang teolog Muslim. Aku sendiri malah menjadi seorang petani-pengusaha, karena aku memasuki Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, setelah lulus dari Pesantren Al-Islam, “Bagaimana hasil yang dicapai para sufi itu?” Mas Ihsan menjawab, “Beberapa orang sufi merasa telah menemukan Tuhan. Al-Hallaj merasa menemukan Tuhan setelah mengalami hulul, atau persatuan dengan Tuhan, sehingga dia mengeluarkan pernyataan ana al-haq (aku adalah Tuhan). Banyak kesalahpahaman terhadap perkataan Al-Hallaj itu, yang menyebabkan Al-Hallaj akhirnya dihukum mati. Padahal, yang dimaksud oleh Al-Hallaj sebenarnya menurut pendapatku, ia telah menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri, yang selama ini memang sangat dekat, karena teramat rajin dan khusyuknya Al-Hallaj dalam beribadah. Tuhan sedekat urat lehernya. Hemat saya, pada waktu itu Al-Hallaj memperoleh hidayah dan diberikan pengertian yang terang tentang Tuhan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jalaluddin Rumi. Ia akhirnya mampu bercerita bahwa selama ini ia merasa berada di kamar gelap. Lalu ia dengan sekuat tenaga mencari tahu. Namun, ternyata hampa dan tidak menemukan apa-apa dalam kamar gelap itu. Artinya, usaha mencari Tuhan itu tidak perlu. Karena Ia sudah ada dalam diri seseorang yang dapat dirasakan lewat pengalaman batin, melalui kesadaran rohani.”(…pengalaman sufistik Ibn Arabi mencari Tuhan…)

“Oh, begitu,” gumamku.

“Pengalaman rohani yang dilalui Mas Parman,” begitulah Mas Ihsan mencoba mengaitkan pencarian Tuhan Mas Parman dengan laku para sufi, mulai tumbuh persis seusai mengikuti ceramah dan diskusi bersama majelis pengajian Kiai Agus Miftah. Mas Parman langsung berkomentar di dalam mobil:

“Wah, ini memang pengajian yang hebat. Selama ini saya tidak pernah mengalami pengajian yang menarik seperti ini. Saya kagum dengan Kiai Agus Miftah yang menyampaikan pandangannya melalui proses diskusi dengan pendengar yang kritis dan beranekaragam pendapatnya. Dengan begitu, respons dari para peserta pengajian sangat penting artinya. Maka itu, kalau saya, lain kali diundang lagi, saya mau menghadirinya.”

Alhamdulillah dengan respons Mas Parman itu, aku pun jadi turut belajar banyak.

“Dik,” sahut Mas Parman lagi, “terus terang saya bangga karena memiliki adik seperti kamu. Tanpa kamu saya tidak akan pernah bisa belajar seperti ini.”

“Kalau begitu, berilah aku kesempatan untuk terus mendampingi Sampeyan, Mas. Aku juga masih perlu banyak belajar dari Mas Parman yang bijaksana ini.”

sumber : http://jhonskb.multiply.com/reviews
More … Alfatiha

Kepala Ikan untuk Sang Nelayan

Seorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.

Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya.

Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.

Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka.

Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana.

Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.

Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.

Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.

Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, “Katakanlah pada gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia.”

Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu,” tanya nelayan itu, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”

Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri.

Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah kehairanan, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.

“Dia benar,” jawab sang nelayan, “ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh.

sumber : http://syafii.wordpress.com/2007/04/02/kepala-ikan-untuk-sang-nelayan/
More … Alfatiha

TELAGA HIKMAH (1)

Bismillah
Alhamdulillah Astaghfirullah Shollallah Ala Muhammad
* Kisah di nkil dari sebuah buku *** dengan redaksi secukupnya :D :D :D
Pernah terjadi dialog seorang bijaksana dengan salah seorang cantriknya
di pelataran padepokan :
Murid :
Wahai yang tercerahkan, kenapa do’a ulun gak pernah kabul?
Kalo malam menggelayut, ketika orang sudah terpulas tidurnya
Hamba bersimpuh di hadapan-Nya
Minta dengan sangat kabulnya do’a ulun
Kalo siang kuayunkan kaki
Menggapai harapan
Sampai keringat ini mengkristal
Menunggu datangnya kabulnya do’a
Tapi tak pernah datang
Dimana keadilan itu Guru?

Guru :
Wahai Muridku
Jika kujawab mengapa do’amu gak terkabul
Engkau akan menganggap menipumu
Jangan menuntut padaku
Aku adalah Guru
Tak berharap imbalan apapun
Dari yang kuajarkan
Imbalan darimu bagiku
Kau Pahami dan kau amalkan yang kuajarkan padamu
Aku hanya akan berkisah
Dengarkanlah dan resapi
Begini Kisahnya :

************
Ada kisah tentang Nabi Isa Alaihis Salam dengan seorang muridnya
Telah diketahui bahwa N. Isa AS ini berjuluk ‘Ruhullah’
Penguasa Maqom ‘Ruh’
Penguasa Warna Merah (Dalam terminologi tarekat)
Mempunyai Mu’jizat dapat menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati
Beliau mempunyai ‘kalimat yang agung’
Ismu Al A’dhom
yang jika di panjatkan pada Tuhan pemguasa Alam Semesta
Maka akan hiduplah yang mati
Maka ada murid yang penasaran dengan kalimat ini
Meminta untuk diajarkan kalimat ini
Tiada hari tanpa dia minta dijarkan kalimat itu
Mengiba
Bersimpuh
Tiada ingin makan dan minum
Yang dia tau dia harus dapat pengajaran kalimat itu
Maka Nabi Isa AS mengajarkan dengan syarat pergunakanlah secara bijaksana
Jika tidak kau akan menyesal selamanya
ibarat gelas retak kau isi air panas
Maka mendapat pengajaran murid itu
tentang ‘kalimat yang agung’
yang mampu menghidupkan yang mati
dengan bersuka ria sang murid menerima pengajaran itu
Bagai tumbuh sayap di kedua bahunya
Tak lama setelah itu dia ada keperluan
Maka pergilah sang murid itu
Kebetulan ia lewat sebuah ‘gurun’
Maka mendapatilah ia seonggok tulang belulang
Ingatlah ia akan pengajaran kalimat yang baru saja ia terima
Inginlah dia mencobanya
Maka ‘bersabdalah’ ia dengan kalimat itu
Sekejab dari tulang belulang itu
bentuk membentuk
menjadi seekor singa
Singa yang ‘tidur’ itu serasa bangun dari mimpinya
Dalam keadaan lapar yang sangat karena mungkin tidur panjangnya
Maka membau dia akan ‘darah segar’
sekejab diliatnya sang murid itu di depannya
yang masih bengong akan ketakjuban yang baru dilihatnya
Secepat berganti kengerian secepat itu pula singa melompat
menerkam
habislah sang murid itu
menjadi makanan singa yang baru bangun itu

**********

Guru :
Resapilah kisah ini
Jangan terburu – buru berprasangka yang tidak – tidak
Pada Tuhan Yang Maha Adil
Hakmu untuk berdoa
Lebih dahulu dari pada Hakmu untuk mendapatkan
Bahkan sebelum berdoa
Dia sudah tahu kebutuhanmu
Karena Dia Maha Tahu
Maha Mencukupi
Doamu yang panjang
Rintihanmu setiap malam
adalah kebanggaan-Nya
yang di tunjukan pada para Malaikatnya
Ini Hambaku
Hambaku ini bertamu kepadaKu
Maka Aku akan melayani hambaku sebaik-baiknya
Maka kesabaranmu dalam rintihan panjangmu
Yang diirikan para Malaikat
Membakar syetan – syetan di dirimu
Membuat Azazil lari terbirit – birit
Wahai Muridku, Camkanlah ini

Murid :
Wahai Guru , Terimakasih
Atas pengajaran ini
Akan kujadikan jimat
yang kukalungkan didada
Biarlah aku merintih
Sepanjang yang Dia Mau
Bahkan baru kuketahui sekarang
Rintihanku adalah Anugerah-Nya
Aku berasyik masyuk dengan Rajaku
Maka Wahai Guru
Tak ingin yang lain lagi
Maka do’aku sekarang
Ya Allah Penguasa Alam Semesta
Yang Tunggal
Biarkanlah hambamu ini merintih sepanjang malam
Dan jadikanlah aku Tamu-Mu

Guru :
Kau telah tercerahkan Muridku
Bersyukurlah engkau pada Anugerah yang agung ini
Anakku Perjalananmu masih panjang
Tugasku mengantarkanmu pada Guru Sejatimu sendiri
Guru Sejatimulah yang akan mengantarmu ke tujuan
Tujuan yang di damba setiap pencari

Maka berurai air mata sang murid. Begitu juga Gurunya sangat haru biru terhadap kemajuan spiritual yang diraih muridnya

Alhamdulillah Astaghfirullah Shollallah Ala Muhammad

Wassalam
More … Alfatiha

Senin, 2008 Januari 21

Do’a Agar Cepat Mendapatkan Jodoh

Yaa Allah, semoga Engkau cepat mengirimkan jodoh yang sholihah ( jodoh yang sholih) pada kami. Dan semoga Engkau jadikan jodoh yang hatinya penuh kasih sayang kepada kami. Dengan haq sabda-Mu “ Yaa Tuhan kami, berikanlah pada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan kami, dan jadikanlah pada kami sebagai pemimpin pada orang-orang yang bertaqwa” Dan dengan haq Utusan-Mu. Dan dengan haq beribu-ribu kalimat “Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” Dan semoga sholawat salam senantiasa tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, dan sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

sumber : http://almihrab.com/berita.php?
opo=detail&kd_berita=115&head=Doa-doa&menux=20

“Ya Allah, sungguh aku ingin menikah, maka tentukanlah bagiku dari kalangan perempuan yang paling menjaga kesuciannya, yang paling menjaga dirinya bagiku dan harta bendaku, yang paling luas rezekinya, yang paling besar berkahnya, takdirkan anak yang baik darinya bagiku dan jadikan dia keturunan yang saleh pada masa hidupku dan setelah matiku”

sumber : http://parsimurgh.wordpress.com/

:D :D :D

Ya Tuhan, kalau dia memang
jodohku,
dekatkanlah…
Tapi kalau bukan jodohku, Jodohkanlah….

Jika dia tidak berjodoh denganku, maka
jadikanlah kami jodoh…

Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia
dapet jodoh yang lain, selain aku…

” Ya Tuhan, kalau dia tidak bisa di jodohkan
denganku, jangan sampai
dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak
berjodoh sama seperti diriku…
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh,
jodohkanlah kami kembali…

” Ya Tuhan, kalau dia jodoh orang lain,
putuskanlah! Jodohkanlah denganku….

Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar
orang lain itu ketemu jodoh dengan yang lain
dan
kemudian Jodohkan kembali dia dengan ku …

Aamin….

sumber : http://tausyiah275.blogsome.com/2006/08/10/
doa-minta-jodoh-tapi-ngawur/

Seandainya telah engkau catatkan
Dia milikku tercipta buatku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagian antara kami
Agar kemesraan itu abadi

Dan Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ketepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi Ya Allah
Seandainya telah engkau takdirkan
Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan

Serta Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengerti
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa bahagia
Walaupun tanpa bersama dengannya

Dan Ya Allah Yang Tercinta
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya

Ya Allah Ya Tuhanku
Pasrahkanlah aku dengan takdirmu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Kerana Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini mahupun di akhirat
Menjuruskan aku kearah kemaksiatan dan kemungkaran

Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yg beriman
Supaya aku dan dia sama-sama dapat membina
kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau redhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amien

Sumber : http://www.duniasastra.com
http://dhyadiana.wordpress.com/2007/02/28/doa-jodoh/
More … Alfatiha

BEDA TASAWUF DAN ILMU HIKMAH

1 PENGERTIAN ILMU HIKMAH

Ilmu hikmah adalah sebuah ilmu kebatinan dengan metode zikir dan doa, adakalanya juga dengan mantra berbahasa Arab atau campuran tetapi tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam, ditujukan untuk urusan duniawi seperti kekebalan, pangkat, karir, perjodohan, pengasihan dan lain-lain
2 PENGERTIAN TASAWUF

Yaitu bersungguh-sungguh (dalam berbuat baik) dan meninggalkan sifat-sifat tercela (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 7).

Aslinya Tasawuf (yiatu jalan tasawuf) adalah tekun beribadah, berhubungan langsung kepada ALLAH, menjauhi diri dari kemewahan dan hiasan duniawi, Zuhud (tidak suka) pada kelezatan, harta dan pangkat yang diburu banyak orang, dan menyendiri dari makhluk di dalam kholwat untuk beribadah (Lihat kitab Zhuhrul Islam IV-Halaman 151)

Adapun batasan tasawuf adalah : Maka berkata Junaed : yaitu bahwa kebenaran mematikanu dari dirimu dan kebenaran tersebut menghidupkanmu dengan kebenaran tersebut. Dan ia berkata juga : Adalah kamu bersama ALLAH tanpa ketergantungan. Dan dikatakan : Masuk pada segala ciptaan yang mulya dan keluar dari segala ciptaan yang hina. Dan dikatakan : Yaitu akhlak mulia yang tampak pada zaman yang mulia beserta kaum yang mulia. Dan dikatakan : Bahwa kamu tidak memiliki sesuatu dan sesuatu itu tidak memiliki kamu. Dan dikatakan : Tasawuf itu dibangun atas 3 macam : (1) Berpegang dengan kefakiran dan menjadi fakir (2) kenyataan berkorban dan mementingkan orang lain (3) Meninggalkan mengatur dan memilih (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 4).
3 TATA CARA MENGUASAI ILMU HIKMAH
Dengan puasa, zikir/wirid, amalan, doa, membaca ayat-ayat Qur’an, dengan mantra, sya’ir-syair yang dibuat para Ulama Hikmah atau yang didapat dari ilham para Ulama Hikmah atau dari ilham Ahli Tasawuf dan lain-lain
4 TATA CARA MENGUASAI TASAWUF

Maka wajiblah beramal dengan Islam, Maka tidak ada tasawuf kecuali dengan fiqih, karena kau tidak mengetahui hukum-hukum ALLAH Ta’ala yang lahir kecuali dengan fiqih. Dan tidak ada fiqih kecuali dengan tasawuf, karena tidak ada amal dengan kebenaran pengarahan (kecuali dengan tasawuf). Dan juga tidak ada tasawuf dan fiqih kecuali dengan Iman, karena tidaklah sah salah satu dari keduanya (fiqih dan tasawuf) tanpa iman. Maka wajiblah mengumpulkan ketiganya (iman, fiqih, tasawuf) . (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 5).

Imam Malik berkata : Barangsiapa bertasawwuf tapi tidak berfiqih maka dia telah kafir zindiq (pura-pura beriman), dan barangsiapa yang berfiqih tapi tidak bertasawuf maka dia telah fasik (berdosa) dan barangsiapa yang mengumpulkan keduanya (fiqh dan tasawwuf) maka dia telah benar. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 6).

Jadi Tasawwuf itu harus melalui Iman (akidah), Islam (syari’ah) dan Ihsan (Hakikat). Atau amal Syari’ah, Thoriqoh dan Hakikah. Maka Syari’ah adalah menyembah ALLAH, Thoriqoh adalah menuju ALLAH, dan Hakikah adalah menyaksikan ALLAH. Atau Syari’ah itu untuk memperbaiki lahiriah, Thoriqoh untuk memperbaiki bathiniah (hati), dan Hakikah untuk memperbaiki Sir (Rahasia diri). Memperbaki anggota tubuh dengan 3 perkata : Taubat, Taqwa dan Istiqomah. Dan memperbaiki hati dengan 3 perkara : Ikhlas, jujur dan tenang. Dan memperbaiki Sir (Rahasia Diri) dengan 3 perkara : Muroqobah (saling mengawasi antara diri dan ALLAH), Musyahadah (saling menyaksikan antara diri dan ALLAH), dan Ma’rifah (Mengenal ALLAH secara mutlak dan jelas).(Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 11).

Harus melalui Ikhlas tingkat tertinggi (Khowwasul Khowwash). Dan ikhlas itu ada 3 derajat : (1) Derajat Awam (umumnya manusia) (2) Khowwash (3) Khowwasul Khowwash. Maka (1) ikhlasnya orang awam yaitu mengeluarkan makhluk dari beribadah kepada ALLAH beserta mencari bagian-bagian dunia dan akhirat. seperti menjaga badan, harta, keluasan rizki, perdagangan dan yang indah dipandang (2) Ikhlasnya Khowwash adalah mencari bagian akhirat tanpa mencari bagian dunia. (3) Dan ikhlasnya Khowwashul Khowwash adalah mengeluarkan bagian-bagian semuanya (dunia dan akhirat). Maka ibadah mereka adalah sebenar-benar penyembahan, dan melaksanakan tugas-tugas dari ALLAH, atau cinta dan rindu melihat-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Faridh: “Bukanlah permintaanku berupa surga jannatun na’im, hanya saja aku mencintai surga untuk melihat-Mu” (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 31-32).
5 TUJUAN HIKMAH
Tujuannya masalah duniawi seperti kekebalan, kesaktian, pengasihan, jodoh, ramalan, pengobatan, kerejekian dan lain-lain
6 TUJUAN TASAWWUF
Tujuannya adalah Ma’rifatullah (mengenal ALLAH secara mutlak dan lebih jelas)
7 KEKUATAN LUAR BIASA

Kekuatan luar biasa ilmu hikmah termasuk kekuatan luar biasa Hissiah (panca idnera/lahiriah) seperti berjalan di atas air, terbang di udara, melipat bumi, menimbulkan air, menarik makanan, tampaknya kegaiban dan lain-lain. Dan kekuatan luar biasa ahli tasawwuf adalah Hakikah / Ma’nawiyyah (sebenar-benarnya karomah) yaitu istiqomahnya (kontinyu) seorang hamba kepada Tuhannya dalam lahir dan bathin. Terbukanya hijab dari hatinya sehingga mengenal jelas Tuhannya. menguasai dirinya dan berbeda dengan hawa nafsunya, kuat yakinnya dan diamnya, tenang dengan ALLAH. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 317).

Imam Ibnu ‘A-tho-illah berkata : Seringkali ALLAH memberi rizki karomah (kekeramatan) pada orang yang tidak sempurna isqomahnya. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 317).

Yang diambil pelajaran oleh Ahli Tahqiq (Ahli Tasawwuf sejati) adalah jangan mencari karomah Hissiah ini dan jangan berpaling kepadanya. Karena kadang tampak karomah Hissiah ini pada tangan orang yang tidak sempurna istiqomahnya. Bahkan kadang tampak pada tangan orang yang tidak ada istiqomah sama sekali, seperti para tukang sihir dan dukun. Dan kadang tampak pada tangan-tangan Rahib (pendeta).Dan ini bukanlah karomah tapi Istidroj. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 317).

Imam Abu Yazid Al Bustomi berkata : “Jika kamu melihat seseorang yang diberikan karomah (kekeramatan) sehingga dia dapat terbang di udara maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu melihat bagaimana kamu mendapatkan dia melaksanakan perintah dan menjuahi larangan, menjaga batasan-batasan, dan melaksanakan syari’at” (Lihat kitab Risalah Qusyayriyyah halaman 14 atau buku 40 Masalah Agama III halaman 38)

Sumber :

Kitab Iyqo-zhul Himam fii Syarhil Hikam cetakan dan terbitan Al Haromain, Jeddah karangan Al ‘Arif Billah Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah Al Husni.

http://sholih.multiply.com/journal/item/2/beda_ilmu_hikmah_dengan_tasawwuf
More … Alfatiha

KEPANTASAN YANG HAKIKI ADALAH ENGKAU LIPATKAN JARAK DUNIA DARI KAMU SEHINGGA ENGKAU MELIHAT AKHIRAT LEBIH DEKAT KEPADA KAMU DARI DIRI KAMU SENDIRI.

Kepantasan perjalanan yang dimaksudkan oleh Hikmat 97 ini bukanlah kepantasan perjalanan tubuh badan. Memang ada orang yang boleh bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain di atas muka bumi ini dalam sekelip mata sahaja. Perjalanan yang demikian dipanggil ‘terlipatnya bumi.’ Kebanyakan orang cenderung untuk memiliki ilmu melipat bumi ini kerana menyangka kebolehan yang demikian menjadi tanda kewalian seseorang. Perlu diingatkan bahawa kebolehan yang demikian dimiliki juga oleh iblis sedangkan iblis adalah musuh Tuhan, bukan wali-Nya. Jika berpegang kepada Sunah Rasulullah s.a.w keramat zahir tidak dipentingkan. Rasulullah s.a.w sendiri sewaktu berhijrah dari Makkah ke Madinah menggunakan kelajuan manusia biasa, tidak kepantasan lipat bumi, padahal Rasulullah s.a.w adalah manusia yang paling keramat, ketua sekalian wali. Rasulullah s.a.w menggunakan jalan cermat, perlahan dan sukar, sesuai dengan sifat semula jadi manusia. Perbuatan Rasulullah s.a.w menunjukkan bahawa kesabaran menghadapi perjalanan yang sukar itulah yang sebenarnya kekeramatan, bukan perjalanan sepantas kilat.

Kepantasan hakiki yang mampu melipat jarak dunia bukanlah kepantasan tubuh badan bergerak dalam dunia. Ia adalah perjalanan kerohanian ketika bertemu sesuatu dan menghadapi sebarang kejadian. Ke manakah kerohaniannya pergi ketika itu? Orang yang memperturutkan pandangan nafsunya, tempat jatuhnya adalah zahirnya alam dan sebab musabab. Tetapi, orang yang melihat dengan pandangan hatinya akan melihat kepada batinnya alam. Dia melihat ketuhanan dalam segala sesuatu. Sebaik sahaja dia berhadapan dengan sesuatu perkara serta-merta pandangan hatinya tertuju kepada Allah s.w.t yang menerbitkan segala perkara, hinggakan tidak sempat memerhatikan benda-benda alam dan hukum sebab musabab.

Pandangan hati yang segera memerhatikan Allah s.w.t dalam segala perkara itu dinamakan kepantasan hakiki. Tipu daya dunia tidak sempat menyambar perhatian hatinya. Ego dirinya juga tidak sempat bertunas. Perhatiannya tertuju kepada keabadian, tidak kepada dunia dan dirinya yang bersifat sementara. Kurniaan Allah s.w.t yang menyelamatkan hamba-Nya dari tarikan dunia dan ego dirinya adalah kekeramatan yang sebenar. Rohaninya mempunyai kepantasan hakiki untuk melepasi ruang dunia dalam sekelip mata lalu menyaksikan keabadian, hingga terasalah olehnya akhirat yang kekal abadi itu lebih hampir dengan dirinya sendiri. Beginilah keadaan orang arifbillah.

sumber : http://alhikam0.tripod.com/hikam097.html
More … Alfatiha

Ngelmu Hakekatul Makripat (NgHM)

ada dongeng
lisan tentang SSJ ini dan murid-muridnya tentang
Ngelmu Hakekatul Makripat (NgHM), sebagai berikut:

Murid-murid (MM): “Kanjeng Syech, apa bisa kami-kami
yang murid Kanjeng Syech ini
menyamai Panjenengan?”
SJ: “Jangankan menyamai, para Sedulur, bahkan
bisa melebihi….”
MM: “Lho, apa iya, masak murid bisa melebihi
gurunya?”
SJ: “Iya, apa yag tidak mungkin di dunia ini?
Tetapi kan ada syaratnya. Dan syarat itu
belum juga berhasil saya peroleh sendiri,
saya masih juga mengupayakannya”
MM: “Apa itu Kanjeng Syech?”
SJ: “Itu adalah yang disebut Ngelmu Hakekatul
Makripat”
MM: “Lha artinya dalam bahasa kami apa, Kanjeng
Syech?”
SJ: “Artinya yang sama persis dengan maksud aslinya
memang tidak ada. Tetapi dapat diterangkan.
NgHM itu artinya bila seseorang mampu
mencapainya maka akan mampu melihat segala
sesuatu apa adanya. Tidak ada yang mampu
menutup-nutupi” (betapa repotnya Kanjeng
Syech menerangkan istilah itu kepada murid-
muridnya yang tidak faham bahasa Arab)
MM: “Contohnya?”
SJ: “Contohnya, kan sudah didhawuhkan oleh Gusti
Allah, kalau manusia itu sebenernya sama,
tetapi akibat perbuatannya bisa buruk lebih
buruk dari hewan. Jadi bagi seseorang yang
telah mencapai NgHM, dapat melihat, seandainya
manusia itu hakekatnya berwatak Wedhus, maka
akan terlihat berwajah wedhus…”

Murid-murid saling pandang dan mlengos sendiri-
sendiri sambil tersenyum… malu.
SJ bertanya: “Kenapa saling pandang? Apa sedulur
semua sudah mampu melihat wajah asli
masing-2?
MM: “Beluum Kanjeng… masih berwujud manusia
semuaaa!”
SJ: “Nah, berarti masih seperti saya, kita belum
mencapai ngelmu itu. Maka mari belajar bareng-
bareng lagi…..”

=====
mBah SoeL

sumber : http://forums.apakabar.ws/viewtopic.php?p=34705&sid=6a276b7cceb1850c37f7b4c05acfbd50
More … Alfatiha

serat centini dan ajaran islam!!

Dikisahkan negeri Blambangan (sejaman dengan Majapahit) ketika itu diserang wabah besar. Banyak orang yang sakit, pagi sakit sore meninggal, dan sore sakit pagi meninggal. Wabah penyakit tersebut juga menyerbu masuk kedalam istana. Putri raja Blambangan (Dewi Kayiyan) juga terserang wabah dan sakitnya sangat parah. Sang Raja telah mendatangkan sejumlah dukun dan tabib, serta berbagai obat dan jamu telah diberikan, namun sang putrid bemu juga sembuh.

Sang Raja kemudian memerintahkan patih Bajulsengara untuk mencari obat kemanapun, keseluruh negeri bahkan ke luar negeri. Setelah sang patih mencari obat dari desa kedesa, naik turun gunung, keluar masuk hutan, akhirnya sampai di sebuah pertapaan yang dihuni oleh seprang petapa yang bernama Kyai Kandabaya.

Sang Patih lalu menghadap sang Petapa dan menyampaikan maksudnya mencari obat bagi kesembuhan putrid Raja Blambangan yang sampai saat ini belum ada yang mampu untuk menyembuhkannya. Rupanya sang Petapa sudah mengerti maksud kedatangan patih Bajulsengara tersebut, dan mengatakan sebaiknya sang patih segera pulang saja, karena sesungguhnya yang dapat menyembuhkan ada dilingkungan keraton Belambangan, yaitu Seh Maulana Iskak (Seh Wali Lanang) yang sedang bertapa didalam gua dibawah gapura keraton.

Setelah mendengar laporan sang Patih, maka Raja langsung memerintahkan membongkar dan menggali gapura keraton, dan ternyata di dalamnya ada seorang petapa Arab yang masih muda.

Patih lalu menceritakan kepada petapa muda tersebut mengenai sakitnya putri Blambangan dan permintaan raja agar dapat menyembuhkannya. Ternyata Seh Maulana Iskak dapat menyembuhkan sang putrid, dan kemudian ia dikawinkan dengan sang putrid oleh raja Blambangan. Setelah mendapat anak Seh Maulana Iskak minta ijin isterinya untuk menggenbara menuntut ilmu. Tidak lama kemudian isterinya meninggal, namun anaknya tidak dirawat oleh kakeknya, raja Blambangan, bahkan dibuangnya kelaut karena dipandang “berhawa panas”. Anak yang malang itu ditemukan oleh seorang saudagar yang sedang berlayar ke Gresik.
Di Gresik anak tersebut dirawat oleh Nyai Tandes dan kemudian di sekolahkan ke pesantren Ampel. Setelah besar anak tersebut bernama Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan Giri yang terkenal itu. Sunan Giri ini membangun padepokan atau kerajaan Sunan Giri yang meliputi hampir seluruh wilayah Kabupaten Gresik.
Majapahit yang mendengar adanya padepokan Sunan Giri di wilayah kekuasaannya merasa terancam, dan kemudian mempersiapkan penumpasan. Untuk itu Majapahit mengirim penyelidik (“telik sandi”) Ki Lembusura dan Ke Keboarya, namun usahanya gagal karena kedua “telik sandi” tersebut tertangkap, dan oleh Sunan Giri di kirim kembali ke Majapahit. Kejadian ini menyebabkan penumpasan terhadap padepokan Sunan Giri tertunda. Pada waktu Sunan Giri (yang juga disebut Sunan Giri Sepuh) wafat, beliau digantikan oleh Sunan Giri Dalem, setelah memerintah beberapa lama Sunan Giri Dalem meninggal karena sakit, dan digantikan oleh Sunan Giri Perapen.
Setelah tertunda puluhan tahun, pada masa Sunan Giri Perapen yang lemah itulah Majapahit kembali meneyerang. Sunan Giri Perapen kalah, dan dengan segenap pengikutnya mundur bergabung dengan Kerajaan Demak (R.Patah).

Pasukan Majapahit yang merajalela di Giri telah memerintahkan membongkar makam Sunan Girigajah, Pada waktu makam dibongkar dan peti jenasah dibuka, maka keluarlah ribuan lebah menyerang pasukan Majapahit sehingga terpaksa mengundurkan diri. Setelah daerah Giri aman kembali, maka Sunan Giri Perapen kembali ke padepokannya.
Menurut serat Centini, serbuan lebah yang memporak porandakan pasukan Majapahit tersebut adalah karena kutukan dari dua orang lumpuh yang menjaga makam Sunan Girisepuh.

Dalam serat Centini dijelaskan pula bahwa sebagai reaksi atas serangan Majapahit tersebut, maka para Wali (9 wali) berkumpul di Demak dan memutuskan untuk menyerang Majapahit yang memeluk agama Hindu-Jawa. Setelah Majapahit runtuh Sunan Prapen menobatkan Raden Patah sebagai raja di Demak
Setelah beberapa waktu kerajaan Demak surut dan pengaruhnya digantikan oleh kerajaan Pajang, dan kemudian oleh kerajaan Mataram. Dalam suatu peperangan pasukan Mataram telah mengalahkan pasukan Sunan Giri Perapen.

Dalam peperangan tersebut tiga anak Sunan Giri hilang yaitu: Jayengresmi, Jayengrasa dan Rancangkapti. Larinya tiga anak Sunan Giri inilah yang menjadi pokok cerita Serat Centini. Dari sinilah timbul ajaran-ajaran Kebatinan Jawa yang bernafaskan Islam.
Jayengresmi lari ke barat, sedangkan Jayengrasa dan Rangcangkapti ke timur. Pada cerita itu Jayengresmi berguru pada Kiyai Ageng Karang dan berganti nama menjadi Seh Amongraga i tokoh utama dalam Serat Centini. Seh Amongraga ini mengembara mencari adik-adiknya. Dalam perjalanan mengembara dia berguru pada pada Kyai Bayi Panurta di Wanamarta dekat Majaagung yang kemudian menjadi mertuanya.
Ilmu kebatinan yang terkandung dalam serat Centini terpusat pada pembicaraan antara seh Amongraga dengan mentuanya, isterinya, dan para iparnya di Wanamarta. Inti dari ajaran kebatinan dalam serat Centini adalah:

Ajaran eksoteris (ajaran untuk orang diluar dirinya), dan
Ajaran esoteris (ajaran untuk orang dalam dirinya). Jika diperhatikan tertlihat bahwa ajaran tersebut bernafaskan Kebatinan Islam atau bernafaskan Islam Sufi.

Ajaran Seh Amongraga dalam serat Centini tersebut pada garis besarnya dapat diutarakan sbb:
1. Tentang awal terjadinya dunia, menurut ajarannya adalah Datulah, berada dikepala Adam, dan disebut Baitulmukadah, ditelinga kanan disebut hayat, ditelinga kiri disebut wilayat nur sejati, Dimata kanan disebut rasa sejati, ditelinga kiri disebut sari rasa, dileher bagian kiri disebut wahid, dan dihati disebut sirullah, dipusat disebut jamilah, dilautan disebut abah, ditengah kalam disebut nukhat dan diujung kalam disebut naptu ghoib, lalu jatuh kedalam wadah. Ketika ditanya dimana kedudukan Allah , dimasa sepi awing uwung (suwung), yang ada bumi dan langit, jawabannya hanya KUN yang ada. Kedudukannya disebut “nukat” wilayah ghoib, tiga Ghoibul Ghuyub, yaitu ghoib ULUWIYAH, BUDI dan AKAL manusia ada pada ALLAH ada namun tak terlihat (“Tan Kena Kinaya Ngapa”).
2. Manunggaling kawulo lan gusti, dikatakan seperti “Kodok kinemulan ing leng?” (Katak terkurung dalam liangnya). Allah sebagai pencipta lam semesta dan segala isinya, zat rohnya memasuki manusia, dimana manusia diciptakan Allah melalui perhubungan antara Adam dan Hawa beserta keturunannya, merupakan perpaduan iradatnya antara umat dan Khaliknya. Manusia menjadi telinga, mata, rasa, cipta dan kalbunya zat Illahi. Dalam bahasa Centini disebut “Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga” yaitu sukma masuk kedalam jasad, jasad masuk kedalam sukma, serta cahaya Nabi, malaikat dan semua Wali. Menurut Seh Amongraga banyak sekali penghalangnya untuk menyatukan diri dengan Allah. Itulah sebabnya kita ini bertekat sepenuh hati untuk tidak melihat ujud Allah, tauhid saja, dan percaya adanya Allah karena melihat ciptaannya – Jagad Raya dengan segala isinya – . Lambang sukma masuk jasad, jasad masuk sukma sebagai pintu gerbang hati-sanubari, dan dibuka melalui IRHAM. Sedangkan tumpang tindih antara ilmu dan roh Illahi dibuka dengan jalan sholat terus-menerus sehingga terwujud JASAD SUKMA. Seh Amongraga sholat kemudian tafakur mengheningkan cipta. Mata hati tertuju kepada ghoibnya Allah, meningkat ketingkat tarekat dengan pandangan lepas ketingkat Mikrat , seketika terasa hampa, menarik tujuh jaman atau alam, yakni ALAM KAMIL, ALAM MISAL, ALAM AJSAM, ALAM ARWAH, dan ke ketiga alam ghoib, yaitu; WAKIDIYAT, WAHDAT, DAN AKADIYAT.

3. Manusia yang hidup di dunia selalu dimasuki nafsu-nafsu, yaitu nafsu jahat (negatip) dan nafsu baik atau luhur (positip). Nafsu positip yaitu nafsu ” mutmainah “, dan nafsu negatip yaitu; nafsu “aluamah”, “hamarah” dan “sufiah” Seh Amongraga mengajarkan agar kita selalu mempergunakan nafsu positip dengan selalu menuntut ilmu, rajin bekerja, sholat, puasa dan lain-lain seperti apa yang diperintahkan Allah dalam Al’Quran. Buanglah jauh-jauh nafsu negatip dengan menghindari larangan Allah. Menurut Seh Amongraga kesabaran adalah senjata yang paling ampuh untuk menghalau nafsu-nafsu jahat tersebut. Dengan menjalankan syariat Islam yang benar kita dapat menjadi manusia yang sempurna, yaitu secara bertahap mulai dari taraf tarekat, terus meningkat ke taraf hakikat dan makripat. Tingkat makripat adalah yang tertinggi untuk bersatu dengan kehendak Allah.

Inilah secara singkat ajaran Seh Amongraga dalam serat Centini. Disitu terlihat dengan jelas bahwa ajaran dalam serat Centini adalah kebatinan Jawa yang bernafaskan Islam.

sumber : http://www.ajangkita.com/forum/viewtopic.php?printertopic=1&t=848&start=0&postdays=0&postorder=asc&vote=viewresult
More … Alfatiha

Sabtu, 2008 Januari 19

Suluk Suksma Lelana

Suluk Suksma Lelana oleh R. Ng. Ranggawarsita

Punapa yen wus kakekat
estu lajeng sarengatnya kawuri
yen saking pamanggih ulun
tan wonten kang tinilar
jer muktamat ing hadis ugi kasebut
kak tanpa sarengat batal
sarak tanpa kak tan dadi

Paran Gusti yen kapisah
temah mangke kakalihira sisip
kang lempeng taksih ing kawruh
sakawanira tunggal
ngelmuning Hyang sarengat myang tarekatu
kakekat miwah makripat
punika kamil apdoli (Simuh, 1985:22).

Terjemahan: Suluk Suksma Lelana
Apakah jika seseorang sudah sampai ke tingkatan hakikat, dia boleh meninggalkan syariat? Menurut pendapatku dan pendapat Hadis tak boleh ada ajaran syariat yang diabaikan, karena kebenaran atau haq tanpa syariat tak jadi dan syariat tanpa haq batal juga.
Perjalalanan menuju Tuhan tak boleh hanya dengan pendekatan secara partial, mereka harus melakukan empat hal itu sebagai satu kesatuan, yaitu : syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat, inilah suatu hal yang sempurna.

Serat Wulang Reh oleh Sri Paku Buana IV
Ginulang sadina-dina,
wiwekane mindeng basa basuki,
ujubriya, kibiripun, sumungah tan kanggonan,
mung sumendhe ing karsanira Hyang Agung,
ujar sirik kang rineksa,
kautaman ulah wadi (Darusuprapta,,1982 : 70).

Terjemahan: Serat Wulang Reh
Dididik berhari-hari, dengan harapan agar mereka menjadi sejahtera, mereka harus berupaya menghidarkan diri dari ujub (kagum pada diri sendiri), riya dan sumungah (pamer kebaikan), ujar sirik (menjaga ucapan dan menjaga keyakinan agar tidak syirik), pandai menjaga rahasia, dan berserah diri kepada Allah.

Wedhatama oleh Mangkunegara IV
Samengko ingsun tutur,
gantiya sembah ingkang kaping catur,
sembah rasa karasa rosing dumadi,
dadine wus tanpa tuduh,
mung kalawan khasing batos.

Kalamun durung lugu,
aja pisan wani ngaku-aku,
antuk siku kang mangkono iku kaki,
kena uga wenang muluk,
kalamun wus padha melok. (R. Tanojo : 10).

Terjemahan: Wedhatama
Aku nanti akan memberi nasihat, tentang jenis pengabdian yang nomor 4, yaitu menyembah Tuhan dari sisi perasaan yang paling dalam, ketika itu dia bisa mengetahui sesuatu ilmu tanpa belajar, karena telah memiliki pengetahuan khusus di dalam batinnya.
Jika belum waktunya seseorang berhak memperoleh ilmu batin, janganlah kamu sekali-kali mengaku telah tahu, wahai cucuku engkau akan kena marah dari Tuhan, ibaratnya kamu boleh menyuap makanan jika telah jelas makanan itu tampak di depan matamu.

Istilah yang terdapat dalam Suluk Suksma Lelana menunjukkan adanya beberapa istilah tasawuf, yaitu kakekat (hakikat), kak (kebenaran), tarekatu (tarekat), dan makripat (makrifat). Dalam Serat Wulang Reh pada tembang Pangkur terdapat kata ujubriya, kibiripun, dan sumungah yang kesemuanya bera­sal dari kata-kata Arab. Ujubriya berasal dari kata ‘ujub dan riya’, ‘ujub’ berarti ‘mengagumi diri sendiri’ dan riya’ berarti ‘memamer­kan kebaikan’; kibir berarti ‘sombong’; dan sumungah (sum’ah) berarti ‘mem­ceritakan kebaikan diri kepada orang lain’. Pada kitab Wedhatama terdapat tembang Gambuh yang memuat kata sembah rasa yang sama artinya dengan makrifat (dibahas pada halaman sebelumnya).

“Antara Mata dan Alis” oleh Sumnun

Telah kuenyahkan hatiku dari dunia ini
Namun dengan-Mu hatiku tak pernah tercerai
Hingga bila untuk sejenak mengatup mataku
Kusua Kau antara alis dan kelopak mata
(Abdul Hadi, 1985 : 74).

“Mencari” oleh Sanusi Pane dalam Madah Kelana

Aku mencari
Di kebun India,
Aku pesiar
Di kebun Yunani,
Aku berjalan
di tanah Roma,
Aku mengembara
Di benua Barat

Segala buku
Perpustakaan dunia
sudah kubaca,
segala filsafat
sudah kuperiksa,

Akhirnya ‘ku sampai
ke dalam taman
Hati sendiri.

Di sana bahagia
sudah lama menanti daku (Hooykaas, 1951:228).

Serat Wulang Reh oleh Sri Paku Buwana IV

“Megatruh”
Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh, nora kena miug­grang-minggring, kudu mantep sartanipun, setya tuhu marang gusti, dipun miturut sapakon.

Ing wurine yen ati durung tuwajuh, angur ta aja angab­di,
becik ngindhunga karuhun, aja age-age ngabdi, yen durung eklas ing batos.

Ingkang lumrah yen kerep seba wong iku, nuli ganjaran denincih,
yen tan oleh nuli mutung, iku sewu-sewu si­sip, yen wus mangarti ingkang wong.

Tan mangkono etunge kang sampun weruh, mapan ta dha­tan denpikir,
ganjaran pan wis karuhun, amung naur ­sihing gusti, winales ing lair batos. (Darusuprapta, 1982 : 74 – 75).

Terjemahan: Megatruh
Orang mengabdi kepada raja harus waspada, tak boleh ragu-ragu, harus memiliki kesetiaan yang total kepada raja (gusti), harus mematuhi semua perintahnya.Pada akhirnya jika hati belum tuwajuh (mantap untuk mengabdi), maka janganlah buru-buru mengabdi, lebih baik sekedar membantu-bantu saja dahulu jika kamu belum ikhlas menjadi hamba di kerajaan.
Pada umumnya, orang menjadi abdi kerajaan itu dengan tujuan mencari upah atau pahala, maka jika dia bekerja tanpa diberi upah maka mereka akan berputus asa. Jika kamu mau memahaminya maka prinsipmu ini tak benar.
Orang yang memahami persoalan itu, akan sadar bahwa upah atau pahala itu pasti diberikan, namun yang lebih penting adalah membalas kebaikan raja (gusti) secara lahir dan batin.

Pada bait pertama kata ratu yang berarti ‘raja’ belum jelas menunjukkan makna ganda antara raja dengan Tuhan, demiki­an pula kata gusti, kata ini masih menunjukkan padan­an arti kata ‘raja’, meskipun dalam hal-hal tertentu kata Gusti biasa dipakai untuk sebutan Tuhan seperti Gusti Allah. Tetapi jika diperhatikan. bait selanjutnya, di situ terdapat kata tuwajuh (Arab) yang berarti ‘menghadap Allah’, kata ini dapat dihubungkan dengan kata aslinya yaitu tawajjuh yang di dalam perguruan tarekat aliran ter­tentu diartikan sebagai ‘menghadap Kepada Allah dengan melakukan zikir’. Dengan demikian dapat diketahui bahwa penulis tembang ini memasukkan makna ganda pada ratu dan gusti se­hingga berarti ‘raja’ dan Tuhan.
Tembang yang tertulis pada halaman 13 nomor 5.3.1 tersebut berasal dari ba­it ke-1, 4, 12, dan 13. Berikut ini ditambahkan contoh da­ri bait ke-10 yang menunjukkan bahwa kata ratu dan gusti dikembalikan kepada makna denotatif dengan me­nyebutkan jabatan-jabatan orang yang mengabdi raja itu terdiri dari bupati, mantri, prajurit, dan sebagainya.

Kang nyantana bupati mantri panewu, kaliwon paneket miji,
panalawe lan panajung, tanapip ara prajurit,
lan kang nambut karyeng katong. (id. 74).

Yang mengabdi di kerajaan itu di anrtaranya terdiri dari bupati, mantri, panewu, paneket miji, panalawe, panajung, tanapi, para prajurit, dan semua pegawai kerajaan.
sumber :www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/72/SASTRA_SUFI_JAWA_DALAM_BINGKAI_SASTRA_SUFI_NUSANTARA.doc
More … Alfatiha

NAWALA KENCANA GURU DIPO

Rikalane lagi buneg dina iki, aku bukak-bukak skrip tinggalan jaman semana dhek aku isih padha ngudi ngelmu marang Guru Dipo. Aku nemu seratane Guru Dipokanggo para muride. Isine isih katon ngemu nas lan rasa tumanja kanggo wektu iki. Dak waca wola-wali.Kepenak dilebokaki ati. Eman yen ta ora cinaritakna.
“Tulisan apa Kakang?” pitakone bojoku.
“Iki lho, seratane Guru Dipo biyen. Coba rungokna
dakwacane ya.” Kandha mangkono aku banjur miwiti maca
nawala kencana kang sinerat dening Guru Dipo mangkene:

Kanggo para muridku kang kinasih,
Wus sawetara aku nandhang lara lan wus nyedhaki
purnaning darma. Kaya kang wus tau dak udharake kanggo
kowe kabeh, darmaning wong urip bebrayan kuwi maneka
warna. Piliha siji kang rinasa manteb ing ati. Ya jer
dumelinge cahya gung kang ngebeki darmanira iku mung
tinemu ing senthonging atimu. Rasa manteb ora nganggo
mangu-mangu iku dadi tandhaning sih kang ngampingi
lakumu.

Pra muridku kinasih, ana sa prakara kang bakal dak
warisake ana ing layangku iki. Biyen antaraning pra
murid tau kawetu pitakonan bab nas-nasing jiwa bekti
dadi pemimpin. Pitakonmu yen ora kleru mangkene:
?Guru, punapa ta jatosipun darmaning pemimpin punika??

Kuwi pitakon kang ora gampang diudhari. Akeh wingiting
jiwa kang perlu dijereng kanggo ngrogoh jatining
darmaning pemimpin. Ana laku papat kang baku kanggo
nggladhi lan nggulang dhiri ing darmaning pemimpin.

Laku kang kapisan iku laku sadhar dhiri.
Ing kene, sapa wae kang bakal ngugemi darmaning dadi
pemimpin iku kudu nduweni kesadharan dhiri kang amba.
Ora cukup mung ngerti kabisane apa. Nanging, sadhar
dhiri iku perlu diasah kanthi mawas dhiri, ngiloni
kasekengan kang isih digendhong ndhamplong ana ing
jagading sarira. Iki lakuning wong kang wani ngrucat
dhiri. Ya pancen angel lan lara wong kang ndeleng
kasekengane dhewe. Kala-kala malah wong wegah merga
kuwi ateges ndeleng eleke rupane. Kang umum, wong
luwih seneng ndeleng apike wae, nglumpukake aleme
kang metu saka lambening kanca-kanca. Nanging, ngenani
kasekenganing dhiri, aja meneh wani ngilo,
ngeling-eling wae ora sudi. Banjur wong mulung
ngendhani lan nglali-nglali marang kasunyatane.

Lah yen wis bisa ngilo githoke dhewe, wong luwih
lembah manah nampa aleme, ndeleng kekuwatane. Wong
kang wani ngilo lan mawas dhiri sacara diwasa iku wong
kang bisa nenimbang kasekengane lan kaluwihane kanthi
ati amba. Banjur ati amba kuwi nuntun wong marang
wahyuning drajating manungsa. Wong banjur bisa
mangerteni ajining sabarang para. Mangerteni ajining
barang lan manungsa, wong uga banjur bisa nemu
wahyuning donya, yaiku nasing jagat gumelar iki.

Dadi laku kang kapisan iki, sajatine iya laku ngrogoh
jatining titah. Kang winahyakake iku sapa ta jatining
manungsa, kasekengan lan kaluhurane, ajining urip,
lan wawasaning jagat. Laku kang kaya mangkene iki
dadi dhasaring darma dadi pemimpin. Ya pemimpin sing
ngerti awake dhewe lan jagade pantes ngugemi darmaning
pemimpin.

Laku kang kapindho iku laku ngambah bawana obah.
Ana ing laku iki kowe kabeh wis tau padha dak latih,
kepiye anggonku ngadhepi ombyaking donya kang tansah
gumanti lan ora tetep. Ana sawatara wong kang padha
wedi ngadhepi ombyaking donya kang tansah gumanti.
Banjur padha milih dalan cepak cepet aman, mlebu ana
ing guwan kang peteng, ngedohi soroting surya. Wedi
olah pikir lan budi, merga rumangsa aman ana ing
tradisi kang tuwa. Ndhelik aling-aling buku-buku
wejangane para nabi. Tundhone, ati ora dadi amba,
nanging malah cupet. Pikir ora seger nglilir nanging
malah mung mandheg kaya banyun ing jembangan buthek.

Laku ngambah bawana iku lakuning ngaurip kang tansah
tinarbuka marang ombyaking donya. Ora mlayu ngadhepi
diala-ala, nanging malah wani nggolek teranging tamba.
Wong kang ora wani tinarbuka gampang keseret ana ing
laku candhik ala yaiku lakuning kekerasan marang
sapadha-padha. Lah, cetha wae, iki dudu darmaning dadi
pemimpin. Darmaning pemimpin iku wani tinarbuka lan
ngasah rasa marang sapadha-padha. Lah, yen wis wani
nggecak laku candhala, senajan ta nganggo antek-anteke
kang ora kasat mata, mesthi wae kuwi ora cocok karo
darmaning pemimpin.

Laku kang kaping telune iku laku urmat tresna ngadhepi
sapadha-padha.
Laku iki ora perlu banget kanggo jaman saiki. Mergane
akeh wong kang ngaku-aku duwe tresna marang
sapadha-padha nanging mung mligi marang kang nunggal
suku, partai lan agama. Iki adoh sungsate karo laku
urmat tresna. Laku urmat tresna kuwi lelandhesan
keyakinan yen ta kabeh manungsa iku sumbere padha,
yaiku Gusti Allah Siji, sumbering katresnan. Yen Sing
Gawe Urip wae nresnani wong-wong kang tumindak ala
marang awake dhewe, ya gene kowe wani mbales mungsuhi?

Laku kang pungkasan yaiku laku ngoyak galihing kuwasa.
Laku iki dilandhesi kanthi ati adreng ngorong marang
gegayuhan luhur, yen ta ing madyaning urip bebrayan
iku pangurbanan diajeni luhur yen ta suwung ing melik.
Laku ngoyak galihing kuwasa kuwi dudu ambisi golek
kuwasa kanggo nglumpukake bandha donya. Dudu babar
blas. Galihing kuwasa ing kene ora liya ya kuwasaning
katresnan ngugemi darmaning pemimpin. Kautaman kang
paling gedhe dhewe ing kene ora liya ya wani ngrucat
melik pribadi, lan mung nggayuh kamulyaning urip
bebrayan agung.

Pra muridku kinasih, semono kang bisa dak udharake,
nanggapi pitakonmu biyen kang durung bisa winedhar.
Muga-muga, apa kang wus tinulis ing kene bisa mbuka
korining budimu, nyumet greged ing atimu, lan asung
terang ing dalanmu.

Wis cukup semen nawala iki. Dipadha rukun lan
ngati-ati. Ombyaking nagara saya mbilaeni, mung
jiwane wong-wong mursid utama bisa ngadhepi sakabehing
bebaya.

Saka Gurumu ing Kelanggengan,
Gurumu Dipo

Aku meneng. Bojoku uga meneng. Kaya-kaya unjal ambegan
sing jero kanggo ngresepake maneh sakabeh pangandikane
Guru Dipo.

Layang dak lempit maneh. Banjur dak selipake ing skrip
biru kang wus kluwuk. Kothak saisine kalebu skrip biru
mau dak lebokake lemari.

“Semono ya Kang pangadikane Guru biyen. Lah kok lagi
saiki aku mudheng.”

“Pancen, ora saben wejangan Guru iku bisa winedhar
sawanci-wanci. Mung yen senthonging atine awake dhewe
wis siap nampa sakabeh tembunge winasis kuwi banjur
ngemu rasa.” Kandhaku marang bojoku. Aku banjur njawil
dheweke, saperlu gage mangkat turu.

sumber : http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/
More … Alfatiha

AJA DUMEH

Aja dumeh mujudake pitutur luhur warisane para leluhur lan pinisepuh kang ngemu teges supaya jalma manungsa utawa titah sewantah anggone nglakoni penguripane ana ing alam donya ora ngendelake aji mumpung. Dumeh, mujudake kahanan kajiwan kang njalari sawijining pawongan nggunakake kesempatan(aji mumpung) kanggo kepentingane dhewe tanpa ngelingi sak padhane urip. Kesempatan kasebut ing ndhuwur bisa maujud drajat, pangkat, bandha donya, panguwasa, ilmu linuwih, kebagusane rupa lan liyane.

Ing donya Eropa utawa dunia barat uga nduweni sanepa “power tends to corrupt” kang nduweni teges yen kuwasa bisa njalari wong kang nyekel kuwasa kuwi nylewengake kekuwasaane kanggo kepentingane pribadhi lan ngianati marang wong kang ngamanati .

Wong urip mono kudu tansah eling marang kang nitahake urip ing alam donya, kudu tansah mawas marang sangkan paraning dumadi. Seko ngendi bibit kawite urip, ana ngendi saiki dumunung lan papan ngendi kang tembene bakal dituju. Kahanan kang bisa direngkuh ora kena njalari lali marang kodrate minangka kawulane Gusti. Kanthi mengkono sifat aja dumeh bisa njalari wong tansah eling marang asal-usule, sahengga ora nglali yen apa kang diduweni mung minangka titipan utawa amanate kang gawe urip. Sikep ini bisa nyurung supaya manungsa tansah nyukuri peparingane Gusti, kanthi nggunakake peparingane mau kanggo nyengkuyung kewajibane minangka khalifahe Gusti ing alam donya, kang nduweni kewajiban memayu hayuning bawana.

Kahanan urip kang dilakoni manungsa kena digambarake kaya dene cakramanggilingan utawa rodha kreta, kang ana sakperangane rodha sakwijining wektu mapan ing dhuwur nanging ing kala wektu liyane ganti mapan ing ngisor. Urip mujudake ganti gumiliring nasib. Mula saka kuwi nalikane wong lagi nduweni nasib kang apik ora kena gumedhe lan umuk marang sak padha-padha lan nalikane ngalami nasib kang ala uga aja nglokro utawa mutung.

Kadangkala wong urip diparingi kanikmatan kang tanpa kinira. Ana ing kahanan iki pitutur aja dumeh trep banget kanggo diamalake. Wong kudu tansah syukur lan uga kudu loma marang sak padhaning urip, ora kena umuk lan gumedhe nanging kudu tansah bisa sakmadya lan andhap asor.

Ana uga kahanane urip kang lagi diparingi pacoban nganti kadangkala wong sing rumangsa ora kuwat nglakoni kahanan mau nduweni panganggep yen donyane wis kiamat. Ngadepi kahanan mengkene, manungsa kudu tansah pasrah sumarah marang kang gawe urip lan sabar anarima ing pandum. Manungsa kudu nduweni keyakinan yen pacoban mau uga mujudake wujud katresnane Gusti kanggo nggembleng manungsa supaya tatag lan tanggon anggone nglakoni uripe.

Aja dumeh ngajarake manungsa tansah mawas diri lan nduweni keyakinan kang kuat menawa urip ing alam donya iki mung sakwetara mampir ngombe. Kabeh lelakone urip mujudake proses kang ora langgeng lan kabeh bakale dijaluk pertanggungjawabane mbesuk ing alam akherat.

Sifat utawa watak aja dumeh bisa diwedhar kanthi pitutur kayadene:

1.Aja dumeh kuwasa, tumindake daksura lan daksiya marang sakpadha-padha.

2. Aja dumeh pinter, banjur tumindak keblinger.

3. Aja dumeh sugih, banjur tumindak lali marang wong ringkih.

4. Aja dumeh menang, tumindake sak wenang-wenang.

5. Aja dumeh bagus, banjur gumagus.

6. Aja dumeh ayu, banjur kemayu, lan sakpiturute.

“Nyawa mung gaduhan, bandha donya mung sampiran”, mengkono pituture para winasis. Kanthi mengkono sejatine manungsa urip ing alam donya ora duwe apa-apa. Kayadene nalika dilahirake manungsa ora nggawa apa-apa, smono uga mengko yen wis tumeka titi wancine sowan ing ngarsa Gustine uga ora sangu apa-apa. Dadi apa kang bisa diumukake manungsa?

sumber : http://annasagung.blog.com/828105/
More … Alfatiha

MENUNGGANG HARIMAU LAPAR SEMBARI MENYILANGKAN DUA BILAH PEDANG TERHUNUS DI DADA

Bismillah ….
Alhamdulillah …. Astaghfirullah …. Shollallah ‘Ala Muhammad
Harimau melambangkan unsur nafsu. Sifat lapar melambangkan sifat nafsu yang selalu ‘rakus’ dan ‘tak puas’. Selalu ingin di penuhi. Jika kita tidak bisa mengendalikan nafsu serta tunduk pada keinginan nafsu yang selalu ingin di penuhi maka siaplah di cabik – cabik oleh harimau itu. Maka selama hidup kita di perintahkan untuk berusaha ‘menunggang harimau lapar’ dalam arti semaksimal mungkin mengendalikan nafsu. Jadi nafsu harus di kendalikan. Tidak di bunuh. Karena jika kita membunuhnya maka ibarat manusia yang kehilangan ‘natural powernya’. Ibarat hutan yang kosong dari harimau. Maka jadilah hutan itu tempat yang tidak siningit. Di acak – acak serta diperlakukan semena – mena. Lalu dengan capa apa mengendalaikan atau menunggang harimau lapar itu? Yaitu dengan menyilangkan dua bilah pedang terhunus di depan dada . Simbol dua pedang terhunus adalah ‘pikian’ dan ‘rasa’ yang harus selalu dihunus atau di asah untuk mengendalikan harimau lapar. Dan janagn pernah lalai. Ingat, Harimau di tubuhmu akan selalu lapar dan tak akan pernah terpuaskan walau kau beri seluruh ‘daging’ yang kau miliki.
Pikiaran dan rasa inilah pengendalinya. Sehingga engkau akan menjadi pengendali harimau dan harimau itu akan tunduk serta menjadi ‘kendaraan’ selama engkau ‘berjalan’.
Alhamdulillah …. Astaghfirullah …. Shollallah ‘Ala Muhammad

wassalam
More … Alfatiha

PUJIAN

ALLAHUMMA SHALLI’ALA
MUHAMMAD SAFI’IL ANAM
WA’ALIHI WASAHBIHI
WASALLIM ’ALADDAWAM

Eling-eling sira manungsa
Temenana lehmu ngaji
Mumpung durung katekanan
Malaikat juru pati

Luwih susah luwih lara
Rasane wong nang naraka
Klabang kures kalajengking
Klabang geni ula geni

Rante geni gada geni
Cawisane wong kang dosa
Angas mring kang Maha Kwasa
Goroh nyolong main zina

Luwih beja luwih mulya
Rasane manggon suwarga
Mangan turu diladeni
Kasur babut edi peni

Cawisane wong kang bekti
Mring Allah kang Maha Suci
Sadat salat pasa ngaji
Kumpul-kumpul ra ngrasani

Omong jujur blaka suta
Niliki tangga kang lara
Nulungi kanca sangsara
Pada-pada tepa slira

Yen janji mesthi netepi
Yen utang kudu nyahuri
Layat mring kang kasripahan
Nglipur mring kang kasisahan

Awak-awak wangsulana
Pitakonku marang sira
Saka ngendi sira iku
Menyang endi tujuanmu

Mula coba wangsulana
Jawaben kalawan cetha
Aneng endi urip ira
Saiki sadina-dina
Kula gesang tanpa nyana
Kula mboten gadhah seja
Mung karsane kang Kuwasa
Gesang kula mung sa’derma

Gesang kula sapunika
Inggih wonten ngalam donya
Donya ngalam karameyan
Isine apus-apusan

Yen sampun dumugi mangsa
Nuli sowan kang Kuwasa
Siyang dalu sinten nyana
Jer manungsa mung sa’derma

Sowanmu mring Pangeranmu
Sapa kang dadi kancamu
Sarta apa gegawanmu
Kang nylametke mring awakmu

Kula sowan mring Pangeran
Kula ijen tanpa rewang
Tanpa sanak tanpa kadang
Banda kula katilaran

Yen manungsa sampun pejah
Uwal saking griya sawah
Najan nangis anak semah
Nanging kempal mboten wetah

Sanajan babanda-banda
Morine mung telung amba
Anak bojo mara tuwa
Yen wis ngurug banjur lunga

Yen urip tan kabeneran
Banda kang sapirang-pirang
Ditinggal dinggo rebutan
Anake padha kleleran

Yen sowan kang Maha Agung
Aja susah aja bingung
Janjine ridhone Allah
Udinen nganggo amalan

Ngamal soleh ra mung siji
Dasare waton ngabekti
Ndherek marang kanjeng nabi
Muhammad Rasul Illahi
Mbangun turut mring wong tuwa
Sarta becik karo tangga
Welasa sapadha-padha
Nulunga marang sing papa

Yen ngandika ngati-ati
Aja waton angger muni
Rakib ngatit sing nulisi
Gusti Allah sing ngadili

Karo putra sing permati
Kuwi gadhuhan sing edi
Aja wegah nggula wentah
Suk dadi ngamal jariyah

Banda donya golekana
Metu dalan sing prayoga
Yen antuk enggal tanjakna
Mring kang bener aja lena

Aja medhit aja blaba
Tengah-tengah kang mejana
Kanggo urip cukupana
Sing akherat ya perlokna

Aja dumeh sugih banda
Yen Pangeran paring lara
Banda akeh tanpa guna
Doktere mung ngreka daya

Mula mumpung sira sugih
Tanjakna ja wigah wigih
Darma ja ndadak ditagih
Tetulung ja pilah-pilih

Mumpung sira isih waras
Ngibadaha kanthi ikhlas
Yen lerara lagi teka
Sanakmu mung bisa ndonga

Mumpung sira isih gagah
Mempeng sengkut aja wegah
Muga sira yen wus pikun
Ora nlangsa ora getun

Mula kanca da elinga
Mung sapisan aneng donya
Uripmu sing ngati-ati
Yen wis mati ora bali
Gusti Allah wus nyawisi
Islam agama sejati
Tatanen kang anyukupi
Lahir batin amumpuni

Kitab Qur’an kang sampurna
Tindak nabi kang pratela
Sinaunen kang permana
Sing sregep lan aja ndleya

Dhuh Allah kang Maha Agung
Mugi paduka maringi
Pitedah lawan pitulung
Margi leres kang mungkasi

Nggih punika marginipun
Tetiyang jaman rumuhun
Ingkang sampun pinaringan
Pinten-pinten kanikmatan

Sanes marginipun tiyang
Ingkang sami dinukanan
Lan sanes margining tiyang
Kang kasasar kabingungan

Gesang kita datan lama
Amung sakedheping netra
Maena sami andika
Rukun Islam kang lelima

AMIN AMIN AMIN AMIN
YA ALLAH ROBBAL ‘ALAMIN
MUGI PADUKA NGABULNA
SADAYA PANYUWUN KULA

TOMBO ATI
Tombo ati iku lima ing wernane
Ingkang dhihin maca Qur’an sak maknane
Ping pindhone sholat wengi lakonana
Ping telune dzikir wengi ingkang suwe
Kaping pate wetengira ingkang luwe
Ping limane wong kang sholeh kumpulana
Sapa wonge padha bisa anglakoni
Insya Allah Gusti Allah nyembadani

SUMBER : http://gantharwa.wordpress.com/qa/#comment-2105
More … Alfatiha

Ngelmu Kanthong Bolong Kanggo Nggayuh Mardikeng Budi

NGANCIK jaman posmodern panguripan kang sarwa maju wus kita rasakake. Kabeh kebutuhan padinan bisa dicukupi lewat teknologi. Wong-wong padha ngendelake akal lan nalar. Kabeh pambudidaya katindakake kanggo nata perekonomian lan panguripane bebrayan.

Faham kapitalisme global nguwasani tatatan urip. Egosentrisme dadi pola pikir pribadi. Wong-wong padha gelem ngorbanake hak pribadi kanggo nggayuh keuntungan sing luwih dhuwur. Ing kahanan kaya iki alam dieksploitasi saentek-enteke nganti sumber alam padha asat.

Nalika kabeh wong padha ngutamakake kepentingan pribadi, apa wae kang katindakake iku muhung mburu kamulyane dhiri. Dhiri pribadi dadi pusat mula sinebut ego sentrisme utawa individualisme. Wong liya dianggep dadi objek utawa pelengkap. Wong liya dianggep ora penting. Umpama mbutuhake wong liya iku amarga dheweke lagi manfangatake liyan. Pribadi sing kaya ngene iki sanyatane lagi nandhang lelara. Wong-wong kaya kuwi ing atine tansah ana pamrih mula bisa diarani durung mardika.

Ngelmu Kanthong Bolong

Sewu siji penyakit sosial lan individual satemene mula bukane saka individualisme utawa egosentrisme iki. Nalika akeh wong sing tansah nduwe pamrih, tumindake ora tulus ikhlas, apa kang katindakake iku duwe kepentingan pragmatis. Yen kepentingan iku ora keturutan ora wuning njalari daredah, lan masalah. Wong-wong sing mung mentingake dhiri pribadi mung nggugu kersane priyangga nora nganggo tepa selira. Laku kriminal agal alus, pakarti busuk lan jahat ngebaki warta saben dina. Bebendu lan bncana teka tanpa kendhat nanging ora bisa methik hikmahe. Tan bisa diselaki yen kabeh iku asal saka pakartine manungsa dhewe.

Bab iki wis nate dipenggalih dening Raden Mas Panji Sosrokartono. Panjenengane banget prihatin nguningani pakartine manungsa sing egoistis iki. Sabanjure ana tetamba lamun padha gelem nindakake ing laku urip bebrayan padinan. Tetamba iku dirumusake kanthi istilah Ngelmu Kanthong Bolong (uga sinebut Ngelmu Kanthong Kosong utawa Ngelmu Sunyi). Manut dhasar pemikirane, Ngelmu Kanthong Bolong iku mujudake anti thesis faham kapitalisme global lan individualisme.

Sajrone selawe taun (1927-1952) RMP Sosrokartono wus ngabdi kanggo bebrayan ngusadani sewu siji penyakit jasmaniah-badaniah, penyakit rokhaniah-bathiniah, lan uga kabeh rasa gela kang ana sesambungane karo sapadha-padhane titah (marang Gusti Allah Swt Ian uga alam). Mung nggunakake medhia banyu putih, panjenengane bisa menehi usada kabeh panandhang iku. Yen ana wong coba-coba, panjenengane mesthi priksa mula bakal diwenehi pangandikan tegas, lan singkat. Asring dumadi gelas utawa botol sing isi banyu putihe wong sing coba-coba iku mbledhos, pecah, lan isine wutah.

RMP Sosrokartono iki sinebut guru spirituale tokoh-tokoh nasional. Sebut wae Presiden Soekarno lan Soeharto uga nyecep ngelmune. Lepas saka kekurangan lan keluwihane tokoh loro iku, apa kang katindakake iku sebageyan pancen ngamalake piwulange RMP Sosrokartono. Ing buku Soekarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams (1965), Presidhen kapisan RI iku nyebut asmane RMP Sosrokartono minangka guru kebatinan sing kondhang ing Bandung. Mantan Presidhen Soeharto uga nyebut-nyebut piwulange RMP Sosrokartono sing kondhang yaiku sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.

Ngelmu Kanthong Bolong iku dilandhesi pemikiran sing prasaja. RMP Sosrokartono ngendika, “Nulung pepadhane, ora nganggo mikir wayah, wadhuk, kanthong. Yen ana isi lumuntur marang sesami.” Digambarake kayadene kanthong, ing sanubari kita kudu ngilangake dhasare kanthong kuwi (nirpamrih). Wong-wong kudu wani ngilangake pamrih ing sajrone urip. Kang iku urip kudu tarimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah Ian bungah, anteng mantheng sugeng jeneng. Kang dikembangake dudu tekad pamrih nanging tekad asih.

Sing angel anggoni nglakoni yaiku ngowahi pola pikir. Secara umum wongwong padha duwe faham individualisme. Ing kamangka saiki kudu diwalik. Dhiri pribadi ora dadi pusat panguripan ing donya. Suwalike, wong kudu mikirake keslametane wong liya Lan uga bebrayan kabeh. Laku iku sinebut ngabdi kanggo abdine Gusti Allah Swt. Yen kita tresna Lan nyembah Gusti Allah mula tresna iku kudu diwujudake kanthi nresnani abdine Gusti Allah (kabeh titah klebu manungsa). Carane? Kanthi ngorbanake kepentingan-kepentingan individual sing disebut pamrih.

Nalika kita wus bisa bebas saka pamrih tegese kita wus tumeka ing alam kamardikan. Mardika iku tegese uwal saka was Lan sumelang. Bisane uwal saka rasa was sumelang iku lamun ing dhiri sanubari kita iku ora duwe pamrih apa-apa. Payung kula Gusti kula dne tameng kula inggih Gusti kula. Saya gedhe pamrihe saya kurang mardika. Wong-wong kang tansah mentingake dhiri pribadi ing sajrone uripe tansah nandhang kacingkrangan Lan kekurangan nadyan bandha donyane wus turah-turah. Ya kahanan kaya ngene iki sing diarani jiwa kang nandhang lelara.

Saka Ngendi RMP Sosrokartono nemokake piwulang Kanthong Bolong iki? Akeh sing ngira yen panjenengane njupuk referensi manca embuh saka kitab Wedha,

Upanisad, Bagavatgita, Kitab Suci agama Buddha, Lao Tze kanthi Tao Teh Tjing, utawa piwulang Tasawuf Lran Lan Arab. Apamaneh panjenengane entuk dhidhikan ilmiah ing Nederland 27 taun lawase (1898-1925). Nanging panduga iku keliru. RMP Sosrokartono bisa ngrumusake Ngelmu Kanthong Bolong iku nyinau saka kasunyatan kang ana ing bebrayan. Panjenengane ngendika, “Murid, gurune pribadi. Guru, muride pribadi. Pamulange, sangsarane sesami. Ganjarane, ayu Lan arume sesami.” Cetha lamun piwulang iki asli, ora asal saka referensi manca negara.

Sing pungkasan, perlu kawuningan yen Ngelmu Kanthong Bolong iki ngutamakake laku. Kanggone RMP Sosrokartono, ngelmu Lan laku iku nyawiji. Laku iku ya dadi manifestasi ngelmu. Ora ana ngelmu tanpa laku. Nuntut ngelmu beda karo ngudi ngelmu. RMP Sosrokartono ora tau kagungan murid. Piwulange ora diparingake nganggo ceramah kaya ing sekolah nanging kanthi conto Lan patuladhan. Panjenengane tau ngedegake kulawarga Manasuka (ejaane ana sing nulis Monosuko) ing tlatah Sumatera utara Lan Sumatera Timur. Kulawarga iki diwenehi kalodhangan nyonto laku-laku kang katindakake dening panjenengane.
(Sudadi/35)

sumber : http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=227
More … Alfatiha

NGELMU PRING

PRING PODHO PRING
ELING PODHO ELING
ELING DHIRINE
ELING PEPADHANE
ELING PATINE
ELING GUSTINE
PRING IKU MUNG SUKET
NING GUNANE AKEH BANGET
YAIKU JENENGE NGELMU PRING
DADIA KAYA PRING
PRASAJA ORA DUWE APA2
NING MARGA ORA DUWE OPO2
BAKAL BISA DADI OPO2
KAYA PRING

Sumber : http://gunemanku.blogspot.com/2007/06/ngelmu-pring_29.html
More … Alfatiha

Jumat, 2008 Januari 18

KUNTUL NYONGGO MBULAN

Alhamdulillah. Astaghfirullah. Shollallah ‘ala Muhammad. Terinspirasi dengan lukisan di mihrab kuno di sebuah masjid kajen pati, yamg merupakan peninggalan Syeh Ahmad Mutamakkin (Mbah Mad, Ki Cebolek) , maka kami mencoba untuk memberi nadzor (dzikir analisa). Dengan memohon pertolongan Allah SWT maka kami akan menguraikannya sejauh yang dapat kami pahami. Semoga para leluhur berkenan ‘njangkungi’ dalam nadzor ini. Adapun lukisan yang di maksud adalah lukisan burung kuntul (blekok putih / mliwis putih) yang sedang menyangga bulan. Pertama kami ingin menguraikan dulu makna burungnya. Burung mliwis putih berbulu putih halus. Biasa kita temui di areal pertambakan/danau. Dengan tenang ia berdiri lama di tepian / bibir tambak. Dengan gerakan mematung seperti itu dan pembawaan kalem bisa membuat ikan – ikan terpedaya dan tak merasa bahaya. Dengan mata yang tajam ia mengawasi kedalaman air.Burung ini juga pandai berenang dan mempunyai pembawaan bersahabat bagi penghuni air di danau / tambak. Jika mereka lengah maka secepat kilat di sambarnya ikan – ikan itu dan menjadi makanan yang empuk buat sang burung. Kita juga bisa melihatnya pada suatu senjata ketika ia melintas jauh ke angkasa kembali ke sarangnya. Mari kita melihat ke sisi methaphornya. Burung juga di lambangkan ‘seorang pejalan ruhani’. Berbulu putih halus bisa diartikan dari luar ia nampak orang yang ‘suci’ dan ‘alim’. Mata yang tajam diartikan memiliki wawasan yang luas. Pembawaan yang kalem dan betah ‘mematung’ dapat diartikan gemar prihatin / gentur bertapa untuk meraih cita2. Jika burung itu masih suka mencari ikan – ikan di danau diartikan sang pejalan masih terikat dengan duniawi. Dengan penampilan yang ‘alim’ dan ‘suci’ maka ia bisa memperdaya jiwa – jiwa yang lemah untuk kesenangan duniawai. Penghuni – penghuni ikan mengagungkan dan mengkultuskan ‘sang pejalan’. Dan sang pejalan tentu saja dengan keterikatannya terhadap duniawi bersuka ria dengan pengagungan ikan – ikan itu dan menganggap lumrah terhadap dirinya yang dianggap suci dan alim dan menganggap perjalanannya sudah sampai. Jika itu yang terjadi tentu maka kasihan ‘sang pejalan’ itu. Perjalanannya masih jauh. Dan ikan – ikan penghuni air tentunya dia hanya akan tau hanya seputar air di areal danau / tambak , tidak tau hakiki dunia luar dan mempercayakan sepenuhnya pada ‘kicauan’ sang ‘burung’ atau ‘pejalan’. Disini bisa dikatakan ‘sang pejalan’ dan ‘ pengikutnya’ terhijab dari hakekat/kebenaran sejati. Jika di mihrab itu sang burung kuntul dilukiskan menyangga bulan. Subhanallah. Bulan bisa diartikan derajat yang luhur / cita-cita yang adi luhung /kesempurnaan perjalanan. Maka burung yang menyanga bulan itu bisa di ibaratkan ‘sang pejalan ruhani’ yang sudah tidak terikat duniawi lagi. Dia memiliki cita – cita luhur untuk menerangi sekitarnya tanpa mengharap imbalan / pujian. Mengajarkan sekitarnya tentang kesejatian walaupun seringkala harus berhadapan hegemoni-hegemoni politik yang tidak suka kebenaran itu menghambat kekuasan ‘keangkara murkaan’ mereka. Tidak terikat bukan berarti menutup diri / tidak berkecimpung dalam dunia. Justru malah harus beramar ma’ruf nahi mungkar untuk menerangi sekitarnya. Selaras dengan cerita Ki Cebolek yang mengajarkan kebenaran walupun harus menghadapi anacaman pidana ‘bakar’ dari pengadil – pengadil kekuasaan yang mengatasnamakan hegemoni agama. Memilki wawasan yang luas dan ‘ilmu yang luhur’ dan disebut ‘ulama’/ ‘pembimbing ruhani’ maka yang selayaknya harus dilakukan adalah tetap konsisten menyangga bulan, menerangi sekitarnya tanpa pamrih untuk dikultuskan atau memanfaatkan ‘muridnya’. Maka disini sangat penting mencari ‘guru pembimbing’ yang putih di luar dan putih di dalam. Walaupun sulit. Sekurang-kurangnya putih di dalam. (Hehehe..mana kita tau kalo didalamnya putih?). Seorang murid juga harus mempunyai tsiqoh/ pemahaman/ ilham yang kuat dan juga tekad yang kuat untuk menangkap maksud sang guru. Supaya terlepas dari kungkungan sekitar danau. Dan juga supaya bisa melihat gunung di luar danau dengan penyaksian sejati, melihat dengan ‘mata kepala’ sendiri. Tidak hanya mengetahu gunung ini dan itu menurut kata ‘ sang guru’. Murid juga paham bahwa yang dicari adalah emas. Bukan kertas berlapis emas. Guru yang sejati akan mampu memperlihatkan ‘emas’. Bukan ‘menipu’ muridnya sehingga kertas emas dikira ‘emas’ sungguhan. Ehm.. Selesai juga nadzornya. Jika ada hikmahnya, bolehlah diambil. Jika tidak, maka abaikan saja.
Alhamdulillah. Astaghfirullah. Shollallah ‘ala Muhammad.
Wassalam
More … Alfatiha

Kamis, 2008 Januari 17

Syekh Siti Jenar Dan Wali Songo (Konflik?)

SANTRI BUNTET

Wishing to be santri anywhere…
Antara Syariat Syekh Siti Jenar & Wali Lainnya

15 Nopember, 2007 in Kajian Kitab, Pengalaman Rohani, Supranatural, Tokoh

Terinspirasi oleh Tulisan Danalingga yang menarik tentang masalah Syahadat Siti Jenar yang dikaitkan dengan merebaknya aliran sesat. Tulisan ini sequel dari tulisan sebelumnya.

MENUJU Tuhan rupanya menjadi hal yang terus menerus diupayakan para hamba pencinta. Dalam ajaran agama, banyak cara dan jalan yang ditempuh oleh para ulama (rohaniwan) mengajarkan pada kita. Salah satu contoh di dalam ajaran Islam mengenal istilah adalah gerakan batin (hake­kat).

Semisal yang dica­nangkan oleh Al Hallaj dan diterus­kan oleh Syekh Siti Jenar di Indonesia. Wali ini tidak dimasukan dalam ling­kungan atau anggota Wali Sanga. Mungkin kare­na sistem dan metodanya tidak sama. Tetapi gene­rasinya terus berkem­bang hingga kini. Tidak mengetahui di mana shalatnya.

Di samping itu ada banyak jenis gerakan selain Syekh Siti Jenar yang dica­nang­kan oleh para Wali (songo). Dianta­ranya adalah thareqat. Pertanyaanya, apa­kah gerakan tarekat yang dicanang­kan para wali itu masuk dalam kategori syareat atau gerakan hakekat?

Islam lahir didahului oleh hakekat baru kemudian syareat. Buktinya Nabi saw lama bertahannuts (bermalam) di gua Hira. Beliau menghabiskan malam-malam­nya di sana untuk beribadah dengan mengabdikan diri kepada Allah swt. Beberapa malam kemu­dian, turun­lah wahyu pertama. Di sinilah syareat mulai dibentuk untuk umatnya.

Namun pada giliran periode berikutnya, muncul gerakan yang mirip hakekat yang diajarkan oleh Al Hallaj yang cukup bertentangan dengan syareat pada umum­nya. Beratus tahun kemu­dian hadir pula di Indonesia. Pelopor­nya adalah Syekh Siti Jenar.

Gerakan ini cukup berhasil membawa para pengi­kutnya untuk terus mengupayakan gerak­an ini berkembang. Entah bagai­ma­na, akhirnya syareat yang biasanya dianut oleh masyarakat umum tiba-tiba tidak lagi menjadi fokus utama dalam beri­badah kepada Allah. Yang hadir dan ramai di anut oleh masyarakat adalah sejenis hakekat. Di antara yang kerap dibicarakan orang adalah ung­kapan “eling”. Atau “manungaling kaula Gusti”. Semacam penyadaran akan penya­tuan antara hamba dengan Tuhannya.

Konon ajaran itu masuk dalam kategori hakekat. Adapun syareat­nya tidak seperti para penganut Islam biasanya. Atau barang­kali tidak ada syareat sama sekali. Sean­dainya pun ada syareat, maka dipastikan sangat berbeda dengan para pemegang rukun Islam pada umumnya.

Ajaran Syekh Siti Jenar, salah satunya, menurut salah satu pembimbing tarekat, adalah gera­kan shalat di atas daun. Generasinya hingga kinipun ma­sih mem­praktek­kannya. Selembar daun di­po­tong dan digelar sebagai sajadahnya lalu melak­sanakan shalat di atas daun itu di per­muka­an air.

Atau suatu ketika selembar daun pisang menempel di dahannya, maka di situlah mengerjakan shalatnya. Jadi begi­tulah seseorang yang (khusus) mendalami ilmu syareat Syeh Siti Jenar.

Karenanya, tidak musta­hil seseorang itu mempelajari bagai­mana bisa terbang dan meng­hilang. Itulah yang diajar­kannya. Itulah karomahnya. Itulah yang saya dengar dari guru. Masalah benar tidaknya saya belum tahu.

Bagaimana dengan Gerakan para Wali Lainya?

Menurut Abdullah As Sya’roni bukan itu yang istimewa. Karomah dipandang oleh As Sya’roni adalah al Istiqomah, meski­pun kecil kelihatannya. Sehingga timbul ungkapan “khoirun min alfi karomah” istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah. Karenanya, tidak perlu terta­rik dan tidak perlu mempelajari hal-hal seperti itu.

Inilah yang disebut gerakan tarekat yang dipelo­pori oleh para aulia. Karenanya pernah ada seorang ulama besar mem­buat geger orang-orang, di mana shalat­nya tidak pernah diketahui. Namun tiba-tiba saja ulama itu ada di sana. Wallahu a’lam kita tidak tahu, na­mun itulah gerakan mereka. Jadi sangat antik mereka punya gerakan.

Karena itu wali Songo tidak mau keting­galan punya gerakan juga. Thareqah namanya. Jadi tarekat yang diajarkan para wali itu sangat jelas dan terlihat apa adanya. Para pengikut tarekat saat berkumpul ramai-ramai kemudian me­la­kukan dzikir tarekat bersama-sama. Ramai-ramai di talqin atau di baiat oleh musyidnya, oleh muqoddam atau khali­fah, terserah istilahnya apa, itu sema­ta-mata untuk melestarikan gerak­an wali songo.

Itulah alasannya mengapa para pengikut tarekat berkumpul. Sementara para peng­ikut syekh Siti Jenar pun gigih membikin generasi penerusnya dengan gerakan-gerak­an yang dianggap kontro­ver­­sial. Sementera grupnya Wali Songo ternyata kelihatannya lebih berhasil dalam gerakannya. Sehingga berkem­banglah tarekat di seluruh dunia de­ngan berbagai versi dan silsilahnya hingga kini.

Salah satu inti gerakan tarekat yang dikedepankan oleh para Wali Songo adalah hal yang jelas bentuk sya­reat­­nya. Buktinya adalah orang-orang tarekat dzikir­knya jelas, bagai­mana uca­pan­nya, dimana tempat berdzikir­nya, apa yang diucapkan, siapa gurunya dan ke­pada siapa silsilahnya begitu jelas hing­ga wusul kepada Rasulullah saw. Tanpa ada yang disem­bunyikan sama se­­­ka­­li.

Tentang ajaran hakikat pada tarekat yang diajarkan para wali hanya mengajar­kan khofi selebihnya dzikir, sholawat dan membaca Al qur’an kepa­da para pengamal tarekat. Khofi sendiri merupakan hal rahasia yang tidak bisa diajarkan melainkan dengan talqin kepada mursyidnya, muqoddam atau khalifahnya.

Namun ajaran “hakekat” yang dikedepankan oleh tarekat tidak untuk menciptakan sebuah kelebhan (karomah). Semata-mata hanya untuk bagaimana mampu ber­komunikasi kepada Allah dalam segala tingkat kea­da­an dan situasi. Jika pun ada kelebihan yang ditimbulkan, hal itu semata-mata karena maziah saja dan tidak ditam­pakkan.

Bahkan jika seorang pengikut tarekat memiliki karomah, ia sendiri menganggapnya sebagai beban yang berat sekali dipikul­nya. Pendek­nya, menjadi pengamal ta­re­­kat adalah individu yang siap menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Tak Perlu Diadu

Bukan berarti gerakan Wali Songo lebih baik dari gerakan Syekh Siti Jenar atau seba­liknya. Hal itu tidak perlu diadu dan dibuat komparasi (perban­dingan). Kare­na hal ini tidak perlu diadu antara kelebihan dan kekurangannya. Sebab dalam salah satu ajaran tarekat menye­but­kan bahwa tidak perlu mengo­reksi ilmu orang lain. Nafsi-nafsi saja. Memperbaiki dan menambah kekurangan diri.

Akhirnya, seringkali para guru meng­ajar­kan kepada para pengikutnya: marilah bersama-sama untuk saling tertarik guna mendalami ilmu bersama Allah SWT. Ilmu ini berada dalam hati, bukan di dalam pikiran. Sebab ilmu tarekat tidak­lah mengajarkan sese­orang ahli suatu bidang, melainkan bagai­mana memanaj hati. Jika hati tenang maka akan meno­long segala urusan keduniaan dan kea­khiratan. Bukankah Allah men­jan­jikan: “Ingatlah, hanya dengan meng­ingati Allah-lah hati menjadi tenteram.. (Ar Ra’ad: 28)

Kesimpulan:

· Tarekat merupakan sebuah bentuk gerakan keimanan yang bertujuan untuk memperbiki akhlak melalui upaya pembersihan diri (batin) de­ngan terus menerus mengingat Alalh.

· Ada yang berorientasi hanya pada inti hakekat saja (batin) tanpa dengan sya­reat pada umumnya. Diwakilii oleh gerakan Al Hallaj dan generasi beri­kut­nya adalah Syekh Siti Jenar.

· Ada pula yang mementingkan syareat dan hakekat sekaligus. Namun lebih condong ke pelaksanaan syareat se­perti biasanya. Sementara hakekat hanya dalam bentuk dzikir khofi saja. Ini yang kebanyakan diwakili oleh gerakan tarekat Wali Songo dengan berbagai jenisnya yang mu’tabarah.

· Pada akhirnya, gerakan Wali Sanga ini lebih banyak diterima oleh masya­rakat.

· Tidak perlu membandingkan dua jenis gerakan ini, mana yang lebih unggul. Masing-masing menjalankan keya­kinan­nya. Wallhu a’lam.

Pemicu Tulisan:

http://danalingga.wordpress.com/2007/11/09/syahadat-jenar/

http://id.wikipedia.org/wiki/Syekh_Siti_Jenar

Antara Syekh Siti Jenar dengan Wali Songo ada konflikkah? :

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1004/04/teropong/resensi_buku.htm

Wawancara Penulis Buku Best Seller Syekh Siti Jenar

sumber : http://santribuntet.wordpress.com/2007/11/15/banyak-jalan-menuju-tuhan/
More … Alfatiha

Cara Menjumpai Nabi SAW di Kala Sadar

Di nukil dari Kitab Kaifiyyat Wushul Ru’yat Rasul SAW Oleh Hasan Muhammad Syaddad
Umar Ba Umar yang sudah ditejemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Al Mighwar MA dan di terbitkan Pustaka Hidayah Bandung. Berikut Salah satu Kaifiyyat / Cara untuk menjumpai Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Penyusunnya mendapat ijazah ini dari Habib Zain bin Smith. Habib Zain mendapatkan ijazah sholawat ini dari Sheikh Tijani Abdul Hamid At Tijani dari Mesir. Berikut Bacaan Sholawatnya yang di baca 1000x di Malam Jumat :

– Allahummaj’al Jamii’a Adzkaari Al Dzaakiriina wa Jamii’a Sholawaati Al
Musholliina
Waj’al lii Jami’al Adzkaari li Dzikrii wa Jamii’as Sholawaati li Sholaati ‘ala
Sayyidinaa Muhammadin Syafii’il Mudznibiin wa ‘ala Aalihi AlMuthohhiriina
AlKaamiliin.

– Ya Allah Himpunkanlah Seluruh Dzikir Orang yang berdzikir dan Seluruh Sholawat
Orang yang bersholawat dan Jadikanlah untukku Seluruh Dzikir itu Sebagai
Dzikirku dan Seluruh Sholawat itu sebagai Sholawatku Pada Junjungan Kita
Muhammad SAW Pemberi Syafaat bagi orang2 yang berdosa dan Sholawatku Juga Kepada
Keluarganya yang Suci dan Sempurna.
More … Alfatiha

Selasa, 2008 Januari 15

Mimpi melihat Nabi Muhammad s.a.w

Mimpi melihat Nabi Muhammad s.a.w

Riwayat Ahmad dari Anas Bin Malik r.a., Rasulullah s.a.w bersabda:

Siapa melihat aku dalam mimpi, maka akulah itu kerana sesungguhnya Syaitan tidak boleh menyerupai aku.

Syaitan dijadikan dari api dan boleh berupa menjadi manusia, lelaki atau perempuan. Setengah ulama kata syaitan tidak boleh menyerupai Nabi Muhammad s.a.w. Setengah ulama kata syaitan tidak boleh menyerupai mana-mana Nabi. Bila syaitan berupa menjadi manusia, ia tiada lurah hidung. Kerana itu orang yang menyimpan misai hendaklah menampakkan lurah hidungnya.

Dalam hadith yang lain, berkata Abu Salamah, “Telah berkata Abu Qatadah, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud,

Sesiapa yang telah melihat daku dalam mimpinya, maka sesungguhnya dia telah melihat yang benar (al-Haqq). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Mimpi melihat Rasulullah itu betul, tetapi percakapan Nabi dalam mimpi tiada jaminan. Ia bergantung kepada percakapan itu selagi tidak bertentangan dengan syarak.

Kelebihan orang yang mimpi Nabi
Besar kelebihan orang yang mimpi Nabi. Ulama kata akan mati dalam iman dan dimasukkan ke dalam syurga.

Amalan untuk dapat ziarah Nabi dalam mimpi
Setengah ulama menyuruh baca Al-Kautsar 1,000 kali satu malam, bacalah hingga 2-3 malam. Setengah ulama suruh banyakkan selawat ke atas Nabi. Surah Al-Kautsar menceritakan hubungan khusus Nabi s.a.w dengan Allah, orang yang benci Nabi akan terputus rahmatnya dari Allah:

Al-Kauthar [3] Sesungguhnya orang yang bencikan engkau, Dialah yang terputus (dari mendapat sebarang perkara yang diingininya).

SUMBER : http://nasbunnuraini.wordpress.com/2007/12/10/mimpi-melihat-nabi-muhammad-saw/
More … Alfatiha

MIMPI BERTEMU NABI SAW

Dengan wajah muram seorang murid bersimpuh di hadapan gurunya. lantas beliau dengan wajah dan suara berwibawa bertanya kepadanya,”Apakah gerangan yang merisaukanmu?”
“Wahai guru, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi. Namun, sampai sekarang keinginanku belum juga terkabul,” jelas si murid.

“Oo… rupanya itu yang kau inginkan. Tunggu sebentar…”
Sang guru mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya.
“Iniii…, bacalah setiap hari seribu kali, insya Allah kau akan bertemu dengan Nabimu.”

Dengan wajah berseri pulanglah si murid membawa catatan itu. Namun, setelah beberapa minggu, kembalilah si murid ke rumah gurunya memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak menghasilkan apa-apa. Sang guru segera memberikan bacaan lain. Namun, beberapa minggu kemudian muridnya kembali dengan lesu memberitahukan bahwa bacaan itu pun masih belum menghasilkan apa-apa.

Setelah diam beberapa saat, berkatalah sang guru, “Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam.” Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah ia ke rumah sang guru untuk memenuhi undangannya. Ia merasa heran melihat gurunya hanya menghidangkan ikan asin saja.

“Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!” kata sang guru kepada muridnya.

Karena tergolong murid taat, maka ia habiskan seluruh ikan asin yang ada. Selesai makan ia merasa kehausan karena memang ikan asin membuat orang mudah kehausan. Ia segera meraih segelas air dingin yang ada di hadapannya.

“Letakkan kembali gelas itu!” perintah sang guru. “Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!”

Dengan penuh rasa heran diturutinya perintah gurunya. Malam itu ia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga
akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi? Malam itu ia mimpi, gurunya menyodorkan segelas air dingin. Setelah minum, ia terjaga dari tidurnya. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya.

“Apa yang kau impikan?” tanya sang guru yang berdiri tak jauh darinya.
“Guru aku tidak memimpikan Nabiku SAW, aku mimpi minum air.”

Tersenyumlah sang guru mendengar jawaban muridnya. Kemudian dengan bijaksana ia berkata:,
“Jika cintamu pada Baginda Nabi SAW seperti cintamu pada air sejuk itu niscaya kau akan memimpikannya.”

Menangislah si murid. Ia baru sadar bahwa ternyata dalam hatinya belum cukup ada rasa cinta kepada Nabi. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi. Ia masih banyak meninggalkan sunahnya. Ia masih belum meneladani akhlaknya. Ia masih lebih mencintai air…

SUMBER : http://faqirullah.multiply.com/journal/item/15
More … Alfatiha

RASA

Rasa iku anane neng ati (qolb )
Sak njerone rasa ono rasa sejati (ruuhi)
Sak njero rasa sejati ono sejatining roso (sirri)
Sak njero sejatining roso ono roso sejatining roso (khafa)
Sak njerone roso sejatining roso ono azimat (akhfa/azimat)

Ajaran ini adalah ajaran tasawuf yang di-Jawakan….

Juga sering pula dikatakan golekana sejatining jowo, jowo sejati…..

Jowo sejati dan sejatining jowo tidak lain adalah sejatinya manusia atau jati diri orang Jawa…..

Kalao dalam ajaran spiritual Jawa ada pula :

Sugih tanpo bondho
Nglurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake
Dhigdhoyo tanpo ajimat (azimat)

Azimat inilah adalah Cahaya di atas Cahaya yang berada dalam qolbu manusia, dan Cahaya di atas Cahaya (Nuur di atas Nuur) adalah Nuur Muhammad (dalam islam). Barangsiapa telah mendapatkan ajimat sejati ini, dia tidak membutuhkan kesaktian apa-apa, karena Nuur ini telah ada sejak sebelum Adam diciptakan…..

“Wahai Rasulullah, sejak kapa Engkau menjadi Rasul ?”…..”Sejak Adam berada diantara ruuh dan jasadnya aku telah menjadi Rasul (Nuur).” Karena kalau kita memahami Esensi Muhammad (Haqeqatul Muhammadiyyah), maka sebenarnya kita tidak usah membabi buta membabat agama lain dan kebatinan Jawa, karena sebenarnya Kebatinan Jawa juga mencapai Nuur di atas Nuur tersebut melalui sufi-sufi yang kemudian dikenal sebagai ahli gnostik, ma’rifat dsb.

SUMBER : http://agungks.multiply.com/journal/item/6/Sabda_Serat_jati_Ranggawarsita_cuplikan
More … Alfatiha

Jumat, 2008 Januari 11

SHALAWAT

Segala puji bagi Allah
Yang mengaruniai kepada kami Nabi Muhammad saww
yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya
dengan kuasa-Nya yang melampaui segala hal
meskipun itu termasuk berat
yang tak luput dari-Nya
meskipun itu halus

Yang menjadikan kami
sebagai umat penghabisan atas umat yang lalu
Yang mengangkat kami
sebagai saksi atas yang membangkang
dan memperbanyak jumlah kami
atas umat lainnya yang lebih sedikit
dengan karunia-Nya

Ya Allah,
Limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad
kepercayaan-Mu yang menyampaikan wahyu-Mu
yang paling unggul dari ciptaan-Mu
yang jadi pilihan-Mu
di antara hamba-hamba-Mu
Imam kasih sayang, pemimpin kebaikan,
kunci keberkahan

Sebagaimana ia telah bersusah-payah
memperjuangkan perintah-Mu
mempertaruhkan raganya demi Engkau
dalam menempuh segala bahaya
menyeru kerabat dan kaumnya ke jalan-Mu
menerangi sanak keluarganya demi ridho-Mu
memutuskan tali kekeluargaannya
demi menghidupkan agama-Mu

Ia menjauhkan orang-orang yang dekat kepadanya
karena bantahannya
dan mendekatkan orang-orang yang jauh
karena penerimaannya kepada-Mu
mengikat tali persaudaraan
dengan orang-orang jauh demi Engkau
dan memusuhi orang-orang yang dekat demi Engkau
menyibukkan dirinya
dalam menyampaikan risalah agama-Mu
membebaninya dalam menyeru mereka ke agama-Mu
dan giat memberi nasihat
kepada mereka yang menerima seruan-Mu

Dia hijrah ke negeri yang asing
ke tempat nan jauh dari kampung halaman
demi menegakkan dan mengagungkan agama-Mu
dan menundukkan orang-orang kafir
sehingga lebih mudah baginya dalam melakukan
apa yang akan ia lakukan terhadap musuh-musuh-Mu
dan kian sempurna pula dalam mengemban tugas
melindungi wali-wali-Mu

Ia bangkit menantang mereka
berbekal pertolongan-Mu
dan menyerang mereka
di tengah-tengah kampung mereka
hingga menaglah agama-Mu
dan kalimat-Mu tetap tinggi nan agung
meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya

Ya Allah,
Angkatlah derajat hamba-Mu Nabi Muhammad
sebagai balasan atas pengorbanannya demi Engkau
ke tempat yang tertinggi di dalam surga-Mu
yang tak ada satupun tempat dan derajat yang menyamainya
bahkan para malaikat-Mu pun tidak mampu menandinginya
demikian pula para nabi dan utusan-Mu yang lain

Perkenankanlah ia memberi syafaat
kepada keluarganya yang suci
dan para umatnya yang beriman
sebaik-baik apa yang telah Engkau janjikan

Engkaulah Ya Allah,
Yang menepati janji dan menyempurnakan ucapan
Yang mengubah kesalahan-kesalahan
menjadi kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda
Sesungguhnya Engkau Maha Pemurah dan Agung
Maha Penyantun dan Maha Mulia

SUMBER : http://sanggardewa.wordpress.com/2007/09/05/shalawat-atas-rasulullah-saww-dan-keluarganya/
More … Alfatiha

SHOLAWAT BANI HASYIM

Allahumma Sholli ‘ala Nabiyyil Hasyimi Muhammadin Wa ‘ala aalihi wa shohbihi
wa sallim Tasliima …

Menurut Mas Idris , Salah seorang santri suryalaya
(Maaf, Mas Idris nama sampeyan ikut ngeblog..Kalo Komplain Ntar di hapus hehehe..)
bertutur pada blogger pada suatu kesempatan chat bahwa sholawat ini biasa di ijazahkan
Abah Anom pada santri-santrinya. Jelas sholawat ini amat populer dan termasuk sholawat yang utama di praktekkan di suryalaya. Abah Anom mendapatkan ijazah sholawat ini dari
ayahandanya Abah Sepuh. Abah Sepuh mendapatkan ijazah dari Syaikhona Kholil Bangkalan,
yang bisa dikatakan guru para ulama besar di tanah jawa. So, bagi yang tertarik untuk mengamalkan Sholawat ini biar lebih afdhol dan berkah bisa minta ijazahnya di suryalaya pada Abah Anom. Sholawat ini dibaca Nabi Muhammad SAW pada waktu hijrah. Konon dengan berbekal sholawat ini Abah Sepuh menyebrang selat madura dengan berbekal jukong (perahu kecil). Jadi sholawat ini nampaknya bisa digunakan untuk ‘sapu jagad’ atau thayyul ardhi (ilmu hikmah melipat bumi) dalam
khasanah dunia santri. Terlepas dari sisi ilmu hikmahnya, pembacaan sholawat ini jelas memberikan manfaat yang luar biasa karena setiap pembacaan sholawat apapun pada nabi ditanggung nyampai ke Nabi Muhammad SAW terlepas dari niat/maksud , latar belakang ato kondisi si pembaca sholawat. Dan hadiah terbesar dari pembacaan sholawat yaitu manakala kita bertemu Nabi SAW baik dalam mimpi atau terjaga. Sebab dari Nurnya kita di ciptakan (beberapa pendapat mengatakan ‘diemanasikan’). Dan itu adalah kebahagiaan terbesar. Sebab dari Nabi Muhammad SAW (Nur Muhammad dari sisi bahasan tasawuf islami) pintu Liqo (Menjumpai) Allah. Bahwa N. Muhammad SAW sebagai Pintu Allah untuk liqo’ (Menjumpai) Allah juga disepakati oleh tasawuf sunni. Hal ini bisa dilihat dari karya2 Imam Al Ghozali (pelopor tasawuf sunni) yang selalu mengedapankan sholawat dan bisa dilihat dari uraian Sayyid Abdullah Alwi Alhaddad (Penyusun Ratib Alhaddad) mengenai Nur Muhammad. Juga di singgung di Maulid diba’i dan Simthud durornya Alhabsi mngenai Nur Muhammad ini. Akhirnya marilah kita semua membumikan sholawat. Amin
More … Alfatiha

SHALAWAT PADA RASULULLAH

SHALAWAT PADA RASULULLAH
Imam al-Ghazali

Dikisahkan, ada seseorang melihat satu makhluk yang sangat jelek di padang sahara. Lalu dia bertanya, “Siapakah kamu?’ “Aku amalan jelekmu,” jawab makhluk itu. “Apa yang dapat menyelamatkanku darimu?” “Shalawat kepada Nabi Saw., sebagaimana sabda beliau,

“Shalawat itu berada di atas cahaya, di atas ash-shirath. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku pada hari Jum’at sebanyak delapan puluh kali, Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama delapan puluh tahun.”

Kisah lain, ada seseorang yang tidak pernah bershalawat pada junjungan kita, Muhammad Saw. Pada suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Saw. Beliau tidak menoleh kepadanya. Oleh karena itu dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Anda marah kepada saya?” “Tidak,” jawab Nabi Saw. “Lalu mengapa Anda tidak memandang saya?” “Karena aku tidak mengenalmu. Bagaimana Anda tidak mengenal saya, padahal saya termasuk umat Anda? Para ulama mengatakan bahwa Anda lebih mengenal umat Anda daripada seorang ibu mengenal anaknya.”

“Mereka benar, tetapi engkau tidak mengingatku dengan shalawat. Sebab aku mengenal umatku menurut kadar shalawat mereka kepadaku.” Setelah terbangun, orang itu mewajibkan dirinya selalu bershalawat kepada Nabi Saw seratus kali sehari. Selang beberapa waktu ia bermimpi lagi bertemu Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Kini aku mengenalmu dan aku memberikan syafaat kepadamu, karena engkau telah menjadi pecinta rasul.”

(Dikutip dari: Menyingkap Hati, Menghampiri Ilahi bersama Imam al-Ghazali)

SUMBER : http://mevlanasufi.blogspot.com/2005/04/shalawat-pada-rasulullah.html
More … Alfatiha

UNTUK BERTEMU NABI DI KALA MIMPI

ALLAAHUMMA SHALLI WASALLIM ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN, FII KULLI LAM-HATIN WA HAFASIN BI’ADADI KULLI MA’LUUMIN LAKA.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan para keluarganya, di dalam setiap kehidupan mata dan nafas dengan bimbingan semua yang diketahui oleh-Mu.

SUMBER : http://salam-online.web.id/2007/03/31/untuk-bertemu-nabi-dikala-mimpi.html
More … Alfatiha

NABI KHIDIR AS

Salah satu kisah Al-Qur’an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan misteri adalah, kisah seseorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Kisah tersebut terdapat dalam surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi: 60)
Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau mampu mencapai majma’ al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Di sana terdapat suatu perjanjian penting yang dinanti-nanti oleh Musa ketika beliau sampai di majma‘ al-Bahrain. Anda dapat merenungkan betapa tempat itu sangat misterius dan samar. Para musafir telah merasakan keletihan dalam waktu yang lama untuk mengetahui hakikat tempat ini. Ada yang mengatakan bahwa tempat itu adalah laut Persia dan Romawi. Ada yang mengatakan lagi bahwa itu adalah laut Jordania atau Kulzum. Ada yang mengatakan juga bahwa itu berada di Thanjah. Ada yang berpendapat, itu terletak di Afrika. Ada lagi yang mengatakan bahwa itu adalah laut Andalus. Tetapi mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang kuat dari tempat-tempat itu.
Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan rnenyebutkannya. Namun Al-Qur’an al-Karim sengaja menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Qur’an tidak menyebutkan kapan itu terjadi. Begitu juga, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak mengetahuinya. Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal.
Di samping itu, tempat pertemuan dan waktunya antara hamba yang mulia ini dan Musa juga tidak kita ketahui. Demikianlah kisah itu terjadi tanpa memberitahumu kapan terjadi dan di tempat mana. Al-Qur’an sengaja menyembunyikan hal itu, bahkan Al-Qur’an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini. Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:
“Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al-Kahfi: 65)
Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa adalah seseorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu. Lalu, siapakah gurunya atau pengajarnya? Pengajarnya adalah seorang hamba yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur’an meskipun dalam hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as.
Musa berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir menolak ditemani oleh Musa. Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir sehingga Khidir menceritakan kepadanya. Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa; sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa bingung dan membuatnya menentang. Meskipun Musa memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.
Ilmu Musa yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Awan tebal yang menyelimuti kisah ini dalam Al-Qur’an telah menurunkan hujan lebat yang darinya mazhab-mazhab sufi di dalam Islam menjadi segar dan tumbuh. Bahkan terdapat keyakinan yang menyatakan adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada “cemburu” dengan ilmu mereka. Keyakinan demikian ini timbul karena pengaruh kisah ini.
Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan Khidir. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia seorang wali dari wali-wali Allah SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia seorang nabi. Terdapat banyak cerita bohong tentang kehidupan Khidir dan bagaimana keadaannya. Ada yang mengatakan bahwa ia akan hidup sampai hari kiamat. Yang jelas, kisah Khidir tidak dapat dijabarkan melalui nas-nas atau hadis-hadis yang dapat dipegang (otentik). Tetapi kami sendiri berpendapat bahwa beliau meninggal sebagaimana meninggalnya hamba-hamba Allah SWT yang lain. Sekarang, kita tinggal membahas kewaliannya dan kenabiannya. Tentu termasuk problem yang sangat rumit atau membingungkan. Kami akan menyampaikan kisahnya dari awal sebagaimana yang dikemukakan dalam Al-Qur’an.
Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Pembicaraan Nabi Musa sangat komprehensif dan tepat. Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya: “Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?” Dengan nada emosi, Musa menjawab: “Tidak ada.”
Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: “Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?” Musa mengetahui bahwa ia terburu-buru mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma’ al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu.” Jiwa Nabi Musa yang mulia rindu untuk menambah ilmu, lalu timbullah keinginan dalam dirinya untuk pergi dan menemui hamba yang alim ini. Musa bertanya bagaimana ia dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim.
Akhirnya, Musa pergi guna mencari ilmu dan beliau ditemani oleh seorang pembantunya yang masih muda. Pemuda itu membawa ikan di keranjang. Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari hamba yang alim dan saleh. Tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat samar dan masalah ini berkaitan dengan hidupnya ikan di keranjang dan kemudian ikan itu akan melompat ke laut. Namun Musa berkeinginan kuat untuk menemukan hamba yang alim ini walaupun beliau harus berjalan sangat jauh dan menempuh waktu yang lama.
Musa berkata kepada pembantunya: “Aku tidak memberimu tugas apa pun kecuali engkau memberitahuku di mana ikan itu akan berpisah denganmu.” Pemuda atau pembantunya berkata: “Sungguh engkau hanya memberi aku tugas yang tidak terlalu berat.” Kedua orang itu sampai di suatu batu di sisi laut. Musa tidak kuat lagi menahan rasa kantuk sedangkan pembantunya masih bergadang. Angin bergerak ke tepi lautan sehingga ikan itu bergerak dan hidup lalu melompat ke laut. Melompatnya ikan itu ke laut sebagai tanda yang diberitahukan Allah SWT kepada Musa tentang tempat pertamuannya dengan seseorang yang bijaksana yang mana Musa datang untuk belajar kepadanya. Musa bangkit dari tidurnya dan tidak mengetahui bahwa ikan yang dibawanya telah melompat ke laut sedangkan pembantunya lupa untuk menceritakan peristiwa yang terjadi. Lalu Musa bersama pemuda itu melanjutkan perjalanan dan mereka lupa terhadap ikan yang dibawanya. Kemudian Musa ingat pada makanannya dan ia telah merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: “Coba bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan akibat dari perjalanan ini.”
Pembantunya mulai ingat tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat bagaimana ikan itu melompat ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu kepada Nabi Musa. Ia meminta maaf kepada Nabi Musa karena lupa menceritakan hal itu. Setan telah melupakannya. Keanehan apa pun yang menyertai peristiwa itu, yang jelas ikan itu memang benar-benar berjalan dan bergerak di lautan dengan suatu cara yang mengagumkan. Nabi Musa merasa gembira melihat ikan itu hidup kembali di lautan dan ia berkata: “Demikianlah yang kita inginkan.” Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke tempat yang di situ ikan yang dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.
Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan suatu kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu tabir di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda harus berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju laut. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak mengetahui namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami pun tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam yang dijelaskan oleh Al-Qur’an: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahrnat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. “
Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah. Allah SWT berfirman:
“Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. ” (QS. al-Kahfi: 61-65)
Bukhari mengatakan bahwa Musa dan pembantunya menemukan Khidir di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika Musa melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya. Khidir berkata: “Apakah di bumimu ada salam? Siapa kamu?” Musa menjawab: “Aku adalah Musa.” Khidir berkata: “Bukankah engkau Musa dari Bani Israil. Bagimu salam wahai Nabi dari Bani Israil.” Musa berkata: “Dari mana kamu mengenal saya?” Khidir menjawab: “Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa?” Musa berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan: “Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya.” Khidir berkata: “Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”
Kita ingin memperhatikan sejenak perbedaan antara pertanyaan Musa yang penuh dengan kesopanan dan kelembutan dan jawaban Khidir yang tegas di mana ia memberitahu Musa bahwa ilmunya tidak harus diketahui oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa tidak diketahui oleh Khidir. Para ahli tafsir mengemukakan bahwa Khidir berkata kepada Musa: “Ilmuku tidak akan engkau ketahui dan engkau tidak akan mampu sabar untuk menanggung derita dalam memperoleh ilmu itu. Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai tidak dapat menjadi landasan dan ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali engkau akan melihat dalam tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami sebab-sebabnya. Oleh karena itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar ketika ingin mendapatkan ilmuku.” Musa mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari Khidir namun beliau kembali mengharapnya untuk mengizinkannya menyertainya untuk belajar darinya. Musa berkata kepadanya bahwa insya Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang sedikit pun.
Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi yang berdialog dengan Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia menegaskan bahwa ia tidak akan menentang perintahnya. Hamba Allah SWT yang namanya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an menyatakan bahwa di sana terdapat syarat yang harus dipenuhi Musa jika ia bersikeras ingin menyertainya dan belajar darinya. Musa bertanya tentang syarat ini, lalu hamba yang saleh ini menentukan agar Musa tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh itu akan memberitahunya. Musa sepakat atas syarat tersebut dan kemudian mereka pun pergi. Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:
“Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. al-Kahfi: 66-70)
Musa pergi bersama Khidir. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa, tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir. Namun Musa dibuat terkejut ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir melobangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.
Musa menyertai Khidir dan melihat tindakannya dan kemudian ia berpikir. Musa berkata kepada dirinya sendiri: “Apa yang aku lakukan di sini, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh Para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah. Mereka pun memuliakan kami tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melobanginya.” Tindakan Khidir di mata Musa adalah tindakan yang tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa sebagai bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya kepada gurunya dan ia lupa tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia tidak bertanya apa pun yang terjadi. Musa berkata: “Apakah engkau melobanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang tercela.” Mendengar pertanyaan lugas Musa, hamba Allah SWT itu menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa tidak mampu lagi bersabar. Musa meminta maaf kepada Khidir karena ia lupa dan mengharap kepadanya agar tidak menghukumnya.
Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa dibuat terkejut ketika melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa dengan lantang bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan. Mereka memasuki suatu desa yang sangat bakhil. Musa tidak mengetahui mengapa mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana. Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak mau menjamu mereka.
Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu ingin beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa dibuat terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa sangat heran melihat tindakan gurunya. Bagi Musa, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan yang gratis ini. Musa berkata: “Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu.” Mendengar perkataan Musa itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: “Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku.” Hamba Allah SWT itu mengingatkan Musa tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan.
Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa. Setiap tindakan hamba yang saleh itu—yang membuat Musa bingung—bukanlah hasil dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar menjadi jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tingi di mana kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang tidak diketahui oleh Musa. Meskipun Musa memiliki ilmu yang sangat luas tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa laksana setetes air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah SWT itu hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang terdapat pada paruh burung yang mengambil dari lautan. Allah SWT berfirman:
“Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’ Dia (Khidir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidir berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’” (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar. Pemilik perahu itu akan menganggap bahwa usaha melobangi perahu mereka merupakan suatu bencana bagi mereka tetapi sebenarnya di balik itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan yang tidak dapat diketahui kecuali setelah terjadinya peperangan di mana raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu raja itu akan membiarkan perahu-perahu yang rusak. Dengan demikian, sumber rezeki keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka tidak akan mati kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah, namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka karena Allah SWT akan memberi mereka—sebagai ganti darinya—anak yang baik yang dapat menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka menginjak masa tua dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan kekufuran seperti anak yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu terdapat keburukan.
Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Selanjutnya, Musa kembali menemui pembatunya dan menemaninya untuk kembali ke Bani Israil. Sekarang, Musa mendapatkan keyakinan yang luar biasa. Musa telah belajar dari mereka dua hal: yaitu ia tidak merasa bangga dengan ilmunya dalam syariat karena di sana terdapat ilmu hakikat, dan ia tidak mempersoalkan musibah-musibah yang dialami oleh manusia karena di balik itu terdapat rahmat Allah SWT yang tersembunyi yang berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Itulah pelajaran yang diperoleh Nabi Musa as dari hamba ini. Nabi Musa mengetahui bahwa ia berhadapan dengan lautan ilmu yang baru di mana ia bukanlah lautan syariat yang diminum oleh para nabi. Kita berhadapan dengan lautan hakikat, di hadapan ilmu takdir yang tertinggi; ilmu yang tidak dapat kita jangkau dengan akal kita sebagai manusia biasa atau dapat kita cerna dengan logika biasa. Ini bukanlah ilmu eksperimental yang kita ketahui atau yang biasa terjadi di atas bumi, dan ia pun bukan ilmu para nabi yang Allah SWT wahyukan kepada mereka.
Kita sekarang sedang membahas ilmu yang baru. Lalu siapakah pemilik ilmu ini? Apakah ia seorang wali atau seorang nabi? Mayoritas kaum sufi berpendapat bahwa hamba Allah SWT ini dari wali-wali Allah SWT. Allah SWT telah memberinya sebagian ilmu laduni kepadanya tanpa sebab-sebab tertentu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hamba saleh ini adalah seorang nabi. Untuk mendukung pernyataannya ulama-ulama tersebut menyampaikan beberapa argumentasi melalui ayat Al-Qur’an yang menunjukkan kenabiannya.
Pertama, firman-Nya:
“Lalu mereka bertemu dengan searang hamba di antara hamba-ham-ba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Kedua, perkataan Musa kepadanya:
“Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?’ Musa berkata: ‘lnsya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orangyang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu rmnanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu,’” (QS. al-Kahfi: 66-70)
Seandainya ia seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa tidak akan berdiaog atau berbicara dengannya dengan cara yang demikian dan ia tidak akan menjawab kepada Musa dengan jawaban yang demikian. Bila ia bukan seorang nabi maka berarti ia tidak maksum sehingga Musa tidak harus memperoleh ilmu dari seseorang wali yang tidak maksum.
Ketiga, Khidir menunjukkan keberaniannya untuk membunuh anak kecil itu melalui wahyu dari Allah SWT dan perintah dari-Nya. Ini adalah dalil tersendiri yang menunjukkan kenabiannya dan bukti kuat yang menunjukkan kemaksumannya. Sebab, seorang wali tidak boleh membunuh jiwa yang tidak berdosa dengan hanya berdasarkan kepada keyakinannya dan hatinya. Boleh jadi apa yang terlintas dalam hatinya tidak selalu maksum karena terkadang ia membuat kesalahan. Jadi, keberanian Khidir untuk membunuh anak kacil itu sebagai bukti kenabiannya.
Keempat, perkataan Khidir kepada Musa:
“Sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. ” (QS. al-Kahfi: 82)
Yakni, apa yang aku lakukan bukan dari doronganku sendiri namun ia merupakan perintah dari Allah SWT dan wahyu dari-Nya. Demikianlah pendapat para ulama dan para ahli zuhud. Para ulama berpendapat bahwa Khidir adalah seorang Nabi sedangkan para ahli zuhud dan para tokoh sufi berpendapat bahwa Khidir adalah seorang wali dari wali-wali Allah SWT.
Salah satu pernyataan Kliidir yang sering dikemukakan oleh tokoh sufi adalah perkataan Wahab bin Munabeh, Khidir berkata: “Wahai Musa, manusia akan disiksa di dunia sesuai dengan kadar kecintaan mereka atau kecenderungan mereka terhadapnya (dunia).” Sedangkan Bisyir bin Harits al-Hafi berkata: “Musa berkata kepada Khidir: “Berilah aku nasihat.” Khidir menjawab: “Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kamu untuk taat kepada-Nya.” Para ulama dan para ahli zuhud berselisih pendapat tentang Khidir dan setiap mereka mengklaim kebenaran pendapatnya. Perbedaan pendapat ini berujung pangkal kepada anggapan para ulama bahwa mereka adalah sebagai pewaris para nabi, sedangkan kaum sufi menganggap diri mereka sebagai ahli hakikat yang mana salah satu tokoh terkemuka dari ahli hakikat itu adalah Khidir. Kami sendiri cenderung untuk menganggap Khidir sebagai seorang nabi karena beliau menerima ilmu laduni. Yang jelas, kita tidak mendapati nas yang jelas dalam konteks Al-Qur’an yang menunjukkan kenabiannya dan kita juga tidak menemukan nas yang gamblang yang dapat kita jadikan sandaran untuk menganggapnya sebagai seorang wali yang diberi oleh Allah SWT sebagian ilmu laduni.
Barangkali kesamaran seputar pribadi yang mulia ini memang disengaja agar orang yang mengikuti kisah tersebut mendapatkan tujuan utama dari inti cerita. Hendaklah kita berada di batas yang benar dan tidak terlalu jauh mempersoalkan kenabiannya atau kewaliannya. Yang jelas, ketika kami memasukkannya dalam jajaran para nabi karena ia adalah seorang guru dari Musa dan seorang ustadz baginya untuk beberapa waktu.♦

sumber : http://jalantrabas.blogspot.com/2007/11/nabi-khidir-as.html
More … Alfatiha

RAHASIA SHOLAT

dapun kemudian daripada itu, yakni daripada memuji Allah dan mengucapkan shalawat kepada Rasulullah SAW, maka inilah suatu kitab yang sudah dipindahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, supaya mudah bagi orang yang baru belajar menginginkan Allah. Bahwasanya diceritakan dari Abdullah Bin Umar r.a, katanya adalah kamu berduduk pada suatu orang kelak ke hadapan Rasulullah SAW, minta belajar ilmu Jibril a.s, daripada ilmu yang sempurna dunia dan akhirat, yaitu membiasakan dari hakikat didalam shalat lima waktu yaitu wajib bagi kita untuk mengetahuinya. Yang harus mereka ketahui pertama kali hakikat shalat ini supaya sempurna kamu menyembah Allah, bermula hakikatnya didalam shalat itu atas 4 (empat) perkara :
1. BERDIRI (IHRAM).
2. RUKU’ (MUNAJAH).
3. SUJUD (MI’RAJ).
4. DUDUK (TABDIL).

Adapun hakikatnya :
1. BERDIRI ( IHRAM) itu karena huruf ALIF asalnya dari API, bukan api pelita dan bukan pula api bara. Adapun artinya API itu bersifat JALALULLAH, yang artinya sifat KEBESARAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• KUAT.
• LEMAH.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga, karena hamba itu tidak mempunyai KUAT dan LEMAH karena hamba itu di-KUAT-kan dan di-LEMAH-kan oleh ALLAH, bukannya kudrat dan iradat Allah itu lemah. Adapun kepada hakikatnya yang sifat lemah itu shalat pada sifat kita yang baharu ini. Adapun yang dihilangkan tatkala BERDIRI itu adalah pada segala AP’AL (perbuatan) hamba yang baharu.

2. RUKU’ (MUNAJAH) itu karena huruf LAM Awal, asalnya dari ANGIN, bukannya angin barat dan bukan pula angin timur. Adapun artinya ANGIN itu bersifat JAMALULLAH yang artinya sifat KEELOKAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• TUA.
• MUDA.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak mempunyai TUA dan MUDA. Adapun yang dihilangkan tatkala RUKU’ itu adalah pada segala ASMA (nama) hamba yang baharu.

3. SUJUD (MI’RAJ) itu karena huruf LAM Akhir, asalnya dari AIR, bukannya air laut dan bukan pula air sungai. Adapun artinya AIR itu bersifat QAHAR ALLAH yang artinya sifat KEKERASAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• HIDUP.
• MATI.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak pun mempunyai HIDUP dan MATI. Adapun yang dihilangkan tatkala SUJUD itu adalah pada segala NYAWA (sifat) hamba yang baharu.

4. DUDUK (TABDIL) itu karena huruf HA, asalnya dari TANAH, bukannya pasir dan bukan pula tanah lumpur. Adapun artinya TANAH itu bersifat KAMALULLAH yang artinya sifat KESEMPURNAAN ALLAH TA’ALA, yang terdiri atas 2 (dua) perkara :
• ADA.
• TIADA.

Yang merupakan kudrat dan iradat-Nya juga. Adapun hamba itu tidak ADA dan TIADA. Adapun yang dihilangkan tatkala DUDUK itu adalah pada segala WUJUD/ZAT hamba yang baharu, karena hamba itu wujudnya ADAM yang artinya hamba tiada mempunyai wujud apapun karena hamba itu diadakan/maujud, hidupnya hamba itu di-hidupkan, matinya hamba itu di-matikan dan kuatnya hamba itu di-kuatkan.

Itulah hakikatnya shalat. Barangsiapa shalat tidak tahu akan hakikat yang empat tersebut diatas, shalatnya hukumnya KAFIR JIN dan NASRANI, artinya KAFIR KEPADA ALLAH, ISLAM KEPADA MANUSIA, yang berarti KAFIR BATHIN, ISLAM ZHAHIR, hidup separuh HEWAN, bukannya hewan kerbau atau sapi. Tuntutan mereka berbicara ini wajib atas kamu. Jangan shalat itu menyembah berhala !!!.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan sempurnanya orang TAKBIRATUL IHRAM, yaitu hendaklah tahu akan MAQARINAHNYA.
Bermula MAQARINAH shalat itu terdiri atas 4 (empat) perkara :
1. BERDIRI (IHRAM).
2. RUKU’ (MUNAJAH).
3. SUJUD (MI’RAJ).
4. DUDUK (TABDIL).

Adapun hakikatnya :
 Adapun hakikatnya BERDIRI (IHRAM) itu adalah TERCENGANG, artinya : tiada akan tahu dirinya lagi, lupa jika sedang menghadap Allah Ta’ala, siapa yang menyembah?, dan siapa yang disembah?.

 Adapun hakikatnya RUKU’ (MUNAJAH) itu adalah BERKATA-KATA, artinya : karena didalam TAKBIRATUL IHRAM itu tiada akan menyebut dirinya (asma/namanya), yaitu berkata hamba itu dengan Allah. Separuh bacaan yang dibaca didalam shalat itu adalah KALAMULLAH.

 Adapun hakikatnya SUJUD (MI’RAJ) itu adalah TIADA INGAT YANG LAIN TATKALA SHALAT MELAINKAN ALLAH SEMATA.

 Adapun hakikatnya DUDUK (TABDIL) itu adalah SUDAH BERGANTI WUJUD HAMBA DENGAN TUHANNYA.

Sah dan maqarinahnya shalat itu terdiri atas 3 (tiga) perkara :
1. QASHAD.
2. TA’ARADH.
3. TA’IN.

Adapun QASHAD itu adalah menyegerakan akan berbuat shalat, barang yang dishalatkan itu fardhu itu sunnah.
Adapun artinya TA’ARRADH itu adalah menentukan pada fardhunya empat, tiga atau dua.
Adapun TA’IN itu adalah menyatakan pada waktunya, zhuhur, ashar, maghrib, isya atau subuh.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan sempurnanya didalam shalat :
 Adapun sempurnanya BERDIRI (IHRAM) itu hakikatnya :
Nyata kepada AP’AL Allah.
Hurufnya ALIF.
Alamnya NASUWAT.
Tempatnya TUBUH, karena tubuh itu kenyataan SYARIAT.

 Adapun sempurnanya RUKU’ (MUNAJAH) itu hakikatnya :
Nyata kepada ASMA Allah.
Hurufnya LAM Awal.
Alamnya MALAKUT.
Tempatnya HATI, karena hati itu kenyataan THARIQAT.

 Adapun sempurnanya SUJUD (MI’RAJ) itu hakikatnya :
Nyata kepada SIFAT Allah.
Hurufnya LAM Akhir.
Alamnya JABARUT.
Tempatnya NYAWA, karena Nyawa itu kenyataan HAKIKAT.

 Adapun sempurnanya DUDUK (TABDIL) itu hakikatnya :
Nyata kepada ZAT Allah.
Hurufnya HA.
Alamnya LAHUT.
Tempatnya ROHANI, karena ROHANI itu kenyataan MA’RIFAT.

 Adapun BERDIRI (IHRAM) itu kepada SYARIAT Allah.
Hurufnya DAL.
Nyatanya kepada KAKI kita.

 Adapun RUKU’ (MUNAJAH) itu kepada THARIQAT Allah.
Hurufnya MIM.
Nyatanya kepada PUSAT (PUSER) kita.

 Adapun SUJUD (MI’RAJ) itu kepada HAKIKAT Allah.
Hurufnya HA.
Nyatanya kepada DADA kita.

 Adapun DUDUK (TABDIL) itu kepada MA’RIFAT Allah.
Hurufnya MIM Awal.
Nyata kepada KEPALA (ARASY) kita.

Jadi Orang Shalat membentuk huruf AHMAD / MUHAMMAD.

INILAH PASAL

Asal TUBUH kita (jasmaniah) kita dijadikan oleh Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. API.
2. ANGIN.
3. AIR.
4. TANAH.

Adapun NYAWA kita dijadikan Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. WUJUD.
2. NUR ILMU.
3. NUR.
4. SUHUD.

Adapun MARTABAT Tuhan itu ada 3 (tiga) perkara :
1. AHADIYYAH.
2. WAHDAH.
3. WAHIDIYYAH.

Adapun TUBUH kita dijadikan Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. WADIY.
2. MADIY.
3. MANIY.
4. MANIKEM.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan jalan kepada Allah Ta’ala atas 4 (empat) perkara :
1. SYARIAT. = AP’AL. = BATANG TUBUH.
2. THARIQAT. = ASMA. = HATI. DIRI
3. HAKIKAT. = SIFAT. = NYAWA. KITA
4. MA’RIFAT. = RAHASIA. = SIR.

Adapun hakikatnya :
 SYARIAT itu adalah KELAKUAN TUBUH.
 THARIQAT itu adalah KELAKUAN HATI.
 HAKIKAT itu adalah KELAKUAN NYAWA.
 MA’RIFAT itu adalah KELAKUAN ROHANI.

Adapun yang tersebut diatas itu nyata atas penghulu kita Nabi MUHAMMAD. Karena lafadz MUHAMMAD itu 4 (empat) hurufnya yaitu :
1. MIM Awal.
2. HA.
3. MIM Akhir.
4. DAL.

Adapun huruf MIM Awal itu ibarat KEPALA.
Adapun huruf HA itu ibarat DADA.
Adapun huruf MIM Akhir itu ibarat PUSAT (PUSER).
Adapun huruf DAL itu ibarat KAKI.

Adapun huruf MIM Awal itu MAQAM-nya kepada alam LAHUT.
Adapun huruf HA itu MAQAM-nya kepada alam JABARUT.
Adapun huruf MIM Akhir itu MAQAM-nya kepada alam MALAKUT.
Adapun huruf DAL itu MAQAM-nya kepada alam NASUWAT.

Sah dan lagi lafadz ALLAH terdiri dari 4 (empat) huruf :
1. ALIF.
2. LAM Awal.
3. LAM Akhir.
4. HA.

Adapun huruf ALIF itu nyatanya kepada AP’AL Allah.
Adapun huruf LAM Awal itu nyatanya kepada ASMA Allah.
Adapun huruf LAM Akhir itu nyatanya kepada SIFAT Allah.
Adapun huruf HA itu nyatanya kepada ZAT Allah.

Adapun AP’AL itu nyata kepada TUBUH kita.
Adapun ASMA itu nyata kepada HATI kita.
Adapun SIFAT itu nyata kepada NYAWA kita.
Adapun ZAT itu nyata kepada ROHANI kita.

INILAH PASAL

Masalah yang menyatakan ALAM. Adapun ALAM itu atas 2 (dua) perkara :
1. ALAM KABIR (ALAM BESAR/ALAM NYATA).
2. ALAM SYAQIR (ALAM KECIL/ALAM DIRI KITA).

Adapun ALAM KABIR itu adalah alam yang NYATA INI.
Adapun ALAM SYAQIR itu adalah alam DIRI KITA INI.

ALAM KABIR (ALAM BESAR) itu sudah terkandung didalam ALAM SYAQIR karena ALAM SYAQIR itu bersamaan tiada kurang dan tiada lebih, lengkap dengan segala isinya bumi dan langit, arasy dan kursy, syurga, neraka, lauhun (tinta) dan qolam (pena), matahari, bulan dan bintang.

Adapun BUMI / JASMANI didalam tubuh kita itu terdiri atas 7 (tujuh) lapis yaitu :
1. BULU.
2. KULIT.
3. DAGING.
4. URAT.
5. DARAH.
6. TULANG.
7. LEMAK (SUM-SUM).

Adapun LANGIT / ROHANI (OTAK/ARASY) didalam tubuh kita itu terdiri atas 7 (tujuh) lapis pula :
1. DIMAK (LAPISAN BERPIKIR/RUH NABATI).
2. MANIK (LAPISAN PANDANGAN/RUH HEWANI).
3. NAFSU (RUH JASMANI).
4. BUDI (RUH NAFASANI).
5. SUKMA (RUH ROHANI).
6. RASA (RUH NURANI).
7. RAHASIA (RUH IDHAFI).

Adapun MATAHARI didalam tubuh kita yaitu NYAWA kita.
Adapun BULAN didalam tubuh kita yaitu AKAL kita.
Adapun BINTANG didalam tubuh kita yaitu ILMU kita (ada yang banyak dan ada pula yang sedikit).
Adapun SYURGA didalam tubuh kita yaitu AMAL SHALEH kita.
Adapun NERAKA didalam tubuh kita yaitu DOSA-DOSA kita.

Adapun LAUT didalam tubuh kita ada 2 (dua) yaitu :
1. LAUT ASIN.
2. LAUT TAWAR.

Adapun LAUT ASIN didalam tubuh kita yaitu AIR MATA kita.
Adapun LAUT TAWAR didalam tubuh kita yaitu AIR LUDAH kita.

Adapun MAHLIGAI didalam tubuh kita ada 7 (tujuh) pula yaitu :
1. DADA.
2. QALBUN.
3. BUDI.
4. JINEM.
5. NYAWA.
6. RASA.
7. RAHASIA.

Didalam DADA itu QALBUN dan didalam QALBUN itu BUDI dan didalam BUDI itu JINEM dan didalam JINEM itu NYAWA dan didalam NYAWA itu RASA dan didalam RASA itu RAHASIA (SIR).

SUMBER : http://jalantrabas.blogspot.com/2007/11/hakekat-rahasia-sholat.html
More … Alfatiha

Abah Anom

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.

Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lan